35. Penjelasan

1513 คำ
Sebenarnya dalam benak Gyusion berkecamuk. Andai saja dirinya bisa keluar dari Darkness sebentar saja untuk menyaksikan bagaimana rupa festival itu. Jika dilihat dari antusiasnya Naya dan Lolita bercerita tentang festival, Gyusion membayangkan acara yang digelar satu tahun sekali itu sangat meriah. Gyusion juga membayangkan bagaimana jika tinggal di sana. Sejak kecil pasti selalu merayakan festival bersama keluarga. Sangat beruntung menjadi Naya dan Lolita bisa sesekali melihat dunia luar. “Nanti juga Kakak bisa melihat dunia luar,” celetuk Xevana seolah bisa menebak isi pikiran Gyusion. Gyusion kembali menyuap roti di genggamannya. Sudut bibirnya berkedut, baru saja melintas bayangan dirinya bisa melewati benteng pertahanan Negeri Darkness. “Saat hari itu tiba aku ingin membawamu melihat dunia luar itu. Pasti menyenangkan, bukan?” Xevana ikut menerawang jauh ke angkasa. Pada gumpalan awan putih yang perlahan pudar. Cuaca hari itu cerah. Langit berwarna biru, tetapi matahari tak seterik hari kemarin. Ditbah mereka berdua tengah duduk di salah satu tempat tertinggi di Negeri Darkness yakni Fallin The Moon. Terakhir Xevana ke tempat ini beberapa hari lalu. Saat bicara dengan ibunya mengenai permasalah yang terjadi dalam keluarga mereka. Xevana mengeluarkan semua pikirannya pada Ratu Alexa. Itu karena terlalu lelah melihat bayangan masa lalu terus mengikuti Ratu Alexa. Sangat tidak adil di sini mereka terus mengingat seseorang yang telah meninggalkan mereka, sedangkan di luar sana belum tentu mengingat mereka. Kalau bukan karena permintaan Gyusion ingin bicara di tempat ini, Xevana tidak akan mau ke sini lagi. Xevana mulai memakan kue bunga teratai pelan-pelan. Masih ada rasa tidak tega memakan makanan seindah itu. "Mungkin sebentar lagi kita bisa pergi dari sini." "Kapan itu?" Gyusion menanggapi perkataan adiknya dengan candaan. "Sebentar lagi. Tunggu saja. Aku akan membantu Kakak mewujudkan." Gyusion salah sangka. Ternyata Xevana sedang bicara serius. Mungkin ini karena ia terlalu kaget dengan kepercayaan diri Xevana. Gyusion bahkan merasakan keyakinan begitu besar. Entah dari mana asal kepercayaan diri Xevana dapatkan. Gyusion lumayan terkejut. Baru beberapa hari mereka tidak bertemu karena sama-sama sibuk berlatih, perubahan Xevana tak terduga. "Kau sedang merencakan sesuatu?" tebak Gyusion. Xevana menyilangkan telunjuknya di bibir. "Pokoknya Kakak lihat saja." "Percuma kau berbisik begitu semua yang lakukan, semua yang kita bicaraka bisa didengat ratu. Kau lupa ibumu itu bukan mata dan telinga di setiap sudut Negeri Darkness? Ayolah, Xevana. Jangan melakukan hal aneh dan membahayakan dirimu sendiri. Aku tidak mau mendapatkan kabar kau terluka. Apalagi jika alasan utama kau terluka karena ingin membantuku. Seumur hidup aku tidak akan memaafkan diriku sendir." Tangan Xevana mengibas, gaya bicaranya menyepelekan, "Sudahlah Kak .... Jangan terlalu berlebihan. Tidak akan terjadi hal buruk padaku. Kakak tenang saja. Yang penting Kakak harus tetap percaya bisa keluar dari sini secepatnya." "Tapi Xevana, dua pengasuhku bilang aku baru bisa keluar Negeri Darkness saat--" "Usiamu delapan belas tahun?" Xevana menyambung. Gyusion menelan salivanya kasar. Entah dari siapa Xevana tahu soal ini. Seingat Gyusioan, ia belum pernah menceritakan tentang ini. "Kau tahu dari mana?" "Tidak penting aku tahu dari siapa. Aku hanya khawatir jika di usia Kakak menginjak delapan belas tahun, Kakak masih tidak diperbolehkan pergi. Apa yang akan Kakak lakukan?" "Ya marah. Memberontak. Ini namanya melanggar peraturan. Jika selama ini setiap pelanggaran sekecil apa pun harus mendapat hukuman, aku juga harus mendapatkan keadilan." "Lalu kenapa tidak memberontak sekarang saja? Terlalu lama memberontak dua tahun lagi." Benar-benar Gyusion tidak bisa mengenali adiknya. Pemikiran Xevana yang sekarang sangat asing. Xevana erat dengan rasa takut dan ragu. Biasanya yang selalu menyakitkannya itu adalah Gyusion. Sekarang mereka seperti sedang bertukar peran. "Kenapa?" "Xevana, kau baik-baik saja, bukan? Apa saja yang terjadi beberapa hari ini sela kita tidak bertemu? Sepertiny kau berubah banyak." "Berubah bagaimana?" Gyusion mengendikkan bahu sekilas. "Entahlah, aku juga tidak yakin. Tapi aku merasakan perbedaan. Apa terjadi sesuatu?" Xevana tidak langsung menjawab. Ia menghindari tatapan Gyusion yang seperti sedang menguliti isi pikirannya. Gyusion terlalu peka untuk menyadari ada yang tidak beres. "Tatap aku, Xevana!" Tangan Gyusion menarik dagu Xevana agar menghadapnya. Xevana terpaksa membalas tatapan Gyusion pura-pura berani. "Kelihatannya kau sedang ada masalah. Tidak mau berbagi denganku, huh? Kenapa?" "Kakak sudah banyak masalah, aku tidak ingin menjadi beban orang lain. Sejauh ini aku bisa menghadapi semuanya." "Licik. Aku selalu menceritakan tentang kehidupanku dan mengira kita sangat dekat untuk berbagi. Ternyata selama ini hanya perasaanku saja." Gyusion melepaskan dagu Xevana dan membuang muka dramatis. "Tidak. Bukan begitu, Kak!" Cara Gyusion memanfaatkan rasa bersalah Xevana agar terbuka berhasil lagi. Jika tidak begini, yakin sampai kapan pun Xevana akan diam saja. Xevana ini tipe orang yang harus dipancing dahulu sebelum membicarakan sesuatu. Apalagi soal perasaan. Xevana paling susah mengkomunikasikan isi pikirannya. "Jangan memberi kata-kata manis. Aku tidak akan terpengaruh." Gyusion pura-pura marah. "Kakak, aku tidak berpikiran begitu. Kakak sangat penting bagi aku. Kenapa Kakak begini? Aku hanya belum siap bercerita saja." Gyusion bangkit dari posisi duduk. Xevana segera mengejarnya, membujuk Gyusion berhenti marah. Dalam hati Gyusion tertawa terbahak-bahak. Xevana yang memelas sangat lucu. "Kakak, jangan marah ...." Barulah ketika Xevana hampir menangis Gyusion mengusap pucuk kepala gadis itu. Tak tega ia melihat Xevana menjatuhkan air mata. "Kakak, memaafkan aku?" Xevana memeluk kakaknya erat. "Iya ..., lain kali jangan bersikap seolah aku ini orang asing. Sakit rasanya." "Kakak bukan orang asing!" tegas Xevana setengah menjerit. Gyusion mengusap pelan punggung Xevana, "Iya, iya ...." Setelah itu mereka kembali ke tebing, duduk menghadap ke pemandangan. Xevana menceritakan apa saja yang terjadi padanya beberapa hari terakhir. Gadis itu bicara dengan sedikit bergetar menahan tangis. Sampai kemudian Gyusion mengerti situasi Xevana sekarang. Adiknya itu berada dalam kebingungan. *** "Jadi kau sudah bicara dengan Nona Xevana?" Sorenya Kaja datang ke pondok. Manusia setengah burung itu sungguh menagih janji. Pagi tadi Gyusion mengiyakan permintaannya untuk mencari tahu apa saja yang dipikiran Xevana. Rupanya hubungan antara Ratu Alexa dan Xevana sednag tidak baik. Gyusion tergerak membantu karena Xevana sudah seperti adiknya. Sebagai kakak, ia juga ingin membantu adiknya mengakhiri kegelisahan. "Sudah," jawab Gyusion agak tidak acuh. "Jadi, bagaimana katanya? Apa masalah utama yang membuat mereka saling perang dingin? Apa yang sedang direncakan Xevana sekarang? Mengapa sikapnya jadi berubah begitu?" Kaja memberondong pertanyaan. "Sebenarnya kau juga bisa kan bertanya pada Ratu langsung?" "Aku memang sudah mendengar dari apa yang terjadi dari Ratu. Tapi aku belum mendengarnya dari sisi Nona Xevana. Nova Xevana tidak seterbuka itu padaku. Aku juga tidak bisa memaksa. Kaulah satu-satunya harapan. Jadi bagaimana? Apa yang kau dapatkan?" Kaja makin tidak sabar. Gyusion menghela napas. "Menurut cerita Xevana, dia ingin mengetahui siapa ayahnya. Xevana menebak berbagai hal soal ayahnya. Sampai pada satu titik Xevana merasa ada hal-hal yang dia sebutkan berkaitan dengan ayahnya. Ratu Alexa kelihatannya ingin menghentikan semua itu, jadi mengatakan sesuatu yang menyakitkan perasaan Xevana. Aku mengerti Ratu tidak ingin mengingat masa lalu menyakitkan, tapi jika caranya begini, salah." Kaja tak menyela, mendengarkan dengan seksama. "Xevana tidak bisa marah terlalu lama. Mungkin dia memikirkan sesuatu dan mulai mengerti tidak seharusnya ia memaksa Ratu Alexa memberi tahu siapa ayahnya. Lalu Xevana melihat Ratu Alexa--" "Di Fallin The Moon?" tebak Kaja diiringi penyesalan. Karena dirinya Xevana pergi ke tempat itu dan melihat ibunya tengah mengenang seseorang. "Ya ..., kami tadi ke sana. Aku menyesalinya karena ketidaktahua, aku mengajaknya ke tempat yang membuatnya sedih." "Di sana tempat Ratu Alexa mengenal ayahnya Nona Xevana." "Melihat ibunya seperti itu, Xevana snagat sedih. Xevana baru mengetahui bahwa selama ini ibunya menderita ditinggalkan orang itu. Xevana marah di sana, menyampaikan semua hal yang ada dalam pikirannya, yang seharusnya tidak dia katakan semua juga. Sekarang Xevana merasa bersalah pada ibunya. Telah bersikap keterlaluan bukannya menghibur. Makanya Xevana menghindari pertemuannya dengan Ratu Alexa di istana. Xevana banyak menghabiskan waktu di luar berlatih semata-mata hanya untuk menghindari ibunya sendiri." "Di istana mereka bertemu pun saling diam. Sekalinya bicara pasti saling sinis. Aku bingung harus bagaimana lagi menghadapi mereka." Kaja malah mengeluh. "Kalau aku boleh tahu, memangnya di mana keberadaan ayahnya Xevana sekarang?" "Aku tidak tahu," bohong Kaja. "Ratu Alexa selalu bungkam soal keberadaan orang itu. Aku mengerti dia sangat sangat hati ditinggalkan begitu." "Kau tidak pernah mencoba mencari tahu di mana keberadaannya? Mungkin orang itu tidak pernah tau kalau dirinya mempunyai seorang putri dari Ratu Alexa?" Beberapa saat Kaja terdiam. Seolah pemikirannya baru saja terbuka lebar. Kaja meringis, "Ratu tidak akan membiarakan aku mencampuri kehidupannya. Urusan di antara kami hanya pemimpin dan bawahan. Aku juga tidak selancang itu meski sangat ingin membantu." Ada benarnya juga. Pada putrinya saja Ratu Alexa tertutup apa lagi pada orang lain. Ratu Alexa menyimpan rahasia dan beban hidup sendirian. Dia terlalu pandai menyembunyikannya di balik tampilan kejam berwibawanya. Sekarang Gyusion ikut bingung memikirkan supaya ibu dan anak itu genjatan senjata. Terlebih Gyusion tidak tega melihat Xevana murung. Walaupun Xevana tidak akrab dengan ibunya, Gyusion tahu betapa Xevana sangat menyayangi ibunya. "Kau punya ide?" "Menurutku jalannya hanya satu." Kaja menegakkan punggung. Tertarik pada apa yang akan dibicarakan Gyusion. "Apa itu?" "Kejujuran." "Maksudmu?" Kepala Kaja refleks miring. "Dari awal inti permasalahannya hanya tentang kejujuran, kan? Xevana hanya ingin tahu siapa dan di mana ayahnya sekarang. Menurutku itu adalah halnya Xevana sebagai anak mengetahui orang tuanya." "Justru ketakutan Ratu Alexa bila Xevana sudah tahu siapa ayahnya, Ratu takut Xevana pergi meninggalkan Negeri Darkness." "Aku percaya Xevana bukan orang seperti itu. Dia tidak akan meninggalkan ibunya." 
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม