Di Salah satu ruangan, Zava yang sudah siap dengan gaun yang sangat cantik dan pas di tubuhnya kini tampak tengah di rias oleh salah satu MUA yang sudah menjadi kepercayaannya untuk membantu merias dirinya di berbagai acara. MUA yang bernama ‘Lovely Beauty’ itu tampak lihai dalam mempercantik dan membuat aura keartisan seorang Zava semakin bersinar.
Wajah yang memang sudah cantik dari lahir serta make up yang natural membuat kecantikan Zava semakin meningkat. Banyak artis lain yang secara terang-terangan memuji kecantikan Zava. Bahkan, mereka tanpa canggung atau pun malu. Mendatangi Zava untuk meminta resep agar kulit serta wajahnya seperti Zava. Putih, bersih, mulus dan glowing
Tok! Tok! Tok!
Ketukan pintu di membuat Zava beserta asistennya menoleh. Kemudian pintu tersebut terbuka menampilkan seorang laki-laki dengan baju serba hitam dengan name tag di kantung sebelah kiri serta sebuah alat komunikasi berbentuk kotak hitam berantena di tangan kirinya masuk ke dalam ruangan tersebut.
“Hmm.. maaf, mbak Zava sudah siap?” tanya laki-laki tersebut
“Sudah.” Jawab sang MUA.
“Kalau begitu silakan, sebentar lagi anda naik.” Sahut laki-laki tadi.
“Baik.” Jawab Zava kemudian beranjak dari kursi make upnya dan berjalan keluar ruangan dengan di dampingi oleh asistennya.
Giana adalah nama asisten Zava yang sudah bekerja dengannya selama lima tahun terakhir. Dia adalah sahabat masa kecil Zava dan salah satu orang yang selalu mendukung tentang hobby dan bakat Zava yang sangat banyak. Apalagi, Zava adalah gadis yang baik, dan sangat perhatian dengan orang di sekelilingnya. Tak hanya itu Zava juga tak pernah membedakan status sosial seseorang.
Berjalan beriringan melewati lorong-lorong panjang menuju panggung yang sudah penuh dengan penonton di sekitarnya. Sayup-sayup terdengar suara pembaca acara yang sangat bersemangat membawakan acara di malam ini. Di balas sorakan para penonton yang juga ymtak kalah semangatnya menanti para bintang tamu yang mengisi acara ini.
“Gi, apa Roy sudah datang?” tanya Zava menatap sejenak ke arah asistennya.
“Roy??” tanya Giana menoleh ke arah Zava yang kini mengangguk membalas pertanyaan Giana.
“Kayaknya belum deh, belum lihat dari tadi.” Sambung Giana melihat sekelilingnya.
“Menurut loe. Dia bakal datang nggak ya?” tanya Zava mengutarakan kegelisahannya.
“Entahlah.” Jawab Giana menaikkan kedua bahunya.
Dia pun ragu kalau seorang Roy mau datang ke tempat acara yang tak ada hubungannya dengan pekerjaannya. Apalagi hanya untuk menemani Zava, meskipun status mereka sudah pacaran. Giana pun tahu tentang hubungan Zava dan Roy yang berlandaskan keterpaksaan dari pihak Roy yang memang tak pernah mau membantah perintah mamanya termasuk menerima Zava sebagai pacarnya meski hanya status tanpa melibatkan hati. Sedangkan Zava yang memang sudah menyukai sosok Roy dengan hati dia menerima permintaan Jeny Erza (mamanya Roy) untuk menjadi pacar anaknya dan berharap mereka bisa menjalin hubungan hingga ke pernikahan.
Giana sudah sering kali mengingatkan Zava agar tidak terlalu menyertakan hati dalam hubungannya dengan Roy. Tapi, selalu tak di gubris oleh artis cantik itu. Dia terus memuja Roy bahkan pernah mengutarakan hubungannya di depan awak media saat ada wawancara. Awalnya Roy marah dan mengancam akan menghancurkan karir Zava, karena sejak pengakuan Zava waktu itu, dia di buat risih karena dimana pun dia berada pasti di ikuti dan di liput oleh wartawan.
Zava pun takut dan meminta maaf ke Roy. Hingga akhirnya Zava mengklarifikasikan soal pernyataannya itu ke awak media kalau dia sangat mengagumi sosok Roy sejak kecil sebab mereka dulu teman sepermainan di waktu kecil. Dan dari situlah, isu serta gosib yang bertebaran mengenai hubungan keduanya mulai mereda.
Giana sempat memergoki Zava yang mengigau memanggil-manggil nama Roy saat dia demam karena terlalu takut jika Roy membencinya. Giana yang kasihan terhadap sahabatnya itu, memutuskan untuk menemui Roy di kantornya. Awalnya, Roy tidak mau menemui Giana karena masih kesal dengan kelakuan Zava, tapi dengan sabar Giana menunggu Roy hingga akhirnya mereka bisa mengobrol tentang keadaan Zava pasca Roy mengancamnya.
Meskipun dengan wajah yang sangat dingin dan dengan ancaman yang terus di lontarkan oleh Roy. Akhirnya Roy mau memaafkan Zava asal dia tidak lagi mengganggu kehidupan pribadinya dengan dunia Zava sebagai artis. Seperti sekarang ini, dia yakin Roy tak akan datang ke acara seperti ini yang jelas akan banyak wartawan di dalamnya.
Karena terlalu sibuk dengan pikirannya masing-masing, kini kedua sudah sampai tepat di belakang panggung. Terlihat Zava mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, apalagi kalau bukan mencari sang pujaan hati. Namun, nihil sama sekali tak ada tanda-tanda kehadiran Roy di sana membuat Zava menghela nafas lesu.
“Sudah siap semuanyaa?!” ucap si pembawa acara di balas sorakan gembira oleh penonton yang nampak semangat menyambut kedatangan sang idola.
“Kalau begitu, mari kita sambut bintang tamu spesial kita! Zava Kirani Putri!!” panggil pembawa acara itu semangat dengan tangan yang di ulurkan ke pojok kanan panggung bagian belakang yang menjadi pintu naik ke panggung utama.
“Va,!” tegur Giana menyadarkan Zava yang masih larut dalam pikirannya.
“Ya?!” sahut Zava menoleh ke arah Giana yang berdiri di sampingnya.
“Udah di panggil tuh. Buruan naik.” Ucap Giana menunjuk ke arah atas panggung dengan dagunya.
“Hmm... oke..” jawab Zava kemudian mulai naik tangga di depannya.
Sementara Giana nampak terus menatap ke arah Zava yang mulai menaiki tangga kecil itu satu persatu dengan pikiran yang masih tak bisa berpindah dari nasib hubungan Zava dan juga Roy. Dia takut, jika Roy tak dapat membalas rasa cinta Zava yang begitu besar untuknya sedangkan Zava terlalu terobsesi dengan pria dingin itu. Apalagi Zava mempunyai sifat Ambisius yang begitu besar pada hal apa pun itu.
Setelah Zava berada di tengah panggung dengan si pembawa acara, Giana memilih untuk mencari tahu tentang Roy. Apakah dia datang ke acara tersebut atau tidak.
Di atas panggung, Zava sudah di sambut meriah oleh semua penonton yang sedari tadi menunggunya. Senyumnya mengembang sempurna menatap ke segala arah, tepatnya tersenyum ke arah penggemarnya yang kini meneriaki namanya.
Zava!
Zava!
Zava!
“Waahh.. ini dia, yang sudah kita tunggu-tunggu.” Ucap si pembawa acara menyambut kedatangan Zava. “Bagaimana kabarnya, Say?” sambungnya.
“Sangat baik, apalagi bisa hadir di acara sekeren ini.” Jawab Zava tersenyum senang.
“Wah.. wah.. wah.. memang top banget ya.” Sahut pembawa acara itu. “Mau menyapa penggemarmu yang sudah setia menunggumu dari tadi sore?” sambungnya menatap ke arah penonton.
“Dengan senang hati.” Jawab Zava kemudian menatap ke depan dan melambaikan tangan ke seluruh penggemarnya. “Selamat malam semuanya. Senang bisa bertemu kalian malam ini.” Sapa Zava menatap sekelilingnya.
Hingga tiba-tiba pandangannya berhenti pada satu titik, yang membuat hatinya mendadak berdetak dengan begitu kencang. Hingga beberapa detik dia terus memfokusnya pandangannya ke arah tersebut. Sampai suara si pembawa acara mengalihkan fokusnya.
***
Di tempat lain,
Roy yang tengah mengendarai mobil kesayangannya tampak sangat menikmati alunan musik yang menemaninya kali ini. Dangdut, itulah genre yang saat ini dia putar. Bukan hobby namun hanya sekedar menjadi teman untuknya kali ini. Hingga tiba-tiba dia melihat sosok wanita paruh baya yang berjalan sempoyongan tak jauh dari posisi dia saat ini. Matanya menyipit untuk memperjelas penglihatannya, karena merasa tak asing dengan wajah wanita tersebut.
Beberapa detik kemudian, wanita itu jatuh pingsan membuat Roy segera menepikan mobilnya dan menghampiri si wanita. Karena cuaca sedang mendung gelap dan juga sudah mulai gerimis, Roy langsung membopong wanita tersebut masuk ke dalam mobilnya. Meletakkan di kursi belakang dan membuat posisinya senyaman mungkin. Sejenak Roy memperhatikan wajah pucat di depannya. Merasa yakin kalau dia pernah melihat wajah ini, tapi tak ingat di mana tempatnya.
Hujan semakin deras, Roy harus segera membawa wanita itu ke rumah sakit karena takut dia kenapa-kenapa. Menutup pintu belakang kemudian memutari mobil untuk masuk ke pintu kemudi. Tak berselang lama, mobil hitam tersebut perlahan meninggalkan tempat menuju rumah sakit terdekat.
Dan asal kalian tahu, ini adalah pertama kalinya dia menolong orang. Karena sepanjang hidupnya Roy terkenal tak pernah peduli dengan sekitar. Dia hanya peduli dengan pekerjaan dan bisnis. Hingga sampai usianya yang hampir memasuki usia tiga puluh tahun, dia belum bisa membuka hati untuk wanita. Apalagi jatuh cinta? Hal yang siapa pun tak percaya jika sampai Roy mengalami fase itu.
Roy sendiri sempat bingung, kenapa dia tak bisa tertarik dengan makhluk bernama wanita. Hingga pernah suatu hari Roy mendatangi dokter spesialis untuk menanyakan apa dia normal atau tidak sebagai seorang laki-laki. Dan hasilnya pun mengatakan kalau dia ‘100% NORMAL’. Berdasarkan hasil tes itu, Roy sekarang berbuat sesukanya dalam urusan menjalin hubungan dengan wanita. Dia yakin kalau dia benar-benar normal dan suatu saat pasti bertemu dengan wanita yang sesuai kriterianya.
Dan untuk soal Zava, dia hanya menuruti keinginan mamanya. Tidak pernah memakai hatinya untuk segala urusan dengan wanita cantik dan sexy itu. Dia juga sudah bicara soal itu ke Zava, apa pun yang terjadi di antara mereka tak ada rasa apa pun.