Xia He menghela nafas lega kala sampai di depan gerbang Kediaman Perdana Mentri He.
Tadi, ia sempat tersesat dan hampir nyasar jika saja tidak ada anak kecil yang lewat dan menunjukkannya jalan yang benar.
Maklum saja, Xia He tadi mendadak amnesia.
Padahal biasanya ia tidak pernah lupa akan tempat.
Ingatannya sangat kuat. Tidak hanya mudah mengingat suatu tempat, ia juga mudah mengingat materi pelajaran sehingga ia selalu mendapatkan nilai yang tinggi.
Biasanya nilai yang ia dapatkan di setiap mata kuliah itu A. Tidak pernah nyelip nilai B di salah satu mata kuliah yang diambilnya.
Ya, sesempurna itu dia dalam setiap mata kuliah.
Pantas saja bukan menjadi kesayangan para dosen di kampus.
Ah, ia menjadi merindukan kampusnya. Sayang sekali ia terjebak di zaman kuno ini karena sifat kasar pacarnya.
Jika dia bisa kembali nanti, maka orang yang pertama kali ia bunuh adalah pacarnya itu.
Dia akan membuat Morgan mati dengan cara yang sama dengan yang di alaminya. Lebih tepatnya ia akan mendorong Morgan dari tangga sampai mati.
Memangnya dia sanggup?
Tentu saja sanggup!!
Dia menjalin hubungan dengan Morgan karena pria itu mengemis-ngemis cintanya. Pria itu selalu menerornya tiap hari agar menerima cintanya. Dia tentu saja tidak ingin di teror setiap hari, makanya dia menerima Morgan sebagai pacarnya.
Lagipula Morgan itu ganteng, kaya, pintar, dan tidak mudah menyerah. Hanya saja sifat pria itu mudah emosian dan kasar sehingga membuat jiwanya terdampar di zaman kuno ini.
Xia He melangkahkan kakinya masuk ke dalam gerbang tapi ia langsung di hadang oleh pengawal.
"Kenapa menghalangi jalanku?" Gadis itu bertanya kesal.
Bagaimana ia tidak kesal kalau dihadang seperti itu.
Dia ingin segera mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah bermain seharian ini!
"Ini perintah dari Tuan He, nona. Tuan berpesan agar nona berlutut di sini sampai malam."
Xia He melotot tidak percaya. "Kenapa aku disuruh berlutut di sini?!"
"Karena Anda keluar dari kediaman melebihi jadwal yang ditentukan."
Xia He tertawa tidak percaya.
Ini masih sore loh, belum malam!
"Berlutut lah nona atau tuan akan marah!"
Xia He mengernyit kesal. "Bodo amat dia marah padaku. Aku tidak akan pernah berlutut." Setelah itu, gadis berhanfu pink tersebut langsung lari ke dalam.
Pengawal yang berjaga melotot kaget mendapati Xia He lari. Mereka mengejar Xia He sambil menyuruh gadis itu berhenti akan tetapi bukan Xia He namanya kalau ia berhenti. Ia terus berlari ke arah kediamannya karena tidak ingin dihukum berlutut.
Para dayang yang berlalu lalang menatap Xia He dan pengawal yang kejar-kejaran dengan tatapan heran.
Xia He menoleh ke belakang kala merasa berlari sudah lumayan lama tapi dia masih dapat melihat pengawal mengejarnya. "Aihh! Kenapa mengikutiku sih?! Memangnya aku buronan yang harus di kejar?!" Umpatnya kesal.
Akibat tidak melihat jalan dengan baik, akhirnya Xia He menabrak tubuh perdana Mentri sehingga ia terjatuh ke lantai dengan keras.
Pengawal yang mengejar Xia He langsung berhenti dan menunduk hormat ke Tuan He.
Sementara itu, Xia He mengomel kesal. "Puas kalian hah?! Lihatlah! Karena ulah kalian, aku jadi terjatuh!"
Tuan He berdehem kuat sehingga membuat perhatian Xia He teralihkan.
Gadis itu mengerjap pelan ketika melihat sosok Perdana Mentri.
Pria paruh baya itu sangat tampan!
'wow! Inikah ayah Xia He? Kenapa sangat tampan?!' komentarnya dalam hati.
'kalau dia bukan ayah Xia He, sudah ku jadikan dia sugar daddyku' kikiknya dalam hati.
"Sampai kapan kau akan duduk di sana, putriku?"
'amazing! Suaranya pun sangat mengagumkan!' kagum Xia He pada sosok perdana Mentri.
"Segitu betahnya duduk di lantai, putriku?"
Xia He tersadar dari kekagumannya. Dia langsung berdiri dan menepuk-nepuk pantatnya, meskipun yakin tidak ada debu yang menempel sama sekali.
"Kenapa lari, putriku? Dimana etikamu sebagai seorang perempuan?"
Xia He memutar bola mata malas. "Memangnya perempuan tidak boleh lari? Bagaimana kalau dia dikejar penjahat? Tidak boleh lari juga? Sama aja dengan menyerahkan diri ke penjahat dong?" Bantahnya.
"Bukan itu maksud ayah."
"Lalu, apa maksudnya? Kan tadi ayah bilang perempuan tidak boleh lari. Please lah ayah, jangan plin plan jadi orang." Bantah Xia He lagi.
"Beraninya kau membantah ayah!" Tuan He mulai marah mendapati setiap bantahan yang keluar dari mulut sang putri.
"Memangnya aku tidak boleh membantah kalau ayah salah? Memangnya aku harus selalu diam dan menerima begitu? Iuh, ogah."
Tuan He menggerutkan keningnya tidak suka mendengar penuturan Xia He. "Sejak kapan kau menjadi pembangkang seperti ini?"
"Sejak aku terlahir kembali lah!"
"Pengawal! Bawa Putri keenam ke dalam kediamannya dan jangan perbolehkan ia keluar selama seminggu dari kediamannya!"
Xia He tertawa senang. "Buset! Itu doang hukumannya? Jangankan tidak keluar selama seminggu, selama setahun pun aku bisa tidak keluar dari kediaman." Kekehnya dan berlalu begitu saja dengan riangnya.
Meninggalkan Tuan He dan pengawal yang kebingungan melihat tingkahnya.
Bersambung...