Tok! Tok! Tok!
Ceklek,
Pintu coklat bertuliskan VIP02 itu perlahan terbuka. Detik kemudian Jasmine tersenyum saat melihat ibunya tengah berbaring di ranjang dengan tersenyum ke arahnya.
“Selamat siang, Ibu.” Ucap Jasmine melangkah masuk di ikuti oleh Sofia.
“Siang, Sayang.” Jawab Wati.
“Siang, Ibu.” Sahut Sofia ikut mendekat ke ranjang Wati.
“Siang, Sofia.” Jawab Wati.
Saling berbalas senyum untuk beberapa saat. Bagi Wati, Sofia sudah di anggap seperti anaknya sendiri, sama seperti Jasmine. Apalagi, kedua gadis di depannya ini memang sudah bersahabat sejak mereka masuk Sekolah Dasar. Mereka masuk di sekolah yang sama hingga saat ini.
Mereka asyik mengobrol banyak hal. Sama seperti biasanya, hal sekecil apa pun akan menjadi heboh jika di bahas oleh mereka bertiga. Mulai dari ritual mandi pagi Jasmine, kecerobohan Jasmine di berbagai situasi, Judesnya Sofia, Bucinnya Ryan, hingga nasib kejombloan Jasmine yang setia menemaninya hingga menginjak tahun ke dua puluh dua.
Karena terlalu asyik, sampai-sampai tanpa sadar hari mulai sore. Sofia akhirnya pamit untuk pulang, karena nanti malam ada acara makan malam keluarga dengan keluarganya Ryan untuk membahas pertunangan mereka.
“Ibu, Sofia pamit pulang dulu ya. Nanti ada acara di rumah.” Pamit Sofia membenarkan tali tas miliknya.
“Iya, Sof. Terima kasih ya. Sudah mau antar jemput Jasmine dan menjenguk ibu.” Ucap Wati.
“Sama-sama, Ibu. Tapi mungkin tak lama lagi, Sofia gak bisa antar jemput Jasmine. Jadi, tolong bilangin ke anak gadis ibu ini ya, suruh nyari cowok biar ada yang antar jemput dia.” Sindir Sofia sambil melirik ke arah Jasmine.
Mendengar sindiran Sofia membuat Jasmine yang awalnya tersenyum kini tampak memajukan bibirnya hingga beberapa milimeter. Menoleh ke arah Sofia yang tersenyum mengejek ke arahnya.
“Berisik.” Sungut Jasmine.
“Fakta.” Balas Sofia kemudian menyalami tangan Wati dan mencium punggung tangan wanita tersebut.
“Tolong salamin ke mama kamu ya. Terima kasih untuk makanannya, sangat enak.” Ucap Wati.
“Siap, Ibu.” Jawab Sofia. “Sofia pamit ya, Buk.” Sambung Sofia di balas anggukan oleh Wati.
“Babay, Jomblowati.” Goda Sofia melambaikan tangan ke arah Jasmine yang masih duduk di kursi samping ranjang ibunya.
Jasmine melotot dan segera berdiri dan menyeret sahabat terlucnutnya itu keluar ruangan. Gemes banget sama gadis di depannya ini.
“Berisik, buruan pulang.” Cetus Jasmine.
“Oke.. oke.. piece.. “ ucap Sofia mengacungkan kedua jarinya di samping telinganya.
“Jangan mentang-mentang loe mau nikah trus seenaknya bilang kek gitu.” Cetus Jasmine menggelitik Sofia hingga Sofia terbahak karena kegelian.
“Haha.. ampun Min.. Haha..”
“Sombong banget sekarang jadi orang ya.” Ucap Jasmine tanpa menghentikan aksinya. Sofia pun tanpa henti tertawa hingga membuat kamar sebelah terganggu dan menegur mereka.
“Mbak.. mbak.. jangan berisik.” Tegur laki-laki berperawakan tinggi besar yang berdiri di depan pintu kamar VIP03.
“Eh.. maaf, Mas.” Ucap Jasmine.
“Hehe.. sory, Mas.” Sahut Sofia.
Tanpa berkata lagi, laki-laki tadi langsung masuk ke dalam kamarnya. Meninggalkan kedua gadis yang tampak bingung dengan reaksi laki-laki itu. Keduanya tampak saling pandang dengan kening sama-sama berkerut.
“Tuh cowok kenapa ya? Aneh.” Ucap Jasmine.
“Tapi ganteng loh, Min.” Sahut Sofia dengan mata berbinar mengingat wajah tampan laki-laki yang menegurnya.
Mendengar sahutan Sofia membuat Jasmine sontak menatap sahabatnya itu dan mendorong bahunya.
“Ingat.. loe udah punya calon laki. Masih aja kegatelan.” Cibir Jasmine menyadarkan Sofia dari kehaluannya.
“Hehe... iya iya... kalau gitu buat loe aja deh. Biar gak jomblo terus. Haha” Jawab Sofia kemudian lari meninggalkan Jasmine yang siap ngamuk.
“Awas loe ya..” geram Jasmine tanpa berniat mengejar Sofia yang sudah berlari menjauh darinya dengan sesekali menjulurkan lidah ke arahnya.
Setelah Sofia menghilang dari pandangannya. Jasmine kembali masuk ke dalam kamar rawat ibunya. Saat hendak memutar handle pintu, tanpa sadar pandangannya terkunci ke arah kamar sebelah. Tepatnya di kamar yang tadi terdapat laki-laki tampan itu. Detik kemudian, pintu kamar sebelah terbuka dan laki-laki yang menegurnya tadi keluar kemudian berjalan ke arah yang berlawanan dengan posisi Jasmine, membuatnya tidak bisa melihat Jasmine yang sedari memperhatikannya.
Jasmine terus menatap laki-laki yang berjalan gagah membelakanginya. Dari pandangan Jasmine, punggung laki-laki tersebut tampak sangat kekar dan pasti sangat nyaman untuk bersandar dan di peluk. Membayangkan hal itu membuat Jasmine yang memang gak polos-polos banget tampak senyum-senyum sendiri. Hingga beberapa saat kemudian dia baru sadar dengan kekonyolannya.
‘Astaga, Jasmine.’ Batin Jasmine dengan memukul pelan kepalanya.
Tak mau pikirannya kembali berkelana, Jasmine segera masuk ke dalam kamar rawat ibunya. Tersenyum saat melihat sang ibu tengah menikmati buah jeruk yang dibawakan oleh Sofia tadi pagi. Jeruk adalah buah favorit Wati sejak dulu. Di samping menjadi sumber vitamin C, rasanya yang sangat segar membuat siapa pun suka makan dengan buah kuning itu.
Bahagia, melihat kondisi ibunya kian membaik. Apalagi sekarang, obat yang di konsumsi oleh ibunya adalah obat yang terbaik untuk mengobati sakit yang di deritanya. Tiba-tiba pikirannya pun melayang ke sosok pria yang sudah membuatnya marah sekaligus sudah menolong ibunya.
“Jasmine.” Panggil Wati membuyarkan lamunan Jasmine.
Jasmine sedikit terkejut mendengar panggilan dari ibunya. Menormalkan raut wajahnya dan mendekat ke arah Wati dengan senyum manis di bibir ranumnya.
“Kamu kenapa? Kok ngelamun?” tanya Wati saat Jasmine berdiri di sampingnya.
Jasmine tersenyum dan sedikit menggelengkan kepalanya. “Jasmine nggak papa kok, Buk.” Jawab Jasmine.
“Bener?” tanya Wati lagi.
“Iya, Buk.” Jawab Jasmine meyakinkan ibunya. “Hmm.. buk. Jasmine izin ketemu temen dulu ya. Sebentar kok.” Izin Jasmine.
Wati tersenyum dan mengangguk. “Iya, Sayang. Yang penting kamu hati-hati.” Jawab Wati.
“Iya, Buk.” Jawab Jasmine kemudian meraih tasnya dan keluar dari ruangan berAC itu.
Sesampainya di luar, Jasmine berhenti sejenak untuk kembali meyakinkan hatinya. Bukan hal mudah untuk menerima tawaran Roy, namun dia tak ada pilihan lain. Ibunya sangat membutuhkan pengobatan itu. Dia tidak mau terjadi sesuatu pada ibunya jika dia salah mengambil keputusan. Kembali menatap pintu coklat yang sudah tertutup rapat di belakangnya. Kemudian kembali melangkah pergi.
*
*
ER Corporation.
Roy berdiri di depan jendela ruangannya, jendela kaca besar yang hampir terdapat di setiap sisi. Seperti biasanya, menatap ke luar yang kini tampak mulai mendung. Detik kemudian dia mengalihkan pandangannya ke arah halaman, keningnya berkerut saat matanya menangkap sesuatu yang beberapa hari ini sangat dia nantikan.
Senyum misterius terpampang jelas di bibir sexy pria yang kini tengah memakai setelah jas mahal berwarna Navy itu. Sungguh senyum yang sangat menawan bagi siapa pun yang belum mengenalnya. Namun, bagi orang yang sudah mengenalnya lebih dalam dia akan lebih memilih untuk mundur teratur dan tak akan mengusik iblis berbentuk pria tampan itu.
Tok! Tok! Tok!
“Masuk.”
Ceklek,
Pintu kaca berlapis gorden abu-abu itu pun terbuka, menampilkan Reno yang siap dua kali dua puluh empat jam untuk sang big bos.
“Maaf, Bos. Ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda. Katanya sudah membuat janji.” Ucap Reno.
“Hmm.. suruh dia masuk aja.” Jawab Roy tanpa menatap Reno.
“Baik, Bos.” Sahut Reno kemudian keluar dari ruangan sang bos.
Reno bener-bener bingung dengan sikap bosnya. Selama hampir tujuh tahun dia bekerja dengan Roy, baru kali ini dia melihat respons Roy terhadap orang yang sudah membuat masalah dengannya. Padahal biasanya dia tidak akan sudi menemui orang tersebut walau dia memohon untuk bertemu tapi, Roy akan menghancurkan apa yang orang itu miliki tanpa ampun.
Tapi, Roy memberikan respons yang berbanding terbalik saat gadis bar-bar ini yang membuat masalah dengannya. Meskipun sudah di permalukan di depan umum dan membuat keributan di kantor miliknya. Roy masih mau bertemu bahkan mempersilahkannya masuk ke dalam ruangan pribadinya.
“Halo, suruh tamu pak Roy naik.” Ucap Reno lewat sambungan telepon.
“Baik, Pak.”
Kemudian Reno turun ke lantai tepat di bawah ruangannya. Menunggu gadis yang sudah merubah sikap big bosnya menjadi aneh seaneh-anehnya. Entah apa yang membuat Roy bisa berbuat berbeda pada gadis ini. Padahal dengan Zava yang berstatus kekasih tak di anggapnya pun Roy sangat dingin. Bahkan, hampir setiap kali Zava datang Roy tak mau menemuinya.