Pertemuan Pertama

1292 Words
“Ia adalah ketenangan yang turun karena al-Qur'an.” (HR Bukhari: 4839, Muslim: 795) Gadis cantik bersurai hitam panjang sebahu sedang duduk mematut wajahnya di depan cermin, berulangkali ia mengamati pantulan wajahnya. Wajah yang selalu terlihat pucat dan sendu. Ia memutuskan untuk memoles tipis wajahnya dan membubuhkan liptint warna pink di bibirnya. Ia menghela nafas dalam lalu mengembangkan senyuman tipis seraya melihat pantulan wajahnya kembali yang terlihat lebih cantik dengan sebuah senyuman. 'Perfect! kamu cantik,' ucapnya dalam hati. Tak tak tak tak Suara heels yang beradu dengan lantai marmer terdengar kian mendekat ke arah kamar Alisha. Alisha yang mendengarnya pun segara menyambar tas dan ponselnya. Ia bagkit dan berjalan ke arah pintu. "Sa...." panggil sang ibu lirih bersamaan dengan Alisha yang membuka pintu kamar. "Kamu sudah siap Sayang?" tanya sang mama lembut. Alisha mengangguk pelan sebagai jawaban. "Baiklah ayo kita sarapan." Maria merangkul lengan putrinya dengan sayang. Maria menarik kursi meja makan untuk Alisha lalu mengambil nasi goreng kesukaan putrinya. "Makanlah yang banyak Sayang, hari ini kamu sudah mulai pelajaran kan?" ucap Maria sembari menyodorkan piring yang berisi nasi goreng kepada Alisha. Tak ada perbincangan, Alisha dan Maria sibuk menikmati nasi goreng yang tersaji di atas piring mereka. Hanya beberapa suap saja, Alisha meraih tissu di sampingnya lalu mengelap sudut mulutnya. Ia lantas mengeluarkan sebuah botol obat, mengeluarkan butiran pil dari dalamnya. Ia menegak air dan memasukkan pil tersebut ke dalam mulutnya. "Alisha berangkat dulu ya Ma," ucap Alisha sembari bangkit dari kursinya. Maria menganggukkan kepala sembari tersenyum. "Hati-hati di jalan Sayang, telepon mama jika kamu membutuhkan bantuan," pesan Maria. "Iya Ma. Bye...." Alisha berjalan menjauh menuju depan rumah. Ia segera masuk ke dalam mobil yang akan mengantarkannya menuju kampus. Hanya lima belas menit saja, Alisha kini sudah sampai di pelataran kampus. Ia berjalan santai masuk ke dalam kampus menyusuri lorong menuju kelasnya. “Alisha,” seru seseorang dari arah belakang Alisha. Alisha menoleh ke arah suara, dilihatnya seorang perempuan berhijab panjang hingga selutut melambaikan tangan ke arahnya sembari tersenyum. “Kamu baru datang juga ternyata?” sapa seseorang teman yang baru ia kenal beberapa minggu lalu itu. Alisha mengangguk sembari tersenyum tipis. “Hemm.” “Hari ini materinya ‘Pengantar Manajemen dan Bisnis’ kan ya?” tanya Fira memastikan. Alisha kembali mengangguk sebagai jawaban. “Langsung ke kelas aja yuk,” ajak Alisha. “Eh bentar, masih lima belas menit lagi. Ikut aku dulu yuk?” tanpa bertanya Alisha mengikuti langkah Fira menuju ke sebuah tempat yang tak jauh dari kelas. Alisha menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, matanya menelisik mengamati sekitar tempat tersebut. Ini adalah kedua kalinya ia datang ke tempat ini dengan tujuan yang sama yakni menunggu Fira. Fira menyuruhnya duduk di emperan yang lantainya bertuliskan “Batas Suci”, ia memutuskan duduk dan memainkan poselnya di sana. Tak lama kemudian Fira datang dan duduk di samping Alisha mengenakan alas kaki miliknya. “Kenapa banyak sekali yang datang dan masuk ke dalam sana?” tanya Alisha yang membuat Fira mengerutkan dahinya. “Sholat dong Al, ini kan bulan ramadhan jadi semua orang mau memperbanyak amalan ibadah,” jelas Fira yang membuatnya mengangguk anggukkan kepala sebagai respon. “Memang kamu gak pernah lihat ya?” tanya Fira heran. Alisha menggeleng gelengkan kepala. “Baru dua kali ini, dan itu karena kamu yang ajak,” jawabnya jujur. “Oh, pantesan.” Fira telah mengenakan alas kakinya kembali, ia bangkit dari duduknya mengajak Alisha pergi dari masjid. Baru dua langkah saja, Alisha tiba-tiba mengehentikan langkahnya. Ia memegang lengan Fira sembali menoleh ke arah Fira. Matanya menatap mata Fira dengan tatapan penuh tanya. Suara itu suara yang sama dengan suara yang pernah ia dengar tempo hari ketika ke masjid mengantar Fira. Suara yang baru saja ia dengar itu membuat hatinya menghangat. Alisha yang penasaran pun langsung bertanya kepada Fira. “Kenapa Al?” tanya Fira penasaran. “Apa kamu mendengarnya?” tanya Alisha. “Mendengar apa?” tanya Fira tak mengerti. “Suara itu, coba dengar baik-baik. Suaranya berasal dari dalam sana,” ucap Alisha menunjuk masjid. “Astaghfirullah, aku kira suara apa Al. Itu namanya tadarus Al. Mereka sedang membaca Al-Qur’an di dalam sana,” beber Fira sembari tersenyum. “Oh,” jawab Alisha ber-oh ria. Alisha memejamkan mata sejenak, menikmati suara tilawah yang menentramkan hatinya. Ia pun spontan berbalik badan dan mengamati siapa yang sedang membaca ayat suci Al-Qur'an tersebut. Ia mengambil ponsel dan merekam suara tersebut diam-diam kemudian menyusul Fira yang berjalan mendahuluinya. Alisha dan Fira berjalan menuju kelas, mereka bersiap menerima mata kuliah pertamanya. Di tempat lain, seseorang pria bertubuh tinggi tegap dengan kulit berwarna kuning langsat dan sorotan mata tajam sedang berjalan keluar dari masjid. Ia melangkahkan kakinya mantab menuju ke lorong kelas. Tiba-tiba benda pipih di dalam saku celananya bergetar panjang membuat sang empunya terpaksa mengambil dan melihat siapa gerangan yang menelponnya. “Yusuf.” ucapnya sembari menggeser tombol gulir hijau di layar ponselnya. “Assalamu'alaikum Suf,” sapa seseorang yang bernama Adam itu. “Walaikum salam warahmatullah.” sahut Yusuf dari seberang sana. “Bang, boleh minta tolong antar aku ke fakultas Fira?” ucap Yusuf selanjutnya. “Boleh, kamu di mana? Biar aku ke sana.” jawab Adam. “Aku masih di lobbi Bang.” “Baiklah, tunggu sebentar ya.” Adam mematikan sambungan teleponnya lalu memasukkn ponselnya ke dalam saku. Adam berjalan cepat menuju lobi kampus, perasaannya tak enak. Adam menepuk bahu Yusuf dari belakang lalu mengulurkan tangannya untuk bersalaman. “Yusuf,” panggil Adam sembari menepuk bahu Yusuf. “Bang Adam, maaf merepotkan Bang Adam.” Yusuf menjabat uluran tangan Adam. “Tak apa, ayo aku antar.” “Iya bang, terimakasih.” “Memangnya ada hal penting apa yang membuatmu harus menemuinya langsung di kelas?” tanya Adam kepada suami sepupunya tersebut. “Nenekku meninggal Bang, ibu baru saja menelponku dan aku ingin mengajak Fira ke sana tapi nomornya aku hubungi tidak ada jawaban.” jelas Yusuf yang berjalan beriringan dengan Adam. “Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun, aku turut berbela sungkawa Suf. Maaf aku tak bisa ikut denganmu nanti karena aku sudah ada janji dengan dosen dan aku harus bekerja,” ucap Adam tak enak hati. “Tak apa Bang aku mengerti kok,” jawab Yusuf sembari mengusap lembut pundak Adam. Adam menghentikan langkahnya di sebuah ruangan dengan pintu terbuka, di sana nampak beberapa mahasiswa yang sedang mengobrol di dalam kelas. Ya... Kelas tampak ramai karena dosen pengajar datang terlambat. “Nah ini kelasnya Suf,” ucap Adam menunjuk sebuah ruangan. Adam langsung masuk ke kelas tersebut karena suasana kelas sedang ramai. “Fira,” panggil Yusuf. Fura yang sedang asik mengobrol dengan Alisha pun sontak menoleh. “Mas Yusuf, Bang Adam,” sapa Fira keheranan. “Sayang kamu harus ijin kuliah untuk hari ini dan beberapa hari ke depan,” ucap Yusuf kepada Fira. “Kenapa Mas?” tanya Fira penasaran. “Nanti kita bicara di rumah saja ya, sekarang ayo kita Pulang,” ajak Yusuf yang dituruti oleh Fira. “Umm... Sha, aku pulang duluan ya?” pamit Fira. Alisha mengangguk kecil sebagai jawaban. “Hati-hati di jalan Ra,” pesan Alisha. “Iya Sha.” “Bang kami duluan ya, terimakasih atas bantuannya.” Kali ini giliran Yusuf yang angkat bicara untuk berpamitan. Fira melambaikan tangan ke arah Alisha sembari melangkahkan kaki pergi, bayangan Fira dan Yusuf berlalu menghilang di balik tembok lorong kelas. Disusul kemudian Adam yang juga berjalan begitu saja menuju fakultas kedokteran. Alisha menatap lekat punggung itu, punggung yang terasa begitu familier untuknya. Alisha terdiam sejanak otaknya mulai befkir dan mengingat siapa gerangan lelaki yang baru saja ia lihat itu. ‘Sepertinya tak asing, siapa dia?’ batin Alisha. Alisha yang penasaran pun dengan refleks memanggil Adam. “Hei, tunggu!” seru Alisha. “Tunggu!” ulang Alisha.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD