Sedikit Lega

1263 คำ
Angkot yang di tumpangi oleh Jasmine kini berhenti tepat di depan kafe. Detik kemudian Jasmine turun setelah membayar ongkosnya. “Terima kasih, Bang.” Ucap Jasmine ramah kepada supir angkot itu. “Sama-sama, Neng.” Jawab si sopir. Kemudian angkot itu bergerak pelan meninggalkan Jasmine yang masih berdiri di pinggir jalan. Menghembuskan nafas lelah, kemudian berbalik menatap bangunan 3 lantai yang selama setahun ini menjadi harapannya untuk menyambung hidup. Mencari pundi-pundi rupiah untuk memenuhi kebutuhannya juga sang ibu yang berada di rumah. “Kamu harus bisa.” Ucap Jasmine pada dirinya sendiri. Hari ini, dia sudah menghabiskan seluruh uang yang dia punya. Padahal gajian masih minggu depan. Sedangkan kemarin tak sengaja Jasmine melihat ke tempat penyimpanan beras. Hanya ada satu gelas beras yang masih tersisa di sana. Itu pun hanya cukup untuk makan satu hari. Melangkahkan kaki menuju pintu samping kafe, pintu khusus untuk para karyawan yang langsung terhubung dengan ruangan khusus karyawan. Meletakkan tas ke dalam loker setelah mengambil seragam kerja di dalamnya. Semua karyawan memiliki jatah 3 seragam. Setelah berganti pakaian dan membenarkan penampilannya. Jasmine berjalan menuju dapur untuk membantu teman-temannya yang lain. Menatap ke arah Gita yang sibuk mengeluarkan ikan segar dari freezer. Jasmine segera mencuci tangan dan mulai membantu Gita. “Hay, Git.” Sapa Jasmine. “Hay, Min. Baru datang ?” jawab Gita. “Iya.. “ Jawab Jasmine dengan tangan yang ikut mengeluarkan ikan dari freezer. “Gimana, udah selesai masalahnya?” tanya Gita. “Huhh.. gue harap semua udah kelar. Males banget gue berurusan dengan dugong kutub itu.” Keluh Jasmine. “Dugong kutub?” tanya Gita menatap heran ke arah Jasmine. “Iya.. Sesuai sama orangnya yang j*lek, sombong, dan gak bisa ngomong.” cetus Jasmine. “Kayaknya loe perlu ke dokter mata deh, Min. Cowok setampan dan sekeren itu loe bilang mirip Dugong.” Cibir Gita heran dengan penilaian Jasmine tentang Roy. “Bukan dokter mata, Git.” Sahut Jerry yang datang dari arah toilet. Sontak membuat kedua gadis itu kompak menoleh ke sumber suara dengan kening berkerut. “Terus dokter apa?” tanya Gita penasaran. “Dokter spesialis mental, biar tuh cewek bar-bar (sambil menunjuk ke arah Jasmine) bisa bedain mana yang perlu dilawan dan mana yang perlu di hindari.” Canda Jerry membuat tawa Gita pecah seketika. Namun, beda dengan Jasmine yang hanya menanggapi lelucon Jerry dengan wajah judesnya. Sebenernya dia sudah tahu tanpa mereka kasih tahu. Kalau dia sudah bertindak di luar batas pemikiran orang-orang. Bukannya menyesal tapi Jasmine hanya takut kalau sampai ibunya tahu tentang masalah yang sedang dia hadapi. “Serah loe berdua aja.” Balas Jasmine kemudian kembali menatap ikan-ikan yang sudah di keluarkan dari freezer. Merasa sudah bukan tanggungannya, Jasmine segera mencuci tangan kemudian berjalan ke arah depan. Sebelumnya dia berhenti di salah satu sisi dapur yang terdapat cermin besar yang memang di sediakan untuk para karyawan terutama yang bertugas sebagai pengantar makanan. Setiap hendak ke bagian depan semua harus benar-benar terlihat rapi. Setelah memastikan penampilannya sudah sempurna. Jasmine melanjutkan langkah menuju meja kasir. “Hay, Ver.” Sapa Jasmine pada Vera. “Eh.. hay. Baru sampai? Gimana? Udah kelar urusan loe sama rekan si bos itu?” tanya Vera. “Sudah kok.” Jawab Jasmine lesu membuat Vera menaikkan sebelah alisnya. “Kalau emang sudah kenapa tuh muka di tekuk kek kanebo kering.?” Cibir Vera. “Haah?! Mana ada.” Sahut Jasmine. “Hmm.. atau jangan-jangan loe nyesel ya?” goda Vera. “Nyesel?? Nyesel kenapa??” tukas Jasmine tak paham. “Nyesel karena udah cepet-cepet beresin masalah loe dengan dia. Padahal dalam hati loe masih pengen tuh berinteraksi dengan pria setampan dan sekaya dia.” Goda Vera dengan menaik turunkan kedua alisnya. “Ckk... loe tuh sama aja kaya dua manusia di sana.” Cibir Jasmine menunjuk ke arah Jerry dan Gita yang masih sibuk di samping freezer. Mendengar itu Vera langsung menoleh mengikuti arah yang di tunjukkan oleh Jasmine. Detik kemudian raut wajah Vera langsung berubah saat tahu siapa yang di maksud oleh Jasmine. Jasmine menyadari perubahan raut wajah Vera tapi dia memilih untuk diam. Sebenarnya antara Jerry dan Vera itu mempunyai rasa yang sama. Tapi, entah kenapa sampai sekarang rasa itu belum tersampaikan juga. Atau mungkin memang mereka sudah menjalin hubungan diam-diam. Hmmmm.... entahlah.. bukan urusan author. “Min!” panggil Tia dari arah lantai dua. Membuat Jasmine dan Vera menoleh ke arah sumber suara. “Baru dateng?” tanya Tia. “Ckk.. nggak ada pertanyaan lain apa yak ?” sungut Jasmine memutar bola matanya malas. “Lah ‘kan emang loe baru nongol di depan mata gue.” Balas Tia sewot. “Yayaya... gitu aja marah. Makin cantik tauk.” Goda Jasmine mencolek dagu Tia dengan mengedipkan sebelah matanya. “Hiiihh.. naj*s.” Keluh Tia mengusap bekas colekan Jasmine. “Ppffftt... Emang kenapa sih? Kangen?” tanya Jasmine. “Ckk... bukan gue, tapi noh si bos.” Celetuk Tia dengan menunjuk ke arah pintu ruangan Daffa yang tertutup rapat. “Bos? Kangen gue?.” Tanya Jasmine. “Hmm... udah sono temuin, siapa tahu dapat lamaran dadakan.” Jawab Tia. “Bilang aja kalau cemburu.” Goda Jasmine menaik turunkan alisnya. “Brisik.. udah sono.” Cetus Tia mendorong bahu Jasmine. Bukannya marah, Jasmine justru tertawa melihat reaksi Tia. Tia adalah salah satu fans fanatiknya Daffa. Dia suka sejak pertama kali masuk ke kafe ini hingga memutuskan melamar kerja disini. Katanya sih mau berjuang mendapatkan hati pangeran tampan. Jasmine berjalan menuju ke lantai dua tempat ruangan Daffa berada. Hatinya mulai was-was lagi, takut jika si bos akan membahas bahkan memarahinya lagi karena dia membuat keributan di kantor Roy tadi pagi. Sesampainya di depan pintu coklat milik bosnya, Jasmine tampak gelisah. Ragu untuk masuk, takut jika Daffa kecewa dengannya. Karena tak melaksanakan perintahnya dengan baik. Takut jika Daffa marah dan memecatnya. Dia harus mencari pekerjaan dimana lagi. Hanya kafe ini harapan satu-satunya Jasmine. Menghembuskan nafas panjang beberapa kali untuk meredamkan rasa cemasnya. Berdoa dalam hati semoga semua yang terjadi sesuai harapannya. Daffa memaafkannya, dan melupakan kesalahannya yang membuat keributan dengan rekannya. Tok.. tok.. tok.. “Masuk.” Deg, Mendengar sahutan dari dalam justru membuat Jasmine makin gerogi. Kembali menghembuskan nafas panjang kemudian mulai memegang handle pintu, memutarnya lalu mendorong pelan pintu tersebut. Di dalam Daffa yang sudah sejak satu jam yang lalu menunggu kedatangan Jasmine tampak berbinar saat mengetahui jika Jasmine sudah kembali ke kafe. Namun, hanya sesaat karena Daffa langsung sadar dan mengembalikan raut wajahnya seperti biasanya. “Maaf, Pak. Bapak memanggil saya?.” Ucap Jasmine. “Hmm.. Iya, silahkan masuk.” Jawab Daffa mempersilahkan Jasmine untuk duduk di kursi depan mejanya. Jasmine nurut, segera menarik kursi tersebut dan mendudukan pantatnya di sana. Wajahnya sedikit menunduk dengan kedua tangan yang saling meremas. “Bagaimana tentang yang saya perintahkan ke kamu tadi pagi? Sudah kamu lakukan dengan baik?” tanya Daffa setelah beberapa menit saling diam. “Hmm... sudah, Pak.” Jawab Jasmine tanpa berani menatap Daffa. “Sesuai perintah ‘kan?” tanya Daffa lagi. “Hmm.. Iya, Pak.” Jawab Jasmine sedikit gugup. “Tanpa keributan?” “I—iya, Pak.” “Bagus kalau begitu, Saya harap ini terakhir kalinya kamu melakukan kesalahan yang sama. Jangan mengulanginya lagi.” Ucap Daffa tegas. “Baik, Pak. Saya... saya minta maaf atas apa yang sudah saya lakukan.” Lirih Jasmine. “Iya.. sudah saya maafkan. Kamu boleh kembali bekerja.” Jawab Daffa. “Baik, Pak. Permisi.” Sahut Jasmine kemudian berdiri dan keluar dari ruangan tersebut. Meninggalkan Daffa yang menatap kepergian Jasmine. Lega karena masalahnya dengan Roy sudah selesai. Namun, Daffa tidak yakin jika Roy akan semudah itu melepaskan Jasmine.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม