Lusi menatap tajam Mac. Benar-benar si Mac, ibarat kata … dikasih hati minta empela. Enak saja di suruh tinggal berdua sama Mac, lihat mukanya aja, bawaannya pen nampol. Mac nyengir, mengusap perutnya yang sakit akibat cubitan Lusi. “Udah, Lus. Apa salahnya sih, kasih kesempatan Mac,” ujar Andin. Lusi melotot ke arah Andin, nggak terima banget denga kata-kata Andin. “Sekali lagi lo ngomong kek gitu, gue pecat lo jadi sodara!” ancam Lusi. Edo tertawa, dari dulu emang mereka dua sodara aneh. Andin yang terlihat cantik dan imut, tapi dalamnya garang seperti macan, dan Lusi yang terlihat cantik dan kalem, tapi kalau dah kenal cerewetnya minta ampun. “Napa lo senyum-senyum, Do!” sewot Lusi. “Nggak! lucu aja lihat kalian. Jadi inget dulu, ‘Markonah’.” Edo mengedipkan matanya ke arah Andin.

