CHAPTER 15

1304 Words
Keesokan paginya, ketika Via dan Dion hendak pergi bekerja, mereka berjalan ke bawah, setelah sarapan, ketika mereka hendak pergi keluar, ketika itu juga Harry membawa delapan orang dari pihak BIN untuk diberikan tes terlebih dahulu sebelum menjalankan tugas. "Selamat pagi Nona. Saya membawa mereka ke sini untuk Anda menguji kemampuan mereka," sapa Harry. Via memperhatikan mereka sejenak kemudian keluar. "Bawa mereka dan ikuti saya," ucap Via. Harry mengikuti mobil Via dari belakang, sedangkan Harry mengendarai Lamborghini untuk pergi ke suatu tempat. Orang-orang dari intelijen negara itu pergi dengan mobil khusus. Harry terkejut ketika ia melihat bahwa Via membawa mereka ke Gedung Merpati Putih. Harry buru-buru keluar dari mobil dan bertanya. "Nona! Mengapa Anda mencoba membawa mereka semua ke sini?" "Masuk saja, nanti juga kamu tahu," jawab Via sambil tersenyum. Via membawa mereka ke dalam—ke ruang bawah tanah rahasia tempat pelatihan Keluarga Kerajaan Merpati Putih, Manda dan Angel sudah berada di sana menunggunya. Ketika mereka berdua melihat Via datang, dengan senang hati mereka menyambutnya. "Tembakkan pistol kalian ke lingkaran itu! Masing-masing lima tembakan!" perintah Via kepada calon pengawal temannya. Para anggota BIN secara bergiliran mengambil pistol dan menembakkan ke target dengan lima kali tembakan, setelah dengan serius menyaksikan mereka menembak, Via menunjuk ke dua dari delapan orang itu. "Pulanglah, teknik menembakmu terlalu buruk. Kalian semua mengikutiku ke tempat lain!" perintah Via dengan tegas. Harry merasa kagum. "Teknik menembakmu masih buruk, dan kamu tidak mendengarkan instruksi dariku," ucap Via. Salah satu dari keduanya dieliminasi oleh Via. Seseorang segera berdiri di depan Via, menatapnya dengan tatapan kesal. "Kamu bilang aku memiliki teknik menembak yang buruk?" ucap salah satu anggota merasa tidak terima. Via menyipitkan matanya padanya. "Kamu tidak terima?" ucap Via dengan suara dingin. "Benar. Aku tidak menerimanya," dia melotot kepada Via. Via melangkah dengan sewenang-wenang sambil memegang pistol. Via menembakkan generator peluru ke sebuah patung yang letakkan cukup jauh dari posisinya berdiri dan kemudian meletakkan pistolnya kembali. Sekali tembak patung itu hancur berkeping-keping. Harry dan pengawalnya tersentak, melebarkan mata mereka karena tidak percaya. "Sa-satu kali tembakan," ucap Harry terbata-bata dan terperangah. Orang yang tidak mematuhinya tadi juga diam, tidak berani mengatakan apa-apa lagi. Via berjalan ke sisi mereka untuk melatih bela diri dan masing-masing mereka harus melawan Via, dan tiba-tiba Via menyerang setiap penjaga, kekuatan tangannya cepat dan tegas, membuat Harry lagi-lagi terperangah melihatnya tanpa berkedip. Manda dan Angel saling memandang dan tersenyum. Setelah mencoba menyingkirkan dua orang lagi, Via melihat ke arah empat lainnya dan menunjuk ke arah Angel. "Mulai sekarang, empat orang harus mengikutinya untuk melindunginya, jangan biarkan dia tertangkap oleh siapa pun!" perintah Via. "Baik." Keempat penjaga menjawab secara bersamaan. Harry menatap boss-nya semakin kagum, tiba-tiba teringat apa yang Dion katakan padanya dengan tergesa-gesa ia mengatakannya pada Via. "Nona, Tuan menyuruhku untuk memberitahumu, siang ini Tuan dan temannya akan terbang ke Selandia Baru." "Untuk apa?" tanya Via sambil mengerutkan alisnya, bingung. Harry menggelengkan kepalanya, sambil tertawa kecil. "Tuan baru saja menyuruhku mengatakan itu saja Nona," ucap Harry. Angel berjalan ke arah Via dan meletakkan lengannya di bahu temannya. "Sejak kapan kamu sekhawatir begini?" tanya Angel sambil tersenyum. Via tersenyum kepada Angel. "Sejak kemarin. Kenapa, tidak apa-apa, Kan?” ucap Via sambil menatap ke arah Manda. Angel juga mengamati Manda dengan cermat, tampak Manda mengangguk sedikit. "Tidak apa-apa, saya hanya …" ucap Manda tetapi ia tidak melanjutkan ucapannya. *** Di kantor Christ Corporation, Dion duduk di kursi dengan kaki saling bersilang di lantai berhadapan dengan Sinclair. "Hei, apa kita benar-benar akan pergi? Aku takut bertemu cinta lamaku lagi?" ucap Sinclair. “Aku tidak memiliki apa pun yang membuatku takut, aku hanya harus pergi ke Inggris untuk menyelesaikan beberapa masalah. Tapi mengapa kamu membawa serta Via pergi bersamamu?" ucap Ming Chandra mengajukan pertanyaan kepada Dion. Dion mengerutkan kening sambil tertawa. "Memang sebenarnya aku tidak ingin pergi, karena satu hal lagi, dengan tidak membawanya bersamaku, keamanan di sini harus ditingkatkan," jawab Dion. Ming Chandra bingung dengan kata-kata temannya. "Tidak aman?" tanya Ming Chandra lagi. "Dia sang ratu balap legendaris," jawab Dion. Mereka tak bisa dipercaya. "Benarkah itu?" tanya Ming Chandra penasaran. Dion mengangguk. "Benar-benar tak terduga di sampingmu ada wanita yang begitu sederhana. Tapi barusan, kamu bilang seperti itu. Apa benar begitu?" tanya Arion. Dion mengangguk sedikit untuk mengakui. "Bagaimana dengan Grace? Kamu tidak mencintainya lagi?" tanya Lilac. Ekspresi Dion tiba-tiba berubah, ia menghela napasnya. "Aku juga tidak tahu bagaimana perasaanku sekarang," ucap Dion. "Apa pun yang kamu katakan, aku masih di sisi Grace, aku juga yakin bahwa orang-orang dan bawahanmu juga mendukungmu bersama Grace. Dokter Via ini tidak sesederhana itu, sadarlah dia sekarang sebagai seorang simpananmu," ucap Arion. "Aku yakin aku tahu apa yang harus aku lakukan," jawab Dion. *** Pada siang hari, Via kembali ke mansion untuk menyiapkan segala sesuatu yang diperlukannya untuk dibawa. Pria itu merasa bahwa jika ia pergi ke luar negeri dan meninggalkan gadis ini sendirian sangat berbahaya, ia merasa tidak aman, sehingga lebih baik gadis itu ikut bersama dirinya. Mereka naik pesawat pribadi milik Dion, Via membelalakkan matanya. Dion mengangguk sedikit. "Memang orang kaya begitu berbeda dengan orang biasa. Terbang juga menggunakan pesawat termewah. Kenapa uang itu tidak digunakan saja untuk makan, minum, atau juga bisa untuk beli sesuatu?" bisik Via. "Apakah kita harus naik kuda untuk pergi ke NZ?" ledek Dion. "Maksudku kamu menyia-nyiakan uang saja," ucap Via terus terang memberitahunya. "Penerbangan mewah ini cukup untuk aku makan selama beberapa tahun," bisik Via. Dion tertawa sambil mencubit hidung gadis itu. "Yang kamu bicarakan hanya makan saja," ucap Dion. "Memang pesawat ini bisa dimakan? Benda-benda mewah ini tidak bisa dimakan, kan? Logikanya begini, jika kamu makan, kamu akan memiliki kekuatan untuk bekerja,” ucap Via dan Andreas tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Keesokan siangnya, mereka tiba di Selandia Baru. Via baru saja turun dari pesawat dan mengusap perutnya sambil menatap ke arah Dion memberi kode untuk mengajak makan. Andreas hanya memutar bola matanya bingung, kemudian ia mengorek telinganya, Andreas bertanya pada Evans untuk memastikan. "Apakah Nona tidak makan di pesawat? Aku tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Nona?" Evans menggelengkan kepalanya. "Aku juga tidak mengerti." Mendengarnya Dion tertawa, ia menggelengkan kepalanya untuk menanggapinya, kemudian menoleh ke arah Evans. "Pergi ke restoran dulu," perintah Dion. "Baik," jawab Evans sambil mengangguk. Rolls Royce berguling ke sebuah restoran mewah, mereka memasuki ruangan, Via sekali lagi membuat Andreas dan lainnya mengerutkan kening setelah mendengar pesanannya, kemudian Via menatap ke arah Dion. "Kamu mau makan apa?" tanya Via kepada Dion. Sebenarnya Dion yang mengguncang pertarungannya, ia tidak memperbolehkan Via makan selama di pesawat. Via menoleh ke arah Andreas, Evans, dan Harry seolah-olah bertanya. "Apakah kalian bertiga tidak makan?" ucap Via. Mereka bertiga menggelengkan kepala, Via menundukkan kepala dan terus memesan. Beberapa saat setelah hidangan yang ia pesan disajikan, ia tidak malu menggunakan sumpit untuk mengambil dan memakan semuanya dengan lahap. Dion sudah terbiasa menyaksikannya, tetapi Harry masih tidak bisa menyangka melihat idolanya makan seperti itu, tiga orang itu hanya berdiri mematung. Lagi-lagi, pintu ruangan terbuka, enam pelayan yang di tangan dengan piring makanan masuk menghidangkan lagi makanan di sana, Via yang sedang makan itu lalu ia mengangkat kepalanya, ia mengerutkan kening. "Saya tidak memesan lagi, siapa yang akan memakannya?" ucap Via. Harry, Andreas, dan Evans mendengar Via berbicara ketiga orang itu merasa curiga. Manajer restoran melihat ke arah pelayan, Dion juga melirik ke enam dari mereka. Tiba-tiba enam pelayan mengubah pandangan mereka, menjatuhkan piring makanan untuk mengambil pistol dan menembak mereka seketika. Andreas dan lainnya dengan cepat mengeluarkan s*****a mereka untuk melawan. Dion dengan cepat melangkah ke arah kekasihnya, melindunginya dengan s*****a dan menembaki mereka. Empat dari enam orang itu tewas tertembak peluru dan dua lainnya melarikan diri dengan sangat cepat. Dengan kemampuan teknik menembak yang sangat baik dari para pelayan itu membuat Evans terkena peluru di lengannya, dan Harry terkena peluru di bagian perutnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD