Kamu

985 Words
Bab 3 Kamu “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216). Waktu menunjukkan pukul sembilan lewat sepuluh menit, seorang perempuan dengan jilbab panjang melangkahkan kaki perlahan menuju kelas. Sementara seorang teman yang cukup dekat dengannya berjalan menghampirinya. Ya dialah Alisha, satu-satunya teman yang dekat dengan Fira saat ini. "Fira, apa kabar?" sapa Alisha. Tak ada jawaban dari Fira, ia masih diam bertahan dengan wajah sendunya. Detik selanjutnya ia meraih tubuh Alisha dan memeluknya erat membuat sang empunya bertanya-tanya. "Sha, aku sedih," adunya kepada Alisha. "Hei, kamu kenapa? Sedih kenapa hemm? Ayo ceritakan padaku," ucap Alisha sembari mengusap punggung Fira lembut. "A-aku...." "Aku apa Fir? Kamu jangan membuatku takut, ayo ceritalah. Semua akan baik-baik saja." ucap Alisha mencoba menenangkan Fira. Belum sempat Fira menjawab beberapa teman lainnya yang saat itu berada di kelas datang menghampiri Fira dan Alisha. "Fira, kamu yang sabar ya. Semoga Almarhumah mendapatkan tempat paling indah di sana," ucap seseorang yang bernama Vita. Alisha mengendurkan pelukan Fira, jantungnya berdegup kencang dan pikirannya pun menerawang jauh kebelakang mengingat kejadian yang menimpa sang kakak dulu. Seketika amarah dan rasa sedihnya meletup-letup kembali memicu Alisha untuk berteriak dan menangis namun Alisha mencoba menahannya karena ia tak ingin membuat temannya takut melihat keadaannya nanti. "Stop Alisha, jangan lakukan. Itu akan membuat semua orang takut padamu," batin Alisha mencoba menguatkan dirinya. Wajah Alisha berubah menjadi pucat pasi, keringat dingin mulai muncul di kedua telapak tangannya. Namun Alisha tetap bertahan di sana menyimak pembicaraan teman-temannya. "Terimakasih ya Vit," ucap Fira sembari mengusap air mata. "Aku turut berduka cita ya Fir, aku denger-denger kemarin nenek kamu meninggal," ucap seorang lainnya yang mengenakan baju berwarna pink. "Iya Fir, aku juga turut berbela sungkawa ya." "Terimakasih banyak ya semua, do'akan semoga nenekku tenang di sana dan diampuni dosanya," ucap Fira. Tak tahan lagi mendengar pembicaraan teman-temannya Alisha pun angkat bicara. "Berdo'a? Untuk apa berdo'a Tuhan tidak ada!" sahut Alisha dengan nada ketus. Fira memalingkan wajahnya melihat Alisha, ia terkejut mendengar perkataan Alisha barusan. Perkataan Alisha membuatnya sedikit kesal. Namun Fira yang tak ingin melukai hati temannya itu berusa berkata dengan nada yang lembut. "Alisha, kenapa kamu berkata kaya gitu? Kamu, aku dan semua yang ada di sini bisa bernafas hingga saat ini tuh karena adanya kuasa Allah. Jadi jangan berkata begitu lagi," tutur Fira memberikan pengertian. "Meski kamu tidak suka atau mungkin sedang marah sama Allah kamu tidak boleh berkata seperti itu ya." "Allah akan murka jika kamu berkata kayak gitu Sha." "Fira bener Sha, Tuhan itu ada kok mungkin kamu saja yang belum merasakannya," sahut salah seorang teman sekelas mereka. Alisha yang sudah tersulut amarah sebelumnya karena mengingat-ingat kejadian sang kakak pun merasa terpojok dengan semua yang dikatakan teman-temannya. Ia memilih pergi meninggalkan Fira dan teman-tamannya. "Alisha ... Alisha, kamu mau kemana?" seru Fira. "Alisha tunggu! Dosen akan segera datang," ucap seorang lainnya. Alisha berjalan cepat keluar kelas, ia sudah tak tahan lagi. Hatinya memanas dan cairan bening pun sudah bersiap untuk jatuh. Alisha berjalan lurus mengabaikan panggilan Fira dan temannya yang lain. "Alisha kenapa sih Fir? kok Dia aneh gitu? Dia seperti orang yang tak punya agama saja," celetuk Vita. Fira mengangkat kedua bahunya lalu menggelengkan kepalanya perlahan. "Aku juga gak tau dia kenapa sih, mungkin saja dia lagi banyak fikiran atau sedang ada masalah makanya dia sensitif gitu," jelas Fira kepada teman-temannya. "Biarkan saja dulu mungkin Alisha swdang butuh waktu untuk menyendiri," sahut salah seorang teman lainnya. "Hemm... Kamu benar. Ya sudah ayo kita duduk, Pak Anam sebentar lagi datang," ajak Vita. Mereka pun bergegas duduk di tempat duduk mereka masing-masing. Langkah kaki Alisha membawanya ke arah taman kampus. Ia duduk di bangku taman kampus mencoba menenangkan dirinya. Ia mengorek sesuatu yang berada di dalam tasnya lalu memutar sebuah lantunan ayat suci Al-Qur'an yang ia rekam kemarin. Ia mendekatkan ponselnya ke telinga meresapi suara lantunan ayat suci Al-Qur'an tersebut. "Huhhh...." Alisha menghembuskan nafas panjang. Ia mematikan suara lantunan ayat suci Al-Qur'an tersebut lalu memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas. Merasa sudah sedikit tenang Alisha pun beranjak dari tempat duduknya hendak menuju ke sebuah kedai minuman yang terletak di seberang jalan agak jauh dari kampusnya. "Haus, aku beli minum dulu kali ya," gumam Alisha pelan. Dilain tempat, Adam yang telah selesai melakukan bimbingan dengan dosen pun berjalan menuju parkiran dan bergegas untuk segera bekerja. Namun niatnya urung kala melihat ban belakang motornya kempes. "Aduh kempes lagi bannya," ucap Adam sembari mengecek ban motornya. Adam melirik ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya lalu mengusap rambutnya kasar. "Sudah hampir dhuhur lagi," desis Adam. Adam mendorong motornya keluar kampus berniat membawa motornya menuju bengkel yang terletak di ujung jalan kampus. Ckiiiiiiiit... Sreeeeeeeek! Braaaaaaaaaak! Suara mobil yang bertubrukan dengan sebuah sepeda motor itu terdengar begitu menggelegar. Alisha yang berdiri tak jauh dari sana menjerit histeris kala melihat sosok korban yang tergeletak bersimbah darah di tengah jalan. Tubuhnya bergetar ketakutan, ingatan tentang sang kakak kembali muncul seketika itu tubuh Alisha meluruh. Alisha terus menjerit dan berkata "jangan tinggalkan aku." Beberapa mahasiswa dan orang yang berada di jalanan dekat kampus itu pun berbondong bondong berkerumun melihat Alisha, mereka mengira Alisha adalah salah satu korbannya. Adam yang saat itu sedang mendorong motornya hendak menambal ban pun berhenti dan ikut melihat apa yang sedang terjadi ketika mendengar teriakan histeris. Adam mamarkirkan motornya di pinggir jalan lalu mendakati kerumunan tersebut. "Permisi," ucap Adam sembari menerobos kerumunan. Adam yang melihat sesosok perempuan menangis histeris pun iba, tanpa berpikir panjang ia menarik lengan perempuan itu ke tempat yang lebih tenang. Ia mengeluarkan botol air minum dari dalam tasnya lalu memberikannya kepada perempuan tersebut. Alisha mendongakkan kepala lalu melihat sosok yang mengulurkan air minum untuknya. Ia membelalakkan mata sempurna kala melihat sosok Adam di depannya. Pun dengan Adam yang terkejut melihat sosok Alisha. Mata mereka berpandangan mengamati satu sama lain. "Kamu!" seru keduanya bersamaan. Bersambung....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD