9

1374 Words
Tak satu pun hidangan yang Venus pesan terlihat menarik. Tiba-tiba saja makanan yang ada di atas meja nampak seperti duri-duri tajam yang apabila Venus menelannya, maka tenggorokannya akan terluka dan berdarah. Dia hanya menunduk dan berpura-pura semangat melahap makanan yang sama sekali tidak mengenyangkan.  Enyahlah kau dari muka bumi ini, wahai manusia penyebab polusi, penyebar karbondioksida, erang Venus dalam hati. Bodohnya jika Venus berpikir bahwa Adrian akan berpura-pura tidak menyadari kehadiran Venus. Beberapa kali Adrian mencuri pandang ke arah Venus. Meski tahu sosok yang menjadi pusat perhatian para Hawa yang ada di dalam restoran itu justru memperhatikan si wanita berhati es alias Venus, manusia yang diperhatikan malah lebih memilih menyuap makanan ke dalam mulutnya dalam porsi yang tidak elegan. Masa bodoh, begitulah yang ada dalam pikiran Venus.  ″Ven,″ panggil Winda. ″Makanmu berantakan.″ Venus tidak menyahut, kedua kakinya sudah tak sabar ingin melayang jauh dari tempat terkutuk itu sesegera mungkin. Sebait lirik lagu melintas di kepala Venus, free me to fly away. Jika bisa, Venus ingin sekali lenyap.  Tuhan bener-bener lucu deh kalau bercanda, keluh Venus dalam hati. Tak sampai beberapa menit makanan yang ada di piring Venus sudah habis tak tersisa. Setelah mengelap bibirnya dengan tisu, Venus segera minta pamit kepada Pak Hartawan. Sebenarnya Venus ingin langsung ″main pergi tanpa pamit″, berhubung Venus adalah seorang bawahan yang baik dan tidak sombong, dengan sangat terpaksa dia meminta izin kepada Hartawan yang sungguh sangat disayangkan tengah bercakap bersama Adrian. ″Pak,″ katanya. ″Mohon maaf sekali, tapi saya ada janji dengan adek saya.″ ″Loh Venus, apa kamu nggak ingin pesan lagi?″ Sial, rutuk Venus, kenapa aku tidak pernah ditawari dari dulu aja ketika si setan itu tidak ada di sini?   ″Terima kasih,″ tolak Venus. ″Lain kali saja. Saya buru-buru ini, Pak. Maaf, Pak?″ Venus mengangguk singkat ke arah Hartawan dan langsung mempercepat langkah menuju pintu keluar. Begitu Venus sudah berada jauh dari restoran, barulah beban tak kasatmata yang ada di atas bahunya itu terbang melayang. Inilah yang Venus sukai, rasa aman dan jauh dari intimidasi.  Bukan watak Venus untuk berbohong, apalagi kepada seorang atasan. Namun bagi Venus, ini merupakan keadaan emergency. Tak sudi rasanya seruangan dengan musuh bebuyutan, jika bisa, Venus bahkan tidak ingin menghirup udara yang sama dengan Adrian.  Venus sengaja berjalan di trotoar, sesekali memperhatikan lalu-lalang kendaraan yang ada di jalan. Padahal, dia bisa langsung naik taksi dan pulang ke rumah, hanya saja, kali ini Venus ingin menikmati sengatan matahari, mungkin terik matahari bisa membakar kegundahan yang ada di hatinya. Ketika sedang asik melamun, suara klakson mobil menghamburkan potongan khayalan yang ada di dalam benak Venus. Sebuah sedan putih mewah tampak mulai menepi di depan Venus. Ketika si pemilik sedan keluar, tak kuasa Venus menahan diri untuk mencaci diri sendiri. Adrian, ternyata dialah sang pemilik sedan mewah yang membuat beberapa pejalan kaki terpana.  ″Kamu,″ katanya. ″Ngapain?″ Adrian sama sekali tidak berminat menjawab pertanyaan Venus. ″Ikut.″ ″Like hell!″ umpat Venus.  ″Ada hal yang harus kita selesaikan di suatu tempat.″ Venus mengacungkan tangan kanannya di depan wajah Adrian lalu berkata, ″Ngomong sama tangan. Sekali tidak, ya tidak.″ ″Oke.″ Ardrian menyambar tangan Venus. ″Ikut aku, please.″ Venus hanya bisa memandang kosong sosok Adrian. Berulangkali Venus berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Adrian, semuanya terasa payah. Adrian kukuh mencengkeram tangan Venus. ″Lepas!″  ″Sebegitu takutnyakah dirimu melihatku, Venus Damayanti?″  Adrian sengaja menyebutkan nama lengkap Venus, dia ingin agar Venus sadar akan betapa tipisnya kesabaran seorang Adrian. Di dalam cengkeraman tangannya, Adrian bisa merasakan suhu tubuh Venus. Gadis itu gemetar, sementara kedua matanya menolak memandang Adrian. Dan, itu membuat Adrian kecewa. Akhirnya Adrian bersedia sedikit melonggarkan cengkeraman tangannya, di angkatnya dagu Venus hingga kedua mata mereka sejajar.  ″Maaf. Aku nggak ingin bermaksud kasar, hanya saja, ada seseorang yang pengin ketemu kamu.″ Kali ini Venus tidak menolak, akhirnya dia bersedia mengikuti permintaan Adrian. *** Ternyata, Adrian membawa Venus ke sebuah pemakamam. Mengingat Hana merupakan anak dari pengusaha ternama, tak heran jika sahabatnya dikebumikan di sebuah pemakam mewah. Jauh dari kesan angker dan suram, nampak rumput-rumput hijau membentang sepanjang mata memandang.  Adrian mengantar Venus ke sebuah nisan yang bertuliskan nama Hana di atasnya. Venus memandang hampa ke arah persemayaman terakhir sahabatnya. Menangis, Venus tidak merasakan dorongan untuk melakukan itu. Tidak ada simpati, yang ada hanyalah kekosongan. ″Ini,″ ucap Adrian sembari menyodorkan sepucuk surat. ″Dari Hana.″ Setelah menerimanya, Venus segera membuka amplop persegi panjang berwarna putih tersebut dan membaca: Venus. Aku tidak tahu harus berkata apa. Mungkin, semua yang kukatakan tidak akan berarti. Namun ketahuilah, bagaimanapun juga, aku tetap menganggapmu sebagai sahabat. Sampai kapan pun juga. Tidak peduli meskipun benci yang kudapatkan.  Tak apa, aku tidak keberatan sama sekali. Kamu boleh membenciku. Aku menerimanya. Kamu boleh menghukumku dengan segala caci dan maki.  Terlalu banyak hal yang kusembunyikan darimu. Terlalu banyak rahasia di antara kita berdua. Sayang, sebelum aku sempat menjelaskan segala hal padamu, dirimu menghilang tanpa kabar. Tidak ada satu orang pun tetangga di samping rumahmu yang tahu alamatmu di Semarang.  Lenyap, seperti angin. Saat itu aku benar-benar kehilangan. Aku sama sekali tidak berniat membohongimu. Adrian pun sebenarnya sudah melarangku berbuat demikian. Hanya saja, aku ingin membuatmu bahagia. Dan, hari di mana kamu mengetahui hubunganku dengan Adrian, itu merupakan hari yang paling menyiksa bagiku. Jika boleh memilih, aku lebih senang berkata jujur.  Kenyataannya, aku terlalu pengecut. Aku tidak berani berkata bahwa pemuda yang tengah dicintai sahabatku itu, pemuda itu adalah kekasihku.  Namun, aku juga tidak ingin kehilangan sahabatku. Hanya kamu seorang yang bersedia menerima diriku apa adanya. Aku berharap hari-hari indah itu bisa kembali. Setidaknya sebelum aku menutup mata, aku ingin bertemu lagi denganmu. Mengucapkan maaf atas segalanya. Kebohongan yang kuberikan dalam persahabatan kita. Dan memang benar ... tidak ada kebaikan yang dituai dalam sebuah dusta. Apakah kau akan tetap membenciku? Menjauhiku? Venus, aku sudah cukup tersiksa dengan kanker yang menggrogotiku dari dalam. Mungkinkah itu hukuman yang harus kuterima karena melukaimu? Ingin sekali aku melihatmu untuk terakhir kalinya. Berkata bahwa tanpamu dunia yang kujalani seolah terditorsi oleh waktu. Perlahan-lahan kehidupanku tak ubahnya seperti bumi tanpa udara, tidak ada artinya. Tidak ada manusia yang bisa hidup hanya dengan nasi. Aku pun tak bisa hidup hanya bersama Adrian. Venus, aku membutuhkanmu sebagai sahabat, sebagai saudara, sebagai bagian dari diriku. Tapi hidup tidak diciptakan seperti itu; aku harus memilih antara cinta dan persahabatan. Lalu aku berbuat curang, kukira aku bisa mendapatkan keduanya; cinta itu ... persahabatan itu. Dan Tuhan tidak suka pada umat-Nya yang tak jujur.  Kumohon, jangan membenciku. Maafkan aku. Tolonglah ... Venus. Aku tahu, kau bukanlah manusia yang senang mendendam. Anggaplah ini sebagai sebuah kenakalan, lalu kita bisa berbaikan ... seperti sedia kala. Andai saja seperti itu. Hidupku, mungkin hanya tinggal hitungan jari. Tapi aku percaya, aku percaya bahwa suatu saat harapanku ini akan tersampaikan padamu. Venus, maafkan aku. Maafkan aku. Tanpa Venus sadari, air mata mulai mengalir. Venus terduduk di depan nisan Hana dan mulai menangis sejadi-jadinya. Menangis, dan hanya menangis. Adrian hanya diam dalam kebisuannya memandang sosok Venus yang nampak begitu merana.  Tidak ada di antara mereka berdua yang saling berucap.  *** Sepanjang perjalanan pulang, Venus lebih senang berdiam diri. Kepalanya menyandar di jendela mobil. Awalnya Adrian bingung harus mengantarkan Venus ke mana, dan akhirnya Adrian memutuskan untuk membawa Venus ke alamat rumahnya yang terdahulu, berharap keputusannya benar. Sesampainya Adrian di tujuan, matahari sudah meninggalkan peraduannya. Dan, ketika Adrian hendak bertanya kepada Venus, ternyata dia sudah berada pada posisi tertidur lelap. Dalam keadaan seperti itu, Venus terlihat berbeda; tubuhnya begitu kecil dan rapuh.  Lama Adrian menatap Venus, ada dorongan dalam hatinya untuk membelai wajah Venus. Begitu Ardrian ingin melaksanakan niatannya, Venus terbangun dari tidur lelapnya.  Venus menatap sekeliling, begitu sadar dengan lingkungan rumahnya, Venus pun memutuskan untuk segera membuka pintu dan melangkah pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Adrian.   Adrian hanya bisa melihat sosok Venus yang memasuki rumahnya dalam hening.  ″Apa yang bisa membuatmu memaafkanku?″  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD