Kerumunan mendadak terbelah dua. Mereka bergerak ke setiap sisi, melowongkan jalan utama. Gusion terbawa arus, hampir terjatuh oleh tubrukan banyak manusia.
Keramaian lenyap seketika. Tidak berselang lama pekikan terompet menarik perhatian. Hentakan tapal kuda menyusul kemudian. Rombongan berkuda bergerak pelan. Prajurit-prajurit berbaju besi mengikuti di belakang. Menggiring kereta kuda yang tampak gagah. Seorang wanita tersenyum anggun, rambutnya putih terurai panjang. Gusion menatap wanita itu dalam-dalam, perasaannya sama ketika dia melihat pria bersayap malaikat di The Gladiator.
"Kakak..." Angela keheranan dibawa bergerak oleh kakaknya menerobos orang-orang yang diam dengan memerhatikan rombongan itu.
"Berpegangan yang erat, Angela. Jangan sampai jatuh," titah Gusion menyaksikan rombongan semakin jauh.
"Tapi kenapa?"
Di depannya berdiri sebuah bangunan, berderet hingga jauh ke sana. Menerobos ribuan manusia hanya akan memperlambatnya bertemy wanita di atas kereta kuda itu. Gusion hanya ingin memastikan.
"Aku ingin melihat seseorang." jawab Gusion, lalu berlari mengambil ancang-ancang.
Tumpukan jerami diinjaknya, tubuh jangkungnya melayang. Angela menutup mata. Dengan cekatan Gusion berhasil berpegangan pada ujung jendela bangunan itu. Dalam gendongannya, Angela hampir terjatuh. Orang-orang sontak berseru.
Gusion terus memanjat bangunan. Jeritan para gadis berasal dari jendela tadi, dia abaikan. Sampai dia berhasil mencapat atap bangunan, tangannya menyangga pada lutut sebentar. Matahari belum mencapai pertengahan. Jubahnya berkibaran. Di hadapannya bangunan-bangunan tinggi berjajar sepanjang jalan. Rombongan itu belum terlalu jauh.
"Pegangan yang erat, janji?" katanya pada Angela disela-sela usahanya mengatur napas.
Angela mengangguk ragu. Gadis itu kembali memejamkan mata ketika dengan lincahnya Gusion berlari dan melompati apapun di atas ketinggian. Melayang-melayang antara bangunan.
Usahanya tidak sia-sia, posisinya dengan rombongan itu telah sejajar. Wanita di sana sungguh mengganggu pikiran Gusion.
Mungkin semesta ingin memberinya kesempatan. Setelah mempertimbangan nyawa adiknya, Gusion melayang kembali. Ke tempat lebih rendah, bergelantungan di sudut bangunan. Dan,
"SIAGA!!" derap puluhan kaki beradu dengan pesatan pedang.
...dia berhasil mencapai mereka.
***
Mungkin semesta ingin memberinya kesempatan. Setelah mempertimbangan nyawa adiknya, Gusion melayang kembali. Ke tempat lebih rendah, bergelantungan di sudut bangunan. Dan,
Lengkingan kuda diberhentikan paksa, seseorang paling depan berteriak kencang.
"SIAGA!!"
Derap puluhan kaki beradu dengan pesatan pedang.
...dia berhasil mencapai mereka.
Kini puluhan pedang mengepungnya. Seorang penjahat telah menghentikan keluarga kerajaan.
Gusion masih bertahan dalam posisi setengah membungkuk. Keringat menetes dari kening. Angela mengeratkan pelukannya tanpa kata. Gadis itu mengintip sedikit dari balik tudung. Salah satu wajah di sana pernah dia lihat sebelumnya.
"Tangkap!"
Prajurit menderap semakin dekat. Gusion segera berdiri menghentikan langkah mereka. Dilepasnya tudung jubah di kepala.
Pria yang duduk di atas kereta kuda mengangkat sebelah tangan. Praktis, semua prajurit diam di tempat, namun siap menyerang setiap saat.
Gusion menengadah, tatapan tajamnya langsung tertuju penumpang kereta kuda. Pada pria berpakaian gagah di sana. Tiba-tiba ingatannya terlempar jauh ke masa kecil. Ketika dirinya bermain di sisi danau bersama Angela. Seorang pria menangkap punggungnya yang terdorong oleh kekuatan merah Angela. Pria itu...
"Siapa kau, anak muda?" tanya pria itu menurunkan tatapan.
Gusion tidak menjawab, memilih mengalihkan matanya pada wanita di samping pria itu. Wanita cantik itu berdiri, menatapnya sulit diartikan. Sedikit berkaca-kaca dan Gusion merasakan kerinduan yang amat sangat.
Kedua lengan Gusion dicekal kuat. Angela menjerit ketakutan dipaksa lepas dari kakaknya. Sedangkan kaki Gusion berhasil ditekuk, dia berlutut enggan memutuskan kontak mata dengan wanita itu.
"Vexana!"
Seruan itu berhasil mengembalikan kewarasan Gusion. Mereka menengadah. Kaja melayang di langit Moniyan membawa pemimpin sihir Negeri Vexana. Faramis menyorotkan sihirnya pada barrier Moniyan. Suara retakan perlahan berubah nyata. Langit Moniyan pecah, seluruh manusia di bawahnya melindungi diri pecahan kaca yang melayang. Namun tidak terjadi apa-apa.
Detik berlalu pecutan petir mengenai bangunan. Kekuatan abyss berlaku karena barrier mereka diterobos. Reruntuhan bangunan membuat orang-orang berhamburan menyelamatkan diri. Berteriak ketakutan. Sedangkan pasukan berbaju besi entah dari mana datangnya, merapatkan barisan di sekitar kereta kuda.
"Lindungi raja!" seru yang lain mengacungkan senjata.
Tembakan, lesatan anak panah dan sihir mengejar Kaja.
Gusion mencoba melepaskan diri. Pisaunya berdenting dengan pedang para prajurit. Katana dalam genggaman menebas satu persatu prajurit Moniyan. Jelas dia kalah jumlah. Gusion baru menyadari telah kehilangan adiknya. Angela menangis dibawa oleh beberapa prajurit dan jubah putih. Tangan mungil adiknya menggapai-gapai, tapi jarak mereka semakin menjauh. Angela erharap Gusion menyelamatkan ya. Gusion menggeram marah melihat adiknya ketakutan dan histeris. Bukan ini yang dia inginkan ketika pergi dari Darkness.
Tidak! Tidak! Tidak!
Angela menghilang di balik bangunan tinggi.
Pecutan petir kembali menyambar kota. Seketika Gusion terseret kuat. Ditarik cepat ke langit dan Kaja segera membawanya pergi meninggalkan Angela yang menangis ketakutan.
***
Tamparan menggema untuk ke sekian kali. Hukuman ini belum cukup membayar kesalahan yang terjadi. Gusion bangkit kembali. Pipinya kebas, goresan berdarah dihantam jemari berkuku tajam. Dia siap menerima tamparan lagi. Entah sampai kapan. Mungkin sampai Vexana lelah bukan puas.
Lagi-lagi tangan Vexana menampar anak itu hingga tersungkur.
"Kau sadar akibat perbuatanmu, ha? Angela menjadi tahanan mereka!"
Vexana mendongakkan wajah anak itu dengan mencengkeram rahangnya. Kuku-kuku tajam menusuk kulit. Vexana mendorong kasar diberi tatapan hampa begitu.
Amarahnya sangat besar, sampai rasanya ingin merobek rongga d**a anak itu dan mencabut paksa sesuatu berdetak di dalam sana. Vexana hanya bisa menggeram marah. Melampiaskan segala sihirnya ke segala arah. Lengan atas Gusion terkena lesatan. Merobek kain dan kulitnya hingga berdarah. Kehilangan seseorang lebih menyakitkan daripada luka ini. Semua yang hadir di istana menyaksikan kemarahan ratu mereka dalam diam.
Tak kuasa menghadapi kepayahan dirinya, Gusion berlutut di kaki Vexana. "Maafkan aku ibu,"
Vexana sontak menoleh, sebutan itu membuat hatinya teriris.
"Aku pantas mati."
"Gusion..." Nana mencekal Chang'e. Peri kucing menggeleng lemah, memberi jawaban tunggu.
"Kau memang pantas mati, sialan! Kau pantas mati!" teriakan Vexana menggema. "Harusnya aku membunuhmu dari dulu."
Vexana memejam sejenak, napasnya terengah-engah. Dia berbalik meninggalkan ruangan itu. Bantingan dua bilah pintu menghenyakkan pikiran.
"Vexana tidak sungguh-sungguh mengatakan ingin kau mati. Marahnya dia hanya marah pada diri sendiri karena merasa gagal menjaga kalian."
Entah sejak kapan Kaja berada di sisi tebing. Sama-sama melihat luasnya hutan Vexana, terbentang jauh sampai Gusion kira dunia ini hanya milik ratu itu.
"Untuk apa kau pergi ke sana?"
"Mencari ibuku."
"Dari mana kau tahu ibumu ada di sana?"
"Berhenti membohongiku, Kaja. Aku sudah mengetahuinya. Asal-usulku, keluargaku, ibuku masih hidup di Land of Dawn."
"Oh begitu. Pasti Chang'e. Tapi kau belum mengetahui alasan kau ada di sini, bukan?"
Gusion menoleh. Untuk satu hal itu, tidak.
"Mau mendengarnya? Aku mengenalmu cukup lama, sejak kau bayi. Sejak pertama kali Ratu Vexana membawamu. Jika alasanmu pergi ke Land of Dawn untuk menemui ibumu, kau berhasil mewujudkannya."
"Maksudmu?"
"Wanita cantik berambut putih itu, yang duduk bersama Tigreal. Namanya Natalia, ibumu Gusion. Dia juga seorang assassin sepertimu. Kau adalah seorang pangeran kerajaan ..."
"Tigreal?"
Kaja mengangguk, "Raja yang membunuh raja sebelumnya."
Gusion menoleh cepat. Kaja berhasil menarik perhatiannya. Cerita pun mengalir begitu saja. Tinggal lama bersama ratu, Kaja menjadi saksi banyak kejadian. Ingatannya cukup kuat, melayang-layang melintasi beberapa masa. Gusion mendengarkan.
"Tigreal meminta Vexana membawamu pergi, membuat seolah raja terdahulu tewas oleh kami dan kau sanderanya. Ratu Vexana menerima hal itu karena mereka bersahabat. Peperangan terjadi di perbatasan. Kerajaan Moniyan melanjutkan peperang dengan Kerjaan Vexana yang sempat reda karena masalah baru."
"Dia menyukai Tigreal?"
"Siapa?"
"Ratu?"
"Hmmm," Kaja pura-pura berpikir. "Kau sudah besar Gusion. Meski Ratu mengelak, kau akan tahu jawabannya sendiri."
"Lalu bagaimana sekarang? Bukankah mereka bersahabat dekat dari kecil? Ratu bisa meminta Angela kembali, bukan?"
Helaan napas terdengar dari Kaja. "Andai semua semudah itu. Kau tahu? Sejak kau di sini, persahabatan mereka berubah jadi permusuhan. Vexana bisa saja melenyapkanmu dari dulu, soal mencabut jantung manusia tanpa suara, dia ahlinya. Tapi lihat, dia hanya mampu menyakitimu dengan luka sekecil ini." tunjuk Kaja pada baju robek di lengan Gusion.
"Bahkan kedatanganku kemari atas titah Ratu. Dia menyuruhku mengawasimu dari jauh, dan memastikan luka akibat sihirnya tidak parah."
Sesuatu berdentam dalam d**a Gusion. Dia tahu sejak kecil Vexana selalu memerhatikannya dari jauh dan menghindarkannya dari celaka. Dia tidak mengerti mengapa wanita itu masih begitu ketika kesalahannya bahkan tak termaafkan.
"Ketika kami terbangun dari sihir tidur ulah Angela, Ratu Vexana segera memerintahkan aku dan Faramis menjemput kalian kembali. Di wilayah musuh tanpa pasukan lengkap dan hanya kami berdua, resikonya sangat tinggi. Jika hal buruk terjadi dan kami hanya bisa membawa membawa salah satu di antara kalian, kau tahu apa jawaban Ratu?"
Kelopak mata Gusion berembun.
"Gusion." lanjut Kaja.
Setelahnya Gusion membuang muka. Malu berbangga diri pada dunia. Malam itu dia meringkuk bersama tangis di atas Fallin The Moon.
Hujan turun begitu deras melengkapi suasana sedih. Tetesan-tetesan air langit beradu suara dalam telinga.
"Kenapa?" Suara Gusion tercekat.
"Moniyan hanya tahu kau orang Vexana. Jika Tigreal menyadari kau adalah seseorang yang harusnya tidak kembali ke sana. Kemungkinan kau akan dibunuh."