15. JOYCE VS RONALD

1661 Words
Dua jam Ronald menyelesaikan proses pendaftarannya di kampus IBM. Orang-orang bagian Administrasi Kampus bekerja sangat lambat, membuat Ronald sedikit frustasi, pasalnya dia harus mengejar waktu untuk masuk kantor, meski dia tahu dia sudah pasti akan datang terlambat hari ini dan sudah pasti dia akan mendengar omelan Devano si Bos-nya yang bawel itu. Usai menyelesaikan seluruh persyaratan pendaftaran serta biaya perkuliahan yang harus dia lunasi, Ronald pun melangkah keluar dari ruangan TU. Dia hanya perlu memberikan bukti tanda pembayaran biaya kuliahnya ke bagian Administrasi untuk di stempel lalu kemudian mendapat jas almamater sebagai tanda bahwa dia telah resmi menjadi salah satu mahasiswa di kampus IBM. Di dalam ruangan administrasi, Ronald melihat seorang wanita tengah dimarahi habis-habisan oleh seorang kepala bagian Administrasi kampus. "Ini, udah tiga bulan kamu nunggak biaya kuliah, jangan harap kamu bisa ikut ujian kalau kamu tidak segera melunasi tunggakan kuliahmu ya, Joyce!" Bentak si Bapak berseragam Biru tua itu. "Iya, Pak. Nanti saya akan segera lunasi," ucap wanita bernama Joyce itu dengan suaranya yang terdengar lemah. Joyce keluar dari ruangan itu dengan wajah kusut yang dibuat-buat. Padahal dalam hati dia terus memaki si Bapak tua bangka bernama Darwis yang sudah membentaknya tadi. Sebuah tangan menggamit lengan Joyce saat dirinya baru saja keluar dari dalam ruang administrasi kampus. Joyce tersentak saat melihat seorang lelaki menarik paksa dirinya dan membawanya ke tempat yang cukup sepi. Dan menjadi lebih terkejut lagi saat tahu siapa orang itu. Lelaki itu? Lelaki yang telah menjadi korban begalnya bersama Bang Rojak. Mau apa dia? Apa jangan-jangan? Perasaan Joyce kalang kabut. Dia benar-benar ketakutan. "Lo cewek yang tadi pagi naik motor sama cowok tengil yang udah ngajakin gue kebut-kebutan dijalanankan? Siapa nama cowok lo itu? Dia pacar lo kan?" tanya lelaki itu pada Joyce. Lelaki itu mengunci tubuh Joyce di dinding. "Pa-pacar? Yang mana?" jawab Joyce tergagap. Lelaki itu berdecih dengan senyuman miringnya yang terlihat mengerikan. Dia menatap lurus-lurus manik mata Joyce. Hingga membuat yang ditatap semakin gugup bukan kepalang. "Emang pacar lo ada berapa sih? Pake tanya yang mana?" Apa yang dimaksud cowok ini, Nathan? Pikir Joyce lagi. Otaknya mendadak lemot. "Dia bukan pacar gue," jawab Joyce dengan nada polos. "Ya, whatever lah, mau pacar lo apa bukan, nggak ada urusannya juga sama gue! Gue cuma mau kasih tau ke lo, TOLONG BILANG SAMA COWOK TENGIL ITU, JANGAN PERNAH MAIN-MAIN SAMA GUE! BILANG SAMA DIA, GUE TERIMA TANTANGAN BALAPANNYA NANTI MALEM!" ucap laki-laki itu dengan kalimat yang penuh penekanan. "Kenapa harus gue yang bilang? Lo bilang aja sendiri!" balas Joyce yang mulai keki. Dia mencoba untuk pergi, meski tangan lelaki itu tak juga mau melepasnya. Perasaan Joyce mulai tidak enak. Dia harus cepat-cepat pergi sebelum hal-hal yang tidak dia inginkan terjadi. Tatapan laki-laki itu sukses membuat hati seorang Joyce kelabakan. "Minggir, gue mau lewat!" perintah Joyce. Sepertinya, laki-laki ini tidak tahu bahwa dirinya adalah pelaku atas pembegalan yang terjadi di Ruang ATM waktu itu. Sebab, kalau dia sudah tahu, pasti dia sudah membahasnyakan? Atau mungkin, dia sudah melaporkan Joyce secara diam-diam ke kantor polisi! Joyce langsung bergidik! Sepertinya, dia harus sedikit bersikap lunak supaya lelaki ini tidak mencurigainya lebih jauh. "Gue belum kelar ngomong!" balas laki-laki itu dengan nada suaranya yang meninggi. Dia semakin merapatkan tubuhnya ke arah Joyce, hingga wajah mereka semakin dekat satu sama lain. Joyce mengangkat wajahnya hingga kontak mata ke dua insan manusia itu semakin terasa intens, bahkan hembusan napas keduanya kini terasa menyapu wajah mereka satu sama lain, saking dekatnya. Laki-laki itu menatap setiap inci wajah Joyce lekat-lekat, begitu pun Joyce yang terus berusaha untuk menetralkan perasaannya yang mendadak kacau balau. Seraut wajah berkulit putih bersih dengan bola mata bulat, hidung mancung meski agak lebar dan bibir mungil yang terbelah di bagian bawahnya, serta aroma khas buah segar yang membuai, sukses membuat jakun si laki-laki kian naik turun. Ini kali pertama dia berada begitu dekat dengan seorang wanita secara sadar, bahkan setelah bertahun-tahun lamanya dia lewati dalam kesendirian. Dia akui, dia bukan laki-laki yang mudah jatuh cinta, meski dia juga mengakui dia bukan seorang lelaki baik-baik. Tapi, desiran aneh yang saat ini muncul, menuntut sisi liar miliknya yang terasa berkedut di bawah sana menegang hingga membuatnya kian dilanda perasaan aneh. Tubuh lelaki itu pun memanas seiring dengan pergerakan wajah Joyce yang justru malah semakin mendekat. Tarikan napas keduanya semakin diburu nafsu. Ronald gelap mata. Entah setan apa yang merasuki dirinya saat itu hingga adrenalinnya begitu terpacu untuk melakukan hal gila. Bibir ranum Joyce sukses meruntuhkan kewarasan Ronald. Plastik berisi jas almamater yang dia genggam di tangannya terjatuh seiring dengan ke dua tangan Ronald yang mengunci kepala Joyce. Ronald benar-benar kehilangan kendali atas nafsu bejatnya yang kian menggebu. Hasrat terpendam yang selama ini tersimpan baik-baik dalam sisi lain dirinya itu keluar tanpa mampu ditahan. Dia mencium bibir Joyce bahkan tanpa permisi atau pun basa-basi. Penyatuan bibir mereka membuat Joyce terpekik kaget. Joyce yang pada awalnya hanya sekedar menggertak jelas terkejut dengan kenekatan yang dilakukan lelaki aisng dihadapannya saat ini. Ke dua bola mata gadis itu melotot saat sesuatu yang lembut menekan bibirnya. Memagutnya, bahkan tanpa aba-aba. Tubuh Joyce menegang seiring dengan permainan bibir laki-laki itu yang kian menuntut. Bahkan dengan sangat gila, laki-laki itu menggigit bibir bawah Joyce supaya Joyce memberinya akses masuk untuk memperdalam ciumannya. Joyce meringis seiring dengan rontaan tubuhnya untuk melepaskan diri meski semua usahanya itu sia-sia. Cekalan lelaki itu terlalu kuat. Dan Joyce tidak mungkin mengeluarkan jurus andalannya saat ini. Terlalu berbahaya. Lelaki ini tidak boleh tahu siapa dia sebenarnya. Tapi sayangnya, aksi gila Ronald cukup membuat Joyce kian meradang. Joyce menggigit balik bibir bawah laki-laki itu dengan sangat kencang. "Arrgghhh! Lo gila ya?" pekik Ronald kesakitan. Laki-laki itu mundur satu langkah dan menjauh. Dia meraba bibirnya dengan sapuan ibu jarinya, bercak darah terlihat menempel di sana. Perih. "Mampus! Rasain! Makanya jadi cowok jangan kurang ajar! Mau gue tambahin lagi nggak?" tantang Joyce dengan dagunya yang terangkat. Dia berdiri sambil berkacak pinggang dihadapan Ronald. Ronald terdiam. Nafsunya yang sudah terlanjur naik ke ubun-ubun membuatnya gila. Jujur, Ronald merasa malu atas aksi nekadnya ini. Meski perlakuan Joyce justru kembali memancing emosinya. "Lo bener-bener ya!" telunjuk Ronald mengarah tepat di ujung hidung Joyce. Joyce semakin memajukan wajahnya tanpa sedikit pun takut melihat kemarahan di wajah Ronald saat itu. "Apa? Hah? Lo mau cium gue lagi? Atau mau... ML di sini? Ayo lakuin, tapi setelah itu, gue jamin, benda pusaka lo nggak akan bisa berdiri lagi!" ancam Joyce dengan ke dua matanya yang melotot. "Kampret! Lo nantangin gue?" "Kalo iya kenapa? Apa emang punya lo bener-bener nggak bisa berdiri?" "Heh! Jaga mulut lo ya?" Joyce berdecih, dia menatap sinis Ronald dengan tatapan menyipit. "Bukan cuma Nathan yang tantang lo balapan nanti malem, gue bakal tantang lo balapan juga! GIMANA?" tegas Joyce disertai sebuah senyuman miring. Ronald tertawa remeh. "Apa? Lo? Mau nantang gue balapan?" Tawa Ronald semakin pecah. Meski sedetik kemudian tawa itu sirna terganti dengan tatapan tajam dan menusuk. "Apa hadiah yang bakal gue dapet kalau gue menang?" "Terserah, gue akan kasih apapun," jawab Joyce dengan senyuman miring. "Apapun?" "Ya, apapun," Ronald menatap Joyce dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Termasuk, tubuh lo?" ucapnya dengan lirikan yang menggoda. Dari cara Joyce menantangnya, Ronald tahu persis wanita seperti apa dia. "May be yes..." jawab Joyce sama menggoda. "Hahaa, okelah kalau begitu! Sampai ketemu disirkuit panas ya, manis..." ucap Ronald sebelum laki-laki itu berlalu dari hadapan Joyce. "Eh tunggu dulu," panggil Joyce tiba-tiba. Ronald kembali menoleh. "Kalau gue yang menang gimana?" Ronald tersenyum remeh. "Tubuh gue jaminannya," "Idih, ogah banget!" "Terus lo mau apa?" Joyce mengerjapkan ke dua bola matanya, "gue mau, duit," "Oke Deal! Berapa?" "Dua puluh juta!" ***** Ronald sampai di kantor saat jam kerja sudah dimulai sejak tiga jam yang lalu. Setelah melakukan finger print, dia bergegas menuju lift untuk menuju lantai tiga. Ronald hendak memencet tombol call button untuk menutup pintu lift, namun seseorang tengah lebih dulu memencet tombol itu dari luar untuk menahan pintu lift. Ronald mendapati wajah Jarvis, sang asisten bos besar perusahaan Dirgantara Grup berdiri menyamping di sisi pintu lift. "Silahkan Pak Dev," ucap Jarvis dengan menundukkan kepalanya untuk mempersilahkan sang Pemimpinnya masuk lebih dulu ke dalam lift. Muhammad Devano Akbar Dirgantara, seorang pewaris tunggal perusahaan besar Dirgantara grup itu masuk ke dalam lift, meski langkahnya sempat terhenti saat ke dua manik mata coklat maroonya tertuju pada sosok manusia yang sudah lebih dulu berada di dalam lift itu. Devano hanya berdehm satu kali dan mengambil posisi berdiri membelakangi Ronald. "Jam berapa ini Jarvis?" tanya Devano pada asistennya. Jarvis menoleh jam di tangan kanannya sebelum menjawab pertanyaan sang Bos, "jam sebelas lewat lima belas menit, Pak," Kepala lelaki yang usianya terpaut dua tahun di atas Ronald itu hanya mengangguk beberapa kali. "Nanti, antarkan ke meja saya daftar nama karyawan yang seringkali telat satu bulan belakangan ini, saya tunggu," ucap Devano sesaat sebelum pintu lift itu terbuka dan Devano melangkah pergi keluar dari lift itu di susul oleh langkah Jarvis di belakangnya. Ronald berdecih menatap punggung sang Direktur sebelum menghilang ketika pintu lift kembali tertutup. Tenang aja kali! Ini hari terakhir gue telat! Gue mau resign besok! Enek gue sama lo! Belagu banget jadi orang! Umpat Ronald dalam hati. Kesal! Sebenarnya, sejauh ini, hubungan antara dirinya dengan Devano baik-baik saja. Namun, sejak istri sang Bos yang bernama Dinzia Putri Surawijaya yang kini sedang mengandung anak ke tiganya pernah melakukan tindakan konyol dengan menyambangi kediaman Ronald hanya untuk meminta perutnya di elus oleh Ronald, sejak itulah Ronald mulai merasakan perubahan sikap Devano terhadapnya. Padahal, setelah hari itu, Dinzia tak pernah lagi menghubungi Ronald. Mungkin itu memang hanya salah satu rentetan dari keluhan ngidam sang ibu hamil. Meski, Ronald justru seringkali dibuat sakit perut jika harus melihat wajah Devano yang sedang cemburu kepadanya, hal itu seperti menjadi sebuah hiburan tersendiri bagi Ronald. Dinzia memang mantan kekasih Ronald, cinta pertama Ronald, pun kekasih pertamanya, tapi sejauh ini, Ronald yakin, dirinya sudah berhasil move on dari Dinzia. Saat ini, Ronald hanya perlu menunggu, Tuhan mempertemukan dirinya dengan wanita lain yang bisa kembali mengisi kekosongan dan kehampaan di dalam hatinya, dengan cinta.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD