Kesal

1771 Words
Minggu pagi yang indah di Ibu Kota. Laki-laki yang semalam resmi menjabat sebagai pimpinan baru sebuah perusahaan, duduk dengan diam di sudut sebuah kafe di depan apartemen. Semalam, setelah Kendrik dan Hana meninggalkan hotel tempat berlangsungnya acara penyerahan jabatan, Aroon pun ikut keluar dari hotel itu, dan mengikuti mobil mewah yang sedang membawa Hana pulang. Dan disinalah dia pagi ini. Sudah sejak satu jam yang lalu Aroon duduk di Kafe yang ada di depan Aparteman tempat Hanna tinggal. Menunggu memang sangat membosankan, namun, tidak kali ini. Laki-laki yang biasanya tidak akan melakukan hal menjijikan menurutnya hanya karena seorang wanita ini, tidak pernah beranjak seincipun dari tempat duduknya sejak pukul 6 pagi ini. Dan gadis yang membuatnya menunggu, masih belum terlihat. Aroon masih terus mengusap-usap layar ponselnya, sambil melirik keluar kelur kaca yang menjadi dinding kafe tersebut. Hingga tatapannya terpaku pada gadis yang sedang melangkah di pelataran Kafe, Yah, itu dia. Gadis yang sudah membuatnya menunggu hampir tiga jam, sedang berjalan ke arah kafe tempat dia berada. Dengan Celana jeans hitam sepaha dan kaos hitam kebesaran yang kontras dengan kulit mulusnya.. Rambut panjangnya di ikat asal menampakkan leher jenjang dan headset di telingannya, membuat Aroon mengepalkan tangannya kesal. “Mau menggoda siapa dia dengan pakaian seperti itu sepagi ini. sialan Hana.” Umpat Aroon kesal di dalam hatinya. Ada banyak laki - laki yang menatap gadis dengan minat. Memang sudah tidak bisa dipungkiri lagi kecantikan Hanna. Namun, gadis yang sedang menjadi pusat perhatian beberapa laki-laki yang ada di Coffeshop tersebut tidak perduli. Ia sudah terbiasa dengan tatapan lapar yang selalu dia dapatkan jika ketempat seperti ini. Dengan santainya Hana masuk ke dalam Kafe tersebut, tanpa memperdulikan sekelilingnya. Hana terus berjalan menuju tempat pemesanan. Memesan segelas juice buah dan sepiring roti lapis untuk sarapannya pagi ini. Sebenarnya, Hana memang tidak terbiasa sarapan pagi di luar. Ia hanya akan keluar dari apartemen untuk belanja kebutuhan dapurnya, atau ke kantor tempatnya bekerja.Namun, karena ia tidak sempat membuat sarapan pagi ini, mau tidak mau hari ini dia harus menikmati sarapan paginya dengan kesal karena mata laki - laki yang terus melihat kearahnya. Maki saja si Nyonya Bramantyo yang selalu saja memberikan pekerjaan tambahan, hingga membuatnya lupa mengisi kulkasnya. Dan sekarang berakhirlah dia disini, di Kafe dengan banyak pasang mata yang memandanginya penuh minat. Selesai dengan pesanannya Hanna kembali melangkah ke salah satu meja tidak jauh dari tempatnya berdiri tanpa memperdulikan sekitar. Bahkan di sudut kafe, Aroon menatpnya dengan intens pun tidak diketahui olehnya. setelah menunggu beberapa saat seorang pelayan mengantarkan satu gelas berisi jus buah dan sepiring roti lapis padanya. Setelah Hana mengucapkan terimakasih, pelayan itu pun pergi dan Hana mulai menikmati sarapannya dengan diam. Melihat Hana sibuk dengan sarapannya, Aroon beranjak dari tempat duduknya dan pindah tepat di hadapan gadis yang sudah ditunggunya dari tadi. Merasa ada seseorang yang datang dan duduk tanpa permisi di depan meja tempat ia duduk, Hana mengangkat kepalanya, melihat siapa yang dengan lancang tanpa permisi duduk di hadapannya itu. Sedikit terkejut ketika melihat laki - laki dengan senyum jahilnya, namun Hana secepatnya terlihat biasa saja dan kembali menikmati sarapannya pagi ini hingga habis tidak tersisa. "Mau menggoda pengunjung Kafe, Nona?" Tanya Aroon. Kekesalan terlihat di wajah laki-laki itu, karena Hana terus saja mengabaikan dirinya. "Pengunjung Kafe yang mana? Anak - anak ingusan tak punya modal ini?" Hana melihat meja lain dengan ekor mata. Melirik anak - anak kuliahan yang terus menatap ke arahnya. "Bukan target ku, Aroon. Mereka bahkan tidak akan mampu membeli dalaman bermerek yang biasa aku pakai." Jawab Hana dengan santai, namun, tidak dengan hati dan jantungnya. Entah mengapa, ucapannya kali ini membuat hatinya sakit, "Jadi, mau menggodaku?" Tanya Aroon lagi. Kali ini dengan tangan terkepal, dan bisa di lihat oleh Hana jika saat ini Aroon benar - benar sangat kesal padanya. "Dan kau tergoda dengan ku, hm?" Hanna terus saja membuat kekesalan Aroon semakin memuncak. "Sialan, Hana." Umpat Aroon kesal. Setelah itu hening mengambil alih. Keduanya tidak lagi membahas apapun. Hana melipat tangannya di atas d**a, sambil menatap laki-laki yang aa di hadapannya dengan senyum mnengejek. Setelah berhasil membuat laki - laki di depannya itu diam karena kesal, dengan acuh Hana beranjak dari tempat duduknya menuju Kasir untuk membayar makanannya. Tiba di meja kasir, Hana merogoh saku celana pendek yang ia kenakan, lalu mengambil kartu kredit dan menyerahkan kartu tersebut pada wanita yang ada di meja kasir. "Meja yang sana, Mbak." Ujar Keyla pada Kasir Kafe tersebut. "Maaf, tapi pacar mbak sudah membayar tagihannya." Jawab kasir tersebut “Pacar?” Hana membalik tubuhnya, melihat laki - laki yang sedang menatapnya dengan senyum mengejek. Hana menarik nafas kesal, lalu memasukan kembali kartu kredit ke dalam saku celana jeans pendek yang melekat di tubuhnya, kemudian melangkah meninggalkan kafe tersebut dengan santai. Melewati begitu saja meja tempat dia duduk tadi tanpa menoleh pada laki-laki yang dari tadi terus mengusik ketenangnnya pagi ini. Melihat Hana melewatinya begitu saja, Aroon pun segera beranjak dari tempat duduk kemudian mengikuti gadis itu keluar dari Kafe. Tiba di prlataran Kafe, Aroon segera meraih pergelangan tangan Hana, namun, langsung ditepis oleh gadis itu dengan kasar. "Jangan melebihi batasmu, Aroon. Harga satu gelas jus dan sepiring roti lapis yang kau bayarkan di dalam kafe tadi, bukanlah tarifku. " Ujar Hana kesal, berharap Aroon jengah padanya dan menjauh dari kehidupannya yang mulai tidak tenang setelah kehadiran laki-laki dihadapannya ini semalam. "Sialan, Hana." Teriak Aroon tidak kalah kesal. Terlihat senyum miris di bibir tipis Hana ketika herhasil membuat laki- laki di hadapannya itu jijik. Buat apalagi, toh, harga dirinya memang sudah tidak berbentuk di hadapan laki-laki ini sejak lima tahun lalu, jadi tidak ada yang perlu dia jaga lagi. Kehormatan yang seharusnya ia jaga dan persembahkan pada laki-laki yangmseharusnya, sudah ia tukar dengn segepok uang pada laki-laki yang kini kembali menggenggam erat lengannya. "Jadi berapa tarifmu? Apakah masih semurah lima tahun yang lalu? aku bisa membayarnya sepuluh kali lipat dari itu." Ujar Aroon dengan wajah yang sudah memerah karena geram. Apa gadis di hadapannya ini masih belum paham juga, jika kedatangannya pagi ini semata hanya ingin melihat wajah cantik nya? "Oh, ayolah Aroon. Uang segitu bahkan tidak sebanding dengan harga satu buah tas branded yang ada di lemariku, Menjauhlah, jangan mengganggu ketenangn hidupku." Tegas Hana dengan wajah datar, seakan kalimat hina yang baru saja terucap dari bibirnya, adalah hal yang biasa saja. Namun, tanpa Aroon tahu, hatinya ikut sakit karena merendahkan dirinya sendiri dihadapan laki-laki itu. "b******k! sialan! Berhenti berbicara seolah kamu benar - benar melakukan hal yang menjijikan itu, Hana!" Aroon menarik paksa tangan Keyla dan membawa gadis itu masuk kedalam mobilnya. "Aku memang melakukan hal yang menjijikan, Aroon. Aku yakin kamu tidak melupakan satu malam panas yang kita lewati lima tahun lalu." Hana sudah mulai terbawa suasana, hatinya bergemuruh ingin rasanya dia menangis sekarang. Ketenangan yang biasa terlihat dalam dirinya mulai hilang ketika berhadapan dengan laki - laki yang selalu membuat jantungnya berdetak. "Menjauhlah dariku, Aroon. Jangan mengusik ketenangan hidupku, aku mohon." Dengan suara bergetar, Hana mengeluarkan kata-kata yang tidak sejalan dengan isi hatinya. "Berhenti bicara omong kosong, Hana. Kamu belum pernah melihatku benar - benar marah, jadi jangan terus memancing amarah ku." Ujar Aroon tegas tidak ingin dibantah. Dan itu berhasil membuat Hana terdiam, Gadis itu mengeluarkan sepatah kata pun dari bibirnya. Aroon memasang sabuk pengaman di tubuh Hana dengan hati-hati. Ketika wajah laki-laki itu hanya berjarak beberapa inci dari wajahnya, Hana segera berpaling. Ia menatap keluar jendela mobil. Setelah Aroon selesai memasangakan sabuk pengaman dengan baik dan menjauh dari tubuhnya, barulah Hana mengalihkan tatapannya dari kaca jendela mobil. Ia melihat ke arah Gerry yang ternyata, masih menatap lekat wajahnya. "Jangan menatapku seperti itu, Hana. Aku benar - benar tidak akan bisa melepaskanmu jika kamu memandangku seperti itu." Ujar Aroon yang dengan hati- hati mengangkat tangannya menyentuh pipi mulus polos tanpa riasan itu. Hana masih diam terpaku. Dengan perlahan gadis itu menutup matanya, menikmati sentuhan hangat dari tangan milik laki-laki yang pernah menyentuhnya dulu. Satu-satunya laki-laki yang pernah menyentuh tidak hanya tubuh tetapi juga hatinya. Beberapa saat kemudian, Hana kembali tersadar ketika tangan Aroon sudah terlepas dari wajahnya, dan tangan hangat itu sudah beralih pada kemudi lalu mulai melajukan mobil itu meninggalkan pelataran Kafe. Mobil mewah yang sedang dikendarai Aroon, mulai berbaur dengan kendaraan lain yang ada di jalanan. Entah kemana laki-laki ini akan membawanya, Hana masih belum bertanya apapun. Ia hanya terus melempar pandangan keluar jendela mobil. Menatap banguna-bangunan pencakar langit, dengan netranya. Beberapa hal datang mengganggu pikirannya. Ada rasa satu rasa yang asing ketika kembali bertemu Aroon pagi ini, tapi juga takut jika nanti Kendrik tahu bahwa hari ini ia bertemu dengan Aroon, dan bahkan sekarang, Aroon sedang membawanya pergi entah kemana. Karena terlalu sibuk dengan pikiran yang terus berkecamuk di dalam, Hana tidak sadar jika mobil yang membawanya, sedang memasuki sebuah rumah yang cukup besar dan mewah. Seorang petugas keamanan sedang mendorong pintu gerbang, lalu mempersilahkan mobil yang sedang di kendarai Aroon masuk ke dalam rumah itu. "Ayo turun, Hana." Ajak Aroon. "Ini rumah siapa?" Tanya Hana berusaha setenang mungkin, walau sesungguhnya ia sangat tidak ingin bertemu dengan keluarga Aroon. "Rumahku." Jawab Aroon singkat. “Ayo.” Ajaknya lagi sambil membuka pintu mobil yang ada di sampingnya. "Kamu akan mengenalkan p*****r sepertiku pada orang tuamu? Dan kamu fikir mereka akan mau? Ayolah, Aroon. Sadarlah kita tidak cocok untuk menjadi sedekat itu." Ujar Hanna dan kembali mengusik ketenagan hati Aroon. Kali ini, wajah tampan laki-laki itu, sudah memerah. Dan rahangnya terlihat mengeras, setelah mendengar kata-kata menjijikan yang keluar dari bibir Hanna. Aroon kembali menutup pintu mobil yang ada di sampingnya, lalu mendorong tubuh mungil Hana yang masih terikat dengan sabuk pengaman ke sandaran kursi mobil tempat gadis itu duduk dengan kasar, membuat Hanna meringis, merasakan sakit di punggungnya karena menghantam sandaran mobil. Beberapa saat kemudian, ringisan kecil dari bibir Hanna terhenti. Aroon melumat bibir Hana yang sejak semalam terus menggoda sekaligus membuatnya kesal dengan celotehan menjijikan. Hana terdiam, tubuhnya mematung. Ia sangat terkejut, setelah lima tahun berlalu, bibirnya kembali dijamah oleh orang yang sama. Tidak ada perlawanan dari Hana, namun, tidak membalas ciuman Aroon di bibir tipisnya. Beberapa saat menikmati manisnya bibir tipis Hanna, barulah Aroon menyadari jika Hana terkejut dengan apa yang sedang ia lakukan. Dengan perlahan, Aroon melepaskan pagutannya dari bibir gadis yang ia cintai itu. Hana masih diam dengan wajah yang memerah. Kali ini, gadis itu tidak bisa lagi menyembunyikan wajahnya yang sudah semerah tomat. Aroon menyadarinya. Sambil tersenyum, Aroon menyentuh bibir Hana yang sudah memerah dengan jemarinya. Mengusap bibir menggoda itu menggunakan ibu jarinya. "Jangan mengucapkan kata - kata menjijikan itu dari mulutmu. Aku akan menghukummu jika kamu berani melakukannya lagi." Ujar Aroon tegas. Ia lalu melepaskan sabuk pengaman dari tubuh Hana dan membawa gadis itu masuk kedalam rumah pribadinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD