Beberapa saat Kaja terdiam. Seolah pemikirannya baru saja terbuka lebar. Kaja meringis, "Ratu tidak akan membiarakan aku mencampuri kehidupannya. Urusan di antara kami hanya pemimpin dan bawahan. Aku juga tidak selancang itu meski sangat ingin membantu."
Ada benarnya juga. Pada putrinya saja Ratu Alexa tertutup apa lagi pada orang lain. Ratu Alexa menyimpan rahasia dan beban hidup sendirian. Dia terlalu pandai menyembunyikannya di balik tampilan kejam berwibawanya.
Sekarang Gyusion ikut bingung memikirkan supaya ibu dan anak itu genjatan senjata. Terlebih Gyusion tidak tega melihat Xevana murung. Walaupun Xevana tidak akrab dengan ibunya, Gyusion tahu betapa Xevana sangat menyayangi ibunya.
"Kau punya ide?"
"Menurutku jalannya hanya satu."
Kaja menegakkan punggung. Tertarik pada apa yang akan dibicarakan Gyusion. "Apa itu?"
"Kejujuran."
"Maksudmu?" Kepala Kaja refleks miring.
"Dari awal inti permasalahannya hanya tentang kejujuran, kan? Xevana hanya ingin tahu siapa dan di mana ayahnya sekarang. Menurutku itu adalah halnya Xevana sebagai anak mengetahui orang tuanya."
"Justru ketakutan Ratu Alexa bila Xevana sudah tahu siapa ayahnya, Ratu takut Xevana pergi meninggalkan Negeri Darkness."
"Aku percaya Xevana bukan orang seperti itu. Dia tidak akan meninggalkan ibunya."
***
[ Ini ada sekilas tentang gambaran chapter yang akan datang ya.
Jadi, Xevana itu bawa awalnya sebenarnya Angela.
Aku belum sempet ganti.
Hehe]
Malam itu kantuk hinggap lebih cepat. Chang' e, Nana dan Lolita merentangkan tangan. Lalu jatuh tertidur di meja makan. Mereka baru selesai makan malam. Kantuk yang tiba-tiba menyerang tidak memberi kesempatan berbaring di tempat nyaman.
Gusion sedang bercermin pada permukaan mengkilap katana ketika sesuatu memasuki ruangannya sangat menyilaukan. Pening tiba-tiba merasuki kepala. Penglihatannya berangsur mengabur. Mengantuk sekali. Katana dalam genggaman pun berdenting mengenai lantai. Tubuh Gusion lunglai bersandar pada sisi tempat tidur.
Istana Vexana meledakan serbuk merah tanpa suara, perlahan menyebar lewat embusan kencang ke seluruh penjuru hutan. Pohon-pohon bergoyang karenanya. Secara bersamaan para penghuni hutan menguap. Mereka menggosok mata yang berair. Kantuk hebat menyerang tanpa aba-aba. Di sembarangan tempat mereka menidurkan diri. Tidak sedikit yang jatuh dari tempat tinggi.
Perlahan kesunyian menyelimuti hutan. Tanda-tanda kehidupan hanya berasal dari dengkuran saling bersahutan.
Kaja terheran dari atas langit. Kepakan sayapnya memasuki wilayah Vexana. Suasana sepi menyambut kepulangannya usai menjalankan tugas dari luar.
"Aneh sekali." katanya mengelilingi langit.
Perhatiannya jeli ke setiap sisi hutan, mencari sumber keganjilan. Semua penghuni hutan tertidur tanpa gangguan. Hanya sesuatu yang bergerak tergesa dari pohon ke pohon.
Kaja menyipit, gerak-gerik makhluk itu mencurigakan. Dengan kecepatan penuh, kepalanya menyuruk tajam. Meluncur bebas untuk membuktikan kecurigaan.
***
"Despertar..."
Bisikan hangat menyusup ke dalam rongga telinga. Menggetarkan rumah siput di dalam sana. Mata orang itu pun sontak terbuka cepat, seperti habis berlari dari mimpi buruk.
"Kakak."
Cengiran khas menyapa pertama.
"Angela? Kau?" Gusion mengedarkan pandangannya masih di dalam kamar. Di luar gelap-gulita. Sedangkan Angela berada di hadapannya mengenakan pakaian aneh. Jubah hitam menyembunyikan tubuh mungil adiknya.
"Mengapa kau bisa di sini?"
"Ceritanya nanti, waktu kita tidak banyak, Kak. Ayo bergegas, bawalah barang seperlunya."
"Apa? Tunggu, tunggu," sela Gusion berdiri mengikuti pergerakan adiknya mengumpulkan barang-barang Gusion dan memasukannya ke dalam tas. "Ini ada apa? Kita akan pergi?"
Angela mengangguk, "Land of Dawn."
"Apa?!" Jubah hitam terlempar pada wajahnya.
Angela menarik tangan Gusion ke luar rumah. Di ruang tengah ketiga pengasuh tergeletak begitu saja. Gusion menganga, namun cukup lega mereka masih bernapas.
Dengkuran keras sempat menghentikan langkah mereka begitu keluar rumah. Di halaman, menyandar pada pagar kayu, Akai sesekali melenguh lalu mengunyah bambu dalam pelukannya.
Angela terkekeh.
"Sihirku berhasil menidurkan seluruh penghuni negeri ini."
"Se-semua?" Gusion melotot.
"Ya, semua. Ratu Vexana juga. Kakak sempat terkena sihirku, lalu aku bisikan mantra agar bangun." ujarnya bernada riang.
"Bagaimana bisa?"
"Master Faramis memberiku mantra baru. Malam ini aku menggunakannya bersama kekuatan merah dalam diriku. Memanfaatkan kelengahan semua penghuni hutan termasuk ibu ratu, aku menyebarkan mantra agar mereka tertidur. Sehebat-hebatnya kekuatan seseorang bila dia lengah akan kalah juga. Begitu pun Ratu Vexana, paling sulit ditaklukan di negeri ini. Dan lihatlah hasilnya,"
Bukan hanya manusia, hewan-hewan pun dibuat terlelap di sembarang tempat bukan di sarang mereka.
"Luar biasa," ucap Gusion tanpa sadar menelan ludah. Masih belum percaya kekuatan adiknya bisa sehebat itu. "Kau cepat sekali mempelajari sihir, Angela. Aku iri."
"Master semakin kejam saja menghukumku kalau lambat menghapal. Aku harus cepat-cepat menghapal mantra untuk diuji di hadapan Master dan ratu."
Dia begitu mengagumi pemimpin sihir negeri ini. Faramis.
Tapi perkembangan sihir Angela sangat pesat. Berbading terbalik dengan perawakannya yang mungil dan tampak lemah.
Sebagai kakak tentu Gusion bangga, sekaligus malu. Dirinya kalah jauh.
"Kakak gendon aku ya? Energi yang aku keluarkan sangat besar, lelah sekali rasanya."
Bagaimana tidak lelah, makhluk seukuran dia menidurkan seluruh penghuni Negeri Vexana yang sangat luas ini dalam satu waktu.
Gusion menghena napas, lalu menjongkokkan tubuh, dia menoleh, "Ayo naik."
Angela tersenyum senang. Sangat beruntung mempunyai sebaik Gusion. Untuk menghemat waktu, Gusion terpaksa menggunakan kembali jurus dari Tuan Kera. Menekan segala ketakutan dan sempat hampir jatuh,
"Kakak yakin akan berlari sambil menggendongku?" tanya Angela menumpukan dagu pada bahu Gusion.
Gusion menggeleng tegas. Mengenyahkan pusing di atas ketinggian lalu melangkah cepat setelah penglihatannya berhenti kabur.
Dari dahan pohon ke pohon lainnya Gusion berlari, melompat dan mengayunkan tubuhnya. Di punggung. Angela mendekap erat takut terjatuh.
"Yuhuuuu!"
Gusion tertawa lepas meraih tali-tali akar membawanya berayun antar pohon. Sesekali dia menyeimbangkan tubuhnya meluncur di atas dahan berlumut. Melepaskan segala ketakutannya dan alam seakan senang memudahkan jalan. Angela mengintip takut-takut. Perlahan dia ikut menikmati sensasi melayang-layang. Mereka tertawa.
Pekikan di langit menolehkan kepala Angela. Kaja tengah melayang di sana. Angela baru mengingatnya, si burung besar itu tidak berada di istana ketika mantra itu menyebar.
"Kak, ada Kaja."
Alis Gusion bertautan. Langkahnya semakin cepat.
"Dia tidak tidur?"
"Sepertinya Kaja terlewat, dia baru pulang dari luar."
Hutan lebat akan segera berakhir, benteng pertahanan mulai terlihat. Angela menggigit bibir dalamnya, memikirkan cara agar lolos dari Kaja.
Kaja berhasil menghentikan mereka. Dia mendarat cepat sebelum Gusion mencapai gerbang. Gusion berdecak, napasnya terengah-engah.
"Siapa kalian?" Kaja bersuara.
"Kak, turunkan aku sebentar," bisik Angela hendak disela. "Aku akan beri sebuah tanda, Kakak harus menutup mata dan telinga."
Seseorang lebih pendek dari mereka menapak tanah. Kaja menyeledik dan hati-hati. Sampai tudung yang menutup hampir menyembunyikan wajah itu terbuka, Kaja mengembuskan napas lega.
"Nona kenapa berpakaian seperti itu? Aku hampir saja mengeluarkan tongkat petir," gemas Kaja dibalas tawa renyah Angela. "Kenapa kalian ada di luar malam-malam begini?"
"Kakak memintaku berlatih jurus lari cepat. Paman melihatnya bukan? Larinya sangat cepat."
Kaja melihat Gusion membuang muka sebal di belakang.
"Paman baru pulang? Aku mencari Paman tadi, ingin menunjukan mantra baru."
"Iya Nona, nanti saja. Bagaimana kalau kita pulang ke istana? Nona bisa menunjukkan mantranya di sana."
Angela menggeleng, sebentar dia menoleh ke belakang pada Gusion. Kakaknya itu agak kebingungan.
"Kaja lihat ini." Kaja melihat ke arah telapak tangan Angela, mulutnya menganga pada bola merah mengambang di sana. Gusion juga melihatnya dan mulai menyadari itu tanda dari Angela. Segera dia menutup rapat mata dan telinga. "Hipnos, hipnos, hipnos. Niks morfeus fantassos ikelos fobetor."
Bola merah berputar semakin kencang kemudian pecah oleh tiupan lembut Angela. Mengenai wajah Kaja. Tak lama burung besar itu ambruk.
Kaja tertidur.
Gusion membuka mata, Angela tersenyum lemah padanya. Pijakan gadis itu goyah, Gusion menangkap tubuhnya yang limbung hampir menyentuh tanah.
"Angela, Angela. Kau kenapa?"
Ketakutan jelas dirasa Gusion. Terus mendekap Angela, berkali-kali menyerukan nama adiknya dengan panik.
"Kak," mulut Angela terbuka tidak dengan matanya.
"I-iya, aku di sini." jawab Gusion cepat.
"Lelah..."
Setelahnya Angela hilang kesadaran. Energinya habis, seharian ini terlalu banyak menggunakan sihir. Gusion mendesah lega, dia kira Angela juga terkena mantranya sendiri. Konyol memang. Rencana melarikan diri pun akan gagal.
Membawa Angela ke atas punggung, Gusion melangkah mantap melewati gerbang. Tanaman julur berduri panjang, sepanjang pedang prajurit undead melingkari Negeri Vexana, itulah bentengnya.
Berhasil.
Perasaan Gusion berkecamuk kacau melewati benteng. Senang, haru, dan takut. Sekali lagi dia menoleh kebelakang pada tempatnya dibesarkan. Ini kali pertamanya menginjakan kaki di luar tanah Vexana. Dunia luar, entah bagaimana rupanya.
Aku datang.
Pekikan burung gagak seolah mewakili pesan, "Hati-hati."