Saat aku melewati pintu utama, Lisa menghentikanku tepat sebelum aku sempat menaiki anak tangga.
“Zenata,” panggilnya lembut, nyaris seperti bisikan yang ditata rapi. “Kamu ke mana?”
“Kamar,” jawabku singkat. “Aku capek.”
Lisa tersenyum, senyum yang selalu dia pakai saat ingin terlihat bijak. “Sebentar saja. Makan malam ini spesial. Kamu harus ikut.”
Aku menoleh ke ayah, berharap ada penolakan darinya. Tapi ayah hanya mengangguk datar.
“Ikut dan duduklah sebentar. Tidak lama.”
Aku menarik napas panjang, lalu berbalik tanpa membantah. Saat duduk, aku baru menyadari kalau kursiku berada tepat di samping Rheef. Seolah itu sudah diatur.
Rheef menoleh, melihat ekspresiku, lalu memberi anggukan kecil yang menenangkan. Tangannya menyentuh punggung tanganku sekilas di bawah meja, seakan memberi peringatan halus agar aku bersabar.
Lisa duduk berhadapan denganku, bersebelahan dengan Bianca. Adik tiriku itu terlihat terlalu rapi malam ini, terlalu siap.
“Makanannya sederhana,” kata Lisa membuka percakapan. “Saya harap cocok di lidah semua.”
“Terima kasih, Tante,” Rheef menjawab sopan.
Lisa tersenyum lebih lebar. “Ah, panggil santai saja. Kita ini sudah seperti keluarga, kan?”
Aku menegang. Rheef melirikku sekilas, lalu kembali menatap Lisa dengan senyum netral.
“Rheef ini sibuk sekali,” lanjut Lisa sambil menyendok sup Bianca. “Tapi masih mau menyempatkan diri datang. Itu tanda pria yang bertanggung jawab.”
“Kerjaan memang sedang padat,” jawab Rheef singkat.
“Pria seperti itu jarang,” sambung Lisa. “Sekarang anak muda kebanyakan sibuk sendiri. Tidak semua bisa memikirkan masa depan.”
Aku mengerutkan kening, itu terdengar seperti sindiran.
Bianca tertawa kecil. “Iya, Kak Rheef kelihatan dewasa," katanya tak lupa dengan nada lembut yang dibuat buat. Aku sudah hafal mana nada kebohongan, drama, dan tuduhan, saking banyaknya aku lupa kapan dia menunjukan nada kejujurannya.
Aku menunduk, memotong daging di piringku, menahan diri agar tidak mengeluarkan suara apa pun. Tapi sial, saat aku mengangkat wajah tepat saat Lisa menatap Bianca penuh arti. Aku tahu, pasti ada apa-apa.
“Bianca juga sedang belajar banyak. Dia sekarang lebih tenang, lebih dewasa. Saya sering berpikir, perubahan seseorang itu karena lingkungannya," katanya.
Aku tahu ke mana arah kalimat itu.
“Lingkungan yang tepat bisa membentuk seseorang jadi versi terbaiknya,” lanjutnya.
Aku lihat Rheef mengangguk sopan.
“Lingkungan memang berpengaruh," timpalnya setuju.
“Makanya saya senang,” kata Lisa pelan, “melihat Bianca nyaman duduk di meja yang sama dengan orang-orang yang visi hidupnya jelas.”
Tanganku mengepal di bawah meja. Sepertinya Rheef merasakan gerakanku, lalu menggeser kursinya sedikit lebih dekat, lutut kami bersentuhan. Itu isyarat kecil, tapi cukup membuatku bertahan.
“Saya percaya,” ujar Lisa lagi, “pertemuan itu tidak pernah kebetulan. Kalau sering bertemu, berarti ada kecocokan yang sedang diuji.”
Aku akhirnya mengangkat wajah. “Maksudmu apa?”
Lisa tersenyum, pura-pura terkejut. “Tidak ada maksud apa-apa, Zenata. Mama hanya berbicara umum. Kamu jangan terlalu sensitif.”
Aku nyaris mendengus andai Rheef tidak menenangkan aku lewat sentuhannya.
Ayah ikut menimpali, “Ibumu hanya berharap suasana keluarga hangat," katanya.
“Hangat itu perlu arah,” jawab Lisa lembut. “Supaya tidak salah paham.”
Bianca menatap Rheef dengan senyum malu-malu. “Aku senang kalau Kak Rheef sering datang," katanya dengan sorot mata yang membuat aku ingin sekali menjambak rambutnya.
Rheef akhirnya bicara, suaranya tenang tapi tegas. “Saya datang karena undangan Om, dan karena pekerjaan.”
Lisa mengangguk cepat. “Tentu. Tapi tidak ada salahnya jika pekerjaan membawa hubungan yang lebih dekat.”
Kali ini aku hampir bangkit dari kursi. Tapi
Rheef lebih cepat. Tangannya menangkap punggung tanganku, ibu jarinya mengusap pelan. “Zenata,” katanya lirih, hanya untukku. “Tenang.”
Lisa memperhatikan itu, matanya menyipit sesaat sebelum kembali tersenyum. “Kalian kelihatan akrab,” katanya ringan. “Bagus. Meja makan memang tempat untuk saling mengenal.”
Aku tersenyum tipis, senyum yang dipaksakan. Di dalam kepalaku hanya satu kalimat berulang, makan malam ini bukan tentang kebersamaan. Ini tentang pilihan yang ingin mereka atur.
Rheef meletakkan sendoknya dengan tenang. Bunyi kecil porselen bertemu meja membuat semua mata tertuju padanya, termasuk Lisa dan ayahku, tentunya aku pun. Ekspresi wajahnya tetap sopan, tapi sorot matanya berubah, lebih tegak, lebih tegas.
“Maaf,” katanya pelan, namun jelas. “Sepertinya saya perlu meluruskan sesuatu.”
Lisa tersenyum, masih dengan nada lembutnya. “Tentu, Rheef. Silakan.”
Rheef mengangguk singkat. “Saya menghargai undangan makan malam ini. Juga perhatian Tante dan Om. Tapi saya datang ke sini sebagai rekan kerja, bukan dengan maksud lain.”
Aku melihat ayah menghela napas kecil. “Kami hanya berpikir—”
“Saya mengerti,” potong Rheef sopan, tidak terdengar kasar sama sekali. “Dan justru karena saya mengerti, saya tidak ingin ada salah tafsir.”
Dia kemudian menoleh sekilas ke Bianca, lalu kembali menatap Lisa, ibu tiriku itu tampak tegang.
“Bianca adalah gadis yang baik. Saya menghormatinya. Tapi rasa hormat tidak selalu berarti ketertarikan.”
Udara di meja makan menegang. Aku bahkan tanpa sadar menahan napas, ingin tahu apa yang akan Rheef sampaikan.
Lisa tersenyum kaku. “Kadang ketertarikan itu tumbuh pelan-pelan," katanya seperti tidak ingin kalah dengan apa yang Rheef katakan.
“Mungkin,” jawab Rheef tenang. “Tapi tidak dalam kasus saya," lanjutnya tegas.
Tangannya bergerak, kali ini tidak lagi sekadar menenangkanku, tapi jelas, protektif.
“Saya sudah memiliki seseorang yang saya pilih. Dan pilihan itu bukan hal yang bisa dinegosiasikan,” ungkapnya.
Aku lihat ayah mengerutkan kening. “Rheef, ini hanya pembicaraan keluarga—”
“Justru itu,” sahut Rheef lembut tapi mantap. “Karena ini keluarga, saya ingin jujur. Saya tidak ingin kehadiran saya disalahartikan sebagai harapan.”
Bianca menunduk, wajahnya memerah, entah malu atau kecewa. Aku tidak peduli, tapi saat ini rasanya aku lega setelah mendengar apa yang Rheef katakan.
Lisa berusaha tertawa kecil. “Kamu terlalu serius. Tante hanya—”
“Membuka kemungkinan,” sambung Rheef. “Dan saya menutupnya dengan cara paling sopan yang saya bisa,” lanjutnya.
Dia menoleh ke arahku sekarang, suaranya melunak tanpa mengurangi ketegasan. Aku hanya diam, sampai dia mengalihkan perhatiannya lagi ke arah yang lain.
“Saya datang ke rumah ini karena undangan Om, dan karena Zenata ada di sini. Bukan untuk alasan lain. Saya mengenal Zenata, dan Om tahu itu.” Kata itu terdengar begitu jelas, tanpa ragu.
Ayah tampak terdiam cukup lama sebelum akhirnya berkata, “Kalau begitu, kami mengerti.”
Lisa mengangguk pelan, senyumnya kali ini benar-benar dipaksakan. “Baiklah. Tante tidak akan membahas ini lagi," katanya dengan suara yang terdengar pelan. Aku tahu, dia pasti kecewa dan malu.
Rheef mengangguk hormat. “Terima kasih. Untuk memperjelas saja, saya punya kekasih," katanya lantas tersenyum. Tapi tatapan matanya tertuju pada ayahku, lalu pada Lisa, dan terakhir pada Bianca. Dia sama sekali tidak lirik ke arahku yang lebih sibuk menatap tangannya di bawah meja, jemarinya menguat menggenggam tanganku, seolah berkata tanpa suara, aku di sini, dan aku tidak akan membiarkan siapa pun mengatur kita.
Bolehkah aku lega meski Rheef tidak mengatakan siapa kekasihnya. Tapi itu cukup untuk membuat aku merasa lebih baik.