″Sebagai seorang ibu, aku mohon, tolong dampingi putraku di saat-saat kritis ini. Hanya dialah satu-satunya tumpuan hidup kami.″ Air mata membasahi wajah Risma yang terus mengiba di depan Venus. Antara bingung, terkejut, dan tak tahu-menahu mengenai maksud dari permintaan Risma, Venus hanya bisa mengucapkan kalimat penenang yang nampaknya tidak berhasil mengenyahkan kekalutan Risma; wanita itu tak kunjung menghentikan tangisnya. ″Saya tahu,″ lanjut Risma. ″Kamu pasti bingung dengan permintaan ini; memintamu datang ke rumah sakit. Namun, dengan teramat sangat. Tolong, berikan Adrian semangat hidup. Berikan dia sebuah alasan untuk tetap bertahan di dunia ini. Saya tak kuat melihat dia terus terbaring di dalam sana. Bahkan, dalam keadaan tak sadarkan diri, dia masih menyebut namamu. Mungkin

