Begitu ciuman itu terlepas, aku terengah tanpa sadar. Dadaku naik turun, panas masih tertinggal di bibirku. Aku tidak langsung bicara, hanya menatap Rheef beberapa saat, cukup lama untuk merasakan detak jantungku sendiri yang belum juga tenang. Rheef menatap balik, matanya gelap tapi lembut, seolah memastikan aku tidak menyesal. Aku mengalihkan pandangan lebih dulu. Tanpa berkata apa pun, aku menarik napas dalam, lalu melangkah menjauh. "Aku mau ke kamar mandi," kataku. Rheef hanya mengangguk sebagai jawaban, tapi bibirnya melengkungkan senyuman. "Di dalam kamarku kamar mandinya, Ze. Arah kanan," kata Rheef. Aku mengangguk. Kakiku membawaku ke arah kamar mandi di dalam kamar tidur Rheef, gerakanku cepat, nyaris kabur. Aku menutup pintu di belakangku, menyandarkan punggung ke daun p

