Di meja makan, tertata berbagai macam makanan yang sangat menggoda. Berbeda dengan hari-hari biasanya yang tampak kosong. Hari ini, hampir semua menu masakan khas Indonesia tersaji di atas meja berbentuk oval dengan enam kursi yang mengelilinginya.
Detik kemudian, datang lagi satu menu yang tak pernah terlewatkan setiap kali anak sulung keluarga ini pulang ke rumah. Cah kangkung dan taoge, sederhana tapi penuh arti bagi wanita paruh baya yang sedari subuh sudah sibuk di dapur di dapur untuk mengolah semua makanan itu.
“Pagi, Ma.” Sapa Irfan mendekat ke arah istrinya yang tengah menuangkan sussu ke dalam gelas.
Sinta menoleh dan tersenyum melihat suaminya yang sudah rapi, siap untuk berangkat ke kantor.
“Pagi, Pa.” Jawab Sinta.
Irfan mengecup kening sang istri, dan mengelus puncak kepalanya sayang. Kemudian beralih menatap ke atas meja yang sudah penuh dengan makanan.
“Kamu masak semua ini?” tanya Irfan menatap istrinya.
“Iya, Pa. Mama kangen makan bersama Zava. Mama kangen Zava makan dengan lahap masakan mama.” Jawab Sinta dengan senyum bahagia yang terukir manis di bibirnya.
Irfan membalas senyuman Sinta, paham dengan apa yang di rasakan oleh istrinya itu. Mengusap bahu ringkih itu pelan. Semenjak mereka kehilangan salah satu anggota keluarganya, Sinta jadi sering sakit-sakitan dan terus mengigau dalam tidurnya. Memanggil-manggil anak mereka yang dua puluh tahun yang lalu hilang entah ke mana. Di tambah di 5 tahun terakhir, Zava memilih tinggal di apartemen miliknya.
Zava pun sama, tiap hari terbayang dengan tawa dan candaan adiknya yang kini entah di mana. Setiap sudut rumah ini terus mengingatkan keduanya akan sosok gadis kecil yang sudah dua puluh tahun menghilang. Bahkan, Zava pernah demam karena tertidur di teras pada malam hari.
Saat itu, Zava bilang adik kesayangannya memanggil dan mengajaknya main di teras pada malam hari. Dan Zava mengiyakan ajakan itu, Hingga tanpa sadar Zava tertidur di teras karena lelah bermain dengan sang adik. Padahal sudah satu bulan adiknya menghilang. Dan menurut keterangan dokter, kekuatan batin Zava dan adiknya sangat kuat. Hingga membuat Zava menjadi seperti ini. Dokter memberi saran untuk memberi Zava kesibukan yang bisa membuat dia melupakan tentang adiknya. Karena jika tidak, akan sangat berpengaruh dengan psikologisnya.
Sejak itulah, Zava mulai mengikuti les tari hingga modeling sejak usia tujuh tahun. Membuat dia bisa sedikit melupakan tentang adiknya. Walau setiap kali melihat hujan, Zava selalu menangis dan memanggil-manggil nama adiknya.
Jeselyn Titania Putri, anak kedua dari Sinta dan Irfan yang hilang sejak dua puluh tahun yang lalu. Menyisakan kesedihan dan rasa kehilangan yang sangat mendalam bagi keluarga ini. Terutama Zava yang memang sangat menyayangi adiknya itu.
Semua cara sudah mereka lakukan untuk mencari dimana Jeselyn. Tapi, sama sekali tak mendapatkan hasil. Bahkan kepolisian pun nyerah. Semua beranggapan jika Jeselyn sudah tiada karena tak ada tanda-tanda dia masih hidup saat jatuh ke jurang tak jauh dari Villa milik keluarganya.
"Zava belum bangun? " tanya Irfan menoleh ke atas, tepatnya di kamar kedua dari kanan yang pintunya masih tertutup rapat.
"Belum, Pa." jawab Sinta ikut menatap ke arah yang sama.
"Papa ada meeting pagi hari ini." ucap Irfan menatap jam di tangannya yang kini sudah menunjukkan pukul tujuh lebih lima belas menit.
"Kalau gitu, papa duluan saja. Nanti Zava biar mama bangunin setelah nemenin papa sarapan.” Jawab Sinta.
Irfan mengangguk, menarik kursi menduduki kursi miliknya. Sementara Sinta mulai mengambilkan makanan untuk sang suami. Nasi putih dan urapan daun singkong yang menjadi pilihannya pagi ini. Irfan memang sangat suka dengan sayur hijau terutama yang memiliki rasa sedikit pahit. Sama seperti anak bungsu mereka yang kini entah dimana.
Sementara Zava dan Sinta lebih suka dengan aneka sambal dan lalapan. Zava suka sayur tapi hanya satu jenis yaitu kangkung.
Lima belas menit kemudian Irfan selesai sarapan dan bersiap untuk berangkat ke kantor. Mengambil tas kerjanya dan berjalan ke depan rumah di ikuti Sinta.
"Papa berangkat ya, Ma. Salam buat Zava, maaf karena papa gak bisa nunggu dia untuk sarapan bareng." ucap Irfan mengulurkan tangannya ke arah Sinta.
Sinta mengangguk dan menerima uluran tangan Irfan kemudian mencium punggung suaminya itu. "Iya, Pa. Nanti mama sampaikan ke Zava." jawab Sinta.
"Assalamualaikum. " pamit Irfan kemudian berjalan menuju mobilnya.
"Waalaikumsalam." jawab Sinta.
Seperti biasa, Sinta akan berdiri di depan pintu rumahnya sampai mobil yang di tumpangi Irfan tak lagi terlihat olehnya. Barulah dia masuk ke dalam rumah setelah pintu pagar kembali di tutup oleh satpam.
Berjalan menuju lantai dua untuk melihat putri kesayangannya. Tanpa mengetuk pintu, Sinta masuk ke dalam kamar Zava yang bersebelahan dengan kamar miliknya.
Ceklek,
Pintu terbuka perlahan, detik kemudian Sinta tersenyum saat matanya menangkap sang anak yang masih terlelap di bawah selimut tebalnya. Berjalan mendekat ke arah ranjang dengan senyum yang semakin lebar. Hal yang sudah lama dia rindukan, setiap pagi bisa melihat dan membangunkan anaknya.
Mata Sinta beralih ke arah gorden jendela yang masih tertutup. Memutuskan untuk membukanya terlebih dahulu agar sinar mentari bisa masuk.
Sreekk....
Gorden berwarna pastel itu pun terbuka, membuat ruangan menjadi terang karena sinar matahari langsung masuk ke dalam. Udara segar pun tak mau kalah, menerobos masuk saat jendela terbuka.
"Eegghh... "
Terdengar suara leguhan dari arah ranjang. Sinta membalikkan badannya, menatap Zava yang kini menggeliat pelan tanpa membuka matanya, berpindah posisi menghindari cahaya matahari yang menyilaukan matanya.
Sinta tak tega membangunkan Zava, terlihat jelas jika Zava masih sangat mengantuk dan kelelahan. Memutuskan untuk menunggu Zava terbangun dengan sendirinya. Sinta ikut naik ke ranjang dan duduk bersandar di papan ranjang tepat di samping Zava.
Merasa ada sumber hangat yang mendekat membuat Zava kembali menggeliat dan merapatkan tubuhnya ke sumber hangat itu hingga dia semakin terlelap. Sinta tampak bahagia dengan keadaan ini, bisa sedekat ini dengan putrinya.
Perlahan, Sinta mengangkat tangannya dan mengelus puncak kepala Zava. Hal yang sudah lama tak dapat dia lakukan setelah Zava memilih untuk tinggal di apartemennya. Berat bagi Sinta untuk mengizinkan Zava tinggal di sana. Dia sudah kehilangan satu anaknya, dia tidak mau jika harus berjauhan dengan Zava. Walau Zava berjanji akan sering-sering berkunjung ke rumah ini.
“Mama sayang sama kamu, Nak. Mama nggak mau berjauhan lagi dengan anak mama. Mama sudah kehilangan adikmu, mama nggak mau jauh dari kamu, Sayang.” Ucap Sinta lirih dengan air mata yang mulai mengalir membasahi kedua pipinya.
Butiran-butiran bening itu pun menetes dan jatuh tepat mengenai pipi Zava yang berada di bawah wajah Sinta. Membuat Zava perlahan membuka matanya dan mendongak. Diam tanpa bicara menatap wajah sang mama yang tampak masih cantik walau sekarang tengah di penuhi dengan air mata kesedihan.
“Ma..” panggil Zava pelan.
Sinta yang awalnya memejamkan mata, tampak terkejut mendengar suara Zava. Segera dia hapus air matanya, tak mau jika sampai Zava tahu kalau dia tengah menangis. Walau sebenarnya Zava sudah tahu jika mamanya nangis karena teringat dengan adiknya.
“Kamu sudah bangun, Nak?” tanya Sinta tersenyum menatap Zava.
Tanpa menjawab pertanyaan mamanya, Zava beringsut dan ikut duduk bersandar di samping sang mama. Menghela nafas sejenak kemudian meraih tangan lembut yang sejak kecil selalu berusaha memberi pelukan hangat dan kasih sayang untuknya. Menggenggam tangan itu dan mengelus punggung tangan yang mulai keriput itu.
“Ma... Zava minta maaf ya. Zava belum bisa menjadi kakak yang baik untuk adek. Zava minta maaf karena tidak bisa menjaga adek. Seandainya waktu itu Zava tidak meninggalkan adek di sana sendiri. Pasti adek sekarang masih bersama kita. Zava mint—“ ucap Zava terpotong.
“Sssstt... sudah, Nak. Kamu nggak salah.” Potong Sinta.
“Tapi Ma... “
“Sudah, Nak. Kita berdoa untuk adek. Semoga jika adek masih hidup, adek bertemu dengan orang yang baik dan menjaganya, menyayanginya seperti kita menyayanginya. Tapi, jika adek sudah tiada..... adek di tempatkan bersama anak-anak ahli surga.” Ucap Sinta berusaha tegar di depan Zava.
Zava mengangguk, tersenyum walau sebenarnya dia ingin menangis. Namun, dia sadar jika dia menangis dan terlihat lemah di depan mamanya pasti akan membuat mamanya semakin sedih.
"Amiin..." jawab Zava.
kedua pun kini tersenyum. Saling berusaha tegar agar tak membuat orang lain ikut merasa sedih. Tak ada yang bisa mereka lakukan sekarang kecuali sabar, berharap dan berdoa agar di mana pun Jeselyn saat ini. Dia dalam keadaan yang baik-baik saja.
"Dah, sekarang kita makan ya. Mama sudah masak makanan kesukaan kamu." ucap Sinta mengelus rambut hitam panjang Zava.
"Hmm... iya, Ma. Zava mandi dulu ya." jawab Zava di balas anggukan oleh mamanya.
"Mama tunggu di bawah ya?"
"Iya, Ma."
Kemudian Zava masuk ke dalam kamar mandi, tak lupa membawa baju ganti sekalian. sementara Sinta keluar dari kamar itu menuju meja makan untuk menyiapkan makanan buat Zava.