”Loh, Dhit, kenapa nangis di situ?” Perempuan itu duduk di antara celah menuju ruang tamu dan lemari pembatas ruangan. Dia menunduk seraya mengeringkan pipinya yang sudah basah karena air mata. “Kenapa, Nak Rendra?” Prayoga mengalihkan atensinya dari sisa kudapan. “Ini, Bah, Ditha nangis di pojokan sini.” Narendra jongkok kemudian merangkul Ditha, membawa perempuan itu ke dalam pelukannya. Lelaki tambun yang mengenakan setelan batik dan celana katun warna abu-abu itu langsung berdiri dan menghampiri. Semakin didekati tangis Ditha semakin tidak terkendali. “Apa ada kesalahan Aa yang bikin Ditha sedih?” tanya Narendra. Dia mengelus-ngelus punggung Ditha. Ditha mengangkat wajahnya sedikit, malu-malu perempuan itu melirik Abahnya, lalu melirik Narendra bergantian. Lalu dia menggeleng le

