Ajakan

1412 คำ
Jarum penunjuk waktu yang senantiasa bertengger manis di dinding dekat pintu belakang tampak menunjuk ke arah angka tiga, itu berarti jam pulang bagi sift pertama sudah tiba. Semua yang ke jatah sift pertama tampak mulai berberes dan bersiap untuk pulang. Begitu pula dengan Jasmine, Desi, Reva dan Tia. Ke empat gadis tersebut kini sudah berada di depan loker masing-masing. Mengambil apa yang perlu di bawa pulang dan menyimpan apa yang tidak perlu di bawa. “Ver, loe bareng gue aja ya?” ajak Tia menatap ke arah Vera yang berdiri di tak jauh darinya. Vera menoleh, kemudian diam sejenak, “Hemm.. boleh aja sih, lagian Desi juga sama Jasmine ‘kan?” jawab Vera menatap ketiga temannya bergantian. “Iya, daripada Jasmine naik angkot ‘kan kelamaan, entar malah gak bisa dapat tempat terdepan dong.” Sahut Desi. Semua tampak mengangguk, memang hampir semua karyawan di kafe itu mempunyai kendaraan sendiri-sendiri, hanya Jasmine yang pakai angkot atau pun di antar jemput sama Sofia. Vera pun sama, tapi dia lebih sering bawa kendaraan sendiri dari pada antar jemput sama kakaknya. Setelah semua beres, ke empat gadis itu keluar beriringan. Saling tegur sapa saat bersimpangan dengan karyawan lain yang kini masuk sift dua. Membuat hubungan mereka semakin akrab. Sesampainya di tempat parkir, “Entar ketemu di perempatan dekat jembatan ya.” Ucap Desi sebelum mereka berpisah. “Oke.” Jawab Tia yang sudah nangkring di sepeda Matic Hitam miliknya. “Sip..” sahut Reva yang kini duduk di belakang Tia. “Bay.. “ Kemudian Tia melajukan motornya ke pinggir jalan dan langsung belok ke kiri, sedangkan Desi dan Jasmine masih bertahan di pinggir jalan depan kafe untuk menunggu jalan agak sepi untuk menyeberang. Arah rumah mereka berlawanan dengan Tia dan Vera. Setelah menunggu kurang lebih satu setengah menit, Motor yang tumpangi Desi dan Jasmine mulai meninggalkan area Kafe. Berjalan perlahan dengan terus mengawasi kanan kiri hingga berhasil menyeberang. ** Di tempat lain, Ponsel di atas meja depan teve tampak berdering sejak lima belas menit yang lalu. Namun, tak kunjung mendapat respons dari pemiliknya. Di layar yang menyala tersebut terlihat nama ‘Zava’. Tak berselang lama, benda pipih itu mati. Kemudian kembali berdering, namun kali ini gantian nama ‘MAMA’ yang tertera di sana. Tok! Tok! Tok! “Masuk.” Ceklek, pintu coklat itu terbuka perlahan. Detik kemudian tampak Reno dengan setelah jas rapi seperti biasa masuk dengan ponsel di tangannya. Roy hanya meliriknya sejenak, sudah faham apa yang akan terjadi setelahnya. Apalagi kalau bukan tentang mamanya yang meminta Roy untuk menemani Zava malam ini. “Maaf, Bos.” Ucap Reno setelah sampai di dekat Roy. “Hmm..” jawab Roy tanpa melihat Reno. “Ibu Anda ingin bicara dengan Anda, Bos.” Ucap Reno kemudian menyodorkan ponsel yang dia bawa ke depan Roy. Tak langsung menerima, bukannya tak ingin bicara dengan wanita yang sudah sangat berjasa dalam hidupnya. Tapi, dia malas karena tahu jika mamanya pasti membahas tentang dia yang harus menemani Zava ke acaranya malam ini. Menghembuskan nafas panjang. Kemudian meraih ponsel yang di sodorkan oleh Reno. Memang tampak di layar itu ada nama mamanya dengan angka yang terus bergulir di bawahnya. Jelas sang mama sudah menunggunya untuk bicara. “Halo.” Ucap Roy setelah ponsel itu menempel sempurna di telinga kirinya. “Halo, Roy. Kamu ke mana aja sih? Mama telepon dari tadi kok gak di angkat. Zava telepon juga gak kamu respons.” Cecar Miya. “Maaf, Ma.” Jawab Roy singkat. “Hmm.. kamu sekarang di mana? Kamu nggak lupa ‘kan kalau malam ini Zava ada acara di Mall ABC.” Tanya Miya sekaligus memperingatkan Roy. “Hmm..” jawab Roy malas. “Ingat ya. Kamu harus temani Zava. Dia itu calon istri kamu.” perintah Miya. “Aku sibuk, Ma. Ada meeting penting malam ini.” Jawab Roy, sontak membuat Reno yang setia berada di samping kini tampak mengerutkan keningnya. Jelas, dia bingung karena seingatnya Roy meminta dia untuk mengosongkan jadwal hingga dua hari ke depan. “Meeting apa? Kan ada Reno. Suruh dia gantiin kamu.” Ucap Miya. “Tapi, Ma—“ “Udah.. mama nggak mau tahu, kamu harus temani Zava malam ini. Nggak terima alasan apa pun.” Putus Miya kemudian mematikan telepon sepihak. Tut... tut... tut... Roy menjauhkan ponsel itu dari telinganya, menatap layar tipis yang kini sudah berganti dengan gambar susunan tata surya. Detik kemudian tampak Roy menghela nafas lelah, lebih lelah dari pada seharian keliling proyek. Menyodorkan ponsel itu ke Reno dan langsung di terima oleh si asisten. Mengusap wajahnya kasar dan menghempaskan tubuhnya ke sandaran sofa. “Ada yang bisa saya bantu, Bos?” tanya Reno yang tahu tentang apa yang di pikirkan oleh Roy saat ini. Roy tak langsung merespons, hanya diam dengan mata yang terpejam untuk beberapa detik. Hingga kemudian dia kembali membuka matanya, menatap ke arah Reni yang menunggu perintahnya. “Kamu hubungi Zava. Suruh dia berangkat sendiri nanti bertemu di sana.” Ucap Roy setengah nggak ikhlas. “Baik, Bos. Saya permisi.” Jawab Reno, kemudian berlalu meninggalkan Roy yang masih bertahan dalam posisinya. Pandangannya kini beralih ke plafon di atasnya. Menatap lampu gantung yang tampak cantik jika di lihat dari bawah. Saat pikirannya larut mendalami keindahan lampu itu, tiba-tiba terlihat bayangan wajah manis Jasmine di setiap bola lampu yang kini menyala terang tapi tak menyilaukan mata. Wajah Jasmine tampak tersenyum ke arahnya dengan pipi tembam yang merona alami. Wajah mulus tanpa jerawat serta poni yang hampir menutupi matanya membuat wajahnya semakin menggemaskan bagi Roy. Apalagi saat Jasmine marah-marah dengan mata melotot, membuat cantiknya bertambah. Beberapa detik kemudian, Kening Roy tampak Berkerut saat mengingat sesuatu tentang Jasmine. ‘Mengidolakan seorang Zava Kirani Putri sejak kelas dua belas dan menjadi fans fanatik sejak awal masuk kuliah.’ Kini gantian sudut bibirnya yang terangkat. “Tunggu aku di sana. Sebentar lagi kita pasti bertemu, kucing liar.” Gumam Roy, kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah kamar mandi untuk bersiap-siap. Sementara itu, Zava yang kini berada di kediaman Erza tampak tersenyum bahagia sldi samping tuan rumah. Begitu pula dengan Miya yang tampak sangat senang saat Zava berkunjung ke kediamannya. Bagaimana tidak, Zava adalah seorang model terkenal yang kini tengah dekat dengan anak laki-laki satu-satunya di keluarga ini. “Bagaimana, Tante? Roy bisa ‘kan temenin aku?” tanya Zava dengan wajah semanis mungkin. “Bisa dong, Sayang. Dan harus bisa. Kamu ‘kan calon istrinya.” Jawab Miya membelai rambut panjang Zava penuh sayang. “Terima kasih, Tante.” Ucap Zava memeluk Miya manja. “Sama-sama, Sayang.” Jawab Miya membalas pelukan Zava tak kalah erat sambil mengusap punggung gadis cantik itu. “Kalau begitu, Zava siap-siap dulu ya, Tante.” Ucap Zava setelah melepas pelukannya. “Ya udah. Kamu siap-siap dan semoga sukses acaranya.” Jawab Miya tersenyum hangat. “Iya, Tante. Terima kasih.” “Sama-sama.” Zava pun keluar dari rumah mewah berlantai tiga tersebut, dengan di antar oleh Miya sampai depan pintu. Cipika cipiki ala wanita sosialita zaman sekarang, kemudian Zava mulai masuk ke dalam mobil kesayangannya. Tepat sebelum mobil putih itu berjalan keluar dari halaman kediaman keluarga terpandang itu, tampak Zava membuka sedikit kaca mobilnya dan melambaikan tangan ke arah Miya. Setelah mobil yang di tumpangi Zava tak terlihat lagi, Miya baru masuk ke dalam rumah dengan senyum bahagia di bibirnya. Ini adalah salah satu usaha dia untuk mendekatkan Zava dengan Roy anak kesayangannya. Dia ingin segera melihat Roy menikah dan mempunyai anak. Karena teman-temannya sudah memiliki cucu, sedangkan dia menantu aja belum ada. Di dalam mobil, Ting! Ada pesan masuk ke dalam ponsel Zava yang berada di tas miliknya. Dengan hati-hati dan sesekali menatap ke arah depan untuk memastikan dia tidak menabrak, Zava merogoh ponselnya dan membuka pesan yang baru masuk. “Reno?!” Gumam Zava saat melihat nama kontak si pengirim. Tak menunggu lagi, Zava langsung membukanya, berharap dia mendapat kabar baik. ‘RENO’ 15:34 [Selamat sore. Maaf saya mewakili pak Roy untuk menyampaikan perihal ajakan untuk menghadiri acara di Mall ABC. Pak Roy meminta anda untuk berangkat lebih dulu dan bertemu di tempat diselenggarakannya acara. Terima kasih] Membaca pesan dari Reno membuat Zava menaikkan kedua alisnya. Ada rasa senang saat mengetahui jika Roy bersedia menemaninya di acaranya nanti malam. Meskipun dia sedikit merasa kecewa saat Roy memintanya untuk berangkat sendiri-sendiri. “Huuufftt... gak papa lah. Yang penting Roy mau nemenin aku. Biar semua orang tahu kalau seorang Zava Kirani Putri adalah calon istri dari Pengusaha muda terkaya dan tersukses di negri ini.” Ucap Zava dengan senyum senangnya.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม