"Jangan berdiri di tengah jalan! Kau menghalangi jalan pangeran mahkota!!" Teriak seseorang mengagetkan Xia He.
Gadis itu berbalik dan melihat kereta kuda pangeran mahkota sudah berada di belakangnya.
Tak mau menambah masalah untuk sekarang, akhirnya ia minggir ke tepi jalan dengan wajah kesal.
Kekuasaan memang sangat penting di sini. Untuk sekarang dia diam saja karena derajatnya hanya lah anak seorang perdana Mentri tapi nanti jangan harap dia diam saja karena akan menjadi istri seorang pangeran. Yah, meskipun itu pangeran yang bersifat kekanakan.
Nanti, dia akan merawat dan memperlakukan pangeran itu seperti anak kecil. Dia akan membuat pangeran itu patuh padanya bak seekor anjing ke majikannya. Oh, itu pasti sangat menyenangkan.
Senyuman tipis muncul di balik cadarnya memikirkan hal tersebut. Tidak menyadari pangeran mahkota melihat ke arahnya sekilas.
Tanpa siapa pun sadari, pangeran mahkota menyeringai melihat Xia He.
Pangeran mahkota berbisik ke bawahannya.
Bawahannya itu langsung mengangguk patuh dan mendekati Xia He.
Langsung saja bawahan pangeran mahkota menarik cadar yang dipakai Xia He sehingga tampak lah wajah jelek Xia He.
Semua orang di sekitar sana langsung heboh.
Mereka semua mengejek Xia He tanpa terkecuali.
"Ternyata dia si jelek dan tidak tahu malu itu."
"Wajah jelek dan tidak tahu malunya itu benar-benar membuatku mual."
"Dia pasti ingin menggoda pangeran mahkota lagi."
"Kalau bukan karena dia anak perdana mentri, pasti keberadaannya tidak akan pernah diterima oleh siapa pun di Kekaisaran ini."
"Pergi dari sini!! Jangan merusak mataku!"
"Gadis jelek, jangan pernah muncul lagi di hadapanku!"
Kata-kata menyakitkan mereka keluar semuanya.
Memangnya apa salahnya menjadi perempuan yang jelek?
Toh, mereka tidak mau juga untuk jelek tapi tidak semua orang beruntung.
Semua perempuan pasti ingin menjadi cantik. Tidak sepantasnya menghina seseorang jelek karena kita sama-sama ciptaan tuhan.
Orang-orang di sana tidak hanya menghina Xia He tapi mereka juga melempari Xia He dengan sampah.
Xia He yang tadinya menikmati perannya sebagai gadis jelek dan sedang di bully oleh khayalak ramai langsung ngamuk ketika ada yang melemparinya dengan sampah.
Gadis itu berjalan mendekat ke arah orang yang melemparinya sampah. "Kau yang melempariku dengan sampah 'kan?" Tanyanya dingin.
Orang itu mengangkat dagunya dengan sombong. "Memangnya kenapa kalau aku melemparimu dengan sampah? Kau itu di mata semua orang tidak lebih dari sampah!" Makinya.
Xia He tertawa sinis dan langsung melayangkan tinjuannya ke wajah orang itu. "Kau bahkan lebih buruk dari sampah. Jangan sampai aku melihatmu ke depannya atau aku akan menghajarmu sampai mati." Ancamnya tak main-main.
Orang itu ternyata tidak mau kalah. Dia hendak meninju Xia He balik.
Xia He menahan tangan pria yang menyerangnya itu dengan begitu santai sehingga membuat orang-orang tercengang.
"Aku sudah berbaik hati sebelumnya tapi kau malah memancing amarahku." Dalam sekali putaran, dia langsung mematahkan tangan lawannya sehingga orang itu menjerit kesakitan.
Xia He meninju perut orang itu bertubi-tubi dengan tinjuan kuatnya sehingga orang itu ambruk ke tanah sambil menatap Xia He takut.
"Untung aku hanya memberikanmu tinjuan, belum membuatmu merasakan sakitnya kematian." Cemoohnya lalu menendang kaki orang itu.
Xia He mengusap kedua tangannya dengan wajah polos lalu meninggalkan kerumunan dengan begitu santainya.
Semua orang benar-benar dibuat tercengang olehnya. Terutama pangeran mahkota yang tidak menyangka akan melihat Xia He melawan hari ini karena biasanya gadis itu hanya menangis, menangis, dan menangis.
Pangeran mahkota terlihat berpikir keras. Kemudian ia menyeringai pelan. "Mungkin itu adalah salah satu usahanya untuk menarik perhatianku." Ujarnya begitu percaya diri.
"Iya, pangeran. Nona jelek itu pasti ingin menarik perhatian tuan lagi." Sahut bawahannya.
Pangeran mahkota tertawa meremehkan.
Sementara itu, di tempat lain, Xia He kembali diganggu oleh orang lain.
Kali ini yang mengganggunya adalah sekumpulan perempuan seusianya.
"Jadi seperti ini wajah jelekmu kalau dilihat dari dekat? Menjijikkan." Hina salah satu dari mereka.
'tapi lebih menjijikkan cara berbicaramu' -batin Xia He.
"Jangan terlalu dekat dengannya. Nanti kita ketularan wajah jeleknya."
'memangnya wajah jelek itu virus apa?!'
"Cih. Perempuan yang seperti ini berani mengejar-ngejar seorang pangeran?!"
'itu dulu. Sekarang sih ogah mengejar cowok duluan. Memangnya aku cewek apaan.'
Xia He yang tidak mood meladeni mereka melewati mereka begitu saja dengan ekspresi datar.
"Dasar perempuan Tidak tahu malu! Sampai kapan pun, pangeran mahkota tidak akan mencintaimu sama sekali! Bahkan untuk menjadikanmu selir saja, pangeran mahkota tidak akan Sudi."
Xia He menoleh ke belakang dengan tatapan sinisnya. "Aku juga tidak akan Sudi menjadi selirnya. Berhentilah mengangguku atau aku akan membuat wajah kalian menjadi jelek sepertiku."
Segerombolan orang itu langsung lari mendengar ancaman mematikan Xia He.
"Benar-benar hari yang melelahkan." Decak Xia He. Kembali melanjutkan perjalanannya ke Kediaman Perdana Mentri He.
Ia tidak tahu saja ada masalah lainnya yang tengah menunggunya di Kediaman.
Bersambung...