Austin merapikan kacamata bening di atas hidung, berdiri menunggu di ambang pintu dengan cemas. Sembari melongokan kepala berusaha melihat keadaan sekitar, takutnya ada zombie atau pun monster yang menunggu mereka di luaran sana. Pemuda jangkung itu menolehkan kepala saat mendengar suara langkah mendekat, ada Rania di sana yang mendekat bersama sepasang suami-istri yang baru saja keluar dari kamar. Berbicara empat mata untuk memutuskan mereka akan ikut pergi atau tidak. “Saya sekali akan bertanya, untuk meyakinkan bapak dan ibu.” Kata Rania menghela napas samar, “sudah yakin dengan pilihan bapak dan ibu sekarang? Padahal kalian berdua tahu sendiri, rumah pun tidak akan menjadi tempat yang teraman saat ini. Kita harus pergi ke tempat penampungan resmi agar bisa me

