37. Melarikan Diri (2)

1305 คำ
[Masih lanjutan bayangan yang chapter sebelumnya.  **Nama Xevana di sini belum diubah jadi masih Angela.  Maafin ya..., setelah selesai mudah-mudahan bisa diedit dengan cepet.  Selamat membaca....] Gusion membuka mata, Angela tersenyum lemah padanya. Pijakan gadis itu goyah, Gusion menangkap tubuhnya yang limbung hampir menyentuh tanah. "Angela, Angela. Kau kenapa?" Ketakutan jelas dirasa Gusion. Terus mendekap Angela, berkali-kali menyerukan nama adiknya dengan panik. "Kak," mulut Angela terbuka tidak dengan matanya. "I-iya, aku di sini." jawab Gusion cepat. "Lelah..." Setelahnya Angela hilang kesadaran. Energinya habis, seharian ini terlalu banyak menggunakan sihir. Gusion mendesah lega, dia kira Angela juga terkena mantranya sendiri. Konyol memang. Rencana melarikan diri pun akan gagal. Membawa Angela ke atas punggung, Gusion melangkah mantap melewati gerbang. Tanaman julur berduri panjang, sepanjang pedang prajurit undead melingkari Negeri Vexana, itulah bentengnya. Berhasil. Perasaan Gusion berkecamuk kacau melewati benteng. Senang, haru, dan takut. Sekali lagi dia menoleh kebelakang pada tempatnya dibesarkan. Ini kali pertamanya menginjakan kaki di luar tanah Vexana. Dunia luar, entah bagaimana rupanya. Aku datang. Pekikan burung gagak seolah mewakili pesan, "Hati-hati." Sekali lagi dia menoleh ke belakang pada tempatnya dibesarkan. Tanaman berduri tebal itu hitam merapat. Aura seram berpadu dengan kabut. Ini kali pertamanya menginjakkan kaki di luar tanah Vexana. Dunia luar, entah bagaimana rupanya. Aku datang. Pekikan burung gagak seolah mewakili pesan, "Hati-hati." dari seluruh negeri. Langkah Gusion ringan membawa pergi impian. Di punggung, Angela terlelap begitu damai. Kerja keras gadis itu membuat mereka sebentar lagi bertemu dunia luar. Tanpa teman bicara, Gusion lewati malam sepi itu menuju daratan asing. Land of Dawn. Tanah bagi semua orang mengadu peruntungan. Ketiga pengasuh pernah menceritakan kehidupan Land of Dawn. Tentang rakyat sejahtera dengan raja dan ratu bijaksana, tentang hubungan Kerajaan Moniyan dan Kerajaan Vexana yang kurang baik, tentang peperangan yang terjadi antara mereka cukup lama dan belum usai. Mungkin berhasil melahirkan dendam secara turun-temurun. Tindakan Gusion dan Angela kali ini sama dengan menyerahkan diri pada lawan. Entah mereka bisa kembali, atau malah mati di sana. Tapi keinginan melihat banyaknya human rase seperti dirinya, seperti Angela dan Guinevere melebihi ketakutan pada kata 'mati'. Mendadak bayang-bayang kumpulan manusia itu muncul di pelupuk asa. Juga seorang wanita merentangkan tangan menyambutnya. "Ibu..." Jarak semakin terpaut jauh, keraguan menyusup ruang hati lagi-lagi bersama tiupan angin. Keinginan untuk benar-benar pergi timbul tenggelam. Kisah belum tuntas mengenai kedua orang tuanya menjadi penguat. Hanya ingin tahu, apa mereka masih hidup. Angela melenguh dingin, merapatkan pelukan pada leher Gusion. Gelapnya langit perlahan pudar. Keemasan menerpa awan-awan tipis di ujung angkasa. Perlahan matahari beranjak naik dari pembaringan. Pagi tiba. Cahayanya ikut membuka mata Gusion. Bahwa pilihannya untuk pergi tidaklah salah. Di sana bangunan panjang berdiri kokoh. Beberapa penjaga berbaju besi terlihat dari kejauhan. Rumbai merah pada pelindung kelapa mereka ditiup angin, melambai-lambai di gerbang masuk. Memberi sambutan. Sedangkan di sisi tubuh mereka ada tombak sebagai penopang. Sebuah rombongan bergerak menuju gerbang. Gusion mengikuti mereka. Berjalan di belakang kereta kuda pengangkut jerami kering. Sempat Gusion berdecak, melirik kasihan pada kuda di depan. Manusia Moniyan benar-benar mempekerjakan hewan. Kuda itu terlihat lelah, namun manusia yang duduk santai di atas kereta memecutnya. Kebisingan putaran roda kayu kereta kuda membuat Angela melenguh panjang. Gadis itu mengerjap bingung. Sekelilingnya begitu asing. "Kita dimana?" tanyanya bersuara serak. "Kau sudah bangun?" "Ya, maaf menggendongku sepanjang malam pasti melelahkan. Kakak bisa menurunkan aku sekarang." "Tidak, tidak. Aku tahu kau memerlukan banyak waktu untuk memulihkan energimu. Kita telah sampai di Land of Dawn, benteng pertahanan Kerajaan Moniyan." ujar Gusion tidak melepaskan matanya dari kibaran bendera di setiap penjuru. Warna dan simbol pada bendera itu sama seperti yang dia lihat di pondok kayu. Gusion termenung sesaat, mengapa bisa begitu. Angela merapatkan pelukannya. "Kenapa?" Gusion menyadari sesuatu. "A-aku takut." citcitnya menenggelamkan wajah di balik bahu kakaknya begitu menyadari keberadaan penjaga berbaju besi di ambang gerbang masuk. Rupa para penjaga itu lebih baik dari pasukan undead Vexana. Sebagian besar undead sangat menyeramkan dengan beberapa bagian tubuh tidak lengkap akibat perang. Satu hal penting, mereka bukan manusia hidup seperti para penjaga benteng Moniyan ini. Dan bagi penghuni Negeri Vexana, manusia hidup itu bisa lebih menyeramkan dari undead. Manusia punya kendali sendiri, tidak dikendalikan oleh ratu. Angela ketakutan. Berbeda dengan rombongan lain, para penjaga kompak menyilangkan tombak mereka. Langkah Gusion terhenti. "Perlihatkan wajahmu!" Giginya gemertak. Dia terus menunduk sampai salah seorang membuka tudung jubahnya. Seketika desiran angin pagi menyapa. Gusion mendongak, memberikan tatapan tajam setiap manusia di sana. "Buka penutup kepala orang di belakangnya." titah penjaga berjenggot lebat. Angela semakin mengeratkan pelukan, setengah mencekik leher Gusion. "Adikku sakit." Pergerakan mereka terhenti, satu prajurit menoleh pada pria berjenggot lebat. Pimpinan mereka bergeming. Tanpa menghiraukan perkataan Gusion, prajurit itu kembali mengangkat tangan hendak menyentuh jubah Angela. "Sakit menular," ujar Gusion cepat, menatap langsung prajurit itu. "Sakitnya parah. Aku dari timur mendengar Moniyan punya tabib hebat yang bisa menyembuhkan segala penyakit. Adikku butuh orang itu. Kedatanganku bukan untuk menularkan penyakit, tapi jika kau ingin silakan buka kain di punggungku, penyakitnya akan menular pada jarak dekat." Sontak mereka mundur, pria berjenggot pun ikut membuka jalan. Gusion menarik kembali tudung jubahnya menutupi kepala. Dalam hati bersorak senang, berhasil melewati benteng Moniyan. Tumpukan batu dan tanah yang tidak seberapa jika dibandingkan benteng pertahanan Negeri Vexana. "Sudah, Angela. Kita sudah melewati gerbang. Lihatlah ramai sekali." Orang-orang hilir mudik, mereka saling bicara keras, seperti mengajak berkelahi namun wajah mereka tidak menunjukkan demikian. Tenda-tenda berjejer menyandarkan diri pada bangunan tinggi. Banyak sekali barang dijajakan. Kain-kain bergelantungan. Langit di sana penuh warna. Di sisi lain tumpukan apel merah terlihat menggoda. Anak-anak berlarian menghindari teriakan seorang pria. Roti di tangan mereka berjatuhkan dibawa berlari, tertawa meledek habis mencuri. Permen bola warna-warni ikut menghiasi sisi tempat ini. Juga deretan kendi berbagai ukuran, Lolita akan langsung memeluk mereka. Di sudut lain babi-babi tertidur dihinggapi banyak lalat. Ayam berkokok di dalam kandang. Mereka seperti sedang meminta pertolongan. Lalu tengah jalan jadi tempat kerumunan manusia. Seorang pria pendek bertopi tinggi tengah menunjukkan sihir. Sederhana namun tingkahnya mengundang tawa. Angela pun terkekeh geli. Topi tinggi pria itu mengeluarkan banyak hal; burung merpati, kelinci, tali warna-warni, semburan pecahan kertas yang membuat anak-anak menari di bawahnya. Gusion tersenyum, inikah Land of Dawn itu? Kerumunan mendadak terbelah dua. Mereka bergerak ke setiap sisi, melowongkan jalan utama. Gusion terbawa arus, hampir terjatuh oleh tubrukan banyak manusia. Keramaian lenyap seketika. Tidak berselang lama pekikan terompet menarik perhatian. Hentakan tapal kuda menyusul kemudian. Rombongan berkuda bergerak pelan. Prajurit-prajurit berbaju besi mengikuti di belakang. Menggiring kereta kuda yang tampak gagah. Seorang wanita tersenyum anggun, rambutnya putih terurai panjang. Gusion menatap wanita itu dalam-dalam, perasaannya sama ketika dia melihat pria bersayap malaikat di The Gladiator. "Kakak..." Angela keheranan dibawa bergerak oleh kakaknya menerobos orang-orang yang diam dengan memerhatikan rombongan itu. "Berpegangan yang erat, Angela. Jangan sampai jatuh," titah Gusion menyaksikan rombongan semakin jauh. "Tapi kenapa?" Di depannya berdiri sebuah bangunan, berderet hingga jauh ke sana. Menerobos ribuan manusia hanya akan memperlambatnya bertemy wanita di atas kereta kuda itu. Gusion hanya ingin memastikan. "Aku ingin melihat seseorang." jawab Gusion, lalu berlari mengambil ancang-ancang. Tumpukan jerami diinjaknya, tubuh jangkungnya melayang. Angela menutup mata. Dengan cekatan Gusion berhasil berpegangan pada ujung jendela bangunan itu. Dalam gendongannya, Angela hampir terjatuh. Orang-orang sontak berseru. Gusion terus memanjat bangunan. Jeritan para gadis berasal dari jendela tadi, dia abaikan. Sampai dia berhasil mencapat atap bangunan, tangannya menyangga pada lutut sebentar. Matahari belum mencapai pertengahan. Jubahnya berkibaran. Di hadapannya bangunan-bangunan tinggi berjajar sepanjang jalan. Rombongan itu belum terlalu jauh. "Pegangan yang erat, janji?" katanya pada Angela disela-sela usahanya mengatur napas. Angela mengangguk ragu. Gadis itu kembali memejamkan mata ketika dengan lincahnya Gusion berlari dan melompati apapun di atas ketinggian. Melayang-melayang antara bangunan. Usahanya tidak sia-sia, posisinya dengan rombongan itu telah sejajar. Wanita di sana sungguh mengganggu pikiran Gusion. Mungkin semesta ingin memberinya kesempatan. Setelah mempertimbangan nyawa adiknya, Gusion melayang kembali. Ke tempat lebih rendah, bergelantungan di sudut bangunan. Dan, "SIAGA!!" derap puluhan kaki beradu dengan pesatan pedang. ...dia berhasil mencapai mereka.  
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม