MALAM semakin larut ketika Yusuf kembali ke kamar pondok. Kamar yang biasanya diisi oleh empat orang itu, kini sepi tak berpenghuni kecuali oleh barang-barang teman-temannya dan dirinya sendiri.
Yusuf enggan menghiraukan kesunyian yang diciptakan kamarnya. Begitu melangkah masuk, ia langsung terfokus kembali pada kelengkapan berkas-berkas seleksi peserta pelatihannya, di antaranya ada nilai dari kelas satu sampai tiga MTs. atas, salinan untuk dilegalisir, dan surat lamaran peserta pelatihan yang diketik sendiri oleh dirinya, lalu ada juga yang versi dari sekolah. Esok, Yusuf akan meminta tanda tangan Pak Syah karena tadi surat terakhir itu baru selesai diketik dan divalidasi nomor oleh bagian tata usaha MTs. atas yang masih tinggal di sekolah. Pengurusan ijazah wisudawan harus dilengkapi cap sekolah dan tanda tangan kepala—dalam hal ini Pak Syah sendiri.
Lama memeriksa satu tas kulit usang di atas tempat tidurnya, Yusuf memastikan tak ada berkas yang terlewat selain legalisir ijazah kelulusan dan transkrip nilai kelas 4 MTs. atas yang baru akan ia dapatkan setahun lagi.
Kata koneksi sekolah yang bekerja di dinas, saat ini pendidikan pelatihan bisa dilaksanakan sejak awal siswa tersebut masuk kelas 4 MTs. atas. Toh yang penting dari pendidikan itu adalah agar banyak pemuda-pemudi pintar yang berminat mengajar bisa terjaring.
Saat ini Indonesia tengah menggalakan potensi pendidikan dengan mempekerjakan pemuda-pemudi pintar macam Yusuf sesegera mungkin. Jelas saja, ia tak mau membuang kesempatan itu, jadi sudah mempersiapkannya dari sekarang. Minimal, begitu keluar sekolah Yusuf bisa langsung diangkat jadi pegawai negeri junior dan mengajar.
“Sudah lengkap semua,” Ia bergumam, mencoba tersenyum ketika kembali teringat keluarganya di rumah. Apa kabar mereka, ya? Seketika batinnya bertanya-tanya.
Namun, alih-alih mengambil foto keluarganya yang sengaja ia simpan di laci lemari kamar pondok, Yusuf justru mengambil satu kotak kardus kecil dari lemarinya, rak paling bawah. Ia membuka kotak itu dan kembali mengulas senyum, lebih lebar daripada tadi.
Isi kotak kardusnya sederhana, hanya puluhan lembar tulisan ngawurnya terhadap satu orang. Orang itu adalah orang yang sama dengan yang telah membuatnya curi-curi pandang lebih sering dari biasanya sepanjang hari ini. Orang itu adalah si gadis hitam manis yang rutin menghukumnya di hari-hari sekolah.
Yusuf mengambil satu kertas. Tulisan di dalam kertas itu baru seumur jagung alias baru ditulisnya kemarin sore. Kekehan muncul saat ia membaca kertas itu sekilas. Awal tulisan itu berbunyi, ‘Lagi, kita terjebak dalam satu ruangan yang sama.’
Kelanjutannya dibaca di dalam hati guna menghangatkan perasaannya sendiri. Senyuman simpul keluar begitu saja darinya tanpa bisa tertahan. Senyuman itu mirip dengan senyuman seorang pengagum rahasia.
‘...Rasanya aku ingin segera bisa lebih lama seperti itu, bersama kamu. Setahun atau dua tahun setelah kamu lulus, mungkin? Entahlah. Andai kamu tahu, hati kecil ini berniat untuk segera menghalalkan kamu.
Hei gadis hitam manis, rasanya bersama kamu pun sudah lebih dari cukup untuk membuat hidupku sempurna. Tapi aku bisa apa? Kita ‘berbeda’. Jauh.
Yah, kita tinggal tunggu waktu. Aku yakin Allah telah menggariskan jodoh yang tepat untuk setiap makhluk-Nya. Tanpa terkecuali.’
Tanpa memasukan lagi kertas itu ke kotak kardusnya, Yusuf mengambil buku catatannya. Dia menuliskan dua kalimat pendek di sana, menyimpulkan perasaannya pada hari ini.
‘Aini, aku mencintai kamu, tapi kamu mengagumi Sofwan. Kalian serasi.’
Tak lama Yusuf merobek kertas itu dan melipatnya, lalu memasukannya ke dalam kotak tulisannya. Kemudian, ia nikmati malamnya seperti biasa dengan tidur sejenak, mengadu pada Rab-nya dalam doa yang panjang karena berisi tentang banyak hal, dan menulis, lagi.
***
Liburan ini santri yang tak pulang karena kampung halaman yang jauh atau alasan lain dibebaskan dari kegiatan pondok. Sebagai salah satu dari mereka Yusuf menikmati kebebasan itu dengan berjalan-jalan mengitari kompleks pondok.
Tapi tak seperti biasanya, pada hari libur begini satu sosok itu muncul dalam pandangannya sepagi ini. Ia bersama Iis, tengah mengobrol serius sambil duduk di teras sekrektariat pondokan akhwat. Tangan Aini terlihat memegang sebuah kertas yang entah apa isinya.
Karena rasa penasarannya sedang lebih besar daripada cueknya itu, dari balik pagar bambu pondokan akhwat yang terbuka setengah, Yusuf memutuskan untuk diam dan mendengarkan pembicaraan mereka. Sembunyi-sembunyi.
“...Masih cukup lama, memang. Tapi ya, biar saja. Toh aku harus siap-siap juga.” Aini berkata, dengan wajah percaya dirinya. “1960, freedom is begin!” serunya kemudian, membuahkan seringai lebar itu lagi.
“Kamu benar-benar niat memperdalam kemampuan Bahasa Inggrismu itu dengan masuk universitas, ya? Heran. Kan bisa dari kamus, Ni.” Iis terkekeh, agak sangsi seorang perempuan seperti Aini dan dia akan bisa melanjutkan sekolah ke Pendidikan Keguruan. Apalagi yang akan Aini ambil adalah jurusan bahasa. Apa akan dibolehkan oleh abinya yang notabene membidangi keilmuan agama?
Sebenarnya itu jugalah yang Aini takutkan, tapi ia percaya abinya bisa mengerti. Dewi Sartika bertahun-tahun yang lalu sudah membuatnya berhasil mendapatkan pendidikan dengan memperjuangkan hak perempuan untuk mendapatkan ilmu selain ilmu dapur dan ranjang.
Aini tahu ia hanya perlu menjelaskan keinginannya ini dengan baik dan benar, lengkap dengan alasan dan resolusinya, barulah abi dan seisi keluarganya akan setuju.
“Itu beda, Is. Berbeda.” sahut Aini seraya menyeringai. “Pokoknya aku harus bisa meyakinkan abi biar dibolehkan untuk lanjut sekolah lagi ke Keguruan Kesusastraan.”
“Ya sudah, sekarang pikirkan aja gimana cara bujuknya. Mumpung kamu baru naik kelas dua,” tanggap Iis, menyelipkan tawa kecil di belakang kalimatnya.
Sementara Aini mengangguk setuju dalam senyuman termanis yang pernah Yusuf lihat, hatinya tiba-tiba mencelos. Gadis yang di dalam sana itu seperti selamanya ditakdirkan untuk mempunyai derajat lebih tinggi dibanding dirinya. Gumulan pertanyaan gusar mulai muncul di kepalanya. Salah satunya adalah bunyi menyayangkan, kalau sudah jelas ditakdirkan untuk tidak bisa bersama dari segala sisi, mengapa ia dipertemukan Aini malam itu dan langsung diberikan perasaan sayang yang rasanya mustahil dialami oleh bocah berusia sepuluh tahun?
Yusuf berbalik, melangkah masuk ke pondokan ikhwan yang juga dipagari bambu itu. Dalam kebisuan, ia tak mau banyak mengingat ucapan antusias Aini tadi. Ia tahu masa depannya lebih penting untuk diperjuangkan. Niat gigihnya semakin kuat untuk mempersembahkan hasil belajarnya yang penuh prestasi itu kepada orang tua, adik-adiknya, agamanya, Sang Maha Pengasih di atas sana, bangsanya, dan—kalau Allah menakdirkan—untuk Aini juga.
Sendirian, keheningan pondokan ikhwan menemaninya kembali ke kamar. Keheningan yang sama berlanjut menemaninya mengurus segala berkas pendaftaran pendidikan pelatihan pegawai dan guru dinas selama enam bulan itu di MTs. atas Yayasan Al-Hamidiyyah.
-YUSUF & AINI-