kabar gembira

1079 คำ
Jasmine keluar dari ruangan dingin tersebut dengan hati lega. Sangat bersyukur karena apa yang dia takutkan tidak terjadi. Menghembuskan nafas sejenak dan melanjutkan langkahnya. Berharap jika semua sudah selesai. Masalah itu sudah kelar dan tak berkepanjangan. Berjalan menuju pantri dengan senyuman di wajahnya, membuat Jerry yang memperhatikannya sejak dia keluar dari ruangan Daffa tampak semakin penasaran. Meletakkan nampan di atas meja sampingnya lalu mendekati Jasmine yang kini tengah meneguk air bening yang dia ambil dari galon biru. “Min.” Panggil Jerry. “Ya?” Jawab Jasmine menghentikan minumnya dan menoleh ke arah sahabatnya tersebut. “Kenapa pak Daffa panggil loe? Masalah loe udah kelar ‘kan?” tanya Jerry menatap Jasmine yang justru tersenyum manis. Meneguk sisa air bening di gelas yang ada di tangannya. Kemudian meletakkan gelas itu ke meja. Tanpa mengurangi kadar manis di senyumannya, Jasmine menghela nafas sejenak. “Gue udah beresin semuanya, tadi pagi gue ke kantornya si Roy itu buat minta maaf. Dan tadi pak Daffa manggil gue, Cuma buat nanya apa gue sudah ngerjain apa yang dia suruh atau enggak. Loe tahu ‘kan gimana kecewanya pak Daffa saat gue bikin keributan tempo hari. Dan mau tak mau gue harus lakuin perintah pak Daffa.” Jelas Jasmine. “Terus?” ujar Jerry yang masih penasaran dengan cerita Jasmine. “Ya... gue ke sana. Awalnya dia gak mau nemuin gue, kata asistennya yang namanya hemm.. siapa ya? Hemm.... Reno ya Reno, dia bilang kalau bosnya lagi gak mau di ganggu. Tapi, gue maksa. Gue teriak-teriak dan bikin keributan di sana, dan akhirnya berhasil.” Lanjut Jasmine menampilkan senyum kemenangannya. “Dia turun atau loe yang di perbolehkan naik ke ruangannya. Soalnya kalau gak salah dia itu punya ruangan pribadi di lantai paling atas.” Sahut Jerry makin penasaran. Jasmine mendekat ke arah Jerry, “Dia jemput gue di lobi.” Bisik Jasmine. “Hah?! Beneran?” Pekik Jerry kaget. “Hmmm, (mengangguk). Awalnya gue kira dia bakal marah-marah seperti waktu itu. Eh tak tahunya dia malah jemput aku dan bawa aku ke lantai atas.” Jawab Jasmine. “Kalian berdua?? Di lantai atas?? Lantai pribadinya?? Ngapain??” tanya Jerry beruntun. Jasmine yang sadar dengan maksud dari pertanyaan Jerry tampak menatap ke arah Jerry dengan mata melotot. Detik kemudian, Jasmine reflek menginjak kaki Jerry membuat cowok bermata sipit itu meringis. Dukg.... “AW... sakit, Min.” Ringis Jerry mengangkat sebalah kakinya yang kini terasa nyut-nyutan karena kerasnya injakan Jasmine. “Biarin. Lagian kalo ngomong suka ngasal aja.” Sungut Jasmine. “Ngomong apa sih?” tanya Jerry. “Ngomong apa, ngomong apa.” Ucap Jasmine menirukan perkataan Jerry. “Dasar jomblo akut, pikirannya kotor mulu. Loe kira gue nggak tahu ke mana arah pertanyaan loe tadi?” Lanjut Jasmine dengan mulut maju beberapa mili. “Hmm???” sahut Jerry menatap heran ke arah Jasmine. Kalo soal peka pekaan Jerry memang rada kurang konect. “Gue emang bar-bar, gue tahu itu. Tapi, gue masih punya harga diri. Gue di bawa paksa sama dia ke ruangannya. Tapi di dalam sana gue sama dia gak ngapa-ngapain. Gue Cuma minta maaf sama dia nggak kurang dan nggak lebih.” Jawab Jasmine. Pikirannya pun kembali ke apa yang terjadi dengannya dan Roy di kantornya tadi pagi. Memikirkan betapa dekat jaraknya dan Roy saat dia terpepet ke tembok dan Roy meniup telinganya hingga membuat dia merinding. Tanpa sadar sudut bibir Jasmine terangkat. “Woy..” tegur Jerry mengagetkan Jasmine membuat dia sadar dari lamunannya. “Hayoo... loe lagi mikirin apa? Pakek senyum-senyum gak jelas gitu.” Goda Jerry menunjuk wajah Jasmine yang kini tampak merona karena terpergok memikirkan Roy. “Auk ah.. gue mau ke depan.” Sahut Jasmine kemudian berlalu meninggalkan Jerry yang kini menatap Jasmine dengan pikiran yang di penuhi tanda tanya. “Gue gak yakin sih kalau semua sudah selesai. Mustahil bagi seorang Royyano buat ngelepas orang yang sudah mempermalukan dia di depan umum segampang itu.” Gumam Jerry dengan terus menatap Jasmine yang kian menjauh. “Gue harap apa yang loe katakan barusan memang benar adanya, Min. Urusan loe dengan pria tak berperasaan itu benar-benar udah kelar.” Lanjut Jerry dalam hati. Setelah Jasmine sudah tak terlihat oleh matanya, Jerry mengambil cangkir dan mulai meracik kopi kesukaannya. Karena jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas siang, jam bebas untuk semua karyawan, makan minum di bebaskan di sini namun tidak boleh membawa pulang makanan dari kafe kecuali membayar. Semua di bebaskan Asal perkerjaan tidak terganggu. Jasmine kini memilih untuk berkumpul dengan karyawan lain di teras samping. Disana sudah ada Desi, Tia, Reva dan Dinda. sift pertama kini masuk waktu istirahat, sedangkan yang sekarang jaga adalah yang kebagian sift kedua. “Min, entar malam ikut ke mall yuk.” Ajak Desi saat melihat Jasmine yang mendekat ke arah mereka. “Kemana?” tanya Jasmine yang belum tahu apa yang teman-temannya bahas. “Ada bazar besar-besar di Mall ABC, ada penampilan dari model terkenal itu loh.” Jawab Desi semangat. “Model?” tanya Jasmine. “Hmmm...” sahut Desi mengangguk semangat. “Iya, model yang jadi idola loe sejak SMA dulu, Min. Siapa itu ya namanya. Lupa aku.” Imbuh Reva. “Zava Kirani Putri?” jawab Jasmine ikut berbinar. “Nah, Iya itu.” Seru Reva. “Emang beneran entar malam ya?” tanya Tia yang sedari menyimak pembicaraan teman-temannya. “Iya.. barusan ada brosur yang di sebar di depan kafe. Dan tanggalnya tanggal hari ini.” Sahut Desi memperlihatkan brosur yang dia dapat saat menyapu area parkir kafe. “Coba lihat!” seru Jasmine merebut brosur itu dan membacanya dengan wajah sumringah. Bagaimana tidak, sudah sejak kelas dua belas SMA dia mengidolakan seorang Zava Kirani Putri ini. Model cantik, baik, dan multi talenta. Orangnya pun ramah serta murah senyum. Membuat Jasmine semakin fanatik dengannya. Bahkan di kamar Jasmine banyak poster-poster foto Zava dengan berbagai pose. Dan sejak itu pun Jasmine selalu bermimpi agar bisa bertemu langsung dengan Zava, setidaknya bisa melihatnya secara langsung meski dari kejauhan. Makanya saat mendengar berita tentang penampilan Zava kali ini membuat Jasmine sangat bersemangat. “Fix.. gue ikut.” Seru Jasmine bersemangat. “Serius?” tanya Desi. “Hmm..” jawab Jasmine mengangguk semangat. “Oke.. entar gue jemput jam empat. Acaranya mulai jam setengah enam. Jadi kita datang lebih awal, biar dapat tempat di depan.” Ucap Desi berbinar. Desi pun sama, mengidolakan Zava sejak kelas dua belas. Dia udah sering lihat penampilan Zava di berbagai acara. Tapi pada dasarnya fans fanatik ya tidak ada kata puas. “Oke..”
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม