#Sebelumnya
=20 Januari 2018 (Jakarta Timur)
"Hahaha sudah gua bilang, gua adalah masternya. Haha" Tawa terbahak penuh bangga oleh lelaki itu sangat memacu emosi jiwa didalam jiwa Khefaz Marlin untuk segera menantangnya kembali dalam perjudian yang tengah mereka lakukan untuk sekian kali.
"Jangan sok berbangga diri dulu lo, Gua belum kalah Men!"
"What? mau menantang lagi rupanya dia. Oke! Lalu, apa yang akan kau taruhkan selanjutnya, Men?" lelaki itu tawa penuh ejek di samping rekan-rekan dan para gadis-gadis yang membelai lembut di kedua bahunya.
Tanpa ragu, Khefaz melepaskan arloji berkualitas pemberian dari sang bunda beberapa hari yang lalu "Nih, Lo ambil! sekalian mobil gua lo ambil kalau gua kalah dari Loe!"
"Faz, apa loe yakin?" Tentunya para teman sekelompoknya sangat ragu dengan sikap Khefaz yang selalu arogan terutama Zebua sahabat terbaiknya.
"Sangat yakin Ze, gua akan mampusin tua bangka yang sok jagoan itu!"
"Tapi ... Itukan jam tangan hadiah dari mama lo saat ultah lo kemaren, Faz."
"Sudahlah Ze, gak usah banyak omong kosong, gak ada kekalahan dalam sejarah hidup gua, ingat itu!" - Khefaz
#Skip
___
#Jakartab Timur (Dari lain sisi)
Kring ... Kring ...
Dering suara Panggilan dari handphone memecah lamunan Zadav Yesaya seorang pemuda berusia 23 tahun, yang kini sedang duduk nyaman didalam kursi bus sembari mendengarkan musik melalui earphone.
Dia dalam perjalanan pulang selepas menjadi seorang sukarelawan di pulau Sumatra bagian selatan selama sembilan bulan.
"Ya, Om" Jawabnya.
"Sudah pulang atau belum kau, mana pula janji kau mau transfer uang sampai sekarang tak ada masuk, kau tau tak orang-orang itu bolak-balik datang kesini memarahi saya!"
Kalimat itu sungguh membuat rasa-rasa frustasi kembali menerpa pikiran Zadav, ia hanya sebatas menjawab "Iya Om, ini nanti aku berikan secara cas"
Tak lama kemudian ia simpan kembali Handphonenya. Mengatur napas sejenak sembari mengeluarkan kembali buku diary yang dimilikinya beserta pena.
Alih-alih membuka buku diary hendak menulis kata-kata pada bab terakhir (ke-1000) sembari menunggu Bus yang ia naiki berhenti, satu buah foto seseorang yang sangat ia kagumi sejak sembilan bulan menjadi sukarelawan disana menjadi pusat perhatiannya.
"Berjuang dan semangat selalu, wahai Mosnter besar yang menyebalkan!"
Senyum, sembari menatap indahnya rembulan bersinar di malam ini melalui jendela kaca, hingga apa yang hendak ditulisnya menjadi tertunda. Tak terasa bus yang dinaikinya kini berhenti, turun kemudian berjalan pelan hendak melanjutkan perjalannya mencari taksi.
"Duh, terlepas pula"
Mendapati tali sepatunya ada yang terlepas, segera jongkok sejenak untuk membenarkannya.
Lantas ...
Tiiinnnnnnnn!
Sebuah mobil balap yang melaju dengan kecepatan penuh cenderung ugal-ugalan, mobil itu oleng sang pengemudi tak dapat mengendalikan setir dan rem dengan sempurna.
Maka ...
Brraaaaak!
Nahas pun terjadi, mobil itu akhirnya menabrak Zadav yang kini sedang jongkok membenarkan tali sepatu, hingga terkapar dan berdarah-darah berujung dia dibawa ke rumah sakit (Columbia Asia) oleh para saksi mata di tempat kejadian perkara.
___
#Jakarta Timur (Dari sisi berbeda)
"Apa! duh, gawat! lalu ... gimana ini kita Faz" Zebua sang sahabat Khefaz sangat khawatir dengan kejadian yang tak terduga ini.
Tetapi, Khefaz sendiri sudah langsung masuk kembali kedalam Clubbing tempat mereka sebelumnya.
Kemudian duduk berkumpul bersama teman-teman lainnya sembari menenggak minuman beralkohol dalam jumlah banyak sebagai lambang frustasi akan kekalahannya dalam taruhan/Judi kali ini.
"Faz, Hentikan! Ingat kondisi lo!" Zebua raih gelas di tangan Khefaz, tetapi Khefaz langsung melemparnya.
Prakk!
Gelas itupun pecah di lantai.
"Lo, kalau mau ngehina gua, ngomong aja terus terang Ze!"
"Gua gak ada maksud begitu, gua khawatir dengan kondisi Lo. Please hentikan jangan minum lagi Sob."
"Persetan!" Tak Khefaz pedulikan, dia menenggak terus-menerus minuman beralkohol itu.
"FAZ, PLEASE HENTIKAN!" Zebua semakin Khawatir. Bukan karena hal lain dia mengkhawatirkannya melainkan dia tahu kondisi Khefaz menderita penyakit jantung.
"Tutup omong kosong gak guna itu Ze! Dan gak usah berlagak peduli, kalo mau ngehina gua, bilang terus terang!" Khefaz paling membenci dikasihani, apalagi soal penyakitnya itu.
Hingga akhirnya dalam beberapa saat kemudian ...
"Agghhh!"
Khefaz pun Jatuh tertelungkup sembari satu tangan memegangi dada
Semua teman-teman panik, terutama Zebua yang telah menduga hal ini bakal terjadi. Segera ia membuka satu anak kancing di bagian d**a Khefaz membuatnya membelalak penuh kejut.
"TIDAAK, Khefaz! Bangun!"
Mendapati d**a khefaz sudah berwarna biru kehitaman (gosong)
Segera dia membawanya menuju ke rumah sakit (Columbia Asia)
___
#Di Rumah sakit (Columbia Asia)
Pasca operasi (Transpalasi Jantung) berjalan dengan sempurna, Khefaz kini masih berbaring tak berdaya dalam kondisi Kritis.
Tapi, sungguh keajaiban terjadi padanya membuat anggota keluarga yang hanya terdiri dari Ayah (Marlin) dan Bundanya (Fanya) kini dapat menarik napas lega.
"Faz ... Khefaz anakku sayang," Fanya memanggil-manggil anak semata wayangnya itu sesudah siuman dari masa kritis.
Khefaz tak mampu menjawabnya, lantaran pikiran masih tergiang kedalam alam bawah sadarnya saat menjumpai pria misterius itu didalam ruang gelap gulita.
'Si-siapa sebenarnya orang itu?' Batin penuh tanda tanya, entah mengapa meski didalam alam bawah sadar, ia ingat dengan Detile dan jelas paras pria misterius didalam alam bawah sadarnya itu.
"Ma, Pa, in-ini ... ini dimana?"