Malam

1448 คำ
Setelah Reno keluar dari ruangannya, tampak Roy menghela nafas panjang. Apalagi kalau bukan kedatangan Zava ke kantornya di saat yang tak tepat. Ett.. salah, dia memang selalu datang di saat yang tak tepat. Tanpa peduli bagaimana reaksi Zava jika keinginannya tak tercapai, Roy kembali membuka map yang ada di tangannya dan membaca isinya. Lembar demi lembar dia baca dengan teliti hingga halaman terakhir, seperti saat dia membaca berkas perjanjian kerja samanya. Hingga dia membuka amplop coklat yang berada dalam map tersebut. Ada lima lembar foto Jasmine di berbagai tempat. Di rumah, kafe, kampus, bahkan foto saat dia masih di bangku SMA dulu. Tampak cantik, imut dan menggemaskan. Dan sadar Roy kembali menaikkan sudut bibirnya, bahkan kali ini tampak lebih tinggi dari pada waktu di mobil tadi. Sayang, tak ada yang mengabadikan momen itu. ‘Manis dan sayang untuk di abaikan.’ Batin Roy dengan senyum yang berbeda dari sebelumnya. Jelas, jika sudah seperti ini, kecil kemungkinan Jasmine bisa lepas dari seorang Roy. Dan besar kemungkinan jalan yang akan di hadapi oleh Jasmine akan lebih sulit dan kemungkinan juga makin berwarna. Entah itu warna bahagia atau warna yang lainnya. Mata tajam bak seekor elang yang siap menerkam mangsa itu tak henti-hentinya menatap ke arah lembaran foto yang ada di atas meja. Menelisik setiap sudut wajah dan postur tubuh seorang gadis di dalam foto tersebut. Seakan-akan dia tengah menghafal setiap titik dalam diri Jasmine. Hingga tanpa dia sadari kopi yang biasanya tak pernah dia lewatkan, kini tampak dingin karena terabaikan dan terganti oleh lembaran tak bernyawa itu. Tok.. tok.. tok.. Bunyi ketukan di pintu membuat Roy terkejut dan hampir menjatuhkan foto Jasmine yang ada di tangannya. Melirik ke arah pintu yang masih tertutup rapat tersebut. Reno, siapa lagi kalau bukan dia. “Masuk” Ceklek.. Pintu tersebut terbuka pelan. Reno masuk dengan beberapa berkas di tangannya. Sedikit menundukkan kepala sebelum dia melangkah lebih masuk ke dalam ruangan sang bos. “Maaf, Bos. Ini berkas-berkas yang harus anda tanda tangani.” Ucap Reno kemudian meletakkan berkas tersebut di depan Roy. Kening Reno sedikit berkerut saat menatap map yang berisi data tentang gadis yang membuat masalah dengan bosnya tadi pagi. Map tersebut masih terbuka dengan beberapa foto yang tergelatak di atasnya. ‘apa si bos masih membaca isi map itu?’ batin Reno. “Ren” panggil Roy. “Iya, Bos.” Jawab Reno. “Untuk dua hari ke depan tolong kosongkan waktu saya. Tunda semua meeting dan agenda apa pun.” Ucap Roy menatap ke Reno yang berdiri di depannya. “Baik, Bos.” Jawab Reno. “Dan satu lagi, Jika ada yang mencari saya, bilang saya sedang tidak mau di ganggu.” Ujar Roy. “Siap, Bos.” Jawab Reno lagi. “Ada yang bisa saya bantu lagi, Bos.” Tanya Reno dan hanya di balas gelengan kepala oleh Roy. Melihat respon atasannya, membuat Reno faham. “Kalau begitu saya permisi, Bos.” Pamit Reno, lalu keluar dari ruangan dingin tersebut. Roy menghela nafas panjang kemudian berdiri dari kursinya. Memasukkan tangan ke saku celana lalu berjalan ke arah jendela kaca besar yang ada di ruangan tersebut. Menatap ke arah luar, pemandangan seperti biasanya. Kota dengan segala kepadatan dan keramaiannya. Yang jauh berbanding terbalik dengan hati seorang Roy, yang sepi dan tak berpenghuni selama 29 tahun. Drt... drt... drt... Ponsel di saku celana Bergetar, merogohnya dan langsung mengangkat setelah tahu siapa yang meneleponnya. “Halo...” *** Di Kafe, Hari ini, pengunjung yang datang ke kafe lumayan banyak, bahkan sudah pukul delapan lebih lima belas menit tapi masih ada pengunjung yang baru datang. Padahal kafe akan tutup jam sembilan malam. Di dapur, Jasmine tampak sedang menyiapkan minuman berupa jus tomat mix wortel, memasukkan potongan wortel dan tomat ke dalam blender dan menyiapkan gelas yang sudah di beri lelehan s**u coklat sebagai pemanis. Sambil menunggu jusnya jadi, Jasmine tampak gelisah melihat jarum jam yang terus berjalan. Dan kejadian itu pun tak luput dari pandangan Daffa yang berdiri tak jauh dari dapur. Tadinya dia ingin meminta salah satu karyawan untuk membuatkan jus jeruk untuknya. Tapi, saat melihat ke arah dapur, pandangannya terhenti ke arah Jasmine yang terlihat cemas sambil menatap ke arah jam. Sebenarnya, Daffa ingin sekali mengizinkan Jasmine untuk pulang lebih awal. Tapi, dia tidak bisa melakukan itu karena sudah menjadi peraturan wajib karyawan jika sebelum jam sembilan dan masih ada pengunjung, maka tidak ada yang di perbolehkan pulang lebih dulu. Kecuali, benar-benar mendesak. “Jerry!” panggil Daffa. Jerry yang memang berdiri tak jauh darinya langsung menoleh dan menyerahkan nampan ke temannya. Kemudian berjalan mendekati sang bos. “Ya, Pak.” Jawab Jerry. “Tolong buatkan saya jus jeruk ya. Dan antar ke ruangan saya.” Ucap Daffa. “Baik, Pak.” Jawab Jerry. “Ada lagi, Pak?.” Tanya Jerry. “Udah itu aja, antar ke ruangan saya ya?” jawab Daffa. “Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi.” Jawab Jerry. “Silahkan.” Jerry berlalu untuk membuatkan pesanan si bos. Sedangkan Daffa kembali menatap ke arah dapur, beberapa detik kemudian dia melanjutkan langkahnya untuk kembali ke ruangannya karena tak menemukan Jasmine di tempat pembuatan jus. Entahlah kemana perginya gadis itu. Jam menunjukkan pukul sembilan lebih sepuluh menit, pengunjung mulai berkurang. Bahkan, lantai dua dan tiga sudah gelap karena listrik sengaja dipadamkan, sebagai tanda jika kafe segera tutup. Di lantai dasar hanya beberapa kursi yang masih terisi. Sebagian karyawan juga tampak bersiap untuk pulang. Tak terkecuali Jasmine. Setelah mencuci piring dan memindahkannya ke rak tertutup. Jasmine berjalan menuju loker untuk mengambil barang-barangnya. “Kenapa, Rev?” tanya Jasmine menatap Reva yang tengah mengotak atik ponselnya dengan wajah bingung. “Eh, Min.” Sahut Reva sedikit kaget yang tak menyadari kedatangan Jasmine. “Ini nih, abang gue di hubungi gak bisa. Padahal udah janji mau jemput.” Sambung Reva cemberut menatap ponselnya. “Hmm... suruh anterin Jerry aja.” Usul Jasmine menatap ke arah Jerry yang baru datang. “Ada apa?” tanya Jerry. “Reva gak ada yang anterin pulang. Loe anterin gih.” Jawab Jasmine dengan senyum Menggoda. “Kalo aku di anterin Jerry, kamu pulang sama siapa?” tanya Reva yang memang sudah hafal kalau pulang kerja Jasmine pasti di antar Jerry. “Gue mah gampang. Tadi Sofia janji mau jemput gue kok.” Jawab Jasmine. “Beneran, Min.?” Tanya Jerry menatap serius ke arah Jasmine. “Iyaa..udah buruan sana antar Reva.” Jawab Jasmine. “Yaudah.. Loe hati-hati.” “Hmm...” “Gue duluan ya, Min.” Pamit Reva. “Ok.. hati-hati ya. Jangan mau kalau di modusin sama Jerry.” Ucap Jasmine membuat Jerry melotot ke arahnya. Namun, hanya di balas senyuman oleh Jasmine. Tanpa menunggu lagi, Reva dan Jerry pun berlalu, meninggalkan Jasmine dan beberapa karyawan lain di ruangan tersebut. Hingga akhirnya Jasmine menyusul keluar dari sana. “Gue duluan ya guys...” pamit Jasmine ke teman-temannya. “Ok.. hati-hati, Min.” “Siap..” Berjalan keluar kafe yang kini sudah mulai gelap, karena lampu di dalam kafe sudah di matikan semua. Hanya lampu di ruang ganti karyawan dan lampu teras yang masih menyala. Sesampainya di depan, Jasmine mengeluarkan ponselnya dan mencoba untuk menghubungi sahabatnya. “Halo.. kenapa, Min.?” Ucap Sofia di sebrang sana. “Gue udah kelar nih, Loe ‘kan janji mau jemput gue.” Balas Jasmine. “Oh iya.. Ya udah. Bentar.” Tuuttt.... Sambungan telepon itu pun putus seketika. Membuat kening Jasmine berkerut menatap layar ponselnya yang ikutan mati. Sambil menunggu Sofia datang, Jasmine memilih untuk duduk di kursi tak jauh dari tempatnya berdiri. Membuka aplikasi biru, scroll-scroll sesekali ngeklik tombol berbentuk jempol di sisi kiri postingan yang di sana. “Kenapa hari ini hanyak orang nikahan sih. Tapi aneh, yang nikah cewek semua. Lah.. cowoknya mana?” gumam Jasmine sesekali tersenyum melihat banyaknya foto pengantin perempuan dengan berbagai model riasan yang berlalu lalang di layar ponselnya. Hingga tiba-tiba... Tiinn... “Eehh... kambing loe kambing..” pekik Jasmine latah. Kemudian menatap ke arah sampingnya. Di sana sudah ada Sofia lengkap dengan motor matic marah putih miliknya. Tak lupa satu helm yang ke mana pun dia bawa. “Loe ngebut ya?” tanya Jasmine membenarkan tasnya dan berjalan ke arah Sofia. “Nggak juga sih. Tadi pas loe telpon gue lagi di mini market depan sana.” Jawab Sofia menyodorkan helm ke Jasmine. “Malem-malem gini nyari apa an?? Tanya Jasmine dengan tangan yang sibuk memakai helm yang di sodorkan oleh Sofia tadi. “Di suruh kanjeng ratu beli obat nyamuk.” Jawab Sofia jujur. “Ohh....” Mereka akhirnya meninggalkan area kafe tersenyum dengan obrolan-obrolan ringan. Dan tanpa merek sadari ada yang tersenyum di balik kemudi mobil tak jauh dari kafe. Menit kemudian mobil tersebut tampak 0erlahan meninggalkan tempat itu. Berjalan ke arah yang berlawanan dengan Jasmine dan Sofia.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม