Royyano Davin Erza

1567 คำ
Setelah mendapat keringanan dari si bos. Jasmine kembali ke dapur dan bergabung dengan teman-temannya. Mengantongi kartu nama milik cowok yang sudah merusak mood nya seharian ini. Berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangan dan mulai membantu Jerry menyiapkan pesanan pengunjung. “Eh, gimana? Dapat keringanan nggak?” tanya Jerry yang baru menyadari kedatangan Jasmine. Jasmine menghentikan gerakan tangannya dan menoleh ke arah Jerry, “Alhamdulillah, Dapat. Tapi ya.. tetap harus penuh tiga puluh hari.” Jawab Jasmine. “Syukurlah..” sahut Jerry ikut lega dan di balas senyuman oleh Jasmine. Kemudian mereka lanjut bekerja seperti biasa. Saling membantu satu sama lain tanpa memandang senior atau junior. Semua tampak kompak, membuat pengunjung semakin betah jika berada di kafe ini. Selain menu makanannya yang terkenal enak, semua karyawannya juga tampak sopan dan kompak dalam membagi tugas. Jadi meskipun pengunjung membeludak, semua bisa terkendali dan tak menimbulkan keramaian karena lama dalam pelayanannya. Apalagi, yang bertugas mengantar pesanan adalah mereka yang memang good looking, dan tentu super ramah serta murah senyum. Aahh.. jadi makin betah. Makanya dalam kurun waktu dua tahun kafe ini sudah bisa buka cabang di berbagai tempat. Ya, meskipun tak sebesar kafe utama ini. Bahkan, tak jarang banyak para pengusaha ternama yang memilih kafe ini untuk tempat pertemuan mereka dengan rekan kerja mereka. Di samping tempatnya yang nyaman, kafe ini juga di lengkapi dengan ruang privat yang berada di lantai dua dan tiga. Seperti hari ini, Ada beberapa pengusaha yang sedang mengadakan pertemuan di lantai dua dan tiga. Jadi sebaik mungkin mereka akan bekerja dengan baik dan profesional. Meskipun sempat terjadi keributan, tapi semua kini bisa kembali kondusif. Sementara itu, Dalam mobil mewah yang beberapa menit yang lalu meninggalkan area kafe tempat Jasmine bekerja. Tampak dua pria yang sama-sama memakai setelah jas mahal. Bedanya satu pria yang berada di kursi belakang tampak sudah melepas jasnya dan meletakkannya di kursi samping tempat dia duduk. Menggulung lengan kemeja berwarna biru miliknya sampai siku. Membuat penampilannya makin mempesona. Apalagi dengan mata tajam miliknya yang selalu sukses menghipnotis lawannya. Sedangkan pria yang satunya yang kini tengah fokus menatap jalan di depannya, sesekali melirik sang bos dari kaca spion di atasnya. Mengingat apa yang sudah terjadi saat di kafe tadi, membuat dia yang sudah hafal sifat bosnya itu, tampak sedikit khawatir. Bukan khawatir dengan sang bos, tapi lebih khawatir ke gadis yang sudah cari masalah dengannya. “Ren.” Panggil Roy. “Iya, Bos.” Jawab Reno. “Kamu tahu ‘kan apa yang harus kamu lakukan?.” Ucap Roy melirik ke arah sang asisten. “Iya, Bos.” Jawab Reno mantab. “Hmm..” sahut Roy kemudian mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Menatap gedung-gedung pencakar langit yang tampak berjejer di kiri dan kanan jalan. Hal yang sudah menjadi pemandangan setiap hari bagi seorang Royyano Davin Erza. Ada rasa bosan saat setiap hari harus melihat pemandangan yang sama. Makanya dia berniat untuk mencari tempat yang sedikit berbeda untuk mengadakan pertemuan dengan cliennya hari ini. Tapi, bukannya dapat pemandangan yang menyegarkan mata, malah dapat siraman jus gratis. Mengingat kejadian di kafe tadi membuat Roy tanpa sadar menaikkan sudut bibirnya, hal yang selama ini tak pernah terlihat oleh siapa pun. Kejadian langka tersebut tak luput dari pandangan sang asisten yang senantiasa berada di samping big bosnya dua puluh empat jam. Melihat sang big bos tersenyum walau sangat tipis, membuat Reno mengurutkan keningnya dalam. ‘Hah.. aku gak salah lihat? Pak Roy barusan tersenyum?” batin Reno dengan mata sedikit melotot karena terkejut. Lima belas menit kemudian, mobil mewah tersebut tampak memasuki sebuah gedung pencakar langit yang terlihat paling besar di antara gedung-gedung di sekitarnya. Di bagian depan gedung tersebut, terdapat tulisan 'ER corporatoin', yang super besar. Berhenti tepat di depan pintu masuk yang terhubung langsung dengan Lobi. Di sana juga sudah berdiri dua pria berbadan kekar dan memakai pakaian serba hitam. Mendekat ke arah mobil yang di tumpangi oleh Roy dan asistennya. Dan setelah mesin mobil itu mati, kedua pria tersebut dengan sedikit membungkukkan tubuhnya, membukakan pintu untuk sang big bos. Kompak semua yang ada di tempat tersebut menghentikan aktivitasnya sejenak untuk menyambut sang big bos. Hal yang sudah menjadi peraturan di perusahaan itu. Roy yang hanya memakai kemeja tanpa jas, tampak turun dari mobil dan berjalan dengan gagah di ikuti Reno di belakangnya. Hal tersebut membuat beberapa karyawan terlihat mengerutkan kening, merasa aneh saat sang big bos datang ke kantor tidak memakai jas seperti biasanya. Apalagi samar-samar terlihat jika kemeja yang di pakai olehnya juga masih sedikit basah. Reno yang sadar dengan situasi pun langsung melirik ke arah karyawan tersebut membuat mereka gelagapan dan segera menundukkan kepalanya. Selain Roy yang terkenal tak berperasaan, asistennya pun mempunyai sifat yang tak jauh beda. Sebenarnya Roy pun sadar jika dirinya tengah menjadi pusat perhatian, a0alagi dengan penampilannya kali ini. Tapi, dia sengaja tak peduli sebab di otak nya sudah tertata dengan rapi apa yang harus dia lakukan. Menggunakan lift khusus, Roy dan Reno naik ke lantai 120 gedung itu, lantai yang khusus untuk mereka berdua. Tak ada yang boleh naik ke sana kecuali atas izin Roy atau pun Reno. Bahkan, orang tua Roy dan kekasihnya pun tak di perbolehkan naik ke lantai tersebut. Jika, ingin bertemu dan berbicara dengan Roy, mereka akan di persilahkan untuk menunggu di lantai 119, tepat di bawah ruangan Roy. Dan itu pun tak semuanya akan di datangi oleh Roy, jika Roy sedang tak ingin di ganggu dia memilih untuk berbicara melalu vidio virtual. Sombong yak??? .. emang.. tak ada yang lebih sombong dari dia. Ting.. Lift itu akhirnya berhenti saat sampai di lantai 120. Roy dan Reno pun keluar dan berjalan menuju ruangan Roy yang terletak di sebelah kanan. Reno membukakan pintu untuk Roy dan mempersilahkan sang bos masuk. Kemudian di ikuti olehnya. “Ada yang bisa saya bantu, Bos.?” Tanya Reno saat mereka berada di ruangan bernuansa abu-abu itu. “Cari identitas gadis tersebut sedetail mungkin.” Ucap Roy menatap Reno yang berdiri tak jauh dari tempatnya. “Baik, Bos. Dalam waktu lima belas menit. Semua data tentang gadis itu sudah berada di atas meja anda.” Jawab Reno yakin. “Hmm..” “Kalau begitu, saya permisi.” Pamit Reno di balas anggukan oleh Roy. Menatap pintu yang perlahan tertutup, kemudian berjalan ke arah jendela kaca besar yang memperlihatkan suasana kota yang tampak padat. Pikirannya pun kembali melayang ke seorang gadis yang sudah mempermalukan dia di depan umum, hal yang selama ini tak pernah terjadi pada dirinya. “Kau akan membayar semuanya.” Gumam Roy dengan tatapan mematikan ala dia. Sambil menunggu Reno mengumpulkan data tentang gadis yang membuatnya basah kuyub. Roy memilih untuk membersihkan tubuhnya dari sisa minuman yang membuatnya merasa lengket. Meletakkan ponsel di atas meja kemudian berlalu ke kamar mandi yang ada di dalam ruangannya. Tak hanya kamar mandi, di lantai tersebut ada kamar khusus untuk dia beristirahat jika malas pulang ke rumah. Serta ruang untuk nge-jim. Bahkan, ada kolam renang serta dapur di sana. Makanya meskipun mereka berdua seminggu tak turun dari sana, tak masalah. Tak butuh waktu lama, Roy yang keluar dari kamar pribadinya tampak segar dan rapi dengan setelan jas berwarna silver miliknya. Berjalan menuju meja kerjanya dengan tangan yang sibuk memasangkan jam tangan miliknya. Sesampainya di depan meja kerjanya, Kening Roy mengkerut menatap map merah yang berada di antara tumpukan berkas. Dia yakin, itu adalah data yang Roy minta kepada Reno, asistennya yang selalu bekerja dengan sangat baik. Mengambil map tersebut dan membuka, membaca semua isi yang tertera di kertas putih yang terdapat di dalam map itu. Sebelum membaca isinya sampai selesai, Roy memilih untuk duduk. Setelah meminta Reno untuk membawakan kopi kesukaannya. Jasmine Zahrani Faiz, anak tunggal dari pasangan suami istri yang tinggal di salah satu desa di daerah S............... Roy tampak fokus membaca semua tulisan di kertas itu, hingga tiba-tiba keningnya berkerut saat membaca ‘salah satu mahasiswa terbaik di Universitas B, dan menjadi asisten dosen, bekerja paruh waktu untuk membantu sang ibu memenuhi kebutuhan sehari-hari’ . “Jadi, dia kuliah sambil bekerja?” gumam Roy. Tok.. tok.. tok.. “Masuk” Ceklek, Pintu ruangannya terbuka, menampilkan sosok asisten yang tampak membawa nampan berisi cangkir kopi milik sang bos. Menundukkan kepalanya sejenak kemudian melangkahkan kakinya untuk lebih masuk ke dalam guna menaruh kopi tersebut ke meja sang bos. “Kopinya, Bos.” Ucap Reno. “Terima kasih.” Jawab Roy. “Hmm.. maaf, Bos. Di bawah ada Nona Zava ingin bertemu dengan anda.” Ucap Reno. “Zava ??” “Iya, Bos.” “Bilang aja, Aku sibuk dan tak ingin di ganggu.” Tegas Roy. Mendengar titah sang bos, membuat Reno segera undur diri. Dia tahu kalau bosnya itu masih tak bisa terganggu oleh apa pun dan siapa pun, karena kejadian di kafe tadi. Karena jika emosinya masih belum mereda, maka semua yang ada di sekitarnya yang menjadi sasaran amarahnya. Tak ada yang berani melawan seorang Royyano, Hanya sang mama lah yang bisa mengendalikan emosi Roy. Itu pun butuh kesabaran yang besar. “Baik, Bos. Saya permisi.” Pamit Reno dan segera keluar dari ruangan tersebut untuk menemui Zava di lantai bawah. Zava Kirani, seorang model terkenal yang beberapa hari yang lalu mengumumkan jika dia adalah calon istri Roy. Wanita cantik dengan multitalentanya itu selalu mendekati Roy bahkan merayu mamanya Roy agar menjodohkan mereka. Awalnya Roy menolak, tapi sang mama terus membujuknya agar mencoba untuk membuka hati dan menjalani hubungan mereka terlebih dahulu. Istilahnya pacaran paksa. Karena yang ngebet pengen di pacar ya si Zava. Roy mah masa bodo.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม