"Tiga tahun bukan waktu yang singkat , apa yang bikin lo yakin untuk putus?" Tanya Gita masih dengan suaranya yang terdengar tenang. Aku tau Gita berusaha mati-matian untuk menahan segala umpatan yang akan keluar dari mulutnya.
"Git , lo tau kan gue sayang sama dia. Dan gue percaya dia juga sayang sama gue dengan caranya. walaupun caranya yang terbilang extrem dan gila itu kadang-kadang bikin gue bahagia , tapi bukan itu Git. Tiga tahun , gue gak bisa kenalin pacar gue ke siapa-siapa , gak ada foto kita , gak ada momen jalan-jalan , nonton , atau apapun yang pasangan lainnya lakuin. Tiga tahun gue harus pacaran sembunyi-sembunyi , buat apa punya pacar ganteng , tajir dan sayang sama lo tapi gak bisa lo kenalin ke siapa-siapa? Mau sampai kapan kayak gini? Dan lo tau , Aby bilang...
"Aku gak bisa janji apa-apa sama kamu , Aku gak bisa ngehancurin nama besar Pratama". Setelah tiga tahun? Oh s**t!"
Gita menghembuskan napasnya lelah , menggenggam tanganku kuat seolah memberiku kekuatan untuk bertahan.
"Elena... open your eyes , you must rise!" Bentak Gita menahan amarahnya.
"Lo gak bisa terus-terusan kayak gini , lo lihat kan?" Gita mengangkat jari telunjuknya ke arah televisi "Dia baik-baik aja , dan lo? terus-terusan menyiksa diri. sejak awal , hubungan yang lo jalani ini gak sehat El! Ini bukan hubungan sepasang kekasih yang benar-benar bahagia." Teriak Gita putus asa.
Aku mengangguk pelan , apa yang di katakan Gita memang benar. Dia terlihat baik-baik aja , sangat baik dengan senyum sialan itu!
Kenapa harus kayak gini sih Aby?
Kenapa kamu harus terlahir di tengah-tengah keluarga--- yang terlalu sulit untukku jangkau?
Kenapa hubungan kita kayak drama gini sih? Sumpah ini gak lucu!
"Gue pernah ketemu sama Ibunya Aby."
"WHAT??" Teriak Gita tak percaya , matanya melotot padaku. "ngapain? M-maksut gue---kenapa ibunya Aby bisa tiba-tiba ketemu lo?"
Aku memutar bola mataku lelah.
"Ngapain lagi kalo bukan ngingetin status sosial , sistem kasta dan bibit bebet bobot"
"Ribet banget hidup orang kaya! Hidup tinggal napas ini , Lama-lama keluarga cowok lo tu bisa kena struk berjamaah"
Gita yang tak bisa lagi menahan emosinya langsung berubah ke mode senggol bacok.
"Ralat , mantan" ujarku cepat.
"El , kalo Aby tiba-tiba muncul dan minta maaf gimana?" Tanya Gita ragu-ragu
Pikiranku menerawang , membayangkan segala kemungkinan yang akan terjadi jika itu benar terjadi. Apakah kami akan saling melewati begitu saja? Atau...
"gue bisa aja hilaf dan---meluk dia."
• • •
Huh! Rasanya lebih lega setelah cerita ke Gita. Ya , mungkin Gita bener. Aku hanya harus menerima kenyataan. jangan sampe gara-gara gak bisa nerima kenyataan akhirnya jadi gagal move on.
NO! Hayati bener-bener gak kuat. Itu bahkan lebih berat dari rindu.
Bukan karna ini aku takut untuk kembali menjalin hubungan dan membangun komitmen. Bukan bermaksut menyamaratakan semua laki-laki itu sama. seperti Aby yang punya sejuta kelebihannya. Ya! Sesempurna apapun itu , di mataku Aby tetap menjadi bagian yang paling mengecewakan.
Bagaimana cara melupakan yang paling cepat?
Hapus foto , kontak , blokir. hindari semua hal-hal yang berhubungan dengan dia. Gimana mau ngehindar kalo di tv , sosmed bahkan layar iklan di jalan aja muka dia semua?
Setidaknya , jangan muncul di saat aku lagi berusaha melupakan semua tentang kita.