“Ya sudah naiklah!” Mata Reva berbinar, seketika wajahnya berubah senang. Dengan cepat dan tanpa ragu, Reva naik mobil petugas tersebut. Kedua lelaki yang mengawasinya dari jauh terlihat kesal karena tidak berhasil menangkapnya. Senyuman tipis terbit di bibirnya, hatinya lega telah selamat dari para penjahat yang hendak mengambil kehormatannya.
Reva melemparkan senyum pada beberapa gelandangan yang tertangkap di dalam mobil itu, wajah-wajah mereka terlihat begitu kesal. Hanya Reva yang senang ditangkap petugas, tentu saja karena dia merasa hidupnya yang terancam bahaya bisa diselamatkan karena suara sirine mobil petugas tersebut.
Hembusan nafas keluar dari mulutnya, dia merasa lega. Meski Reva menyadari saat di kantor nanti, dia harus memberikan penjelasan tentang siapa dirinya. Apalagi dia tidak membawa apa pun dan tidak membawa identitas. Yang dipikirkannya tadi hanya satu, yaitu terbebas dari dua laki-laki yang ingin merampas kehormatannya. Urusan menjelaskan, Reva akan berusaha mencari alasan lain, pikirnya.
Sesampainya di kantor petugas, dia turun bersama dengan para gelandangan lainnya.
“Kalian tunggu disana dulu! Hari sudah malam, kami akan melakukan pendataan besok pagi!” Semua digiring menuju ke sebuah ruangan. Karena cuma beberapa orang saja yang tertangkap, jadi kalian bisa tidur di sini yang laki-laki dan di ruangan ini untuk perempuan!” ujar petugas memberi perintah.
***
Pagi itu para gelandangan yang tertangkap di tempat penampungan di beri sarapan. Mereka semua bergantian didata dan ditanya satu-satu. Akhirnya sampailah pada giliran Reva, dia duduk berhadapan dengan petugas yang hendak menanyainya.
“Siapa namamu?” tanya petugas tanpa melihat ke arah Reva, matanya fokus pada layar komputer untuk memasukkan data.
“Reva!” jawab Reva datar. Petugas tersebut mendongak menatapnya.
“Nama lengkap!” ujarnya dengan suara tinggi. Reva diam, kalau dia sebutkan nama lengkap dia khawatir akan ditemukan Satya. Sedangkan bapak mertuanya sudah mengancam untuk pergi dari kehidupan Satya.
“Ayo, cepat nama lengkapmu siapa?” bentak petugas.
“Reva saja, Pak!” sahut Reva mantap. Petugas tersebut menatap Reva.
“Kenapa kamu berada di jalanan? Kamu punya identitas?”
“Tidak, Pak, saya kecopetan,” sahut Reva memutar otak, dia harus memanfaatkan waktu ini untuk menelpon salah satu sahabatnya. Petugas itu kembali menatapnya.
“Tas saya dicuri, Pak. Di dalamnya ada uang dan ponsel. Saya tidak bisa menghubungi siapa pun dan saya tidak bisa pulang karena tidak ada uang,” imbuhnya berharap petugas tersebut percaya.
“Berapa nomor ponsel keluargamu?” tanyanya.
“Saya tidak mau merepotkan keluarga saya, Pak. Keluarga saya jauh, mereka berada di Surabaya. Saya tinggal bersama seorang teman. Boleh saya menelponnya agar dia menjemput saya ke sini?” tanya Reva.
“Baiklah.” Petugas tersebut memberikan izin agar Reva menelpon dan dijemput. Untung saja dia ingat nomor telpon sahabatnya itu. Dia langsung menghubungi Dina.
“Halo, Dina. Ini aku, Reva. Boleh minta tolong jemput aku?
“Hahh? jemput kamu? di mana?”
“Aku sedang berada di penampungan.”
“Apa? Penampungan?”
“Iya, nanti akan aku ceritakan. Sekarang tolong jemput aku disini. Petugasnya tidak akan melepasku, kalau tidak ada keluarga yang menjemput.”
“Oke-oke.”
“Kamu lagi di penampungan mana?”
Reva memberi alamat kepada Dina.
“Kamu tunggu ya, kebetulan itu tidak terlalu jauh dari tempatku.”
“Iya.”
Reva menutup sambungan telpon. “Saya sudah selesai, Pak. Nanti teman saya akan menjemput.”
“Ya sudah, kamu tunggu dulu disana sampai temanmu kamu datang dan menjemputmu!” ujarnya.
“Terima kasih, Pak,” Reva berdiri dan melangkah menuju ruang tunggu dan duduk dengan beberapa gelandangan lain.
Dia menunggu kedatangan Dina. Tiga puluh menit kemudian, Dina datang. Keningnya tampak berkerut melihat Reva berada di sana dan yang dihubunginya bukan suami melainkan dirinya. Setelah Dina berbicara dengan petugas, Reva diizinkan untuk pulang bersama Dina.
“Ayo masuk!” Dina membuka kunci pintu rumah dan mempersilahkan Reva masuk.
“Wah, masih sama seperti saat aku tinggal di sini dulu!” pekik Reva dengan mata berbinar.
“Kamarmu pun masih tidak berubah. Tidurlah di kamarmu. Eh tunggu, kamu mau telpon suamimu?”
“Tidak-tidak! itu yang aku hindari,” sahut Reva ketus.
“Apa maksudmu?” Dina mengernyitkan keningnya.
“Hanya Kamu yang tahu kalau aku dan Satya menikah kontrak.”
“Iya, lalu? Bukankah itu untuk satu tahun. Bukankah sekarang baru jalan tiga bulan?” tanya Dina menyelidik.
“Papa Satya tahu kalau aku menikah kontrak dan dia mengusirku juga melarangku untuk bertemu dengan Satya! dia benar-benar menghinaku, aku juga tidak mau mengemis mencari Satya!”
“Lalu rencanamu apa?” tanya Dina menatap manik mata sahabatnya.
“Tolong sembunyikan aku di sini ya, ponselku tertinggal. Aku khawatir Satya menghubungimu. Nanti jangan bilang kalau aku bersamamu,” pinta Reva mengiba.
“Dia tidak mengenal aku, bagaimana mungkin dia menghubungiku!” sahut Dina datar.
“Dia pasti menelepon ke semua nomor-nomor yang ada di ponselku!”
“Oh iya, juga. Ya sudah kamu istirahat dulu. Nanti kita bicara lagi.”
“Eh satu lagi, apa di restoran tempatmu kerja ada lowongan pekerjaan? aku harus bekerja karena aku tidak punya uang.” Reva menatap Dina dengan memelas.
“Ya ampun, aku pikir kamu menikah dengan orang kaya jadi tertular kaya dan aku kecipratan! ini malah tetap menyusahkanku.” Dina menghela nafas kasar menatap sahabatnya.
Reva terkekeh. “Kamu kan temanku yang baik, tolong ya. Setelah aku punya uang aku akan pulang ke Surabaya dan tidak akan menyusahkanmu lagi aku janji!” Mata Reva mengerling dengan kedua telapak tangan disatukan di dadanya.
“Ada sih, sebagai pelayan. Kebetulan di restoran membutuhkan pelayan.”
“Ya sudah, aku mau. Aku harus mengumpulkan uang untuk pulang ke Surabaya!” pekik Reva dengan mata berbinar. Dia ingin pergi menghilang dari kehidupan Satya dan mencoba melupakannya.
“Apa kamu akan jujur pada ibumu kalau kamu sudah menikah?” tanya Dina.
“Tidak! tentu saja tidak, menikah saja ibuku tidak tahu. Aku hanya ingin menyelamatkan rumah ibu dari hutang bank. Ibuku hanya tahu itu adalah uang tabunganku. Aku rasa aku akan melanjutkan hidupku di Surabaya dan mungkin kita akan berpisah, kamu pasti merindukanku!” Reva meledek Dina dengan senyuman termanis.
“Tidak mungkin aku merindukanmu! Teman yang selalu menyusahkanku, sudah istirahat sana!” Dina melangkah pergi meninggalkan Reva.