Percy berangkat kerja tanpa menyapa dan menoleh pada Rasya yang juga baru keluar dari kamarnya. Rasya hanya mampu menghela nafasnya menatap punggung lebar Percy yang berjalan menuju ke pintu keluar apartement. Setelah kejadian malam itu, Rasya seakan tak mengenal lagi sosok Percy. Dia begitu dingin dan bahkan tak menganggap Rasya ada. Walau rasanya begitu sakit, tetapi Rasya tetap tak menunjukkannya. Bukankah rasa sakit sudah menjadi teman sejatinya? Di sebuah cafe Amour di dekat apartement yang di tinggali Rasya bersama Percy. Rasya tengah duduk di salah satu meja yang berada di sudut ruangan tepat di samping kaca pembatas cafe dengan area luar. Kedua tangannya tampak menangkup gelas berisi coklat panas. Tatapannya nanar dan hanya tertuju pada satu titik yang ada di luar jendela. Berbag

