5. Wanita Lain

1312 Words
"Perasaan memang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, perasaan hanya bisa diungkapkan dari hati ke hati" . -odith- . . Jika aku merasa lelah, bolehkah aku mengakhiri semua ini? Cukup untukku mengorbankan semua yang aku punya, namun akhir yang kudapat hanya acuh dan dinginnya dirimu. Lelah dan terlalu rumit hubungan kita. Akhiri semua ini. Dan kita lebih baik berada di dunia masing-masing dan hiduplah seolah kita tak pernah saling mengenal. Akhirnya Haydan dan Divya sampai di sebuah apartemen mewah yang mulai detik ini akan mereka tempati bersama. Segala fasilitas mewah dan berkualitas sudah disiapkan bagi keduanya. Menyuguhkan sejuta kenyamanan untuk dinikmati. Tapi itu tak sejalan dengan apa yang diinginkan Haydan maupun Divya. Tempat tinggal semewah ini berada di tengah kota Jakarta dan juga dekat dengan tempat ke-duanya bekerja. Strategis. Namun hanya ada 1 kamar di dalam apartemen ini, hal itu membuat Haydan mencibir pelan. "Cuma ada satu kamar." Ujar Haydan. "Cih.. siapa juga yang bilang ada dua." Balas Divya dingin. Haydan hanya menggeleng heran padanya. Ternyata sedingin inikah Divya? Benar-benar menarik. Ia mengacak pinggang mengamati seluruh perabotan yang ada di sini. Ia tahu, semuanya menggunakan design interior ter-modern. Dan ia pikir ini hadiah pernikahan yang cukup mewah. Kalau semisal mereka bercerai, dia akan menyewakan tempat ini. Semuanya sekarang bisa menjadi ladang bisnis, kan? Dia bisa membagi hasilnya pada Divya nanti sebagai mantan istrinya. Tunggu, istrinya? Itu tak sengaja Haydan katakan. Divya segera masuk kemar mandi dan membersihkan dirinya. Dan saat itu pula pintu kamarnya terbuka lagi karena Haydan membukanya. Haydan meletakkan jas yang ia kenakan di kasur dan segera saja ia rebahkan dirinya ke atas kasur king size yang terlihat menggiurkan dengan asal. Merasa setiap sel tubuhnya berdemo lelah karena mengikuti kerja dirinya hari ini. Masih terngiang jelas di kepalanya saat melihat wajah sedih kekasihnya. Rosa tak terlihat baik tadi. Wajahnya pucat dan terkesan ia tengah berada pada titik terendah seorang wanita mandiri selayaknya Rosa selama ini. Bagaimana tidak, mana ada wanita yang ingin melihat kekasihnya malah menikah dengan orang lain. Bukankah itu sangat menyakitkan? Kemarin, sengaja memang Haydan tak bertemu dengan wanita itu. Mencoba menghindari kemungkinan ia akan melihat wajah sedih Rosa yang pasti akan membuatnya hancur berkeping-keping melihatnya. Namun ternyata dugaannya salah, Rosa malah datang menampakan dirinya di gereja tadi. Entah apa yang akan ia katakan pada wanita itu lagi untuk tetap bertahan di sampingnya, setidaknya menunggu beberapa saat hingga Haydan dapat mengakhiri sebuah perjanjian bodohnya dengan Divya Lavani. Divya keluar dari kamar mandi, dan sudah berganti dengan gaun tidurnya. Lalu dengan handuk yang bertengger di kepalanya, menandakan wanita itu mencuci rambut coklatnya. Haydan segera beranjak mengambil handuknya yang ada dalam rak khusus di samping pintu kamarnya dan segera masuk ke kamar mandi tak mempedulikan Divya yang kini tengah memandanginya hingga punggung itu hilang dibalik pintu kamar mandi. Divya terduduk di pinggiran kasur king size di kamarnya ini. Ah, bukan, kamarnya dan kamar Haydan. Mungkin lebih tepatnya begitu. Kini kebebasan seolah pergi dari Divya, kamar saja ia harus berbagi dengan seorang pria yang kini berstatus sebagai suaminya. Wajar memang, namun secara teorinya. Dan pada kenyataannya, mereka harus tetap membatasi diri mereka dari segala kebebasan yang disuguhkan Tuhan karena mereka sudah sah menjadi sepasang suami-istri. Tahu maksudnya, kan? Ia raih ponsel putihnya yang tergeletak manis di meja kecil sebelah kasurnya. Punggungnya ia sandarkan di ujung kasur. Tak ada sedikitpun yang menarik di ponselnya, tak ada pesan atau panggilan tak terjawab. Karena setidaknya itu dapat mengalihkan perhatiannya dari kejenuhan yang mulai menyergapnya. Dan akhirnya ia pun memutuskan terlelap dengan sendirinya. Mencoba sedikit berfantasi dengan kehidupan lain yang semu dan lari dari kehidupannya sendiri yang terasa mulai rumit dan tak akan berjalan sesuai kehendaknya lagi. . /// . Sinar cerah sang surya mulai merembet masuk melalui setiap celah jendela kamar Haydan. Sebuah alarm alami milik Tuhan yang berbunyi halus bagi pria ini. Ia sandarkan tubuhnya yang masih beradaptasi dengan sinar matahari pada ujung kasurnya. Ia melenguh pelan dan menggeliatkan tubuhnya, merasa kaku di setiap sudut tubuhnya. Dan ia baru sadar tak ada lagi wanita itu di sampingnya. Apa Divya sudah bangun? Batinnya. Haydan berjalan menuruni beberapa anak tangga menuju ruang tv yang letaknya bersebelahan dengan ruang makan. Ia berhenti di sana . Sepi. Tak ia temukan wanita itu di sana-sini. Ah, tapi apa pedulinya? Ia lirik jam dinding yang bertengger pada dinding di sebelahnya. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00. Setidaknya ia masih punya waktu 1 jam untuk bersiap ke kantor. Langkah kakinya bergerak menuju lemari pendingin yang berada di dapur. Ia buka lemari pendingin itu. Dan menemukan beberapa makanan di sana. Namun hanya sebotol air yang menarik perhatiannya, karena itu adalah tujuannya menuju dapur. Ya, mengisi kerongkongannya yang hampir segersang gurun pasir Sahara. Walau Sahara rumornya tak segersang dulu. Ia bergerak menuju wastafel, menemukan beberapa peralatan masak yang masih basah tergeletak rapi di sana . Apa Divya yang menggunakannya? Wanita itu memasak? Batinnya, mencoba tak mempercayai, karena mana mungkin wanita seperti Divya bisa memasak. Mungkin saja kan, wanita itu hanya menghangatkan makanan-makanan itu bukan mengolahnya dari nol? Haydan berlari-lari kecil menaiki beberapa anak tangga sebuah jalan kecil sebuah perumahan. Kakinya terus bergerak hingga ia akhirnya berhenti di sebuah rumah dan segera ia buka gerbang yang sudah 3 tahun ini selalu menjadi penghalang saat ia sudah tak sabar lagi bertemu dengan Rosa. Ya, ia kini berada di rumah Rosa. Ia bertekad untuk meminta maaf pada wanita itu, dan memaksanya supaya tetap berada di sisinya. Lebih dari itu, ia ingin Rosa sedikit mengerti tentang keadaannya, karena hanya dengan itu ia pun mampu melewati semua keinginan orang tuanya yang terlalu ambisius dan egois, tak peduli dengan apa yang ia inginkan. Haydan geser pintu kayu rumah Rosa. Rumah Rosa memang bergaya tradisional Jepang yang juga terlihat sederhana, sama seperti pribadi Rosa yang selalu mempesona Haydan. Sederhana, cantik dan pintar memasak. Itu adalah 3 hal yang membuatnya selalu bertambah jatuh cinta pada wanita ini. Wajah Haydan langsung berseri ketika ia temukan belahan jiwanya tengah berkutat di dalam dapur. Ia berniat mengagetkan wanita itu dengan kedatangannya. DORRR!!! "Ya ampun! Mas !" Protes Rosa. Karena Haydan mengagetkannya dengan cara memeluknya dari belakang dan hampir saja membuatnya teriris pisau tajam yang sedang ia gunakan mengupas bawang merah. "Aku bisa kena pisonya loh, Mas.." Ujar Rosa. Haydan pun melepas pelukannya dan membalikkan tubuh Rosa untuk berhadapan dengannya. "Maaf, sayang.." ucap Haydan, menyentil pelan hidung mancung Rosa. Rosa cemberut karena merasakan sakit di hidungnya tapi tidak bisa menolak tindakan Haydan yang manis padanya. Haydan kemudian menatap Rosa dengan lembut. "Aku ingin minta maaf sama kamu, Ros..." Ucap Haydan. "Untuk?" "Untuk segala salahku yang aku lakukan akhir-akhir ini. Semoga kamu bisa memaafkan ku." Pinta Haydan. Ia menunduk lesu tak berani menatap mata Rosa lagi yang kadang mampu membaca semua yang ada dipikiran Haydan. Rosa menghela nafas. Dia tahu maksud Haydan. "Itu semuanya terasa sulit buat aku, Mas..." Rosa jadi ingat lagi dengan pernikahan pria di hadapannya ini dengan wanita yang dia tahu adalah model terkenal. "Lalu sekarang bagaimana dengan kita, Mas ?" Tanya Rosa. Mengangkat wajah Haydan dengan menempelkan kedua telapak tangannya di wajah tampan kekasihnya itu. "Aku nggak tau harus gimana dengan kita, Ros…. Tapi aku minta, kamu bersabarlah nunggu aku beberapa saat. Tetaplah di sisiku, dan aku akan segera jemput kamu keluar dari kegelapan ini. Dan aku juga akan membawamu ke depan pendeta, dengan atau tanpa restu Papa. Bisakah?" Tanya Haydan. Kini tangan Rosa berada di genggamannya. Ia elus lembut tangan itu. Mengalirkan segala kepercayaan dan keseriusan dari tiap kata yang terucap dari bibir dan hati Haydan tadi. Suasana sedikit hening karena Rosa sedang berpikir mencerna semua perkataan Haydan. Dan Haydan tahu, ia perlu diam dan menunggu jawaban dari kekasihnya itu. "Aku akan mencobanya." Putus Rosa mantap. Tersenyum manis pada Haydan yang juga langsung tersenyum lebar mendengar jawabannya. Haydan mengecup pelan dahi Rosa. Bagian terfavorit dari diri wanita ini. Karena dari sanalah, segala kekuatan Haydan berasal. Dia tidak ingin kehilangan Rosa, karena wanita ini sudah menjadi bagian dari dirinya. . ///
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD