Kedatangan Maya

1059 คำ
"Aaaa Maya, gue kangen banget sama Lo!" Aku langsung memeluk Maya, tepat saat gadis itu tiba di depan teras kos ku, dan.dia membawa tas jinjing berukuran besar di salah satu tangannya. Isinya pasti oleh-oleh. "Gue juga kangen banget sama Lo, Vaya!" Maya balas memelukku dengan tak kalah eratnya. "Ini, kenapa Lo lebih tinggi dari gue sih?" Aku menatap dirinya, dia jauh terlihat lebih tinggi dan dewasa, aku jadi terlihat seperti seorang adik kecil jika berdiri di sebelahnya, ku rasa dia lebih tinggi dari ku sekitar ... 15cm, hem... lumayan tinggi kan? "Lo aja yang kependekan, Vay," ujar Lusi yang sedari tadi sudah berdiri di samping ku. Aku menoleh ke arahnya dan menatapnya jengkel, tak lupa memberinya pukulan pelan di pundaknya. Tapi dia malah cengengesan memamerkan deretan giginya yang putih dan rapi. "Lusi, gue juga kangen banget sama Lo!" Maya berpindah memeluk Lusi. "Yeee... tapi gue paling tinggi di antara kalian, gue lebih tinggi daripada Lo, Maya," ujar Lusi sembari mensejajarkan tubuhnya di dekat Maya. Aku hanya bisa tersenyum kecut ketika menyadari bahwa aku lah yang paling pendek di antara kami bertiga. "Hem... iya deh yang pada tinggi," sindir ku halus kepada mereka yang malah tertawa cekikikan sembari menatapku. Sepertinya mereka akan menjadi satu grup untuk mengejekku. Sialan bener emang! "Cieee... Vaya ngambek," goda Lusi sembari menoel-noel daguku, berusaha membuatku tertawa dengan ulahnya. Tapi jangan harap akan berhasil. Aku sudah memasang wajah super judes ku pada mereka berdua. "Lah, Vaya... jangan ngambek dong, gue bawa keripik pedes kesukaan Lo nih!" Maya benar-benar mengeluarkan satu kantong besar keripik pedas kesukaan ku dan membuat air liurku hampir menetes. Aku langsung merebut bungkusan keripik pedas itu dan langsung ingin mencicipinya tepat saat Tante bule baru keluar dari rumahnya dan menatap ke arah kami. "Eh... buruan masuk yuk!" Ucap ku pada kedua sahabat ku dan aku langsung membuka pintu kos ku dan mengajak mereka masuk ke dalam. Aku pura-pura tidak menyadari kehadiran Tante bule dan melarang kedua sahabat ku untuk menoleh ke arah nya. "Pokoknya jangan liat ke arah kanan Lo, oke!" Bisik ku pada kedua sahabatku saat aku masih susah payah membuka pintu. Ada apa dengan pintunya? Reseh banget deh! Ternyata ada sesuatu yang mengganjal di bawah hingga daun pintunya susah terbuka. Begitu daun pintunya bisa terbuka, kami segera masuk. "Emang ada apaan sih enggak boleh nengok ke kanan tadi?" Terlihat sekali Maya tidak bisa menahan rasa penasarannya. Lusi hanya mengulum senyum sembari melirik ke arah ku, "jelasin, Vay," ujarnya kemudian. "Ya gitu deh, kalau Lo nengok ke kanan tadi, Lo bakal liat singa!" Jawab ku asal. "Ha... singa? Seriusan?!" Maya memasang wajah cengok, sedangkan Lusi tidak tahan untuk tidak tertawa. "Haha... Astaga Maya, percaya aja sih sama omongan Vaya, dia cuma becanda kali...." Ujar Lusi. "Lah, terus... yang di maksud Vaya, singa itu siapa?" Tanya Maya. "Siapa lagi kalau bukan ibu kos-nya." Jawab Lusi. "Oh... kenapa? Jangan bilang Lo belum bayar sewa--" "Sttt... jangan kenceng-kenceng ngomongnya," aku buru-buru membekap mulut Maya sebelum dia melanjutkan kalimatnya. Maya mengangguk dan segera membuka bekapan tangan ku dari mulutnya. "Emang Lo udah nunggak berapa bulan?" Kali ini Maya bertanya dengan nada lirih. "Udah mau tiga bulan ini, hehe..." "Astaga!" Maya tampak kaget. "Terus gimana?" "Ya enggak gimana-gimana, kalau gue enggak bisa lunasin bulan depan, ya udah, siap-siap aja gue get out dari sini." "Lo mau pinjam uang gue dulu?" Tawar Maya. "Dia enggak bakal mau, Maya. Gue juga udah tawarin ke dia, tapi dia nolak." Sahut Lusi. Lalu mereka berdua menatap iba ke arah ku. Dan aku tidak suka gitu. "Tahu... tuh, sombong amat," celetuk Lusi lagi. "Heh... bukannya gitu, gue itu cuma enggak mau ngerepotin orang lain aja," jawabku. "Jadi menurut Lo, kita berdua itu orang lain?" Protes Lusi dan di angguki oleh Maya. "Ya... bukan gitu, kalian tahu gue lah," "Ya... deh, cewek mandiri." Lusi mencebikkan bibir bawahnya. "Nah... benar, anda mendapat piring bila bisa menjawab dua pertanyaan lagi dari ku, haha...." Aku pura-pura bercanda saja pada mereka sebagai pengalihan. "Haha... dasar!" Ujar Maya yang langsung tertawa. "Bisa aja nih anak emang." Timpal Lusi. "Tapi seriusan, terus gimana kakao enggak bia bayar kos, terus Lo di usir dari sini, nanti mau tinggal dimana? Mau pulang ke rumah orang tua Lo?" Tanya Maya yang sepertinya benar-benar khawatir padaku. Aku hanya mengangkat kedua bahu ku tanda tidak bisa menjawab. Sebenarnya kepalaku memang pusing memikirkan ini, tapi aku selalu yakin jika Tuhan pasti akan tetap memberiku jalan keluar bagaimanapun caranya. Ceileh... sok bijak banget gue yak! Hihi "Kalau enggak, gimana kalau tinggal aja di rumah gue?" "Atau di rumah gue?" Tawar Maya dan Lusi lagi. Aku buru-buru menggeleng, bukannya aku tidak mau menerima kebaikan Meeka berdua, tapi aku adalah orang yang tidak nyaman tinggal di rumah orang, aku lebih suka sendiri, seperti ini, di kos-an. "Jangan deh, gue makannya banyak, udah gitu gue jorok, males, nanti gue malah ngerepotin kalian lagi," tolak ku secara halus. Tapi itu memang kenyataanya juga sih, hehe. "Iya... enggak apa-apa, Lo kenapa sih nolak Mulu kalah di bantuin," desak Maya. "Tahu tuh!" Sahut Lusi yang juga menatap heran ke arah ku. "Ya... pokoknya kalian enggak usah khawatirin gue deh, tapi makasih sebelumnya kalian udah mau peduli sama gue, makasih banget loh ya? Eh... iya, gue sampai lupa, enggak nawarin minum," kata ku mengalihkan perhatian. "Emang ada?" Ujar Lusi Sarkas. "Adalah, timbang minum doang, nih air segalo masih banyak." Aku menunjuk ke arah dispenser, dan kami bertiga jadi tertawa, entah menertawakan apa. Drrt derrt drrt Ponsel ku di atas nakas terdengar bergetar saat aku mengambil kan minuman untuk kedua sahabat ku. "Vay... ada yang nelpon tuh!" Ujar Lusi. "Tolong liat deh, siapa?" Aku membawa dua gelas air putih ke arah mereka yang sedang duduk di lantai sembari menikmati camilan yang di bawa oleh Mata tadi. Lusi terpaksa beranjak dari duduknya dan mengambil ponsel ku di atas nakas. "Bos Lo, nih yang nelpon." Lusi menyerahkan ponsel ku padaku dan dia kembali duduk di lantai bergabung dengan ku dan Maya. Benar saja, nama Bu Marni Bos terpampang di layar ponsel ku. Aku pun segera menggeser tombol hijau di layar. "Halo... Bu, ada apa?" Tanya ku sembari menyomot keripik pedas di hadapan ku, tapi aku tidak segera melahapnya, aku masih menunggu jawaban dari Bu Marni. "Kamu bisa ke kantor sekarang enggak?" ujar Bu Marni di seberang sana. "Loh... Bu, tapi ini kan hari Minggu?" Protes ku. "Tapi kamu mau kerjaan enggak?" katanya lagi balik bertanya. Bersambung
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม