.Langkah kaki mungil yang mengenakan sneakers putih itu tampak melewati pinggir jalan tengah kota. Menyusuri trotoar yang berjejer bunga kemboja serta melati yang tampak sangat cantik. Hingga tiba-tiba langkah itu terhenti saat melewati sebuah gerbang besar di sebelah kanannya.
“Green Health.” Gumam Jasmine membaca tulisan besar di depannya.
Di lihat dari luar saja, gedung itu sudah menunjukkan kemewahannya. Sisi kanan dan kiri terdapat pagar yang menjuang tinggi dengan taman di bagian tengah tepat di sekitar tulisan besar berwarna Hijau itu.
Menatap jam di tangannya, pukul tujuh kurang lima belas menit. Jasmine melangkah mendekat ke arah pos jaga. Di sana ada dua satpam yang tengah mengobrol.
“Permisi, Pak.” Ucap Jasmine.
Satpam yang tadinya tengah mengobrol itu menoleh, “Iya, Neng. Ada yang bisa di bantu?” tanya satpam dengan nama pengenal ‘BUDI’.
“Iya, Pak. Gini, saya ada janji dengan bapak Roy. Beliau meminta saya untuk datang kemari.” Ucap Jasmine sopan.
“Bapak Roy?” tanya satpam Budi memastikan.
“Iya, Pak.” Jawab Jasmine. “Hm.. ini kartu namanya.” Sambung Jasmine menyerahkan kartu nama yang di berikan oleh Roy beberapa hari yang lalu.
Kedua satpam itu saling pandang kemudian mengambil kartu nama yang di sodorkan oleh Jasmine. Membaca tulisan di kartu itu.
ROYYANO DEVIN ERZA
CEO of ER Corporation.
Hp : 0812345*****
Kring!!
Di saat keduanya tengah larut dalam pikiran masing-masing. Tiba-tiba telepon yang berada di atas meja berbunyi. Membuat keduanya sadar dan mengangkat telepon tersebut.
“Hallo, dengan pos security GREEN HEALTHY.” Ucap satpam dengan nama pengenal ‘SATJI’ .
“.........”
“Baik.”
“........”
“Sama-sama.”
Tut..
Sambungan telepon tersebut terputus, kemudian satpam bernama Satji itu mendekat ke arah Jasmine dan temannya Budi. Satji membisikkan sesuatu ke Budi dengan sesekali melirik ke arah Jasmine. Namun, Jasmine memilih untuk tak peduli dan mengalihkan pandangannya ke sekeliling.
“Silahkan masuk, Neng.” Ucap Satpam Budi membukakan gerbang untuk Jasmine.
“Oh iya, Pak. Terima kasih.” Ucap Jasmine sopan dengan sedikit menundukkan kepalanya.
“Sama-sama, Neng.” Jawabnya.
Jasmine segera masuk ke gedung nan tinggi di depannya. Karena terus berjalan. Sedangkan dia harus datang tepat waktu. Berjalan cepat menuju ke bagian resepsionis untuk mengatakan tujuannya datang.
Setelah itu, Jasmine menuju lift untuk naik ke lantai dimana kamar Roy berada. Dengan bermodalkan kartu nama yang di berikan oleh Roy waktu itu, serta catatan kecil berisi nomer kamar apartemennya.
“12343, 12344, 12345... ah ini dia.” Gumam Jasmine berhasil menemukan nomer kamar yang dia cari.
Ting tong!
Ceklek,
Pintu di depan Jasmine terbuka, namun tak menampakan apa pun. Membuat Jasmine bingung, masuk atau menunggu yang punya kamar keluar.
Beberapa detik kemudian,
“Nunggu apa lagi? Buruan masuk.” Ucap seseorang dari dalam kamar yang pintunya terbuka setengah.
Jasmine sedikit terkejut dan menatap tajam ke arah pintu itu. Dari luar sama sekali tak terlihat apa yang ada di dalam sana. Hanya tampak tembok bercat putih.
“Ckk.. dimana-mana, tamu itu raja.’ Gerutu Jasmine dalam hatinya.
Menoleh ke kanan dan ke kiri kemudian mulai mendorong pintu dan melonggokkan kepalanya. Menatap seluruh ruangan itu, hingga matanya menatap siluet seseorang yang duduk di sofa dengan posisi membelakanginya. Meskipun ragu dan sedikit takut, Jasmine melangkah mendekat ke pemilik kamar apartemen itu.
Sesampainya di dekat sofa, Jasmine menatap ke arah Roy yang tengah mengotak-atik tablet di tangannya. Menyadari jika Jasmine sudah datang, Roy mematikan tabletnya dan meletakkannya di atas meja.
“Kamu telat tiga belas menit sepuluh detik.” Ucap Roy menatap jam yang melingkar di tangannya. “Dan sesuai perjanjian, waktu kamu di tambah menjadi 31 hari.” Sambung Roy mengangkat sebelah kakinya dan meletakkannya di atas meja. Menatap ke arah Jasmine yang masih berdiri di samping sofa.
“Saya telat karena harus nyari kamar anda di mana.” Jawab Jasmine membela diri.
“Alasan yang tidak bisa di terima.” Sahut Roy dingin. “Kamu nyari kamar saya sampai memakan waktu tiga belas menit lebih? Padahal jarak kamar ini dengan lift hanya memakan waktu dua menit.” Sambungnya.
“Itu kalau anda yang sudah hapal. Merem aja sampai di tempat.” Gerutu Jasmine memutar bola matanya.
Roy tersenyum tipis mendengar gerutuan Jasmine. Namun, dia berlagak tak mendengar apa pun. Memilih untuk berlalu meninggalkan Jasmine menuju kamarnya. Kamar Roy berada di dekat dapur, dengan pintu bercat putih.
Saat tangan kekar itu hendak memutar handle pintu. Roy berbalik dan menatap ke Jasmine yang sama tengah menatapnya dengan kening berkerut.
“Buatkan saya sarapan juga kopi.” Ucap Roy kemudian masuk ke dalam kamarnya.
Jasmine melongo.
“Dasar dugong!” sungut Jasmine mengepalkan tangannya seolah hendak menonjok Roy.
Merapatkan kedua bibirnya dengan tangan yang mengepal kuat untuk meluapkan kekesalannya. Ingin rasanya dia mencakar-cakar wajah tampan pria yang kini dalam satu ruangan dengannya. Eh salah, bukan satu ruangan tapi satu bangunan beda ruangan.
Jasmine menjatuhkan tubuhnya ke sofa dengan kasar. Ini baru hari pertama dan dia juga belum mulai melakukan tugas-tugasnya, namun hatinya sudah penuh dengan emosi dan kekesalan. Bertahan dalam posisi itu dengan mata yang tertutup.
Beberapa menit kemudian, Jasmine menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Kembali membuka matanya walau sangat berat. Mengingat keadaan sang ibu yang masih harus menjalani pengobatan yang tidak memakan biaya yang sedikit, Jasmine mencoba untuk bersabar demi ibunya.
Kembali menghembuskan nafas panjang, lalu berdiri dari duduknya dan berjalan menuju dapur yang tak jauh dari tempatnya saat ini. Meletakkan tas kecil miliknya di atas meja makan, lalu berjalan menuju kulkas dan membukanya. Mencari-cari bahan apa saja yang bisa dia olah untuk menu sarapan kali ini.
Di dalam sana, semua bahan sudah tersedia lengkap. Aneka daging, sayur, dan buah sudah berada di dalam kulkas berukuran besar itu. Bahkan di apartemen ini ada dua buah kulkas. Satu kulkas berukuran jumbo berada di dapur dan satu lagi berukuran tanggung berada di ruang tamu. Entah apa fungsi dan perbedaannya.
Setelah bahan-bahan yang di perlukan sudah lengkap, Jasmine mulai mencuci dan memotong semua bahan yang sudah dia keluarkan dari dalam kulkas tadi. Dia memutuskan untuk membuat nasi goreng dan ayam goreng rempah.
Ting!
Ada notifikasi pesan masuk. Sejenak Jasmine menoleh ke arah tasnya yang tergeletak di atas meja. Namun, tak berniat untuk membuka pesan itu.
Kembali fokus pada masakannya, tak ingin membuat masalah di awal kerjanya. Jasmine sudah bertekad untuk bekerja sungguh-sungguh seperti saat dia bekerja di kafe milik Daffa. Mengesampingkan ego dan rasa kesalnya pada Roy. Menganggap Roy adalah Daffa, bos yang sangat baik, ramah dan penuh kewibawaan. Walau sejatinya sifat mereka berdua bagai bumi dan langit.
Tak butuh waktu lama, hanya setengah dua puluh menit. Nasi goreng dengan ayam goreng rempah kini sudah tertata rapi di atas meja. Tak lupa segelas s**u putih untuk melengkapi menu sarapan pagi setengah siang kali ini. Sengaja Jasmine tak membuatkan kopi seperti pesanan Roy. Karena setahu Jasmine kopi akan menghancurkan nutrisi dari makanan yang seharusnya di serap oleh tubuh. Makanya Jasmine mengubah minuman panas hitam itu menjadi putih hangat.
Tersenyum menetap hasil masakannya yang sudah tertata rapi di atas meja. Kemudian beralih menatap pintu bercat putih yang masih tertutup rapat yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Saat ingin melangkah untuk memanggil Roy guna memberi tahu kalau sarapan sudah siap. Tiba-tiba langkah Jasmine terhenti saat matanya tak sengaja melihat tasnya, dia teringat jika tadi ada pesan masuk yang belum sempat dia baca.
Memilih untuk membuka pesan itu sejenak, hanya ingin tahu itu pesan dari siapa. Takutnya itu adalah pesan dari pihak rumah sakit yang mengabarkan keadaan ibunya atau pesan penting lainnya.
PAK DAFFA,
[Jasmine, saya sudah bicara dengan Roy. Satu minggu sebelum pembukaan kafe, kamu akan kembali bekerja di kafe untuk membantu rekan-rekan yang lain mempersiapkan segala kebutuhan untuk pembukaan kafe.]
Kening Jasmine berkerut menatap pesan yang di kirim oleh bosnya itu. Bukan soal dia keberatan untuk membantu dalam acara pembukaan kafe yang di adakan dua minggu lagi. Tapi, tentang jalan pikirnya yang entah kenapa berpendapat jika Roy dan Daffa tengah berusaha menarik dia ke dalam ruang lingkup mereka.
Daffa menggunakan acara itu untuk menariknya kembali ke kafe. Dan Roy menggunakan kesehatan ibunya untuk menarik Jasmine tetap bekerja dengannya.
“Entah beneran atau Cuma pikiranku aja?” gumam Jasmine memikirkan apa yang terjadi di antara kedua pria itu.
"Ehem.."
suara deheman dari arah belakang membuyarkan lamunan Jasmine. Jasmine berbalik, detik kemudian matanya sedikit melebar saat matanya melihat Roy yang sudah segar dengan kaos hitam yang nampak pas di tubuhnya. Memperlihatkan betapa bidangnya dadda itu dan nyamannya bahu kokoh itu untuk bersandar. Tak lupa Rambut yang masih sedikit basah membuat kadar ketampana dan kesexyan Roy tampak semakin terpancar.
"Sudah siap sarapannya?" tanya Roy dingin.
"Hmm.. aa.. sudah. Sudah siap." jawab Jasmine sedikit gugup.
Roy berjalan dengan gagah mendekat ke arah Jasmine. Eh salah, ke arah meja makan. membuat Jasmine merasa jika jantung kini berdetak semakin kuat, bahkan Jasmine sampai bisa mendengar bunti detakannya.
'Kenapa lagi nih jantung.' batin Jasmine memegangi daddanya.
"Masak apa kamu?" tanya Roy saat dia sudah berada di samping meja dengan mata tajam yang menatap ke arh piring-piring di depannya.
"Hmm.. nasi goreng dengan ayam goreng rempah." jawab Jasmine.
"Hmm..." sahut Roy kemudian menarik kursi nya dan mendudukan pantatnya di kursi kesayangannya itu.
Dengan mata yang masih setia menatap hidangan yang tersaji di atas meja. Tangan Roy perlahan membalikkan piringnya dan mulai menyendok nasi dan mengambil ayam goreng buatan Jasmine.
"Nunggu apa ?" ucap Roy menghentikan gerakannya.
Jasmine bingung, menatap Roy yang kini juga menatapnya.
"Duduk!" perintah Roy. "Dan makan masakan kamu." sambungnya.
"Makan?"
"Hmm... saya ragu, kamu kasih racun di makanan ini. Jadi kamu harus makan masakan kamu ini terlebih dahulu." Cetus Roy yang kembali memperlihatkan sifat aslinya.
"Kok anda tahu sih, kalau semua masakan ini saya kasih racun." balas Jasmine meladeni ucapan Roy.
"Bukan hal baru untuk saya, semua wanita akan berusaha mendapatkan hati pria tampan seperti saya dengan segala macam cara. Termasuk membuat saya sekarat dan pura-pura menolong agar tampak seperti malaikat. Lalu meminta bayaran tinggi untuk pertolongan palsunya. Tapi sayang, semua gagal karena otak tak sebanding dengan ambisi." Cibir Roy.
Jasmine melotot, "Maksud anda apa?!" sewot Jasmine.
"Ciih.. Kamu sengaja 'kan memberi racun di makanan ini agar saya sekarat, kemudian kamu pura-pura menolong saya, membuat saya merasa berhutang budi sama kamu lalu membatalkan perjanjian kita. Agar kamu tidak perlu mengganti biaya yang saya keluarkan untuk pengobatan ibu kamu." jawab Roy santai tapi menusuk.
Jasmine semakin emosi, dengan nafas memburu serta hati yang merasa sakit karena hinaan yang di berikan oleh Roy. Jasmine mengepalkan kedua tangannya. Lalu mengembalikan masakannya yang sudah berada di liring depan Roy ke dalam wadah yang semula.
Saat Jasmine hendak membuang semua masakan itu, tangannya di cekal oleh Roy.
"Mau apa ?" tanya Roy dengan tatapan tajamnya.
"Di buang." Cetus Jasmine.
"Di buang?, kamu pikir bahan-bahan ini membelinya tidak pakai uang?" balas Roy dingin. "Duduk, dan makan." ucap Roy menarik tangan Jasmine hingga dia terduduk di kursi sampingnya.
"Enggak, saya tidak mau makan dengan jelmaan iblis seperti anda." hardik Jasmine kembali berdiri.
"Makan atau kamu yang saya makan!!" ancam Roy.
Jasmine terkejut, matanya membola mendengar ancaman Roy kali ini. Bagaimana tidak, sekarang dia hanya berdua dengan pria iblis di depannya. Dia yakin, ini bukan hanya sekedar gertakan jika dia terus menerus melawan.
Takut hal buruk terjadi pada dirinya, Jasmine menurunkan ego dan menuruti perintah Roy.