Bab 4 : Masalah Sudah Selesai

1354 Words
Mendekat ke arah mobil, Ghea tidak langsung masuk. Ia hanya berdiri di ambang pintu sampai Daniel menggerakkan kepalanya memintanya naik. Entah sengaja, atau memang tidak mengerti dengan kode yang diberikan Daniel. Ghea tetap berdiri dan malah berkata bahwa dirinya sibuk. "Dimana aku harus tanda tangan?" Daniel tersentak, menganggap kalau Ghea tahu apa yang akan dilakukannya. Ya, dia berniat membuat perjanjian supaya gadis itu tidak akan pernah menuntut apapun di kemudian hari, bagaimanapun juga dia sudah meniduri seorang public figure yang memiliki fans garis keras di negara ini. Salah-salah Daniel lah yang akan terkena hujatan seluruh nitizen yang budiman. Casanova bukanlah aib baginya, tapi jika disebut pemerkosa-lain cerita. "Pak, apa anda juga ingin berfoto? bisakah kita bergegas, saya masih perlu mengambil beberapa adegan lagi, saya sibuk!" Daniel sadar, ternyata Ghea sama sekali tidak mengingatnya. "Malam itu di Sky Hotel, kamu dan aku-" Belum juga Daniel menyelesaikan kalimatnya, Ghea sudah melompat masuk ke dalam mobil. Ia menatap wajah pria itu, otak cerdasnya sudah bisa menangkap maksud Daniel. "Apa kamu yang melakukan itu bersamaku?" Ghea langsung nenyingkirkan segala keformalitasannya ke Daniel, gadis itu ingin segera mengeluarkan unek-unek yang menjadi beban di kepalanya beberapa minggu ini. "Syukurlah kamu sepertinya seorang yang terhormat." Daniel hanya diam, kening dan alis matanya berkerut-kerut. Kenapa gadis ini malah bersyukur, jangan bilang- "Aku sangat cemas, bagaimana jika yang melakukan itu denganku adalah orang jahat, mengambil video lalu menyebarkannya." Tunggu! apa gadis ini lebih memikirkan karirnya dari pada kesuciannya? gila, uang memang bisa membuat semua orang buta, sepertinya mudah menyelesaikan masalah ini dengannya. "Lalu apa yang kamu inginkan?" tanya Daniel. "Sebelum aku mengatakan apa yang aku inginkan, aku ingin tahu kenapa kamu datang menemuiku?" "Karena kamu sudah paham, sepertinya aku tidak perlu menjelaskan kenapa, bagaimana dan kronologi kita bisa melakukan itu," ucap Daniel. "Ya, kita juga tidak perlu reka ulang adegan." Daniel melotot mendengar kalimat Ghea barusan, reka ulang adegan? apa maksud gadis itu ingin mengulangi bercinta dengannya. Terserah, sepertinya Ghea tipe wanita yang mata duitan dan mudah diperbudak dengan uang. "Begini Nona Ghe-" "Pak, saya harap kita bisa melupakan malam itu, anggap saja kita berdua tidak pernah bertemu," potong Ghea cepat. Lagi-lagi Daniel kaget, tapi secepat kilat Ia menyetujui permintaan Ghea. "Baiklah!" Tersenyum, Daniel merasa sangat mudah menyelesaikan ini dengan Ghea, ternyata gadis itu berada diposisi yang sama sepertinya, ingin melupakan dan mengubur rahasia one night stand mereka dari seluruh dunia. "Tapi aku harus memastikan satu hal kepadamu, dimasa depan seandainya kamu menghadapi masalah keuangan, jangan sampai kamu menjadikan masalah ini untuk mengeruk keuntungan dariku," ucap Daniel sambil menyerahkan sebuah kertas yang bagian bawahnya sudah dibubuhi materai. Ghea pun menerimanya dan langsung membacanya, Ia menganggukkan kepala dan tersenyum karena surat perjanjian itu dinilainya tidak merugikannya sama sekali. "Beri aku pulpen!" Daniel pun memberikan apa yang Ghea minta, matanya tak bergerak sedikitpun melihat tarian tangan gadis itu di atas kertas perjanjian yang dia buat. Setelahnya, Daniel pun menandatangani bagiannya. Mereka memegang satu buah salinan yang terbubuhi tanda tangan satu sama lain. "Untuk ke depannya, kita tidak perlu saling bertemu," ucap Daniel. Ghea melipat kertas perjanjian itu dan menyimpannya di kantung belakang celananya. Ia menganggukkan kepala. Namun, sebelum ia benar-benar keluar dari dalam mobil, Daniel memberikan sebuah tas kertas berisi kotak kecil kepadanya. "Orang-orang pasti akan curiga jika kamu kembali tanpa membawa apa-apa, katakan kepada mereka kalau aku fans beratmu jika ada yang bertanya nanti," ucap Daniel. Setelah Ghea menerima pemberian Daniel, pria itu mengulurkan tangan untuk mengajaknya berjabat tangan. Gadis itu kembali tersenyum, tapi saat Ia ingin melepaskan tangannya dari genggaman Daniel, pria itu menahannya. "Kenapa?" Awalnya Daniel Ingin bertanya apakah mungkin artis meminum pil kontrasepsi atau sejenisnya. Namun, Ia mengurungkan niatnya. "Tidak, aku hanya ingin memastikan sekali lagi, bahwa masalah kita sudah selesai." Mengangguk paham dan hampir pergi, tapi Ghea tiba-tiba saja merapat kembali ke arah Daniel. "Ah... aku baru ingat, bolehkah aku bertanya?" Ghea pun berbisik seolah pertanyaan yang akan dia sampaikan ke pria itu sangat lah rahasia. "Kamu memakai pengaman kan malam itu?" Daniel membeku, jika gadis di sebelahnya bertanya seperti itu tandanya mungkin saja Ghea tidak meminum pil pencegah kehamilan atau sejenisnya. "Sudah lah, aku harus syuting." Tanpa berpamitan kembali, Ghea keluar dari mobil Daniel, Gadis itu tersenyum bahkan melambaikan tangan pada Jim yang sejak tadi berdiri di luar. _ "Jim." "Ya Pak!" Bagus terlihat duduk di kursi teras yang terdapat di depan rumah Shanum. Dia sedang menunggu Shanum keluar karena hari ini mereka sepakat untuk pergi bersama. "Bagus." Shanum keluar dari rumah dan langsung menyapa Bagus yang duduk menanti dirinya. Pria itu menoleh dan melihat Shanum yang sudah siap. Melihat wanita itu yang tampak begitu cantik meski wajahnya sedikit pucat. Bagus pun berdiri dan mengulas senyum manis. "Berangkat sekarang?" Shanum mengangguk, kemudian mengunci pintu rumah dan pergi bersama Bagus menggunakan mobilnya. Mereka hari ini memang sudah berniat untuk jalan-jalan. Shanum terus memperhatikan jalanan yang mereka lewati, seolah sedang menikmati perjalanan mereka. Shanum memperhatikan setiap tempat yang dilewati, seolah sedang merekam sebuah memori yang akan diingatnya sampai nanti. Bagus mengajak Shanum menonton bioskop. Mereka benar-benar seperti pasangan muda-mudi yang baru mengenal cinta. Bahkan Shanum tak sungkan memyambut uluran tangan Bagus yang ingin menggandengnya. "Ini kursinya." Bagus mempersilakan Shanum duduk dulu, setelah itu barulah dirinya ikut duduk. Shanum tersenyum, dia merasa senang dengan perlakuan manis Bagus juga perhatian pria itu. Mereka pun duduk bersama, memegang popcorn dan minuman. Keduanya menikmati film romansa komedi yang sedang ditayangkan. Shanum sesekali tertawa lepas. Untuk pertama kalinya dia merasa bebas seolah tanpa beban, meski sebenarnya sedang tidak baik-baik saja. Selama ini dia terlalu fokus bekerja dan memastikan Laskar mendapatkan kehidupan yang baik, sehingga melupakan kebahagiaannya sendiri. Bagus menoleh Shanum. Melihat wanita itu tertawa, membuat sudut hatinya menghangat. Dia berharap, senyum dan tawa itu tidak pernah hilang. Dia ingin melihatnya setiap kali membuka mata. _ Namun, setelah film yang mereka tonton selesai. Shanum kembali merasakan perutnya sakit. Meski begitu dia mencoba untuk menahannya dan mengekor Bagus ke sebuah toko sepatu. "Bagus nggak menurutmu?" "Bagus, kan kamu Bagus." Shanum masih bisa bercanda, dia meringis seolah tertawa padahal merasa sangat kesakitan. "Bukan itu maksudku." Bagus mencebikkan bibir. Ia lantas mengembalikan sepatu yang dipegangnya ke rak lagi. Pria itu sangat terkejut saat melihat Shanum sedikit membungkuk, kening wanita itu terlihat basah oleh keringat dingin. Bagus meraih lengan Shanum dan bertanya apakah wanita itu baik-baik saja. Shanum tak menjawab, kakinya lemas dan dia pun tiba-tiba jatuh terkulai. "Shanum!" pekik Bagus yang panik. Dibantu oleh pelayan toko dan satpam yang segera bertindak cepat, Bagus membawa Shanum ke rumah sakit menggunakan ambulans yang kebetulan disediakan oleh pantia sebuah acara di mall tersebut. Sesampainya di rumah sakit Shanum langsung diperiksa. Bagus menjelaskan bahwa wanita itu memiliki kanker rahim stadium akhir. Bagus benar-benar dibuat syok, dia melihat darah mengalir ke kaki Shanum. Tubuhnya gemetaran hingga membuatnya terduduk lemas di lantai IGD yang dingin. Bagus menjambak ke dua sisi kepalanya. Ia menangis melihat kondisi wanita yang dicintainya itu. Bagus merasa tidak rela jika sampai Shanum harus pergi secepat ini. Pria itu terus menangis, sampai ingat harus memberitahu Aska karena ada hubungannya dengan Laskar. Bagus merogoh kantung celana untuk mengeluarkan ponsel, dia mendial nomor Aska dan berharap pria itu segera menerima panggilannya. "Halo!" suara Aska terdengar diikuti dengan suara yang sedikit berisik. "Di mana Laskar? Shanum pingsan, kondisinya sangat tidak baik, aku takut dia ... Dia." Bagus tak bisa menahan pikiran negatif di kepala. Sementara itu, Aska menoleh ke Zara dan Laskar yang sedang duduk di kursi tunggu, karena mereka ingin bertemu dengan dokter kandungan. "Menurutmu bisakah seorang wanita hamil meski hanya sekali melakukan hubungan intim?" Daniel menatap keluar jendela mobil, tak pernah dia merasa seresah ini, meskipun sudah banyak wanita yang dia tiduri. "Mungkin bisa, tapi menurut saya, kemungkinannya sangat kecil. Jika yang melakukan pasangan suami istri, pasti mereka merasa seperti diberi anugrah karena sekali berhubungan langsung bisa mencetak buah hati, tapi jika yang melakukan itu orang yang tidak memiliki hubungan sama sekali, jelas akan menjadi malapetaka." "Jim, kenapa kamu seterus terang ini?" "Maaf, apa saya salah menjawab pak?" "Tidak, hanya saja aku sedang khawatir, gadis itu tidak mungkin akan hamil kan?" Kenapa aku harus menemuinya? seharusnya aku biarkan saja, dia bahkan sepertinya tidak mengingat wajah siapa yang bercinta dengannya. Sial! perasaan macam apa ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD