MARET, 1960.
Aini hanya bisa membeku di hadapan abinya. Kebahagiaannya yang membuncah karena baru saja lulus MTs. atas dan sekolah pondok, juga bungahnya karena akhirnya ia bisa naik kereta penumpang ke Bogor untuk pertama kalinya, menguap begitu saja.
Niat melanjutkan sekolah yang baru saja terlontar dari mulut Aini—lengkap dengan pilihan jurusan keguruannya dan resolusinya setelah menempuh studi itu—tidak direstui Buya Sholeh. Seisi ruang tengah pun terdiam.
Keputusan yang seolah terlontar tanpa berpikir panjang dan menimbang-nimbang dahulu itu membuat kernyitan Aini keluar tak lama setelahnya. Hatinya tak terima, menuntut abinya mempertimbangkan ulang keputusan itu.
Buya Sholeh baru saja mengatakan Aini tak bisa melanjutkan sekolah karena keterbatasan biaya. Opik yang diwajibkan perkuliahannya di Hukum Syariah untuk ikut studi banding ke Mesir, jelas memerlukan banyak biaya. Belum lagi pendidikan Imam dan Opik sendiri, yang juga masih menjadi tanggungan abi. Jadi jawaban dari keinginan Aini itu adalah tidak. Aini tidak bisa bersekolah lagi.
“...Maafkan abi, Nak.”
Kalimat yang diucapkan sosok setengah abad di hadapannya itu menusuk sudut hati Aini. Sungguhan, ia ingin marah, menyela, menyanggah, atau apapun itu asal abinya bisa menarik keputusan itu. Tapi kalimat barusan bagai intonasi final untuknya. Mak Atih, Opik, dan Imam pun seperti ikut tak mendukung kemauannya melanjutkan sekolah. Mereka terdiam begitu saja mendengar kesungguhan ucapan Buya Sholeh.
Sementara itu, Umayyah berbeda. Ia yang baru selesai mencuci piring bekas makan malam mereka, bergabung dengan orang-orang di ruang tengah. Memecah kesunyian, Umayyah mengelus pundak Aini dan memandang abinya dengan tenang.
“Bi, apa nggak sebaiknya Aini dibolehkan melanjutkan sekolah? Kak Yanti kan juga sambilan bekerja. Jadi menurut Aya Aini juga—”
“Yanti bekerja dan melanjutkan pendidikan saat sudah menikah, Nak. Suaminya yang membolehkan. Lagipula daripada abi melihat Aini sekolah sambil berlelah-lelah bekerja di luar kota, lebih baik dia dinikahkan dulu saja.”
M-menikah..? Mulut Aini sungguhan kelu untuk mencampuri sanggahan Umayyah itu. Abinya sudah mengharapkan nasib yang sama terjadi padanya. Aini harus menyusul Yanti yang sudah menikah, dan Umayyah yang sebentar lagi dikhitbah. Aini sungguhan tidak ditakdirkan untuk sekolah.
“...Umur segini itu rawan, Aya.” Dari hadapannya, Aini sudah tak mau menyerap perbincangan mereka lagi. Ia makin diam saat Buya Sholeh melanjutkan ucapan itu dengan, “Banyak yang bisa menggoda dia di luar kota sana, apalagi tanpa bimbingan orang terdekatnya.”
Tak menyerah, Umayyah mendebat alasan abinya itu, “Aya bisa temani Aini merantau.”
Aini menoleh kepada kakak tersayangnya itu, terharu dengan pembelaan yang sampai segitunya. Namun garis wajahnya kembali melemas ketika Imam menimpal dengan ketidak-setujuan yang lebih dari ngotot.
“Dengan kalian yang dua-duanya perempuan? Nggak, Kak. Kakak juga sebentar lagi mau dikhitbah sama putra Ponpes Ibnu Rusyd. Jadi, Imam jelas nggak setuju.”
Kemudian mata elang orang itu sekonyong-konyong terarah kepada Aini, memandang adik bungsunya kurang suka. “...Sudah, kamu jangan muluk-muluk. Bisa bersekolah sampai MTs. atas saja harusnya sudah kamu syukuri. Apa susahnya kamu turuti perkataan abi, hm?”
Gerah dengan perkataan ketus abangnya itu, Aini jadi kelepasan berucap dengan nada tinggi, “Tapi kalau aku bisa, kenapa enggak?!”
Kebisuan makin terjaga di ruangan ini sementara luapan amarah Aini terus berlanjut,
“Apa salahnya perempuan berpendidikan tinggi, sih!? Kenapa juga abi dan umi meneruskan pesantren kakek kalau anaknya sendiri masih belum boleh hidup mandiri? Apa gunanya pembelajaran kemandirian di pesantren? Ada Kak Hasan dan Bang Basri yang istri-istrinya dibolehkan melanjutkan studi dan bekerja! Kak Yanti juga! Kenapa aku—”
“Sudah jelas alasannya!”
Dan, sempurna sudah—air mata Aini turun satu-satu mendengar bentakan abinya itu. Bentakan pertama yang diterimanya, baru saja terucap dalam muka memerah dan posisi abi yang serentak berdiri. Aini membisu, tapi otaknya masih mencoba menyusun kalimat bantahan lainnya. Cita-cita harus diperjuangkan, kan? Ia membatin tak menyerah.
“...Intinya kamu nggak boleh sekolah! Pergaulan di luar sana berbahaya, asal kamu tahu! Abi nggak mau kamu—”
Oh, Sontak Aini memasang wajah pahamnya. Ia jadi menemukan kalimat lanjutan dari perdebatan ini.
“Jadi alasannya bukan karena nggak ada biaya? Ya kan? Bi, semua itu tergantung orang! Aku yakin bisa jaga diri, kok! Abi cuma perlu—”
Kali ini kalimat Aini bukan terpotong oleh ucapan lain abinya. Tindakan tegaslah yang memotong ucapan itu. Jari telunjuk Buya Sholeh terarah lurus ke kamar gadis itu.
“Bi?” Mak Atih menegur, akhirnya membuka suara, memandang suaminya tak menyangka karena mengetahui arti gerakan itu.
Seisi ruanganpun memandang lurus ke arah Buya Sholeh, sama, dengan tak menyangka. Mereka sama-sama tahu kalau lelaki paruhbaya itu sudah menunjuk ke arah ruangan pribadi masing-masing, artinya si empu ruangan harus dikurung sampai kepala mereka dingin kembali. Gerakan itulah isyarat Buya Sholeh agar ia tak sampai mengeluarkan kata-k********r dan kotor ketika kesal dalam perdebatan seperti ini.
Aini membeku. Ia kini tak berani menatap Imam, Opik, Umayyah, bahkan Mak Atih. Kepalanya terpekur memandang ke bawah, pilu. Ia berbalik, menurut.
Aini masuk ke kamarnya tanpa kata. Diam yang menjengahkan itu masih menyelimuti rumah ini ketika ia mendengar suara pintu dikunci dari luar.
Ruangan lengang. Aini duduk memelas di ujung ranjangnya.
Tapi, sesaat kemudian seketika kepalanya kembali menegak. Ide cemerlang terlintas di kepala Aini, yang mungkin saja bisa menjadi pembuka jalan bagi kelanjutan cita-citanya.
Tanpa memedulikan seisi rumah, Aini mengemas beberapa pakaiannya.
***
1960, empat tahun berlalu dari tahun berdamainya ia dengan Si Hitam itu, hidupnya sudah jauh lebih baik. Ketiga adiknya sudah nyaman di sekolah. Bahkan orang tuanya pun tak lagi diwajibkan bekerja karena keluarga itu sudah punya dia; satu orang yang menyokong ekonomi mereka dengan cukup baik melalui pekerjaannya sebagai seorang guru madrasah diniyah dan madrasah ibtidaiyah.
Sudah dua tahun, hari-hari yang sama—masih berkutat dengan buku-buku pelajaran—melingkupinya. Kini Yusuf sudah terbiasa, meski awal mengajar sempat gugup atau semacamnya. Melalui beberapa obrolannya dengan guru-guru senior di sana, ia belajar bagaimana cara menerangkan pelajaran dengan baik di depan anak-anak Madrasah Ibtidaiyah yang notabene masih usia bermain, daripada dijejali dengan ilmu dari buku-buku.
Pagi hari, obrolan yang melingkupi penghuni rumah sederhana itu masih sama. Sarapan mereka diwarnai oleh canda-tawa dari ketiga adiknya, lalu wajah damai dari kedua orang tuanya ketika memandang mereka semua. Yusuf tak bisa berhenti tersenyum memandangnya karena sadar; ada rahmat Allah yang tak henti melingkupi keceriaan keluarga ini.
Namun kali ini ia menerima desas-desus yang kurang mengenakan dari cakap-cakap Adi dan Heni—kedua adiknya yang kini melanjutkan sekolah di MTs. bawah Al-Hamidiyyah, masing-masing kelas 1 dan 3. Mereka membawa kabar tentang manusia satu itu dengan dua kalimat pembuka,
“Mas, masih ingat Teh Aini, nggak?” tanya Heni polos.
“Anaknya Buya itu, lho.” Adi menyambung, lalu menyuapkan nasi bercampur sayur kacang itu ke mulut kecilnya.
“Iya, masih.” Yusuf menjawab. Tampangnya seketika mencerna, seperti merasakan firasat buruk terhadap Aini. “Memangnya kenapa?”
“Masa tadi habis sholat subuh, pas Heni jalan-jalan pagi sama Adi, kami ngeliat orang mirip Teh Aini bawa-bawa tas.”
“Ih!” Di tengah pandangan Yusuf dan kedua orang tua mereka yang menaruh curiga kepada lanjutan penjelasan Heni, Adi menginterupsi keterangan itu. “Itu memang Teteh Aini! Orang ada Teh Iis juga, kok.”
Tak mau mereka berdua menjadi berdebat dengan keterangan tak sama pula, Yusuf meluruskan arah obrolan. “Tunggu, maksud kalian apa? Teh Aini mau kemana bawa-bawa tas?”
“Kayaknya sih mau keluar kota, Mas. Kuliah mungkin.” Adik pertamanya, Wahyu, menyela.
Madhi mendengus mendengar selaan bohongan itu. Ia menyenggol santai anak keduanya, “Ngawadul kamu. Orang kamu saja masih di masjid sama abi.”
Wahyu nyengir, lalu menyuapkan suapan terakhir sarapannya. “Cuma nebak aja, Bi. Kan Teh Aini tuh pintar. Jadi, siapa tahu? Lagian kan Pendidikan Keguruan belum ada di kota ini. Otomatis Teteh Aini harus merantau buat kuliah.”
Resmi sudah, awal hari Yusuf tak seperti sebelumnya. Mengingat antusiasme Aini beberapa tahun lalu soal melanjutkan kuliah, Yusuf yakin tebakan Wahyu ada benarnya juga.
Kini ia sudah tak lagi berkonsentrasi ke suasana sarapan paginya yang hangat ini. Kepalanya hanya berpikir penasaran pada satu orang.
Aini.
-YUSUF & AINI-