Pagi itu rumah terasa terlalu sunyi. Julia terbangun bukan oleh suara alarm, melainkan oleh kesunyian yang menyesakkan. Tidak ada suara piring, tidak ada aroma masakan, tidak ada langkah kaki lain selain dirinya sendiri. Rumah itu kembali menjadi ruang tertutup—tempat di mana hanya ada dirinya dan Ravi. Julia duduk di tepi ranjang, memandangi jendela besar kamar yang menghadap halaman belakang. Cahaya matahari masuk tanpa izin, menerangi ruangan yang terasa dingin meski tirai sudah dibuka. Semalam mereka kembali ke rumah ini setelah liburan singkat di rumah orang tua Ravi. Julia menghela napas panjang. Ia tahu, kepulangan ini bukanlah awal yang baru. Ini hanya kelanjutan dari sesuatu yang belum selesai—dan mungkin tidak pernah akan selesai dengan cara yang ia harapkan. Ia bangkit, b

