Episode 11

1857 Words
Percy baru saja selesai membereskan barang-barangnya dan hendak pulang. Hari ini pekerjaannya sangat banyak sekali, hingga dia melupakan makan siangnya. Langkahnya terhenti saat membuka pintu ruangannya, seorang gadis yang sangat ia rindukan tengah berdiri di sana dengan pandangan yang sulit di artikan.  "Rindi!" Rindi tersenyum kecil kepadanya. "Aku ingin berbicara denganmu." "Baiklah, kita ngobrol sambil makan," ucapnya membimbing Rindi untuk pergi bersamanya. Di dalam lift keduanya sama-sama terdiam tak ada yang membuka suara mereka. Sesekali Percy mencuri pandang pada Rindi yang terlihat santai saja seakan semuanya tak pernah ada masalah. Akhirnya mereka sampai di sebuah restaurant yang berada tak jauh dari kantor Percy. Rindi memesankan makanan untuknya dan juga Percy seperti biasanya tanpa memperdulikan Percy yang terus menatapnya dengan sedikit kebingungan. "Terima kasih, Mas," ucapnya saat pelayan itu berlalu pergi. "Emm,, ada apa?" tanyanya Percy membuat Rindi menatap ke arahnya. "Aku sudah dengar semuanya dari Randa, kalau kalian di jodohkan dan di paksa," ucap Rindi, ia memegang tangan Percy yang ada di atas meja. "Bukankah kalian masih bisa membatalkannya? Aku akan memaafkan kalian atas kejadian kemarin, tapi batalkan pernikahan kalian." Percy terdiam menatap Rindi dengan sendu. "Aku mencintaimu, Honey. Dan aku ingin kita bersama." Percy terdiam membisu, hatinya kembali bimbang dan dilema. Kalau memang bisa, dia ingin membatalkan pernikahan ini tetapi bagaimana caranya. "Aku sudah meminta Rasya untuk datang sekarang," ucap Rindi dengan santai dan benar saja tak lama Rasya terlihat datang dengan sedikit syok saat melihat Percy juga ada di sana. "Sya, kemarilah," panggil Rindi. Rasya berjalan perlahan mendekati meja mereka dengan tatapan yang terus tertuju pada Percy walau Percy tak menatap ke arahnya. Ia duduk di antara mereka berdua. "Loe mau pesan makan?" tanya Rindi dan Rasya menggelengkan kepalanya diiringi senyuman kecil. "Gue pesan minum saja," ucapnya. Tak lama pesanan merekapun datang, Rasya hanya menikmati minumannya sedangkan dua orang di depannya tengah menikmati makanan mereka dengan tenang. "Honey, cobain ini enak banget lho." Rindi seakan ingin menjelaskan kepada Rasya kalau Percy itu miliknya. Percy melirik ke arah Rasya yang terlihat menunduk.  Rasya merasakan sakit yang teramat di dalam hatinya, 4 hari lagi mereka akan menikah dan hari ini dia melihat calon suaminya tengah di suapi wanita lain. Bagaimana kalau itu di posisi kalian? Sakit bukan. "Sudah cukup, aku bisa makan sendiri," ucap Percy seakan merasa tak nyaman, Rindipun menurut dan kembali menikmati makanannya. 'Maaf gue harus bersikap seperti ini di depan loe, gue hanya tidak ingin loe mengambil Percy dari gue. Percy itu milik gue, Sya. Tolong loe pahami satu hal itu!' batin Rindi menatap Rasya yang menunduk sambil mengaduk minumannya tanpa arah. "Kalian bisa kan membatalkan pernikahan ini, kita bertiga bisa menemui kedua orangtua kalian." Ucapan Rindi membuat Rasya terpekik kaget. Bagaimana mungkin pernikahan yang sudah 80% rampung ini harus di batalkan begitu saja. Bahkan undangan sudah di sebar. Rasya melirik ke arah Percy yang tak berbicara apapun. Ia terus menatap Percy dengan tatapan tak percaya hingga mata abu Percy beradu dengannya. Rasya seakan memohon agar Percy menjawab, tetapi Percy hanya menampilkan tatapan permohonan maafnya. Rasya tak percaya Percy hanya diam saja seperti ini. "Rindi, kita harus membicarakan ini. Berdua!" ucap Percy penuh penekanan. Akhirnya setelah menunggu lama, Percy akhirnya membuka suaranya. "Ada apa, Honey? Apa kamu malu dengan Rasya?" tanya Rindi merangkul lengan Percy. "Honey please, aku ingin berbicara berdua. Hanya kamu dan aku!" ucap Percy kembali. "Aku ingin Rasya di sini dan mendengarkannya," ucap Rindi masih ngotot membuat Rasya menatapnya tak percaya. Bagaimana bisa Rindi bersikap seperti ini padanya. "Sepertinya aku tidak perlu ikut campur urusan kalian," ucap Rasya akhirnya. "Tidak Sya, loe perlu dan harus mendengarkannya. Ayo katakan sesuatu Percy," ucap Rindi menatap Percy dengan serius. Percy terlihat menghela nafasnya, ia sedikit melirik ke arah Rasya. "Aku akan tetap menikahi Rasya!" Ucapan Percy membuat Rasya dan Rindi terpekik kaget. "A-apa maksudmu, Percy?" tanya Rindi dengan mata yang berkaca-kaca, ia bahkan sudah melepaskan rangkulannya di lengan Percy. "Pahami satu hal, Honey. Kita tak bisa bersama, kalau kamu mau berpindah agama maka aku akan menikahimu," ucap Percy membuat Rindi terdiam. "Banyak orang berbeda agama tetap menikah, kenapa kita tidak bisa? Dulu kamu selalu meyakini hal itu, tetapi kenapa sekarang kamu berubah pikiran?" "Kita tidak menikah untuk kita berdua saja, tetapi dua keluarga! Bagaimana kalau keluarga kita saja tidak memberi restu. Hidup kita tidak akan pernah tentram." "Aku mencintaimu, Percy!" tangis Rindi kembali pecah. "Aku juga sangat mencintai kamu, Rindi. Sangat!" Mendengar penuturan Percy yang begitu tulus mampu membuat hati Rasya semakin tersayat. Ia memalingkan wajahnya seraya menghapus air matanya yang sudah luruh membasahi pipi. "Keadaan mempersulit kita, aku sudah berjanji pada Mamaku." "Tapi kenapa?hikzz,," isaknya hingga tatapannya tertuju pada Rasya. "Kalau begitu kamu saja yang membatalkannya, Sya." Rasya terdiam mendengar penuturan Rindi barusan. "Sya, gue belum pernah memohon sama loe. Tapi kali ini gue mohon lepaskan Percy, batalkan pernikahan kalian!" ucap Rindi dengan sangat frustasi menatap Rasya membuatnya terdiam. "Sya!" "Gue gak bisa," gumam Rasya membuat Rindi dan Percy mengernyitkan dahinya. "Kenapa?" "Karena-" Rasya terdiam sesaat dan menatap mata Rindi dengan penuh keberanian. "Yang jelas gue gak bisa membatalkan pernikahan ini." "Apa maksud loe?" pekik Rindi membuat beberapa orang di sana menatap ke arah mereka bertiga. "Tenang!" Percy merangkul pundak Rindi. "Oh gue tau, loe menyukai cowok gue kan? Loe mencintai Percy!" pekiknya seraya berdiri dari tempatnya. "Rindi tenang!" Percy menahan Rindi yang emosi. "Loe menyukai Percy, gue sudah tau sejak awal. Loe benar-benar seorang pengkhianat! Loe pagar makan tanaman. Loe merebut cowok sahabat loe sendiri!"   Byur Rasya terpekik saat Rindi menyiram wajahnya dengan minuman miliknya. Rasya langsung berdiri dari duduknya karena kesal. Semua tamu yang ada di sana melihat ke arah mereka bertiga. "Rindi, apa yang kamu lakukan?" tanya Percy. "Kenapa? Kamu ingin membelanya, hah? Dia merebutmu dariku, dia memanfaatkan perjodohan ini untuk memilikimu karena dia mencintaimu, Percy!" "Apa maksudmu? Sebaiknya kita pulang." Percy membawa Rindi yang terlihat emosi keluar restaurant meninggalkan Rasya yang masih mematung di tempatnya. Air matanya luruh seketika, ia menangis dengan hati yang sangat terluka. Beberapa orang di sana tampak membicarakan mereka, dan lebih tepatnya menghina Rasya yang merebut kekasih sahabatnya sendiri. Percy membawa Rindi ke basemant kantor tempat mobilnya terparkir. "Aku bawa mobil sendiri," ucap Rindi melepaskan pegangan Percy. "Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu mempermalukan Rasya? Ini seperti bukan kamu, Rindi!" pekik Percy. "Lalu kamu ingin aku bersikap bagaimana, Hah? Aku harus bagaimana?" tangisnya kembali pecah. Karena hari sudah mulai larut, suasana di parkiran terlihat sepi sekali. Tak ada yang menyadari perdebatan di antara mereka berdua. "Tenangkan diri kamu, Rindi." Percy kembali melembut. "Bahkan hewan sekalipun akan mengamuk saat kekasihnya di rebut oleh yang lain. Lalu apa aku harus diam saja?" "Rasya tidak merebutku darimu, aku masih milikmu. Bahkan hatiku tidak berubah." "Tapi dia mencintaimu!" "Apa maksud kamu? Kita hanya bersahabat." "Jangan naif Percy, selama ini dia mencintaimu. Kamu hanya tidak peka padanya!" "Jangan mengatakan yang tidak-tidak, dia menyelamatkan hidup Kakekku dengan menerima perjodohan ini. Kalau dia mau, mungkin dia akan mundur dan membatalkan pernikahan ini. Tetapi demi kehormatan keluargaku dan kesehatan Kakek, dia mengorbankan hidupnya. Padahal jelas-jelas dia tau kalau aku mencintaimu." "Pengorbanan? Ayolah Percy jangan terlalu naif. Dia mencintaimu!" "Cukup Rindi, cukup! Aku sudah lelah dan kepalaku hampir pecah karena masalah ini dan juga pernikahan ini. Aku terus di tekan dari sana sini, tolong pahami aku!" "Aku juga ingin di pahami, aku mencintaimu!" "Kalau begitu sekarang juga jadilah mualaf, maka aku akan membatalkan pernikahan ini!" Rindi terdiam mendengar penuturan Percy barusan. Bagaimana mungkin? "Ada waktu 4 hari, pikirkanlah dan kalau sudah mantap datanglah padaku. Aku akan menemanimu menjadi seorang mualaf, dan kita akan menikah," ucap Percy yang terlihat sudah kalut. "Aku-," "Kalau kamu tidak mampu, maka jangan harap aku akan membatalkan pernikahan ini!" ucapnya seakan final dari pembicaraan itu. Percy yang sudah kalut, langsung masuk ke dalam mobilnya dan berlalu pergi meninggalkan Rindi sendiri yang masih mematung. "Shitt! Sialan!" amuk Percy memukul setir mobilnya. Dia terlihat sangat emosi, kalau saja ada pilihan lain dia tidak akan menikahi kedua-duanya. Dia sudah terlalu lelah dengan berbagai tekanan. Bahkan hampir setiap hari Mamanya terus menekannya agar tidak sampai membatalkan pernikahan ini. Dia ini seorang pria dan sudah dewasa. Tetapi kenapa ia merasa tak mampu mengambil keputusan sedikitpun. Dia merasa seperti boneka yang di kendalikan oleh oranglain. "Hallo,," "...." "Temani gue, ke tempat latihan Brotherhood." Percy melempar handphonenya dan semakin menginjak gas mobilnya membelah jalanan. Sesampainya di rumah itu, ia menyapa seorang penjaga di depan rumah dan berlalu masuk ke dalam yang terlihat sepi. Ia melepas jasnya dan melemparnya asal, ia juga menarik paksa dasinya yang terasa mencekik lehernya dan melipat kemeja putihnya hingga batas siku. Bug Ia memukul samsak hitam yang menggantung di depannya. Ia memukuli samsak sambil berteriak meluapkan segala emosinya.  Tak lama Verrel datang dengan masih memakai pakaian kerjanya, ia berjalan sambil memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana. Ia menatap Percy yang terlihat frustasi. Dia merasa prihatin pada keadaan Percy saat ini, semua orang yang ada di sekelilingnya terlihat sangat egois. Dia berusaha ingin mengalah dan membahagiakan orangtuanya tetapi hati lain terluka. "Haaah!" Percy menghentikan tinjuannya hingga menyisakan keringat dan kedua tangannya yang merah. Ia masih terengah mengatur deru nafasnya yang tersenggal-senggal. Percy menengok saat seseorang menyodorkan sebotol aqua padanya, membuatnya mengambil botol itu dan meneguknya hingga tandas. "Thanks loe udah dateng," ucapnya seraya duduk di salah satu kursi yang ada di sana. "Gue akan menemani loe, tapi gue tidak bisa mengatakan apapun." "Cukup temani gue saja," ucapnya terdiam dan merenung menatap kosong ke lantai marmer di bawahnya. "Rindi menyiram Rasya tadi." Verrel masih menampilkan ekspresi tenangnya seakan tak kaget mendengar penuturan Percy barusan. "Gue gak paham sebenarnya, tetapi Rindi terlihat sangat emosi. Dia bilang kalau Rasya mencintai gue." Verrel masih diam mendengarkan. "Gue gak tau apa maksudnya itu, dan Rasyapun tadi terlihat diam saja seakan membenarkan ucapan Rindi," tambahnya melirik ke arah Verrel. Tak ada yang membuka suara sedikitpun selain dari helaan nafas Percy. "Loe sungguh pendengar yang baik, Rel." sindir Percy membuat Verrel terkekeh. "Gue hanya ingin menemani loe, gue udah gak tau mau ngomong apa lagi." "Ya, sebaiknya loe diam saja," keluhnya.   Terkadang cinta itu meminta kita untuk melepaskannya bukan untuk mempertahankannya. Tidak semua cinta harus berakhir bersama dan bahagia.   Pengorbanan dan perjuangan cinta itu tak selamanya harus tetap bersama. Terkadang dengan cara melepaskannya, itu adalah bentuk pengorbanan dan perjuangan.   "Melepaskannya bukan berarti kalah pada takdir atau tidak ingin memperjuangkannya. Tetapi melepaskannya untuk membuatnya lebih bahagia lagi," ucap Verrel membuat Percy menatap ke arahnya. Tetapi yang Verrel katakan itu benar adanya, ♣♣♣ Saat ini Rindi tengah duduk termenung di dalam kamarnya, ini sudah 3 hari berlalu dan dia belum mendapatkan jawaban apapun. Haruskah dia melawan orangtuanya dan pergi menemui Percy? Haruskah dia masuk ke agama Percy secara diam-diam? Selama ini pertanyaan itu terus terngiang di kepalanya. 'Kenapa kamu lakuin ini, Percy? Kenapa kamu menghancurkan impian dan harapanku,, kenapa? Tidakkah kita tetap bersama sampai aku memutuskan apa yang akan aku lakukan?' Batinnya semakin menangis. 'Kenapa kamu begitu tega memberiku pilihan yang sangat sulit, andai aku bisa melawan kedua orangtuaku maka aku akan langsung berlari ke arahmu.' "Rindi," panggilan seseorang membuat Rindi menengadahkan kepalanya. Kondisinya tak jauh lebih baik, wajahnya yang pucat dan merah karena terus menerus menangis. Ia memalingkan wajahnya saat melihat Randa berdiri di ambang pintu. Randa berjalan mendekati kembarannya itu dan memeluk tubuh Rindi dengan sayang. "Sampai kapan loe akan seperti ini?" "Dia jahat Randa, dia seakan tak memiliki hati, gue merasa rendah di depannya. Gue di sini selalu bersabar menunggunya tapi apa yang dia lakukan, dia masih tetap ingin menikah dengan Rasya. Dia bilang akan membatalkan pernikahannya tetapi dia memberi pilihan yang sulit." Randa hanya mampu menangis dalam diam seraya memeluk tubuh Rindi yang bergetar hebat. ♣♣♣
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD