Penghibur Diri

817 Words
Bila benar adanya, bahwa terkadang... mencintai tak harus memiliki. Diyyara gadis jelita itu selalu bersikap manis bahkan cenderung tidak memberi batas pada Arka yang notabene nya seorang OB, bahkan sering kali Diyyara menggoda Arka dengan panggilan-panggilan yang membuat hati Arka semakin kacau dan melambung, bagaimana tidak? sebab hanya pada Arkana lah Diyyara bersikap manja dan terkesan perhatian layaknya seseorang yang mencintai. Diyyara selalu bersikap ramah dan baik pada siapun, namun dengan Arkana jelas sangat berbeda. Bahkan banyak karyawan kantor yang membicarakan mereka, sebagian menyayangkan status Arkan yang hanya seorang OB, beberapa juga beranggapan bahwa Diyyara yang seorang manager cantik itu tak pantas untuk Arkan dan banyak hal tentang mereka berdua yang selalu menjadi topik paling tranding. Bagaimana tidak selalu tranding, Arka sang OB dengan kharisma seorang Executive muda dan sang manager cantik si primadona kantor, memiliki hubungan yang sangat rapat. Tentu kabar mereka selalu di nanti, bahkan dicari. Arka memutar kemudi memasuki area basement, setelah mobil Diyyara terparkir dengan baik Arka segera mengembalikan kuncinya pada Diyyra. "Ka," panggil Diyyara saat Arkan hendak keluar dari mobil. "Maafin aku, " sambung Diyyara sembari termenung memandang punggung Arkan. Ahh, tidak jangan seperti ini Dy. Arka membatin sembari memejam kedua matanya erat, manahan luapan rasa yang hendak membuncah. "Gak ada yang salah Dy, kamu gak perlu minta maaf" setelah mengucapkan kalimat itu Arka bergegas keluar tanpa menoleh sedikitpun ke arah Diyyara yang mulai mengeluarkan airmata. maaf Dy, tapi memang benar ini bukan salah mu, tapi aku. Aku si pengelana malam telah berani mengharap pijar cahaya mu. Maaf kan aku, Dy. Maafkan aku yang tak mampu mengusap airmata mu, seperti janjiku. Sebab.... Sebab aku pun tengah menahan diri dari kekacauan hati ini. Dy.. . Maaf.. . Gubrak.... suara benda terjaatuh kelantai membuyarkan lamunan Arka. "Eh Mas, liat-liat dong kalo jalan" bentak seseorang yang ia tabrak. "Ma... Maaf Mas, saya tadi ngantuk" kilah Arkana dan segera membantu membereskan barang yang berserakaan si lantai. Huffftttt... Arka menghela nafas, bergegas menuju ruang OB. “Loe kenapa Ka, kayak orang kemasukan setan ajah, tuh muka lu pucet, lesu, nggak ada gairah gitu,” sambut lelaki asal kota Lampung ini saat Arkana baru saja masuk ke dalam ruang OB. “Ahh nggak apa-apa mas Jon.” jawab Arka kelu. "Hadeuuu ni bocaah, dimane-mane orang kalo abis keluar ama ayang tuh ya wajahnya berseri, ceraah, beria-ria. Nah ini elu, kusut, lecek kek pakean belon di setrika" cerocos Joni sembari mengaduk kopi di mug dengan tulisan "Jhon" "Eee... Gak papa bang, Jon" jawab Arka sembari menggaruk tenggung lehernya yang tidak gatal. "Jhon, Jhon. udeh berapa kali dibilang panggil gue Jhon jan Joni. Susah beud lu ah" oceh Joni lagi. "Ii... Iya bang Jhon" ucap Arka patuh. "Cakep, ya udeh sana ke lobby bantuin noh si Tuti, Oji ama temen lo atu lagi tuh, si Dodi" titah Joni pada Arkana. Arka segera mengganti bajunya dengan seragam berwarna biru muda dengan paduan biru dongker, lalu bergegas berjalan menuju lobby tentunya di iringi dengan sapan atau godaan para staff kantor. “Laaa... Nih dia Bocahnya baru nongol batang idungnya,” celetuk Dodi yang melihat Arka berjalan menghampiri mereka sambil membawa lap di tanganya. “Aaaa... Cowok Gantengnya Tutiii!”teriak tuti histeris, begitu melihat Arka yang terlihat sangat cool , tak hanya di mata Tuti tapi juga di mata para staff kantor yang cantik dan sexy itu. “Ahh ngarepnya gak imbang lo mah Tut, udah muka kayak panci di kosan Gua loe,” Oji meledek Tuti dengan puas. “Lagian loe bocah!? Hari udah siang begini baru dateng, udah datengnya sama cewek masa depan gue lagi,” ucap Oji sedikit kesal sebab mendapati mereka pergi bersama lagi. Dengan kompak Dodi, dan Tuti menertawakan ucapan Oji, ”Maksud loe... Heuuuuhh.” “Makin gak waras aja loe, Ji,” Dodi meledek puas Oji. “Loe tuh, taplak.. Ngimpinya ke_jaa_uuu_han, udah kayak nenek gua aja loe,nyuruh beli krupuk ke Indramayu,.. Keeejaauuuhaan tauuuu." Tuti penuh semangat memberi pembalasan atasbully an Oji sebelumnya. “Ahhh, untung ajah loe gantengnya kaya Herjunot Ali, coba gantengnya kayak si Dodi, udah gua suruh ngaca di ember bekas ngepel ni ni niiiih,”sambil menunjukan Air bekas mengepel lantai. "Hahaha, bingung kan loe, Ji mau bully apaan ke si Arka, udah cakep, pinter, pantes aja Mbk Diyyara mau" "Iya, tapi dia OB juga kaya kita, " Oji bersungut. Arkana tersenyum menanggapi candaan mereka, apa yang dikatakan Oji benar ia hanya OB. Tak lama setelah perbincangan, mereka berempat kembli mengerjakan tugas masing-masing. Arkana termenung kembali dengan kedua tangan yang sibuk mengelap kaca. Ini terlalu mendadak baginya, ia belum mempersiapkan hatinya untuk hari ini. Hari untuk melepaskan pujaan hatinya yang segera di pinang orang. Untung saja Arka memiliki teman-teman unik seperti mereka sehingga ia masih bisa sedikit tersenyum, meski rasanya sakit. Ya, benar, mungkin teman mu tidak dapat menghilangkan luka hati mu, tapi percayalah dengan adanya mereka kamu bisa sedikit melupakan kegundahan mu, meski sesaat. Itu akan terasa menenangkan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD