Dapat projek

1008 คำ
Aku menatap kedua temanku yang juga sedang menatapku, lalu aku berdiri dan sedikit menjauh. "Kalau boleh tahu, kerjaan apa ya, Bu?" Tanyaku. "Kalau mau tahu, datang saja ke kantor, saya tunggu sampai sebelum jam makan siang." "Tapi--" Tut Tut Tut.... Belum sempat ku menjawab, sambungan telepon sudah di matikan secara sepihak. Astaga... kerjaan apaan sih? Ribet banget harus Dateng ke kantor segala... Aku kembali bergabung dengan Lusi dan Maya. "Ada apaan, Vay? Kok muka Lo gelisah gitu? Tanya Maya. "Iya... ih, emang bos Lo ngomong apa? Lo di pecat." Tambah Lusi asal. "Sembarangan!" Jawabku sewot dan Lusi langsung tertawa cekikikan. "Sorry, Vay... Lo tahu kan gue suka bercanda." Ralatnya. Tapi aku benar-benar sedang tidak ingin bercanda sekarang! "Sorry, ya? Kayaknya gue enggak bisa nemenin kalian lama-lama di sini," kata ku mencoba mengabaikan perkataan Lusi. "Loh... kenapa? Dih gitu doang ngambek, enggak seru ah, Vaya...." Ujar Lusi yang tampak merasa bersalah. Aku langsung menggelengkan kepala, "enggak, bukan itu, tapi gue kayaknya harus ke kantor sekarang juga." Aku melirik jam dinding dan waktu sudah hampir menunjukkan pukul 10.00. "Bukannya ini hari Minggu ya? Kok Lo ke kantor? Bos Lo rada-rada nih!" Protes Lusi. "Iya... emang ada apa sih?" Maya jadi ikut penasaran. "Enggak tahu, katanya ada kerjaan gitu deh, dan gue harus ke kantor sekarang juga sebelum jam istirahat makan siang. Gila kan?" "Iya... bos Lo gila!" Timpal Lusi. "Emang ada kerjaan apaan?" Tanya Maya, "bukannya kerjaan Lo freelance ya? Kenapa Lo harus ke kantor di hari libur." "Nah... itu dia yang gue bingung, bos kagak ada ahlak emang, gue tanya ada kerjaan apa dia enggak jawab dan malah di tutup teleponnya." Mendengar itu Lusi sontak tertawa terbahak-bahak. "Ahaha... terus Lo karyawan teraniaya dong," candanya. Aku hanya mencebikkan bibir bawahku menanggapinya. "Udah ah, gue mau siap-siap dulu," ujarku sembari beranjak berdiri lagi, "oh... iya, kalian masih mau di sini, atau gimana nih?" Tanyaku. Lusi dan Maya saling berpandangan, lalu kemudian menatap lagi ke arah ku. "Lo lama enggak?" Lusi balik bertanya. "Ya... enggak tahu juga, palingan sore juga udah balik," jawab ku. Lusi dan Maya kembali saling menatap, "Yah... padahal gue masih kangen sama kalian," protes Maya sembari menatapku dan Lusi secara bergantian. "Gimana kalau malam ini kita nginep aja di sini?" Usul Lusi antusias, "boleh kan, Vay?" Tanya Lusi padaku. "Iya... boleh-boleh aja, sih. Tapi emang kalian enggak keberatan nungguin gue pulang?" "Iya... enggak apa-apa lah, kan ada Maya disini, ya enggak Maya?" Maya mengangguk setuju dengan pendapat Lusi. "Lumayan, bisa ngomongin Lo selama Lo enggak ada," Lusi tertawa cekikikan. "Dih, jahat!" Sewot ku. "Iya... kita omongin dia aja, hihi. Vaya kan lagi Deket sama--" "Lusi... apaan sih?" Aku segera memotong kalimat Lusi dan membekap mulut embernya. "Bisa diem enggak?" Protes ku. Lusi segera melepas tanganku dari mulutnya, "yaelah, emang kenapa sih, Maya kan sohib kita, enggak apa-apa kan kalo gue cerita," sahut Lusi. "Emang enggak ada topik lain apa selain ngomongin gue!" Protes ku lagi. Lusi makin tertawa cekikikan melihat wajahku yang berubah cemberut. "Lucu tahu, Lo kalau lagi katak gitu." "Lusi, emang Lo tadi mau cerita apa, sih?" Tanya Maya dengan wajah penasaran. Lusi bersiap membuka mulutnya kembali, dan tangan ku dengan sigap membekapnya lagi, "apaan sih, enggak, enggak boleh cerita apapun." Kataku dan Lusi sudah ada di ketiak ku, aku memitingnya. "Astaga, Vaya... Lo apa-apaan sih? Gue di ketekin," protes Lusi setelah berhasil lepas dariku. Aku gantian tertawa melihat wajah Lusi yang gantian manyun. "Dih... kalian bikin penasaran deh?" Rajuk Maya. "Pokoknya enggak ada yang boleh ngomongin gue, tunggu gue pulang, awas Lo!" Aku pura-purw mengancam Lusi. "Kan Lo enggak bisa terus-terusan ngawasin gue," Lusi cekikikan. "Lusiiii...!" Protes ku. "Iya deh iya," Lusi mengalah. "Dih... lagian kenapa sih, sama gue aja pake rahaaia-rahasiaan, gue udah terlanjur kepo nih?" Maya menatap masam padaku dan Lusi. "Bukan apa-apa Maya, udah enggak usah di bahas lagi." Ujarku. "Pasti ngomongin cowok, ya? Cerita dong? Cowok yang di sukai sama Gaya, ya? Ganteng enggak?" Maya mengabaikan perkataan ku dan malah bertanya antusias menatap ke arah Lusi. Aku menatap ke arah Lusi mencoba memberi kode agar dia tidak menanggapi pertanyaaan Maya. "Iya... dia lagi Deket sama cowok tapi kena zona friendzone kayaknya, hahaha." Sialan! Dia malah buka kartu gue! "Wah... terus-terus, cowoknya cakep enggak?" Maya makin penasaran. Aku menatap kesal ke arah Lusi, benar-benar kesal kali ini! "Em... Maya, lanjut entar aja deh, nanti aja kalau Vaya udah pulang dari kantor." Sepertinya Lusi mengerti arti tatapanku. "Yach... kok gitu...." protes Maya kecewa. "Lagian kepo banget sih, cantik..." Kataku. Maya memang cantik. Dia sangat feminim, dan waktu SMA dia salah satu primadona. Entah kenapa ada kekhawatiran jika cowok yang ku suka, nantinya akan tertarik padanya jika dia minta di kenalkan dengan cowok yang ku suka. Kalau sudah begitu gue bisa apa? Itulah sebabnya kenapa aku lebih senang menyukai seseorang dalam diam. Lebih tenang dan menenangkan. *** Tidak butuh waktu lama, dengan mengendarai angkot aku tiba di kantor Act media dalam waktu kurang dari satu jam. Aku sampai di sana waktu baru menunjukkan pukul 11.30. Aku segera menuju ruangan pemimpin sekaligus pemilik Act Media tempat ku bekerja. Siapa lagi kalau bukan Bu Marni. Tok tok tok Aku mengetuk pintu ruangannya. "Masuk!" Sahutnya terdengar dari dalam. Ceklek.... Aku membuka daun pintu dan memasuki ruangan yang tidak terlalu luas itu, ku lihat Bu Marni sudah menungguku di balik meja kerjanya. Selama satu tahun aku bekerja dengannya, Bu Marni memang suka bertindak inplusif, jika dia punya ide di kepalanya, dia harus buru-buru merealisasikannya, sepeti hari ini, entah ide gila apa lagi yang tiba-tiba melintas di otaknya, hingga harus membuatku harus buru-bueu datang di hari Minggu seperti ini. Ini sih bukan kerja freelance, tapi kerja rodi! "Duduk!" Ujarnya pada ku dengan wajah serius seperti biasanya. Kalau di kosan udah ada singa(Tante bule). Kalau Bu Marni enaknya jadi apa ya? Matanya yang tersembunyi di balik kacamata beningnya menatapku dengan sangat seksama. Dan wajahnya tampak sedang berpikir. Salah apa sih gue? Lihatin gue sampe segitunya? "Oke... kayaknya projek ini cocok buat kamu!" Ucapnya kemudian. Aku sedikit kaget dengan pernyataannya, "kalau boleh tahu, projek apa, ya, Bu?" Tanyaku memberanikan diri. Bersambung.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม