Entah sudah berapa lama aku menangis di balkon apartemen Gita. aku lupa kapan aku mulai tertidur dan saat sadar aku sudah berada di kamar. Mungkin Tama? klek! "Nyenyak tidurnya?" Aku langsung mengalihkan pandanganku ke arah suara. Hanya dengan melihatnya saja mataku sudah kembali berkaca-kaca , aku langsung berlari memeluknya. "Gue kangen sama lo hiks... Nikah bikin lo lupa sama sahabat sendiri? Jahat banget hiks..." Ujarku di sela-sela isak tangisku. Rifal balas memelukku erat , dia tau bukan itu alasanku menangis. Tapi dia lebih memilih diam dengan satu tangannya mengusap pelan kepalaku. "Sorry! You know I love you right? You, Gita, my wife and my mother have always been an important part of my life. So, let's talk..." Ujarnya lirih lalu melepas pelukan kami. Dia membawaku duduk

