“Min, tugas dari pak Darwis udah loe kerjain ‘kan?” Tanya Sofia saat mereka memasuki gang menuju rumah Jasmine.
“Udah deh kayaknya, kenapa?. Jangan bilang loe mau pinjem.” Cetus Jasmine menatap tajam ke arah Sofia dari kaca spion.
“Hehe.. dikit kok. Kurang satu bab terakhir gue.” Jawab Sofia nyengir.
“Kebiasaan.” Cibir Jasmine mengalihkan pandangannya ke arah lain.
“Heheh..” cengir Sofia.
Beberapa menit kemudian, Motor matic tersebut berhenti di salah satu rumah sederhana yang tampak terawat dan banyak tanaman bunga di bagian depan. Jasmine segera turun, melepas helm yang ia pakai dan menyerahkannya ke Sofia.
“Loe gak mampir dulu?” tanya Jasmine.
“Enggak deh, udah malem. Salam aja buat ibu.” Jawab Sofia kemudian mulai menstater motornya setelah menyimpan helm yang di pakai Jasmine.
“Thanks ya. Hati-hati di jalan.”
“Okey.. eh jangan lupa entar kirim bab terakhir ya.”
“Hmmm...”
Kemudian Sofia kembali menjalankan sepeda motornya lurus ke depan dan menghilang di pertigaan tak jauh dari rumah Jasmine. Ya.. rumah mereka sebenarnya dekat, Cuma beda gang aja. Kalau mau jalan kaki sekitar sepuluh menit udah nyampe.
Setelah memastikan Sofia dan motor kesayangannya sudah tak terlihat lagi, Jasmine baru ke rumahnya. Membuka pintu gerbang yang terbuat dari kayu itu perhalan dan kembali menutupnya.
Tok.. tok.. tok..
“Assalamualaikum.” Ucap Jasmine.
“Waalaikumsalam.” Sahut sang ibu dari dalam. Tak berselang lama, pintu tersebut terbuka menampilkan senyum hangat wanita paruh baya yang sangat Jasmine sayangi.
“Maaf, Bu. Jasmine baru pulang. Tadi kafenya ramee banget.” Ucap Jasmine menyalami tangan ibunya.
“Nggak papa, Nak. (sambil mengelus puncak kepala anak gadisnya itu lembut). Masuk yuk, bersih-bersih trus istirahat ya!.” Titah sang ibu.
“Iya, Bu.” Jawab Jasmine.
Wati tampak tersenyum menatap putri kesayangannya yang kini sudah tumbuh dewasa. Tak pernah terbayangkan olehnya, di karuniai anak semanis dan sebaik Jasmine.
‘anak kita sudah besar, yah. Dia tumbuh menjadi gadis yang sangat baik.’ Batin Wati mengingat almarhum sang suami yang juga sangat menyayangi anaknya.
Wati menghembuskan nafas sejenak, mengusap sudut matanya yang kini mulai berair. Tak mau membuat Jasmine sedih karena melihatnya menangis, Wati segera menutup pintu dan menguncinya. Mematikan lampu yang tak di gunakan, kemudian kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
Keesokan harinya...
Jam menunjukkan pukul enam lebih lima belas menit. Namun, Jasmine masih bergelut di bawah selimutnya. Rasa capek dan hawa dingin pagi ini membuat gadis berpipi tembam itu tampak enggan untuk bangun.
Padahal, alarm yang dia pasang sejak pukul lima, sudah mulai bosan membangunkan dia. Bagaimana tidak?? Berbunyi sejak jam lima hingga sekarang tak dapat respon dari pemiliknya.
Ceklek...
Pintu kayu itu terbuka, tampak Wati yang menatap ke arah ranjang kamar anak gadisnya dengan geleng-geleng kepala sambil tersenyum. Melangkahkan kakinya pelan mendekati Jasmine yang masih bersembunyi di bawah selimut.
“Jasmine.. bangun, Nak. Kamu gak ke kampus hari ini ?” ucap Wati lembut.
“Sayang...” panggil Wati kembali dengan sedikit menarik slimut yang di pakai oleh Jasmine hingga tampak wajah Jasmine yang masih nempel dengan bantal.
“Eegghh...”
Jasmine menggeliat dengan bulu mata yang kini mulai bergerak, bersiap untuk melihat dunia nyata lagi, setelah semalaman berkeliling di dunia mimpi.
“Kamu gak ke kampus hari ini ?” tanya Wati saat mata Jasmine mulai terbuka.
“Hmm... Hari ini berangkat siang, Buk.” Jawab Jasmine menatap ke arah ibunya dengan mata masih sipit.
“Gak ke kafe juga?” tanya Wati lagi.
Mendengar pertanyaan soal kafe, membuat Jasmine ingat jika dia kemarin di suruh bosnya untuk menemui Roy di kantornya. Tapi, karena dia pulang dari kafenya sudah malam, jadi dia putuskan untuk langsung pulang.
Kembali menggeliat, dan bangun dari tidurannya. Bersandar di dinding kamar, menatap ke arah jam di atas meja, pukul tujuh kurang lima belas menit.
“Hmm.. ke kafe sih, Buk.” Jawab Jasmine setelah beberapa menit diam.
“Yaudah.. buruan mandi. Ibu sudah masakin nasi goreng kesukaan kamu.” Ucap Wati tersenyum hangat.
“Ibu sudah masak??” tanya Jasmine sedikit kaget.
“Sudah..” jawab Wati singkat.
“Kok gak bangunin Jasmine aja sih, Buk. Kan Jasmine bisa bantu ibu.” Rengek Jasmine yang memang tak ingin ibunya kecapekan.
“Gak papa, Sayang. Kamu juga ‘kan capek semalam habis kerja. Lagian ibu tinggal masak kok, gak perlu belanja.” Jawab Wati.
“Maaf ya, Buk.” Lirih Jasmine.
“Iya.. gak papa. Sudah sana mandi. Nanti keburu Sofia jemput. Kamu belum siap.” Ucap Wati.
“Siap, Buk.” Jawab Jasmine mengecup pipi kanan ibunya, kemudian beranjak dari ranjangnya dan keluar kamar untuk mandi. Memang kamar mandi di rumah itu hanya satu, dan berada di dekat dapur. Tapi masih di dalam rumah.
Wati menatap anak gadisnya itu dengan senyum hangat di bibirnya, jelas kalau dia sangat bahagia saat ini. Apalagi Jasmine kini tumbuh menjadi gadis yang sangat manis dan baik. Meskipun dia sedikit keras kepala, namun rasa kasih sayang antar sesama selalu menjadi prioritas untuknya.
Setelah Jasmine tak lagi terlihat, Wati mengalihkan pandangannya ke arah keranjang tempat baju kotor milik Jasmine yang tampak sudah mulai penuh. Beranjak dari duduknya dan berjalan mendekat ke Keranjang tersebut. Mengambil baju yang tersampir di belakang pintu untuk sekalian di cuci.
Setelah semuanya sudah terkumpul, Wati segera mengangkat keranjang tersebut untuk di bawa ke belakang guna di rendam sebelum di cuci nantinya. Sebelum di pindahkan ke dalam bak, satu persatu baju tersebut dia periksa, siapa tahu ada barang penting yang tertinggal di saku-saku baju dan celana.
Dan benar saja, di celana yang di pakai Jasmine tadi malam, Wati menemukan sebuah kartu nama di saku celana itu. Wati menatap tulisan di kartu tersebut.
‘Royyano Davin Erza?? Seperti tak asing dengan nama ini.’ batin Wati dengan terus menatap kartu tersebut.
“Mungkin milik teman Jasmine.” Gumam Wati, kemudian menyimpan kartu tersebut ke dalam saku daster miliknya.
Setelah semua baju sudah terendam, Wati kembali ke depan untuk menyiapkan sarapan untuk Jasmine. Menatap ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup, menandakan jika Jasmine belum keluar dari kamar mandi.
Melanjutkan langkah ke dapur, dan kembali menghangatkan nasi goreng yang dia buat tadi pagi. Karena menjadi favorite Jasmine, nasi goreng yang di masak dua kali. Tak berselang lama, Jasmine keluar dari kamar mandi dengan handuk yang membungkus rambutnya.
“Ibuk...” sapa Jasmine mendekat ke arah ibunya dan memberi kecupan di bibir orang yang paling dia sayangi itu.
“Hmm... harumnya anak ibu, ganti sabun kamu?” tanya Wati menatap ke arah Jasmine yang berdiri di sampingnya.
“Hehe... Iya bu.. enak nggak baunya?” tanya Jasmine dengan mencium tubuhnya sendiri.
“Harum banget, baunya juga seger.” Jawab Wati.
“Gak salah dong, Jasmine pilih aroma ini.” Sahut Jasmine kemudian mengambil piring di raknya dan membawanya ke meja makan.
“Anak ibu memang selalu bisa di andalkan.” Balas Wati.
Nasi goreng sudah kembali hangat dan siap untuk di nikmati, Wati memindahkan nasi itu ke atas meja. Sedangkan Jasmine sudah tampak ngiler membayangkan betapa nikmatnya nasi goreng buatan ibunya tersebut. Wati yang melihat itu pun tampak tersenyum geli dan segera mengambilkannya untuk Jasmine.
“Makan yang banyak, Sayang.” Ucap Wani menyodorkan piring yang sudah terisi dengan nasi goreng tersebut.
“Terima kasih, Buk.” Ucap Jasmine dengan mata berbinar menerima piring yang di sodorkan ibunya.
“Sama-sama, Sayang.” Sahut Wati.