Rumah Sakit

1735 คำ
Setelah menempuh jarak dan waktu sekitar sepuluh menit, mobil hitam mewah itu mulai memasuki area rumah sakit dan langsung menuju depan ruang UGD. Perawat yang bertugas di depan ruangan tersebut tampak langsung mendekat dengan membawa brankar yang sudah tersedia di samping pintu masuk. Karena tak ingin ada yang tahu jika dia adalah Roy si pengusaha muda terkaya yang terkenal tak punya perasaan, Roy memutuskan untuk turun dari mobilnya dengan menggunakan topi serta masker guna menutupi identitasnya. Tak lupa dia juga melepas jas miliknya menyisakan kemeja biru navy yang sedikit basah. Merasa sudah cukup menyamarkan identitasnya, Roy turun dari mobilnya untuk membuka pintu belakang, agar wanita yang di tolong di pinggir jalan tadi segera mendapat penanganan. Di samping mobil Roy sudah ada dua perawat yang membawa brankar. Tanpa menunggu lagi, Roy membuka pintu belakang mobilnya dan memindahkan wanita itu ke atas brankar yang kemudian langsung di bawa menuju ke dalam ruangan. “Permisi, apa yang terjadi, Pak.” Tanya dokter jaga yang menghampiri Roy di depan ruangan di mana wanita yang dia tolong itu di bawa. “Saya nggak tahu apa yang terjadi padanya, tadi saya temukan dia pingsan di pinggir jalan dan langsung saya bawa ke sini.” Jawab Roy tegas. “Baiklah, kalau begitu saya akan coba periksa dulu.” Sahut sang dokter kemudian masuk ke dalam ruangan di depannya. Dengan wajah yang di tutup topi dan masker, Roy nampak sedikit terganggu dengan kilatan wajah wanita yang dia tolong tersebut. Wajahnya tak asing, tapi dia tidak bisa mengingat siapa wanita itu. Kring..!! Terdengar deringan dari panggilan masuk ke ponsel yang berada di saku celananya. Membuat Roy sadar dari lamunannya. Merogoh ponsel tersebut dan membukanya. Tertera nama ‘MAMA’ di sana, membuat Roy menghela nafas panjang. “Ya, Ma.” Ucap Roy setelah menggeser tombol hijau yang bergerak-gerak di ponselnya. “Roy, kamu dimana? Sudah sampai di acaranya Zava ‘kan.?” Tanya Jeny di sebrang sana. “Belum, Ma. Roy ada urusan sebentar.” Jawab Roy. “Urusan apa sih? Kasian loh si Zava. Dia cantik banget hari ini, kamu harus temani dia.” Sahut Jeny yang tampaknya tengah melihat siaran langsung acara yang di hadiri oleh Zava. “Iya, Ma.” Jawab Roy malas. “Awas ya kalau kamu gak datang ke acara itu.” Ucap Jeny mewanti-wanti Roy. “Hmm..” “Ya udah kalau gitu, cepat selesaikan urusanmu dan segera temui Zava.” “Iya.” Tuut... Panggilan tersebut terputus bersamaan dengan terbukanya pintu di sampingnya. Detik kemudian dokter yang tadi mengajaknya mengobrol keluar dari ruangan tersebut. Memvuat Roy segera mendekat. “Bagaimana keadaannya, Dok?” tanya Roy. “Syukurlah, kondisi ibu Wati sudah mulai stabil dan sekarang beliau sudah sadar. Untung anda segera membawanya kemari, kalau tidak mungkin keadaannya akan jauh berbeda.” Jawab Dokter dengan nama pengenal ‘Dr. Raina’ itu. “Ibu Wati?” tanya Roy. “Iya, wanita yang anda bawa selamatkan tadi adalah pasien kami. Dia memang mempunyai sakit yang setiap bulan harus cuci darah. Sebenarnya dua hari yang lalu adalah jadwalnya untuk melakukan cuci darah. Tapi, karena keterbatasan biaya beliau menundanya.” Jelas dokter Raina. “Emang ke mana anak-anaknya?” “Beliau hanya punya seorang putri, dia juga yang menjadi tulang punggung keluarga setelah suami bu Wati meninggal dua tahun yang lalu.” “Putrinya jadi tulang punggung keluarga?” “Iya.. dia yang mencari biaya untuk pengobatan sang ibu.” Mendengar penjelasan dari dokter tersebut membuat pikiran Roy tertuju ke gadis yang beberapa hari ini sedikit mengusik pikirannya. Jasmine, penjelasan dokter tersebut sama persis dengan data yang di berikan oleh Reno kepadanya tentang Jasmine. “Kalau begitu, saya permisi.” Pamit dokter Raina. “Hmm.. silahkan.” Jawab Roy. Sepeninggal dokter Raina, Roy kembali mengingat tentang Jasmine dan menghubungkannya dengan penjelasan dokter tadi. Benar-benar mirip. ‘Apa mungkin ibu ini, ibu gadis cerewet itu?’ batin Roy menerka-nerka. Dan baru kali ini otaknya di paksa mikir di luar urusan kantor. Apalagi dia memikirkan hal yang sangat sangat jauh dari kebiasaannya. Dan tanpa sadar dia menghabiskan waktu hingga lima belas menit hanya untuk mengaitkan dua hal tersebut. Kemudian dia tersadar dari lamunannya saat terdengar suara pasien lain yang baru saja datang di antar keluarganya. Namun, pasien tersebut tidak masuk ke dalam ruangan UGD. Melainkan menuju ruang lain yang berada di ujung lorong. Sejenak Roy dapat melihat jika pasien tersebut merupakan wanita hamil yang kemungkinan segera melahirkan. Dan dengan tiba-tiba Roy melihat sekelebat bayangan sepasang suami istri yang tengah berjalan dengan si istri yang hamil tua sedangkan suami membantu istrinya berjalan perlahan menuju ruang bersalin. Yang anehnya, di bayangan tersebut, laki-laki itu adalah dirinya sendiri sedangkan si wanita adalah gadis cerewet yang sedari tadi menjadi objek pikirannya. “Astaga.” Ucap Roy setelah sadar dari lamunannya. “Gue butuh istirahat deh kayaknya.” Gumamnya kemudian berlalu meninggalkan tempat tersebut. Berjalan melewati beberapa pintu hingga sampai di area parkir. Namun, saat tangan besar itu hendak membuka pintu mobil, gerakan Roy terhenti karena mengingat satu hal. Detik kemudian, dia kembali mengunci otomatis mobilnya dan kembali ke dalam rumah sakit dan langsung menuju bagian administrasi. “Permisi.” Ucap Roy kepada petugas yang berjaga di sana. “Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu.” Jawab petugas itu. “Saya mau bayar biaya perawatan atas nama ibu Wati yang di rawat di UGD.” Ucap Roy menyerahkan kartu atm miliknya. “Baik, Pak.” Jawab Si petugas. “Oh iya, sus. Apa keluarganya sudah datang?” tanya Roy yang penasaran siapa anak ibu itu. “Belum, Pak. Tapi kami sudah menghubunginya. Mungkin sebentar lagi sampai.” Jawab petugas tersebut. “Sudah, Pak. Ini kartu nya, dan ini bukti pembayarannya.” Lanjutnya. “Oke.” Menerima kartu itu dan memasukkannya kembali ke dalam dompet. Menatap jam yang melingkar di tangannya. Pukul delapan kurang lima belas menit. Bingung, pulang atau tunggu keluarga ibu Wati itu datang. Beberapa saat kemudian Roy terlihat menghela nafas panjang kemudian berjalan ke arah ruang UGD. Rasa penasarannya yang sangat besar tentang siapa anak bu Wati yang bertanggung jawab untuk pengobatan wanita paruh baya itu. Sesampainya di depan ruangan bertuliskan UGD. Roy mendorong pintu kaca tersebut dan melihat jika bu Wati sudah sadar meskipun masih berbaring di atas brankar dan ada seorang perawat yang tengah memeriksanya. “Permisi.” Sapa Roy, membuat kedua wanita itu menoleh ke arahnya. Setelah mendapat izin, Roy masuk dan mendekat ke arah Wati yang masih terlihat pucat. Yang di tatap pun bingung sebab tidak mengenali Roy sama sekali. Perawat yang sedari tadi memperhatikan kebingungan Wati tampak tersenyum kemudian memberitahu Wati siapa Roy itu. “Bu, bapak ini adalah orang yang membawa anda kemari. Dan beliau juga yang membayar seluruh biaya pengobaran ibu Wati.” Ucap si perawat. Wati tampak terkejut mendengar perkataan perawat yang sudah biasa menanganinya itu. Kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Roy. Menatap penampilan Roy dari atas sampai bawah. Jelas, dia bukan orang biasa. Itulah yang tertangkap pertama kali oleh Wati. “Terima kasih atas kebaikan anda, Pak.” Ucap Wati dengan mata berkaca-kaca. “Sama-sama. Semoga ibu lekas sembuh.” Jawab Roy ramah. “Kalau boleh tahu, Bapak ini siapa.” Ucap Wati. “Nama saya Devin bu. Panggil Devin saja.” Jawab Roy yang memakai nama tengahnya. “Terima kasih banyak, Nak Devin. Semoga tuhan membalas kebaikan kamu dengan yang lebih baik.” Ujar Wati tulus. “Amiin..” jawab Roy. Tiba-tiba terdengar pintu kaca di belakang Roy terbuka sedikit kasar, detik kemudian terlihat sosok gadis yang berlari menghampiri Wati dengan wajah khawatirnya. Tanpa peduli orang-orang yang juga berada di ruangan tersebut. Bahkan, saking khawatirnya dia tidak sadar jika ada sepasang mata yang menatapnya tajam. Apalagi gadis itu sempat menyenggol lengannya tanpa merasa bersalah. “Ibu.. ibu nggak papa ‘kan? Maafin Jasmine buk, maaf karena Jasmine nggak jagain ibu. Dan memilih pergi dengan teman-teman Jasmine.” Ucap Jasmine penuh khawatir terhadap ibunya yang tengah terbaring lemah di ranjang UGD dengan infus yang menancap di punggung tangannya. “Ibu nggak papa, Nak. Cuma pusing sedikit.” Jawab Wati tersenyum hangat ke arah anak gadisnya. “Jasmine minta maaf, Bu.” Uca0 Jasmine menggenggam tangan ibunya erat. “Iya, sayang. Tadi ada nak Devin yang menolong ibu dan membawa ibu ke mari.” Ucap Wati menoleh ke arah Roy yang masih setia berdiri di belakang Jasmine. Merasa familier dengan nama itu, membuat Jasmine berbalik dan melihat siapa orang yang di maksud oleh ibunya. Mata mereka berdua bertemu untuk beberapa saat hingga Jasmine menyadari mata siapa yang tengah menatapnya itu. Mata yang beberapa hari yang lalu juga beradu tatap dengannya. “Loe?!” pekik Jasmine menunjuk ke arah Roy yang justru terlihat tenang. “Ngapain loe ke sini? Urusan kita sudah selesai.” Lanjut Jasmine ngotot. “Jasmine. Kamu kenal dengan nak Devin? Dia teman kamu?” tanya Wati yang bingung dengan reaksi Jasmine saat mengetahui siapa yang menolongnya. “Dia buk—“ “Kami permisi dulu ya, Buk.” Potong Roy kemudian menarik tangan Jasmine keluar dari ruangan tersebut menuju taman tak jauh dari sana. “Lepas...” Cetus Jasmine memberontak. Namun, sama sekali tak di gubris oleh Roy. Dia terus menarik Jasmine ke tempat yang sekiranya aman untuk berdebat. Karena dia yakin gadis ini tidak akan bisa jika di ajak bicara baik-baik. Meskipun dia sendiri yang salah. “Lepasiinn...” geram Jasmine menarik paksa tangannya dari cengkraman Roy membuat dia berhasil melepas tangannya itu. “Mau loe apa sih, Hah?!” sungut Jasmine emosi dengan sifat Roy. “Seharusnya saya yang tanya. Mau kamu apa?” tanya Roy santai. “Gue mau. Loe pergi jauh-jauh dari kehidupan gue dan jangan ganggu gue dan ibu gue.” Ucap Jasmine penuh penekanan. “Menjauh?? Setelah semua biaya yang saya keluarkan untuk pengobatan ibu kamu.?” Sahut Roy sukses membuat kedua mata Jasmine membola. “Emmak—maksud loe?” tanya Jasmine. “Saya sudah membayar seluruh biaya pengobatan ibu kamu. Dan itu tidak gratis.” Jawab Roy santai. “Kalau kamu mau saya menjauh dari kamu. Kamu harus mengembalikan seluruh biaya yang saya keluarkan untuk ibu kamu.” Lanjut Roy menyerahkan bukti pembayaran rumah sakit kepada Jasmine. Kedua mata Jasmine membola sempurna dengan mulut menganga melihat angka yang berjejer di kertas putih itu. Seratus dua puluh lima juta, jumlah yang tak pernah terbayangkan oleh Jasmine. Bagaimana caranya dia bisa mendapatkan uang itu dan mengembalikannya ke pria jelmaan iblis di depannya ini. “Gimana? Kamu sanggup.?? Pancing Roy yang tahu jika Jasmine tengah mati-matian berpikir bagaimana mendapatkan uang itu.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม