Ravi Nekat

1084 Words
“Gimana hubungan kamu sama Julia, Rav?” Suara Seano terdengar purau, pria itu berbaring di atas bangsal rumah sakit, ia baru saja menyelesaikan kemoterapi. Ravi terlihat murung, ia hanya menghela napasnya lalu menatap sedih pada Seano. “Kejar dia, jangan menyerah Rav,” ucap Seano lagi, “kalau aku sudah tidak mungkin bisa kan, jalan saja perlu kursi roda sekarang.” Ravi sedikit mengulas senyum, dalam keadaan seperti ini saja, Seano masih bisa bercanda dengannya. “Kamu beneran ikhlas aku rebut Julia?” tanya Ravi. Seano mengernyitkan dahinya, “merebut? Aku kan udah putus sama dia, jadi itu terserah kamu, itu tidak bisa di bilang merebut juga,” jawab Seano. Ravi mendesah pelan, memang semua ini salahnya yang cukup egois, ia menyukai Julia sejak Seano menceritakan gadis itu dan sekarang, ia memanfaatkan momen dimana Seano sudah tidak akan bisa bersama Julia lagi. “Tapi aku terkesan jahat, bagaimana bisa aku bahagia dengan Julia sedangkan kamu kesakitan di sini.” “Rav, aku ini tidak bisa membahagiakan Julia, tapi kamu bisa, maka nya aku beri kamu kesempatan buat deketin dia,” ucap Seano. Pria itu terdengar seperti meyakinkan Ravi, tapi tetap Ravi merasa dirinya jadi yang paling jahat sekarang baik pada Seano maupun Julia. “Sekarang aku tanya, kamu senangkan sama Julia? Kamu takut kehilangan dia kan?” Ravi diam sejenak, pertanyaan Seano sudah jelas mendapat jawaban iya darinya karena Ravi sangat menyukai Julia. Harusnya, Seano jujur saja tentang keadaannya pada Julia, bukannya meninggalkan gadis itu demi fokus pada penyembuhan nya. “Apa sih alasan kamu mutusin dia, No? Padahal kamu bisa cerita, aku yakin Julia juga pasti ngerti,” tanya Ravi lagi. Seano menarik napas dalam, ia menatap langit-langit kamar inap nya, “Rav, kalau semisal aku pendek umur, nanti Julia sedih, kalau dia tau aku sakit nanti dia juga sedih, jadi lebih baik dia sedih kemarin tapi langsung lupa dari pada sedih seumur hidup karena aku. Sudah kubilang kan tadi, aku tidak bisa membuat Julia bahagia.” Penjelasan Seano benar-benar membuat Ravi merasa tertampar, ia bisa melihat dengan jelas rasa cinta pria itu begitu besar pada Julia. Rasa cinta yang besar artinya adalah merelakan. Cinta, tidak berarti harus bersama meski bisa membuatmu gila karena merindukan nya, tapi Seano, memilih gila merindukannya daripada membuatnya sedih seumur hidup. “Di tinggal meninggal itu sakit sekali Rav, dan Julia sudah mengalaminya dua kali,” ucap Seano. “Tapi sekarang, aku juga buat dia kecewa,” ucap Ravi. “Kalau begitu jelaskan padanya, seberapa besar rasa cinta kamu yang di pendam selama ini, ceritakan semuanya,” ucap Seano memberikan dorongan. Sahabat gila mana yang rela memberikan kekasihnya pada sahabatnya sendiri? Itulah Seano, ia memutuskan Julia karena sayang pada keduanya tapi salahnya adalah ia tidak memikirkan perasaan Julia. Begitupun Ravi, mereka dua pria yang menyukai Julia namun tidak memikirkan betapa sakitnya berada di posisi Julia. “Dia tidak akan sedih lagi kalau ada kamu Rav, sampaikan permintaan maafku padanya. Semua ini salahku.” Ravi akhirnya mengangguk pelan, ia tersenyum pada sahabatnya. “Cuman satu keinginanku padamu Rav, aku harap aku bisa sembuh dan melihat kalian menikah. Berjanjilah kamu akan membahagiakan Julia, Rav.” ….. Hujan deras mengguyur Jakarta sejak sore, Ravi memutuskan untuk nekat datang ke rumah Julia malam ini, ia ingin meluruskan semuanya. Ia tidak mau putus dari Julia yang baru saja menerima nya, ia tidak bisa melupakan perasaan yang sudah ia pendam selama bertahun-tahun begitu saja. Setelah susah payah menanti, hingga menyakiti hati sahabatnya, Ravi tidak bisa melepaskan Julia sampai kapan pun. Ia tidak bisa merelakan Julia seperti yang di lakukan Seano. Hati Ravi tidak setegar itu. Ravi menerobos hujan, begitu turun dari mobil ia langsung berjalan ke depan rumah Julia, mengetuk pintunya berkali-kali dan mendapati Taddeo yang membukanya. “Loh Pak! Ada apa?” Taddeo bingung, mengapa Ravi rela datang dalam keadaan basah. “Aku mau ketemu Julia, Tad.” Jawab Ravi, tubuhnya sedikit menggigil karena dingin. Taddeo menghela napasnya sejenak, ia sebenarnya bingung sekarang. Haruskah mengizinkan bosnya ini masuk ke rumahnya tapi nanti dia di amuk Julia atau mengusir bosnya yang bisa mengancam karirnya. Tapi melihat Ravi kedinginan, membuat Taddeo mempersilahkan Ravi masuk. Pria itu baru saja masuk beberapa langkah. “Pak, tapi Julia…” “Kak! Usir dia, jangan biarkan dia masuk!” suara Julia terdengar dari lantai dua, gadis itu mengintip dari atas sana. Ravi bisa melihat nya dari bawah, begitupun Taddeo yang jadi serba salah sekarang. “Julia! Aku mau bicara sama kamu, bisakah kebawah sebentar?” ucap Ravi dengan suara yang sedikit keras. “Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, kita sudah selesai, Pak.” Ucapan tegas Julia membuat Taddeo sedikit terkejut, ia baru tahu kalau mereka berdua putus. Ia kira Julia hanya sedang bertengkar dengan Ravi. “Tapi Julia, aku mohon berikan aku kesempatan,” ucap Ravi, matanya menatap Julia dengan penuh penyesalan. “Tidak, Kak, usir dia.” Ucap Julia final, kemudian gadis itu masuk ke dalam kamarnya. Taddeo menghela napasnya, “maaf ya Pak, kalau Julia sudah begitu, saya tidak bisa bantu." Ravi menarik napasnya dalam-dalam, kemudian ia sedikit berteriak, “AKU TIDAK AKAN PULANG SAMPAI KAMU MEMAAFKAN KU JULIA.” Taddeo terbelalak mendengarnya, kemudian Ravi keluar, berjalan menuju teras dan berdiri tepat di depan jendela kamar Julia di tengah derasnya hujan malam itu. Pria itu benar-benar akan melakukan apa saja demi membujuk Julia kembali padanya, ia tidak akan menyerah. Julia mendengar teriakan Ravi dan benar saja, gadis itu segera mengintip dari jendela kamarnya. Matanya terbelalak melihat Ravi sedang berdiri menatap ke arah jendela kamarnya dalam keadaan di luar sedang hujan deras. Taddeo masuk ke kamar Julia, dan menatap Julia dengan khawatir, “Gimana ini Jul? Ravi nekat begitu, bisa-bisa kita di pecat!” Julia menghembuskan napas kasar, ia kesal pada sang kakak yang penakut. “tidak, dia tidak akan memecat kita, dia itu palingan cuma menggertak, lima menit lagi juga dia pulang.” “Aku tidak bertanggung jawab atas pertengkaran kalian ya, urus sendiri Jul, apapun yang terjadi sama Pak Ravi.” Julia menghela napas pasrah, kemudian ia kembali mengintip ke arah jendelanya, Ravi masih di sana dalam posisi yang sama. Julia kemudian menutup gorden jendela kamarnya, berusaha untuk tidak peduli. Paling tiga puluh menit lagi juga dia pulang.  Satu jam berlalu, hujan pun mulai mereda jadi rintik-rintik, Taddeo sepertinya sudah tidur dan Julia berpikir mungkin Ravi sudah pulang? Gadis itu kemudian mengintip lagi dari jendelanya, matanya seketika kembali terbelalak, Ravi masih berdiri di sana dengan wajah yang sudah pucat, pria itu gemetar sambil memeluk dirinya sendiri karena kedinginan. “Ah sial! Ravi!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD