PILIHAN

1200 คำ
Jasmine berjalan lesu melewati lorong rumah sakit menuju kamar rawat ibunya. Waktu dia di seret oleh Roy ke taman untuk membicarakan soal pengembalian biaya pengobatan ibunya yang sudah di bayar lunas oleh Roy. Dan saat dia kembali ke UGD ternyata ibunya sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Pikirannya pun melayang mengingat tentang tawaran Roy saat di taman tadi. Bingung apa yang harus dia lakukan sekarang, pilihan yang pria itu kasih sama-sama berat untuk Jasmine. Namun, tak ada pilihan lain. Dia harus menerima salah satu tawaran itu demi ibunya. Flashback on, “Bagaimana?” tanya Roy santai menatap wajah bingung Jasmine. “A—aku..” jawab Jasmine ragu. “Oke, saya kasih pilihan. Kamu harus mengembalikan uang itu dalam waktu tiga hari atau kamu bekerja dengan saya selama tiga bulan.” Ucap Roy menawarkan pilihan. “A—apa? Mana bisa seperti itu?” sahut Jasmine tak habis pikir dengan tawaran Roy yang sama-sama merugikan untuknya. “Bisalah... tinggal pilih yang pertama atau yang kedua.” Jawab Roy. “Kamu tenang saja, meskipun kamu bekerja dengan saya. Kamu masih bisa bekerja di kafe dan masuk kuliah. Dan kamu juga masih mendapat gaji.” Sambungnya. Mendengar penjelasan Roy membuat Jasmine bimbang. Jujur dia tidak mau lagi berurusan dengan pria tampan jelmaan iblis di depannya ini. Tapi, mengingat sang ibu yang benar-benar butuh penanganan segera, membuat Jasmine bingung harus bagaimana. Hingga beberapa menit kemudian, Jasmine tak kunjung memberi keputusan. Roy yang masih setia menunggu jawaban Jasmine tampak menaikkan sudut bibirnya. Step by step yang akan dia lakukan untuk menjerat gadis bar-bar di depannya ini sudah tertata dengan rapi. “Saya akan kasih kamu waktu hingga besok sore. Semua ada di tangan kamu. Mengembalikan uang itu dalam waktu tiga hari atau bekerja dengan saya selama tiga bulan dan ibumu mendapat penanganan sesegera mungkin.” Ucap Roy kemudian menyodorkan kartu namanya kepada Jasmine. Kening Jasmine tampak berkerut menatap kartu nama yang disodorkan oleh Roy. Kemudian beralih menatap ke arah Roy yang menyuruh Jasmine untuk menerima kartu nama itu. Melihat itu, perlahan Jasmine menerima kartu tersebut dan membacanya. ‘ROYYANO DEVIN ERZA’ CEO of ER CORPORATION Hp. 0812345***** “Itu kartu nama saya. Kalau kamu sudah menemukan jawabannya, kamu bisa hubungi saya atau langsung datang ke kantor saya. Kamu tahu ‘kan letak kantor saya di mana?” Ucap Roy. Jasmine yang sadar jika Roy tengah menyindirnya tentang keributan di kantor miliknya beberapa hari yang lalu karena ulah Jasmine yang ngotot untuk bertemu dengan Roy agar masalah mereka segera selesai. Namun, sialnya urusan itu bukannya selesai tapi malah semakin panjang sekarang. Dengan tatapan tajamnya, Jasmine melirik Roy yang tampak menaikkan sebelah alisnya. Dan itu membuat kadar kebencian Jasmine memuncak. “Saya rasa sudah jelas ya. Saya harus pergi sekarang.” Ucap Roy kemudian berlalu meninggalkan Jasmine. Di langkah ketiganya, Roy berhenti lalu menoleh ke arah Jasmine. “Waktumu berpikir hanya sampai besok siang. Jika tidak, kamu akan tanggung risikonya.” Ujar Roy lalu melanjutkan langkah menuju area parkir. Flashback off. Kring!!.. Terdengar deringan dari dalam tas milik Jasmine membuatnya sadar dari lamunannya. Berhenti sejenak dan mengambil ponsel di dalam tas kecilnya. Di layar tersebut tertera nama ‘VERA’, sontak membuat Jasmine teringat jika dia belum pamit ke teman-temannya saat pulang karena mendapat kabar ibunya masuk rumah sakit. “Halo, Ver.” Ucap Jasmine setelah ponsel itu menempel sempurna di telinga Jasmine. “Halo, Min. Loe dimana sih? Kok ngilang?!” sahut Vera yang terdengar panik di sebrang sana. “Sorry, Ver. Gue pulang duluan, ibu gue masuk rumah sakit.” Jawab Jasmine. “Apa?! Ibu loe masuk rumah sakit?! Terus gimana keadaan beliau sekarang?” tanya Vera yang ikut khawatir mendengar alasan Jasmine tentang ibunya yang masuk rumah sakit. “Alhamdulillah, ibu sudah baikkan.” Jawab Jasmine bahagia karena teman-temannya sangat peduli dan sangat terhadap wanita yang paling dia sayang. “Syukurlah. Ini gue sama yang lain juga mau pulang kok. Nanti kita mampir ke rumah sakit ya?” ucap Vera. “Hmm... gimana kalau besok aja kalian ke sini. Ini juga udah malem. Besok kerja ‘kan?” jawab Jasmine. “Iya sih. Tapi, misal entar tetep ke rumah sakit gak papa ‘kan?” tanya Vera memastikan. “Iya gak papa.” Jawab Jasmine. “Yaudah gue tutup ya. Mau pulang, salam buat ibu.” “Ok.” Tut... Jasmine menghela nafas panjang, memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas kecil yang dia bawa. Kemudian melanjutkan langkahnya menuju ruang rawat sang ibu. Tak butuh waktu lama, Jasmine sampai di depan ruangan ibunya. Berhenti sejenak di depan pintu bertuliskan VIP 02. Menatap huruf dan angka yang tertera di pintu itu. Sedih dan bingung, ruangan ini bukan ruangan biasa. Ruangan dengan fasilitas dan pelayanan yang baik. Jasmine mengusap wajahnya dan kembali menghela nafas. Berusaha menampilkan wajah yang baik-baik saja di depan ibunya. Dia tidak mau jika ibunya sampai tahu apa yang dia bicarakan dengan Roy di taman tadi. Memutar handle pintu hingga terdengar penguncinya terbuka. Perlahan dia mendorong dan dapat dia lihat, di ranjang saja. Ibunya tengah tertidur dengan jarum infus yang menancap di tangan kirinya. Dengan sangat hati-hati Jasmine melangkah masuk ke dalam, mendekati sang ibu. Menggenggam tangan yang mulai keriput tersebut. Menarik kursi pelan agar tak menimbulkan suara, kemudian mendudukkan pantatnya di kursi plastik berwarna hijau tersebut tanpa melepas genggaman tangannya. Menatap wajah damai di depannya, dengan bibir sang sedikit pucat membuat hati Jasmine di rundung kesedihan dan tak tega melihat ibunya yang harus merasakan sakit di setiap saat. Dia merasa gagal menjadi anak yang baik untuk ibunya. ‘Ibu, maafin Jasmine. Maaf karena Jasmine belum bisa menjadi anak yang bisa ibu banggakan. Maaf karena Jasmine belum bisa mencari uang untuk pengobatan ibu. Ibu... Jasmine janji, Jasmine akan terus berusaha untuk kesehatan ibu. Jasmine janji, Jasmine akan lebih jagain ibu. Ibu juga janji ya, ibu harus sembuh. Jasmine sayang ibu.’ Batin Jasmine mengelus punggung tangan sang ibu dengan tatapan yang tak lepas dari wajah wanita yang sangat dia sayangi itu. Tanpa sadar, kedua mata cantik itu tampak mengeluarkan cairan bening yang dengan berani membasahi kedua pipi mulus dan cubby tersebut. Tak hanya itu, hidung mungil yang tampak sangat imut dan menggemaskan itu juga tak mau kalah, ikut mengeluarkan cairan miliknya. “Egghh....” Beberapa saat kemudian Wati menggeliat pelan, membuat Jasmine segera menghapus air matanya dan mengembalikan raut wajahnya seperti biasa. Dia tidak mau ibunya tahu kalau dia habis nangis. Dia mau ibunya hanya tahu jika dia selalu bahagia. “Jasmine.” Panggil Wati menatap ke arah anak gadisnya yang sudah berada di sampingnya. “Iya, Buk.” Jawab Jasmine tersenyum menatap sang ibu. Wati terdiam, menatap wajah Jasmine yang masih terlihat jelas jika dia habis nangis, “Sayang, kamu nangis?” tanya Wati mengutarakan isi hatinya. Jasmine terkejut, kembali mengusap pipi dan matanya agar bekas air matanya benar-benar terhapus bersih lalu tersenyum ke arah ibunya. “Jasmine nggak nangis kok, Buk.” Jawab Jasmine. “Bener, Nak?” tanya Wati yang masih belum percaya dengan jawaban Jasmine. “Iya, Ibu.” Jawab Jasmine melebarkan senyumannya. Tak ingin memaksa jika memang Jasmine tak mau bercerita, tapi sebagai seorang ibu Wati sangat hafal dengan Jasmine. Dia tahu jika Jasmine menyembunyikan sesuatu darinya. Tapi, Wati tak ingin ikut campur dalam masalahnya. Kecuali, Jasmine sendiri yang bercerita.
อ่านฟรีสำหรับผู้ใช้งานใหม่
สแกนเพื่อดาวน์โหลดแอป
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    ผู้เขียน
  • chap_listสารบัญ
  • likeเพิ่ม