Daffa

1087 คำ
Di dalam ruangannya, Daffa tampak gelisah memikirkan Jasmine yang saat ini berada di kantor Roy. Sebenarnya dia enggan untuk menyuruh Jasmine datang ke sana guna meminta maaf soal apa yang sudah terjadi beberapa hari yang lalu, yang mengakibatkan Roy gagal mengadakan meeting dengan cliennya. Daffa tahu, kalau apa yang terjadi tidak sepenuhnya salah Jasmine. Jasmine berbuat seperti itu hanya karena dia ingin mempertahankan harga dirinya. Jasmine adalah sosok gadis yang baik dan selalu rendah hati. Tapi, dia tidak pernah mau untuk merendahkan harga dirinya di depan orang lain. Sejak awal mengenal Jasmine. Daffa sudah tertarik dan begitu respek dengannya. Di samping dia gadis yang baik, Jasmine adalah salah satu karyawan yang selalu mendapat tips dan nilai plus dari para pengunjung. Sosoknya yang ramah serta penampilannya yang juga mendukung, membuat pengunjung kian betah dan selalu memuji kinerja serta personalitas karyawan di kafe ini. Teman-temannya pun tampak suka dengannya sejak pertama kali Jasmine masuk. Meskipun dia bekerja paruh waktu karena masih harus kuliah dan menjaga ibunya di rumah. Jasmine selalu proporsional saat bekerja. Semua dia kerjakan, ringan tangan dan selalu menjadi penengah saat ada temannya yang berselisih faham. Selama ini Jasmine tak pernah berbuat kesalahan, dan baru kali ini dia membuat keributan. Bahkan, langsung dengan orang yang berpengaruh besar dengan kemajuan kafe tempat dia bekerja. Roy adalah menyumbang dana terbesar dan juga orang yang sudah dengan suka rela merekomendasikan kafe milik Daffa untuk menjadi tempat meeting favoritenya. Semenjak Roy dan asistennya mengadakan meeting pertama di sini. Kafe ini terus didatangi oleh pengusaha-pengusaha bahkan pejabat negara juga sering berkunjung ke kafe ini. Sebab, Roy adalah panutan bagi mereka dan apa pun yang Roy pilih sudah di pastikan itu akan memuaskan. Apalagi sebentar lagi Daffa bakal membuka cabang kafe yang baru yang tak jauh dari kafe utama ini. Pasti dia akan sangat membutuhkan kehadiran Roy diacara pembukaan yang di adakan beberapa hari lagi. Oleh karena itu, sebaik mungkin dan sebisa mungkin Daffa menjaga hubungan baiknya dengan Roy. Selain dia adalah penyumbang modal terbesar serta peran dia sebagai grand ambasador terbaik. Roy juga termasuk salah satu sahabat Daffa. Sama halnya dengan Elvino Abraham dan Raka Vergosa. Namun, Roy memiliki kekuasaan di dunia bisnis sedangkan yang lain memilih jalan lain. Daffa menatap jam yang melingkar manis di tangannya. Jarum yang terus memutar itu kini menunjukkan pukul sepuluh lebih dua puluh satu menit. Namun, Jasmine belum datang juga ke kafe. Seharusnya dia sudah sampai sejak setengah jam yang lalu. Membuat Daffa semakin cemas. Takut jika Roy berbuat yang tidak-tidak ke Jasmine. Apalagi mengingat sifat keras kepala Jasmine serta tentang dia yang tak pernah punya rasa takut. Hahh... sungguh Daffa tak bisa berpikir jernih saat ini. Pikirannya terus tertuju ke dua orang tersebut. Mengusap wajahnya kasar dan menghembuskan nafas panjang. Daffa terdiam untuk beberapa saat kemudian mulai beranjak dari duduknya dan berjalan keluar ruangan. Menatap ke penjuru kafe mencari sosok gadis yang mengganggu pikirannya sejak tadi. Namun, sama sekali tak ada tanda-tanda keberadaan Jasmine. “Hmm Tia!” panggil Daffa ke salah satu karyawannya yang kebetulan lewat. “Ya, Pak.” Jawab Tia setelah mendekat ke bosnya. “Jasmine sudah datang ?” tanya Daffa. “Belum, Pak. Tadi katanya datang agak siang karena dapat tugas dari bapak untuk bertemu rekan bapak di kota.” Jawab Tia sopan. “Oh.. ya sudah. Nanti kalau dia sudah datang suruh langsung ke ruangan saya ya.” Pesan Daffa. “Baik, Pak.” Jawab Tia. “Ada lagi, Pak?” tanya Tia. “Tidak. Silahkan lanjutkan pekerjaan kamu.” Ucap Daffa. “Baik, Pak. Permisi.” Pamit Tia kemudian berlalu dari hadapan sang bos. Menatap ke seluruh ruangan yang ada di kafenya, hari ini kafenya lumayan ramai bahkan di jam yang masih menunjukkan pukul sebelas kurang sepuluh menit kafenya sudah hampir penuh. Di lantai dua dan tiga juga tampak banyak para pengusaha yang mengadakan pertemuan. Daffa memutuskan untuk turun ke lantai dasar. Berjalan menuju meja kasir yang tampak dua orang berjaga di sana. Dengan sesekali mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, memastikan semua bekerja dengan baik. “Selamat siang, Pak.” Sapa Jerry yang memang ketua karyawan di kafe tersebut. “Siang..” jawab Daffa. “Bagaimana, Jer. Semua berjalan lancar?” tanya Daffa. “Alhamdulillah, Pak. Semua terkendali dengan baik.” Jawab Jerry. “Syukurlah. Terus jaga kekompakan kalian ya. Dan kasih kabar ke yang lain, jika bulan ini mencapai target akan saya naikkan gaji kalian sebesar 2%.” Ucap Daffa. “Hah.. beneran, Pak.?” Tanya Jerry berbinar. “Kapan saya bohong?” jawab Daffa dengan senyuman tipis di bibirnya. “Alhamdulillah...” syukur Jerry bahagia. “Jangan seneng dulu. Akan saya naikkan kalau bulan ini mencapai target.” Sahut Daffa. “Hehe.. siap, Pak. Saya dan kawan-kawan akan lebih giat lagi agar bulan ini memenuhi bahkan melampaui target.” Jawab Jerry penuh semangat. Daffa yang mendengar itu pun tampak menaikkan sebelah alisnya dengan senyum yang sangat manis. Inilah yang membuat karyawan betah kerja disini. Bosnya yang tampan, baik dan tak pernah berpilih kasih dengan antar karyawan. “Bagus.. silahkan kembali bekerja.” Ucap Daffa. “Siap, Pak.” Jawab Jerry semangat. Setelah itu, Daffa memilih untuk kembali ke ruangannya. Karena masih pekerjaan yang harus dia kerjakan. Mempersiapkan segala sesuatu yang di butuhkan untuk pembukaan kafe barunya bulan depan. Berjalan dengan gagah menuju lantai dua. "Jer." panggil Daffa sebelum melanjutkan langkahnya. "Iya, Pak." jawab Jerry mendekat. "Tolong buatkan minum buat saya, dan antar ke ruangan saya." ucap Daffa. "Siap, Pak." jawab Jerry. Dan bukan hal baru lagi, jika setiap si bos kafe itu menampakkan diri pasti banyak pengunjung perempuan yang berbisik-bisik dengan menatap ke arah Daffa. Bahkan tak jarang mereka diam-diam mengambil foto dan vidio Daffa untuk mereka simpan secara pribadi. Bahkan, ada beberapa dari pengunjung yang sengaja datang hanya untuk melihat wajah tampan Daffa. Ada juga yang seharian berada di kafe, pas di tanya katanya ingin bertemu dengan bos Daffa sebab dia salah satu fans fanatiknya. Awalnya Daffa merasa risih dengan apa yang di lakukan oleh pengunjung-pengunjung kafe miliknya. Tapi, seiring dengan berjalannya waktu Daffa mulai terbiasa. Para karyawan disini pun tak luput dari incaran para fans Daffa. Meminta nomor telepon, sosial medianya bahkan ada minta alamat rumah Daffa. Ya.. Namanya juga sudah jadi penggemar berat. Meskipun di tolak berkali-kali ya tetap saja mereka ngeyel. Pernah juga saat Daffa pulang dari kafe, dia di buntuti oleh sebuah taxy. Daffa yang sudah terlatih untuk membaca situasi di sekitarnya langsung menyadari hal itu. Dengan sengaja dia berputar-putar jalan kota hingga masuk ke area yang rawan macet. Dan dari situlah Daffa bisa melarikan diri dari kejaran taxi yang membututinya.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม