Bab 2

1105 Words
Bab 2 "Bu ... Ibu jangan bicara seperti itu, Bu. Bagaimana mungkin, Ibu lebih memilih aku dan melepaskan Mila? Dia itu suaminya masih ada, serta masih berstatus menantu Ibu? Aku memang selayaknya pergi dari sini, Bu, sesuai dengan kemauannya Mila. Karena aku juga tidak mau membuat rumah tangga Reno berantakan," papar Mbak Wina. Ia berkata dengan begitu bijak, tetapi aku yakin, kalau dia berkata seperti itu hanya karena sedang berada di hadapan mertua dan juga suamiku. Seperti biasa Mbak Wina memang pandai sekali bersilat lidah. Ia itu seperti ular berbisa, yang siap menggigit dan menyebarkan racunnya. Aku berkata seperti ini bukan tanpa alasan. Karena setiap ia berkata dan melirikku, dia terus tersenyum jahat ke arahku. Maksudnya apa ia berbuat seperti itu? Kalau memang bukan karena ingin meledekku. Aku yakin, kalau sebenarnya Mbak Wina itu merasa puas, dengan pembelahan mertua dan juga suamiku. Karena memang itu tujuannya ia mengadu, kepada suami dan juga mertuakum "Tuh, Reno, kurang apa coba si Wina ini? Menurut Ibu, dia ini udah tau diri banget jadi orang. Tapi kenapa Si Mila tidak suka sama dia? Ia malah selalu menganggap, kalau Wina itu jahat. Ibu yakin, kalau istrimu ini memang tidak war*s, hatinya bus*k penuh dengan iri dan dengki." Bu Risma kembali memuji sikap Mbak Wina, yang menurutnya bijak. "Iya, Bu, aku juga tidak paham, dengan jalan pikiran Mila itu seperti apa? Kenapa bisa, ia mempunyai pikiran picik seperti itu kepada Mbak Wina? Padahal ia itu baik banget kepada Mila, ia bahkan mau membelanya. Tapi memang dasar Si Milanya saja yang tidak tau diri," timpal Mas Reno. Ucapan suami dan mertuaku ini benar-benar menusuk hatiku, membuat luka yang tak berdarah di dalam sana. Bisa-bisanya mereka malah membela perempuan bermuka dua itu dibanding aku, yang masih berstatus istri dan menantu yang sah. Mereka berdua terang-terangan membela Mbak Wina, hanya karena menilai dari tutur kata Mbak Wina, yang sebenarnya penuh dengan racun. "Bu, Mas, jika memang kalian lebih mendengarkan kata-kata Mbak Wina dan tidak mau mendengar apa kataku. Ya sudah, silakan saja kalian bawa Mbak Wina ini untuk tinggal di rumah Ibu karena aku tidak mau menampungnya lagi! Kalau memang kamu mau, kamu juga boleh kok tinggal di sana, Mas. Kamu tidak kembali ke sini lagi juga nggak apa-apa, malah itu lebih bagus," usirku. "Kamu mengusir kami, Mila?" tanya Mas Reno tidak percaya. "Kalau iya, memangnya kenapa? Ingat ya, Mas. Rumah ini atas nama aku dan aku yang selalu membayar cicilan setiap bulanya. Jadi kamu tidak sepantasnya mengusir aku dari rumahku sendiri, yang ada kalian yang seharusnya pergi. Selama ini aku selalu diam dan sabar menghadapi ulah kalian, tetapi maaf kesabaranku juga ada batasnya. Jika kalian tidak mau menuruti aturanku, ya sudah pada minggat saja kalian semua. Jangan pernah lagi kalian tinggal dirumahku lagi," usirku dengan begitu tegas Wajah Mas Reno begitu pucat, saat mendengar ucapanku. Mungkin ia tidak menyangka, kalau aku akan berkata seperti itu. Selama ini aku selalu diam, tetapi bukan karena aku takut. Aku hanya masih menghargai mereka semua, tetapi kali ini aku merasa sudah cukup sabar, makanya aku berontak. Mungkin mereka lupa, kalau aku ini adalah manusia, yang punya hati dan juga perasaan. Aku bukanlah wayang, yang bergerak jika dimainkan oleh dalang. Jadi aku juga bisa melawan, sekiranya mereka semua menindasku dan berbuat yang tidak sesuai dengan keinginanku. "Heh, Mila. Kamu itu kurang ajar sekali ya, kamu telah berani mengusir anakku! Mila, kamu itu harus ingat, walaupun kamu yang selalu membayar cicilan rumah ini, tetapi kamu masih terikat pernikahan dengan Reno. Jadi jika kamu mau mengusir Reno, bagikan dulu harta gono gininya," pinta Bu Risma. "Apa yang dikatakan Ibu benar, Mila? Kalau kamu mau mengusir Reno dari rumah ini, kamu harus membagi dua harta bendamu. Kamu jangan serakah jadi perempuan, sebab semua yang kamu miloki juga karena ada andil Reno," timpal Mbak Wina. Mereka berdua meminta aku, supaya aku mau membagi dua hartaku. Mereka tidak ingin pergi dengan tangan hampa, sebab menurut mereka Mas Reno berhak mendapat harta gono gini, dari pernikahannya bersamaku. "Oh, jadi maksud kalian, aku harus membagi hartaku dengan Mas Reno?" tanyaku lagi, sambil menatap kedua wajah perempuan itu dengan bergiliran "Memangnya kamu benar-benar mau berpisah denganku, Mira?" tanya balik Mas Reno. Ia meminta jawabanku, tentang apa yang akan aku pilih. Mas Reno seakan ragu, saat aku mengungkit masalah perpisahan. Padahal sejak awal dia sendiri berkata dengan tegas, kalau ia akan mengusir aku dari rumah ini, otomatis rumah tangga kMi bubar. Tapi setelah aku menyetujui dan akan memenuhi keinginannya. Ia malah lemas dan tidak bertenaga. "Mas, kamu jangan malah memutar balikan fakta ya! Bukankah dari awal kamu sendiri, yang mengusirku dari rumah ini. Padahal jelas-jelas kamu tau, kalau rumah ini adalah hasil keringatku. Kamu juga lebih membela Mbak Wina, dibanding aku, padahal aku masih menjadi istri sah kamu. Kamu bahkan lebih memilih mantan Kakak iparmu yang tinggal di sini dibanding aku. Kamu melakukan semua itu, demi membela MANTAN KAKAK IPARMU. Sehingga kamu tega mengusirku," sahutku panjang lebar, dengan penuh penekanan di setiap katanya. "Mila, maafkan kesalahan Mas ya. Karena Mas telah terbawa emosi. Mas Khilaf, Mila. Sebenarnya, Mas itu nggak pernah ada niatan untuk berpisah denganmu, Mila. Sekali lagi, Mas minta maaf, ya Mila. Mas tidak akan mengulanginya lagi," ucap Mas Reno, ia meminta maaf kepadaku. Aku tidak tahu, permintaan maafnya ini tulus atau tidak. Yang jelas Mas Reno meminta maaf dan dia bilang menyesali perbuatannya. "Reno, kok kamu malah meminta maaf sih? Bukannya kamu mau menalak perempuan ini?" Mbak Wina bertanya. "Nggak, Mbak, aku tidak akan pernah menalaknya. Tadi aku sedang khilaf, Mbak. Makanya perkataanku asal," jawab Mas Reno. "Kamu beneran menyesali, atau hanya sekedar pura-pura, Mas? Jika Kamu hanya sekedar ingin menyenangkan hatiku, lebih baik kamu pergi. Karena aku tidak suka sama orang yang bermuka dua," tegasku. Aku sebenarnya kurang yakin dan kurang percaya, dengan apa pun yang akan dikatakan Mas Reno. Aku cuma ingin mengetes saja, bagaimana jawabannya dia selanjutnya. "Aku benar-benar menyesal, Mila. Jika kamu tidak percaya dan ingin bukti dariku, maka aku akan membuktikannya," sahut Mas Reno. "Jadi kamu benar-benar menyesal, Mas? Oke kalau begitu, aku memang ingin meminta bukti, tentang keseriusan ucapan kamu barusan. Maka dari itu aku minta sama kamu, supaya kamu mau mengusir Mbak Wina dari sini. Apa kamu bisa, Mas?" tantangku. Karena Mas Reno memberi pilihan kepadaku, maka aku mengungkapkan apa yang ada di dalam hatiku. Aku meminta Mas Reno, supaya ia mengusir Mbak Wina, yang memang dari awal menjadi permasalahan kami, hingga permasalahannya menjadi sebesar ini. Aku ingin tahu, dia sanggup atau tidak untuk melaksanakan permintaanku ini. Karena semenjak awal Mas Reno begitu melindungi, mantan Kakak iparnya ini. Jujur, sebenarnya aku juga heran dengan sikap Mas Reno, kenapa bisa dia begitu perhatian dengan Mbak Wina? Bersambung ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD