Rasya berjalan mendekati brangkar dengan tatapan tak terbacanya. Ia masih terus menatap Rindi sedangkan Rindi sudah memalingkan wajahnya. "Loe datang untuk mentertawakan keadaan gue, Bukan?" "Untuk apa gue mentertawakan loe," ucap Rasya masih terdengar datar. "Gue tidak ingin bertemu dengan loe," ucap Rindi menatap Rasya dengan tajam dan sengit. "Gue datang bukan untuk meminta maaf sama loe." Rindi mengernyitkan dahinya menatap Rasya dengan kebingungannya. "Berhenti mengganggu suami gue!" Deg Rindi terkekeh kecil. Apa barusan dia tidak salah dengar? Suami?? Menggelikan rasanya panggilan itu di telinga Rindi. “Tidak tau malu!” gumam Rindi tersenyum mengejek. "Gue mohon Rindi, berhenti menekan Percy. Ini sudah takdir kalian." "Takdir? Loe bilang ini takdir? Gue gak buta Rasya! Gue t

