Part 9. Keributan Kecil (4)

637 คำ
Suasana di sekitar sangat sepi dan mencekam. Tidak ada satu orang pun yang terlihat di sepanjang lorong selain Xia He. Di tengah-tengah lorong itu, langkah kaki Xia He terdengar sangat menggema. Rasanya Xia He sedang syuting film horor saking mencekamnya suasana di sekitarnya. Namun, maaf saja. Xia He bukan gadis penakut karena sudah terbiasa sendiri sejak dulu. Hawa dingin terasa begitu menusuk kulit Xia He sehingga membuat gadis satu itu merapatkan pakaiannya lalu menggosok telapak tangannya. Berharap merasakan sedikit kehangatan. Penerangan di lorong tersebut sangat lah minim sehingga Xia He harus benar-benar mempertajam penglihatannya supaya tidak terjatuh ke tanah. Lilin-lilin di sekitar lorong sama sekali tidak membantu bagi Xia He. "Huh, merepotkan. Andai saja listrik sudah ada sejak zaman kerajaan. Pasti aku tidak perlu berjalan dalam kegelapan seperti ini." Dumelnya kesal. "Dan lagi, kenapa perjalanan menuju kediamanku terasa sangat lama?" "Masa sih aku tersesat?" Xia He berhenti berjalan kemudian melihat-lihat ke sekelilingnya. Memastikan ia tidak tersesat. Gadis itu memiringkan kepalanya. Menilai tempatnya berada sekarang. "Sepertinya aku benar-benar tersesat." Ringisnya pelan kala merasa tempat itu berbeda dengan yang dilewatinya tadi. Xia He mengusap wajah gusar. Sudah tersesat, tidak ada orang yang bisa dimintai tolong lagi. Belum lagi cuaca sangat dingin. Saking dinginnya, tubuhnya saja sampai gemetar. Benar-benar sial dia malam ini. Xia He kembali melanjutkan perjalanan sambil mencari jalan yang benar meskipun sangat sulit melihat dalam kegelapan. Ya, sesulit itu memang. Namun, dia bukan gadis yang mudah menyerah akan keadaan. Apalagi sampai pasrah akan keadaan. Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya ia keluar dari lorong mencekam tersebut. Akan tetapi, dia malah sampai di dekat sebuah danau. Danau itu terlihat sangat indah di bawah bulan purnama dan bintang-bintang yang berkelap-kelip di langit. Air danau terlihat sangat jernih dan bercahaya akibat sinar bulan purnama. Mulut Xia He sampai ternganga kagum melihat keindahan yang tersaji di depan matanya. Gadis itu berjalan mendekat ke danau dengan sedikit berlari saking tidak sabarnya. Ia berjongkok di tepi danau dan menyentuh air seolah tidak merasakan betapa dinginnya cuaca lagi. Senyuman manis terbit di bibirnya merasakan sejuknya air danau tersebut. Gadis itu mengangkat wajahnya lalu menoleh ke segala arah. Tidak ada siapa pun yang terlihat di sana. Senyuman manis kembali muncul di bibirnya. Ia berdiri. Menatap lurus ke danau. Kakinya mulai melangkah masuk ke dalam danau tersebut. "Segarnya." Gumamnya pelan. Ia semakin masuk ke dalam danau. Hingga air sampai ke dadanya. Ia semakin melangkah masuk ke dalam danau. Lalu, gadis itu mengapungkan dirinya dan memejamkan mata. Berniat bersantai di bawah bulan purnama. Lama kelamaan gadis itu pun tertidur. Namun, tidak lama setelah gadis itu tertidur, ada seorang dayang yang lewat di dekat sana. Dayang itu menoleh sekilas ke arah danau. Ia tersenyum melihat betapa cantiknya danau tersebut. Ia kembali melanjutkan jalannya. Hingga langkahnya mendadak berhenti. Ia kembali menoleh ke arah danau dan melotot kaget melihat sesosok manusia yang terapung di permukaan danau. Barang yang sedang dipegangnya langsung terjatuh begitu saja saking syoknya. "Tolong!!! Ada orang yang ingin bunuh diri!!" Teriaknya kencang. "Tolong!!! Tolong!!!" Ia semakin berteriak kencang. Memanggil-manggil orang lain untuk meminta pertolongan. Tak lama setelah itu, para pengawal yang sedang mendapat giliran jaga malam datang dan mencebur ke dalam danau untuk menyelamatkan Xia He. Mereka semua terlihat sangat terkejut melihat sosok yang terapung tersebut. Langsung saja mereka membawa tubuh Xia He ke daratan lalu membawa Xia He ke tabib. Sementara dayang yang berteriak tadi langsung melaporkan hal tersebut ke Tuan He. Tuan He tentu saja sangat terkejut mendengar perkataan si dayang. Dia bahkan langsung bergegas pergi ke tempat Xia He dibawa oleh para prajurit. "Bagaimana keadaan putriku, Tabib Lu?" Tanya Tuan He panik dan khawatir. "Jangan khawatir, tuan. Nona keenam tidak kenapa-napa. Nona keenam hanya sedang tertidur." Mendengar jawaban si tabib, semua orang yang berada di dalam ruangan tercengang tidak percaya. Apa gunanya kecemasan mereka tadi jika orang yang mereka cemaskan sedang tidur?! Bersambung...
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม