Mall

1547 คำ
Kring... Ponsel di dalam tas berdering, membuat Jasmine yang sudah siap untuk pergi kini mendekat ke tas miliknya yang berada di atas ranjang. ‘Dessi’ itulah nama yang tertera di sana. “Halo, Des.” Ucap Jasmine. “Halo, Min. Gue udah di depan gang rumah loe nih. Loe ke depan ya, gue nggak enak nglewatin emak-emak yang lagi pada ngumpul.” Jawab Desi di sebrang sana. “Oh.. oke, gue ke depan sekarang.” “Oke, buruan. Anak-anak udah nungguin.” “Iyaa..” Panggilan itu pun terputus, segera Jasmine memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas dan keluar dari kamarnya. Mencari sang ibu untuk berpamitan, sebenarnya sudah pamit pas habis mandi tadi yang kebetulan Wati (ibunya Jasmine) tengah berada di dapur. Tapi dia tetap pamit sebelum berangkat ke mana pun itu. “Ibu.” Panggil Jasmine saat melihat sang ibu yang tengah memotong bawang di dapur. Wati menoleh kemudian tersenyum melihat anak gadisnya yang sudah rapi dan terluhat cantik. “Berangkat sekarang, Nak?” tanya Wati. “Iya, Bu. Sudah di tunggu teman di depan.” Jawab Jasmine sambil berjalan mendekat ke ibunya dan mengulurkan tangannya. “Loh.. kok gak mampir ?” tanya Wati menerima uluran tangan Jasmine. Jasmine tersenyum dan mencium punggung tangan Wati. “Enggak, Bu. Katanya nggak enak kalu lewati ibu-ibu yang biasa kumpul di depan rumah bu Sita.” Jawab Jasmine “Oh.. iya sudah. Kamu hati-hati ya. Jangan pulang larut malam.” Pesan Wati tegas. “Iya, Bu. Assalamualaikum.” “Waailaikumsalam.” ** Di tempat lain, Tia dan Vera sudah sampai di tempat yang dimaksud Desi untuk berkumpul. Tempat yang memang persimpangan antara rumah Jasmine dan Vera. Kurang lebih lima menit kemudian, Desi dan Jasmine tiba. Tanpa menunggu lagi mereka berempat langsung meninggalkan tempat tersebut menuju Mall ABC yang berada di tengah kota. Butuh waktu sekitar lima belas hingga dua puluh menit bagi mereka untuk sampai di tempat tujuan. Apalagi weekend seperti ini, otomatis bakalan macet. Di tambah banyak kendaraan yang satu tujuan dengan mereka. Membuat hampir sepanjang jalan mereka terjebak macet. Namun, karena kedua gadis yang bagian nyetir itu sudah hafal jalan mereka bisa menyalip dan menerobos kemacetan dengan gampang. Tujuh belas menit kemudian, Kedua motor matic yang di tumpangi empat gadis itu memasuki area Mall menuju tempat parkir khusus roda dua. Setelah terparkir dengan baik dan tak lupa untuk double kunci, Jasmine dan teman-temannya segera masuk ke dalam Mall lewat pintu utama. Suasana di dalam sudah tampak ramai, sebagian besar datang karena ingin melihat acara yang di selenggarakan oleh salah satu stasiun televisi yang menghadirkan model Cantik terkenal di negeri ini. Siapa lagi kalau bukan Zava. Fansnya yang berjibun membuat dia semakin tenar dengan segala prestasi yang dia dapat dari berbagai event. Permodelan, tarik suara bahkan dia juga salah satu atlet renang yang sukses membawa pulang medali emas tahun kemarin membuat fansnya semakin mengidolakan sosok Zava. Termasuk juga ke empat gadis yang kini sudah bersiap di tempat paling nyaman dan dekat dengan sang idola. "Wiiihh... Gede banget panggungnya.. " Seru Desi heboh menatap panggung di depannya yang sudah mulai ramai dengan menonton. "Gila... Ini bener-bener pertunjukan yang paling heboh dan besar yang pernah gue datangin. Kereeeenn.... " sahut Tia yang berdiri di samping Desi. "Nggak bakal nyesel gue rogoh dompet dalem-dalem kalau acara sekeren dan semegah ini. " Balas Desi dan di angguki oleh ketiga temannya. Kemudian ke empat gadis tersebut berjalan menuju depan panggung biar semakin dekat dan jelas saat idola mereka keluar nanti. Bukan hanya kalangan muda yang meluangkan waktunya dan rela desak-desakan di acara tersebut. Bahkan, banyak yang dari kalangan orang tua yang tampak mengisi berbagai titik di depan dan di samping panggung utama. Ada juga yang memilih melihat dari lantai atas agar lebih jelas dan tak terlalu berdesak-desakan dengan penonton lain. "Eh, Min. Anterin ke kamar mandi dulu yuk?! " Ajak Vera memegang lengan Jasmine. "Busyet dah. Ini acara udah mau mulai loh, Ver. " jawab Jasmine. "Yaahh... Kebelet nih, tadi kan belum kerasa. Daripada ngompol di sini." Rengek Vera menggoyangkan kakinya. Mau tak mau teman-temannya yang tadi sempat sedikit cemberut kini justru sama-sama menahan tawa melihat kelakuan Vera. "Malah ketawa.. Ayok laahh... " cetus Vera kemudian menarik tangan Jasmine keluar dari kerumunan menuju toilet khusus wanita yang tak jauh dari panggung utama. "Eh... Eh... Pelan woy. " pekik Jasmine yang terkejut karena tiba-tiba di tarik oleh Vera. Namun, tak di gubris oleh Vera yang memang sudah kebelet. Kembali berdesakan dengan penonton lain yang sudah memenuhi tempat yang di sediakan oleh panitia penyelenggara. Awalnya ragu, tapi Vera terus memaksa agar Jasmine menemaninya ke toilet. Mau tak mau Jasmine ngikut. Berharap mereka bisa kembali ke tempat semula, bergabung dengan Tia juga Desi yang sudah mendapat tempat di bagian depan. “Gue tunggu sini aja ya.” Ucap Jasmine saat mereka sudah sampai di depan toilet. “Hmm..” jawab Vera kemudian berlari ke dalam toilet. Sambil menunggu Vera selesai dari toilet, Jasmine memilih untuk merogoh ponselnya dari dalam tas kecil miliknya. Kemudian bersandar di dinding dekat pintu toilet. Mengusap-usap layar tipis tersebut untuk membuka kunci layarnya. Kemudian mencari ikon yang ingin dia buka lebih dulu. Ikon dengan latar warna hijau menjadi pilihannya. Terdapat dua ratus lima pesan dari empat belas chat di sana yang belum Jasmine baca. Empat di antaranya dari grub SMA dan karyawan kafe tempat dia bekerja. Sedangkan yang lain adalah pesan dari teman-teman kampusnya. Jasmin terus menggulir layar berbackground hitam tersebut sampai tepat ke chat paling bawah, di sana tertera nama ‘Mr. Darwis’ salah satu dosen di kampusnya. Mr. Darwis 15:45 [Jasmine, tolong cek file yang saya kirim. Kalau sudah segera kirim ke saya, paling lama minggu depan. Sebagai hukuman karena beberapa hari lalu kamu tidak masuk jam kuliah saya ] Mata Jasmine sedikit melotot membaca pesan dosennya tersebut. Mendadak memberi tugas padahal hanya absen satu hari. Penasaran dengan tugas yang diberikan oleh guru galak itu, Jasmine membuka file yang dia terima melalui email. Beberapa detik kemudian kedua matanya membola saat mengetahui file apa dan berapa yang harus dia kerjakan. “What?!” pekik Jasmine sontak membuat Vera yang kebetulan baru keluar dari kamar mandi kaget dan hampir jatuh. “AHH..!!” pekik Vera. “Apaan sih, Min. Ngagetin aja.” Sungut Vera sambil mengelus daddanya yang masih berdebar. “Eh.. eh.. sorry, Ver. Gue nggak tahu kalo loe udah kelar.” Ucap Jasmine nyengir. “Emang loe lihat apa, Sih? Yulkan Merxat? Heboh banget.” Tanya Vera penasaran. “Ini lebih mencengangkan dari pada gue ketemu dan di ajak kencan sama si ganteng itu.” Jawab Jasmine. “Hmm??!” Sahut Vera menaikkan kedua alisnya. “Emang apaan?” tanya Vera mendekat ke arah Jasmine yang kembali menatap ke layar ponselnya. Jasmine yang di tanya pun tampak menghela nafas panjang, kemudian mengarahkan layar ponsel itu ke depan wajah Vera, membuat Vera menyipitkan matanya karena ponsel Jasmine terlalu dekat dengan wajahnya. “Ihh... nggak kelihatan Jaenaabb...” Ucap Vera gemas dengan menjauhkan ponsel Jasmine dari wajahnya. Beberapa detik kemudian, Vera menatap layar ponsel itu dengan kening yang berkerut. Sesekali dia menatap ke arah Jasmine yang masih menekuk wajahnya. “Tuh muka kenapa lagi? Orang Cuma di suruh cek email aja kok sampek nekuk wajah berkali lipat gitu.” Cibir Vera kemudian mengembalikan ponsel Jasmine. “Ngomong aja enak.” Cetus Jasmine memutar bola matanya. “Emang file apa sih?” tanya Vera kemudian. “Nih... “ jawab Jasmine kembali menunjukkan deretan huruf di layar ponselnya. Bukan hanya satu tapi ada tujuh file yang di kirim oleh dosen galaknya tadi. Yang membuat mereka berdua tercengang, bahwa itu adalah file yang menjadi tanggung jawab para dosen. Dan kini harus di kerjakan oleh Jasmine seorang diri sebagai hukuman tidak masuk beberapa hari yang lalu. “Gila tuh dosen, hukumannya sad*s amat yak?” ucap Vera. “Hmm.. dan semua ini gara-gara dugong kutub si*lan itu. Awas aja kalau ketemu, bakal gue kasih perhitungan.” Sungut Jasmine emosi mengingat apa yang sudah membuatnya telat masuk kuliah hari itu dan memutuskan untuk tidak masuk sekalian dan langsung ke kafe. “Udah lah.. lupain dulu masalah loe itu. Sekarang mending kita kembali ke anak-anak keburu makin rame dan nggak bisa nemuin mereka berdua.” Ajak Vera. Mendengar ajakan Vera membuat Jasmine ingat tujuan dia ke tempat ini, yaitu untuk mencari hiburan dan berharap bisa bertemu dengan idolanya. Menghela nafas beberapa kali untuk menormalkan emosinya yang sempat tersulut karena mengingat tentang awal mula pertemuannya dengan Roy. Setelah merasa lebih baik, Jasmine menatap ke arah Vera yang masih menunggunya meredam emosi. Tersenyum dan mengangguk, kemudian mereka berjalan menuju tempat kedua temannya tadi. Dan benar saja, kini semua tempat sudah penuh dengan penonton yang saling berdesakan untuk bisa melihat idolanya dari dekat. Vera dan Jasmine berhenti sejenak, melongok ke arah kerumunan untuk mencari keberadaan Desi dan Tia. Beberapa detik kemudian Vera tampak melambaikan tangannya saat melihat keberadaan kedua temannya yang kini sudah berada tepat di depan panggung. “Min, tuh mereka.” Ucap Vera menunjuk ke arah Desi dan Tia yang juga menatap ke arahnya. Tanpa menunggu lagi, kedua gadis itu menerobos kerumunan tanpa peduli cibiran dari mereka yang di serobot tempatnya. Bagi Jasmine yang memang fans fanatiknya Zava, sudah biasa dengan kata-kata kasar yang di ungkapkan oleh fans lain yang tak terima karena wajah Jasmine ada kemiripan dengan artis idola mereka. Padahal status sosial mereka berdua jauh beda.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม